Bukan Sekadar Latah Literasi

Oleh: Siti Sahauni.

 

 

Perkembangan literasi dewasa ini seperti orang latah. Perkembangannya semakin gencar dilakukan oleh beberapa kalangan, baik formal maupun nonformal. Mulai dari pemerintah yang menyelenggarakan berbagai kegiatan ke ranah literasi, hingga komunitas bergotong royong dan berbondong-bondong mendirikan taman bacaan masyarakat, sanggar atau sejenis lainnya.

 

 

Betapa literasi saat ini sedang menjadi sorotan lain di mata publik. Anies Baswedan yang kala itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, misalnya. Ia juga melibatkan literasi masuk dalam sekolah. Gerakan literasi sekolah yang digemakan oleh Anies Baswedan menitikberatkan pada penggunaan bahasa sebagai penumbuh budi pekerti. Kirch & Jungeblut, seorang penulis buku Literacy-Profile of America’s Young Adult, memaknai literasi sebagai kemampuan dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

 

 

Perkembangan literasi saat ini memang telah menunjukkan perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik dan semoga bukan karena sedang trend. Sehingga ketika trend itu redup pengaruhnya tidak sampai mematikan keberadaan dan fungsi yang sebagaimana mestinya. Trend literasi kekinian memang sedang merebak dari kota hingga ke daerah. Dari yang jiwanya terpanggil untuk mengabdikan dirinya pada masyaraka, hingga yang paling mengenaskan adalah karena ada maksud lain. Kemunculan maksud justru memperjelas bahwa mereka melakukan ini itu yang katanya literasi hanya demi keuntungannya perseorangan. Bukan untuk orang lain apalagi hingga sampai khalayak umum. Alhasil banyak komunitas memalsukan keberadaan dan kegiatannya alias bodong.

 

 

Sepanjang perjalanan literasi yang kian maju dan menjamur layaknya di musim penghujan. Eksistensi komunitas sangat dipertaruhkan. Eksistensi di sini menunjukkan adanya keseriusan dalam menjalankan literasi itu sendiri. Meskipun banyak ujian yang datang silih berganti. Tetapi ujian yang menimpa itu tidak semerta merta menenggelamkannya.

 

 

Banyak komunitas yang hingga detik ini mampu bertahan melewati fase demi fase untuk dapat diakui dan dipercayai, baik oleh masyarakat sekitar hingga meluas sampai pada lapisan ke pemerintahan. Seperti yang dilakukan oleh Taman Bacaan Rumah Dunia yang berada tidak jauh dari pusat kota Serang, Banten.

 

 

Sejak 2002 lalu, jatuh bangun Rumah Dunia sudah tak terbilang lagi, tetapi Rumah Dunia tetap menggulirkan dan menggemakan literasi di tanah jawara. Menyebarkan virus literasi melalui kegiatan yang pada masa itu tidak ada sebelumnya. Khususnya di tempat non formal. Hingga akhirnya mampu mencetak orang-orang yang kompeten dibidangnya tidak hanya di bidang tulis menulis namun juga di bidang sastra lainnya.

 

 

Keprihatinan seorang Gol A Gong pada Banten pada masa itu membuatnya mendirikan sebuah gelanggang remaja yang diberi nama Rumah Dunia. Keinginannya membuat gelanggang tak lain adalah untuk menjadikan generasi muda Banten kritis. Melalui membaca dan menulis. Ia selalu memaparkan kata yang sama acap kali ditanya mengapa diberi nama Rumah Dunia. Memindahkan dunia ke rumah lewat buku. Filosofis nama Rumah Dunia memang bagai magic. Magisnya kuat. Kekuatan magis itu, Gol A Gong menularkannya menjadi sebentuk semangat baru, semangat baru merupa mimpi dan harapan akan sebuah keajaiban di masa mendatang bagi pemuda di tanah kesultanan Banten.

 

 

Gerakan literasi tidak hanya digemakan oleh komunitas saja. Pada 2010-an misalnya, sebuah kampanye minat baca di mall mulai bergeliat dan ini sudah ditargetkan oleh Kemdiknas yaitu membuka 561 TBM, terdiri dari 23 TBM di mall, 2 TBM di rumah sakit, 36 TBM di Balai Belajar Bersama yang dapat dinikmati oleh masyarakat, 50 TBM untuk di daerah terpencil, serta 450 TBM Keaksaraan bagi rumah singgah dan panti sosial. Sebuah buku Gempa Literasi dari Kampung untuk Nusantara yang ditulis oleh Gol A Gong dan Agus M. Irkham mengembalikan akan peran pemerintah dan masyarakat. Mereka menjabarkan semuanya secara gamblang. Mengapa mall menjadi sasaran untuk membuka TBM.? Karena pengunjung mall mayoritas remaja, menurut Organisation for Economic Cooperation and Development minat baca remaja di Indonesia hanya berada di kisaran 393 jauh dibandingkan dengan negara lain yakni 492.

 

 

Target yang dibuat oleh Kemdiknas mengenai kampanye minat baca memang telah mewabah hingga kini. Hingga tak ayal menyentil tempat-tempat yang terpencil. Namun pergerakannya tidak semulus yang diharapkan. Ya, di Indonesia literasi memang sedang hangat dibicarakan dan digelorakan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Sekalipun kemunculannya dan pergerakkanya terlambat di Indonesia. Namun, keterlambatan itu tidak mematikan semangat para penggiat literasi. Khususnya penggiat literasi di daerah. Gerakan disinyalir dapat membawa perubahan. Ini merupakan gerakan dari kampung untuk dunia.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.