“Bullying dalam Dunia Pendidikan dan Solusinya”

Setelah sukses mengadakan acara Diskusi Produktif pertama pada Maret 2017 lalu dengan tema “Sistem Perbukuan di Indonesia”, kali ini Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa kembali menyelenggarakan acara Diskusi Produktif batch dua dengan mengangkat tema “Bullying dalam Dunia Pendidikan dan Solusinya“. Acara Diskusi Produktif batch dua tersebut dilaksanakan pada 31 Agustus 2017 hari Kamis lalu di Lantai 1 Gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP), acara Diskusi Produktif batch dua ini dihadiri oleh 22 peserta dan diisi oleh para pakar dan pegiat pendidikan.

Diskusi Produktif adalah forum diskusi DDP terkait penyikapan isu dan solusi di bidang pendidikan yang diagendakan terlaksana sebanyak tiga kali selama 2017. Secara khusus, acara ini bertujuan menyediakan wadah diskusi mengenai berbagai permasalahan dan isu dalam bidang pendidikan bagi karyawan DDP serta sebagai salah satu bentuk pernyataan sikap DDP terkait isu-isu dan berbagai permasalahan yang berkembang dalam dunia pendidikan. Namun secara umum, tujuan acara ini adalah menyediakan bahan referensi bagi publik baik dalam menilai pemberitaan, isu maupun permasalahan dalam dunia pendidikan yang cenderung sangat dinamis.

Acara Diskusi Produktif batch dua dimulai dengan paparan dari M. Syafi’ie el-Bantanie, Praktisi Pendidikan Remaja dan Founder Sahabat Remaja sekaligus General Manager SMART Ekselensia Indonesia. Diskusi dipandu oleh Ahmad Sucipto, Guru SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai pembuka dan pemantik diskusi, M. Syafi’ie el-Bantanie memaparkan topik yang bertema “Stop Bullying, Show Respect”.

Pemantik diskusi menyampaikan bahwa bullying dibagi menjadi empat jenis, yaitu verbal, fisik, relasional, dan media. Selain itu, disampaikan juga empat hal yang bisa dilakukan agar kita dapat menghindari dan menghadapi bullying. Untuk dapat terhindar dari melakukan bullying dan bagaimana cara agar tetap memiliki prinsip pun saat berhadapan dengan bullying, maka seseorang harus: memiliki konsep diri, memiliki sensitivitas diri, mengenali diri sendiri, dan mempunyai sistem nilai (system value). Topik yang disampaikan Founder Sahabat Remaja tersebut direspon dengan sangat antusias oleh para peserta yang hadir.

Secara umum, diskusi membahas masalah-masalah yang terjadi terkait bullying dan mengembangkan bagaimana solusinya, merujuk pada apa yang sudah dipaparkan M. Syafi’ie el-Bantanie di awal. Salah satu hal yang muncul dalam diskusi adalah—mengapa terjadi bullying—bahwa adanya perspektif umum yang cenderung menyamakan antara bullying dengan bercanda, hanya saja dalam hal ini bullying dimasukkan dalam kategori “bercanda yang keterlaluan”.

Salah satu contoh yang membuat bias antara bercanda dengan bullying adalah, kebiasaan yang lumrah terjadi di SD dulu ketika kita ledek-ledekan dengan menyebut nama orangtua. Ada sebagian masyarakat menganggap hal tersebut sebagai bercandaan saja—karena maksudnya hanya untuk lucu-lucuan dan malah menjadi kenangan yang berkesan—ada juga masyarakat yang menganggap hal tersebut masuk dalam kategori bullying karena dirasa menimbulkan kegelisahan dan menyinggung perasaan. Hal demikian hanya merupakan contoh kecil dari kesalahpahaman dan mispersepsi masyarakat dalam memandang antara bercandaan dan bullying.

Jika kita merujuk pada contoh tersebut, sebelum menyelesaikan permasalahan bullying dengan menyodorkan solusi, pertama-tama kita harus mendapatkan poin penting atau definisi dari bullying itu sendiri—mengingat hal ini masih dipersepsikan berbeda oleh sebagian masyarakat. Dari kegiatan Diskusi Produktif diketahui ada sekurang-kurangnya dua indikator terkait suatu perbuatan masuk dalam kategori bullying, yaitu adanya unsur superioritas (eksploitasi yang lemah oleh yang kuat) dan intimidasi (adanya pihak yang terintimidasi).

Suatu perbuatan yang masuk dalam kategori bullying, dari sudut pandang mana pun tidak dapat dibenarkan. Karena, selain jelas merugikan korban, pelaku bullying yang tidak disadarkan juga akan mengalami kerugian baik di masa sekarang maupun di masa depan. Korban bullying sangat rentan terhadap trauma, kecemasan atau ketakutan yang membayangi selama hidupnya. Pelaku bullying bisa jadi disisihkan dari masyarakat atau mendapatkan balasan serupa dari korban bullying di masa lalu, sungguh efek negatif yang sangat disayangkan.

Diskusi diakhiri dengan kesimpulan bahwa Dompet Dhuafa Pendidikan secara tegas menolak segala tindakan yang termasuk dalam kategori bullying, baik bullying dalam bentuk verbal, fisik, relasional, maupun media. Untuk mengatasi dan mencegah terjadinya bullying—agar tidak ada lagi pelaku dan korban bullying—di lingkungan sekitar kita dan khususnya di sekolah, maka masyarakat harus mengetahui indikator bullying. Suatu tindakan dikatakan bullying, apabila di dalamnya terdapat unsur superioritas (penggunaan kekuasaan untuk mengeksploitasi pihak yang lemah) dan instimidasi (adanya pihak yang terintimidasi). Dan, pada sebagian besar kasus, masalah bullying selain disebabkan oleh pelaku bullying itu sendiri, juga adalah terkait bagaimana seseorang menyikapinya. Seseorang akan bisa terhindar dari melakukan perbuatan bullying dan menghadapi bullying, jika orang tersebut mempunyai prinsip yang baik dalam hidupnya. Agar dapat memiliki prinsip hidup yang baik, maka dalam diri seseorang harus ditanamkan konsep diri yang baik, sensitivitas diri atau empati yang tinggi, kemampuan mengenal diri sendiri, dan sistem nilai (system value) yang baik. (PHD)

Komentar

komentar