Bunda Namira, sang penakluk hati

Bunda Namira, sang penakluk hati

“Bun, Bunda Namira sudah datang, belum?”

“Bun, hari ini Bunda Namira kan yang ngajar kami?”

“Bun, Bunda Namira masuk kan, Bun?”

Pertanyaan bernada sama biasanya akan terulang lagi kurang dari waktu tiga menit. Hampir setiap hari kantor kepala sekolah akan menerima pertanyaan seperti itu dari murid kelas III.B MIS Azrina yang terkenal ‘istimewa’. Hampir semua guru yang pernah masuk ke kelas ini mengeluh pusing menghadapi siswa-siswanya. Bahkan ada yang mengaku trauma dan tidak mau lagi bila diminta mengisi kelas III.B. Tantangan pertama masuk di kelas ini adalah ‘penolakan nyata’ dari beberapa siswa yang tidak mau belajar kecuali dengan Bunda mereka. Terkadang ada juga seorang siswi menangis di pojokan kelas. Entah apa sebabnya dan ia tidak mau ditenangkan. Beberapa siswa lainnya sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang bising berdebat di dalam kelompoknya. Suasana kelas menjadi riuh tak terkendali hingga pemilik kelas datang. “Bundaaaaa,” sorak mereka penuh bahagia.  

Ya, beliaulah Bunda Namira, peraih hati siswa kelas III.B, kelas istimewa MIS Azrina. Saat ditanya bagaimana tips menghadapi siswa dengan beragam perangai, Bunda Namira mengaku tak ada hal spesial yang dilakukannya.

“Awalnya saya juga merasa kesulitan menghadapi siswa-siswa saya ini, tetapi kemudian saya mencoba mengenal karakter masing-masing anak dan harus berpandai-pandai menarik perhatian, misalnya dengan cara memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan dan mendatangkan kesan bagi mereka. ”

Lebih lanjut beliau menambahkan bila sudah bisa meraih hati anak-anak, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengenalkan mereka dengan aturan yang berlaku. “Kalau perlu aturan tersebut dibuat bersama agar mereka berkomitmen dalam melaksanakannya.” Siswa kelas III.B bahkan takut menyakiti perasaan guru kesayangan mereka ini. Setiap mereka merasa melakukan kesalahan maka berbagai upaya akan dilakukan agar Bunda mereka tidak marah, salah satunya dengan menulis surat. Tak heran bila kemudian Bunda Namira sering menerima surat cinta dari siswa kelas III.B. Tidak hanya surat permintaan maaf, banyak juga surat yang berisi ungkapan perasaan sayang mereka.  

Kontributor : Fitriani (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia angkatan 2)

Komentar

komentar