Bu Wiwin yang Selalu Ikhlas dan Tak Pernah Menyerah

 

Oleh: Ayu Astika Sari R.

 

“Mari kita sama-sama berdoa!” seru bu guru dari depan ruang kelas.

 

Anak-anak lalu membaca doa belajar serentak dengan semangat.

 

Pagi itu cerah. Suara langkah kaki memasuki ruang kelas I. Anak-anak murid yang tadinya berhamburan ke sana ke mari langsung sigap duduk di bangku masing-masing. Perempuan yang mereka panggil bu guru kemudian memberikan instruksi untuk berdoa.

 

Perempuan paruh baya itu begitu semangatnya mengajar. Nafas yang sedikit terengah sesekali terdengar. Bagian punggung baju coklat kesayangannya pagi itu masih basah dibasuh keringat. Tangannya begitu telaten memegangi anak-anak murid yang belum terbiasa memegang pensil.

 

Namanya Artawinah, lebih akrab dipanggil Wiwin. Tak terasa, tahun ini sudah genap enam belas tahun ia mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar honorer di SDN 1 Parage Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak, Banten. Perempuan 52 tahun asal Sawarna ini dulu tak pernah membayangkan bisa berprofesi sebagai guru. Namun, baginya semua pekerjaan yang halal tentu akan mendatangkan kebaikan.

 

Bagi Bu Wiwin, kebahagiaan terbesarnya adalah bisa membantu anak-anak muridnya memegang pensil dengan baik, membaca, dan menulis. “Ibu mah senangnya ngajar kelas I. Tadinya anak-anak belum bisa pegang pensil, membaca diajarin tiap hari dengan sabar. Alhamdulillah lama-lama jadi bisa. Senang rasanya,” tuturnya.

 

Bu Wiwin yang sedari dulu bercita-cita menjadi perawat, harus rela mengubur dalam-dalam impiannya karena tidak memenuhi kriteria dari segi (postur badan) tinggi badan dan berat badan. Setelah ditolak dari Sekolah Keperawatan (SPK) -kala itu setara SMA-, ia kemudian mendaftar di SMA PGRI Rangkasbitung dan menamatkan sekolah selama tiga tahun. Di sana, bu Wiwin bertemu sosok guru-guru honorer yang ikhlas mengabdi demi pendidikan. Merekalah yang membuat hati kecil bu Wiwin berucap “suatu hari semoga saya bisa membalas kebaikan guru-guru saya”. Siapa sangka ucapan itu menjadi kenyataan dan takdir mengantarkan bu Wiwin menjadi seorang guru hingga sekarang.

 

Setiap hari setiap pukul 06.30 WIB, bu Wiwin berjalan kaki empat kilometer dari rumah menuju sekolah. Lahan sawah dan jalan aspal bolong adalah makanannya sehari-hari. Jika musim kemarau debu-debu berterbangan dan sinar matahari menjadi teman perjalanan, jika musim hujan banjir menggenang sepanjang jalan.

 

Teu nanaon (tidak apa-apa.red) neng, jalan kaki tiap hari biar sehat,” ujar bu Wiwin.

 

Rupanya sejak SMP ia gemar berjalan kaki. Kala itu ia harus menempuh perjalanan lima belas kilometer ke sekolah, sebab tidak ada kendaraan hingga membuatnya rela berpeluh keringat demi menuntut ilmu.

 

Pada 2013 bu Wiwin memutuskan mengenyam bangku perkuliahan. Ia menempuh pendidikan S1 Keguruan di Universitas Terbuka Rangkasbitung. Ia sadar, ilmu harus terus dicari dan dibagikan kepada anak-anak muridnya. Hanya saja kuliahnya sempat terhenti pada 2018 karena harus mengurus cucu yang menderita kelainan darah selama satu tahun. “Teu nanaon (tidak apa-apa.red), ikhlas ridho neng. Kuliah nanti bisa dilanjutin ada aja kesempatannya, ini kesempatan ngurusin cucu belum tentu ada lagi kalau lagi sakit gini,” tutur bu Wiwin.

 

Bagi bu Wiwin, setiap orang tua adalah teladan untuk anak-anaknya. Walaupun usianya sudah tak lagi muda, ibu dua anak ini tak pernah ingin berleha-leha di rumah. Baginya cara  bersyukur kepada Allah adalah dengan mengabdi. “Ikhlas, rida aja sebagai contoh bagi anak-anak ibu,” seru bu Wiwin.

 

Semester berikutnya, bu Wiwin bertekad melanjutkan pendidikannya dan menyabet gelar sarjana yang sempat tertunda.  Bu Wiwin, terima kasih telah memberi ketulusan dalam pengabdian untuk kemajuan pendidikan di Lebak. Tetap semangat menginspirasi kami ya bu.

Komentar

komentar