Bogor, Aku Kembali

IMG-20170908-WA0005

Oleh: Agung Rakhmad Kurniawan, S.T., SGI

KAWAN Penempatan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Anak-anak berteriak dari luar mengajak latihan bola saat sore menjelang senja, aku masih saja sibuk di depan laptop menyelesaikan pekerjaan sisa cuti. Sebuah pesan masuk dari gawai yang dari pagi tadi hanya tersandar di dinding, terdiam menangkap sinyal, sebuah pesan gerakan kepemudaan yang tertulis jelas, IYEF Camp judulnya. Kubaca sejenak, lalu kutinggalkan berlari bersama anak-anak sambil memikirkan siapa yang akan berangkat nanti.

Senja pulang, malam sunyi datang. Mesin genset mulai meraung menandkan ia akan bekerja selama tiga jam ke depan, kembali kutatap laptop melanjutkan pekerjaan. “Boi, ini ada kegiatan baru lagi di Bogor, mau ngimbai Ndak (ikutan Ndak)?” Aku sedikit berteriak dari kamar. Ia langsung meninggalkan meja kerjanya, meninggalkan RPP yang sedang ia susun. “Kegiatan apa pak? Mau pak ” matanya berbinar, memendam harapan yang besar.” Kegiatan skala nasional nih, tapi biaya sendiri, sanggup?” Ujarku. Seketika ia terdiam, namun matanya masih mengatakan kali ini dia harus berangkat lagi. “Baiklah pak, saya harus berangkat, urusan biaya kita pikirin nanti,” ujarnya. Aku bergegas menyiapkan apa saja yang harus disiapkan, kesempatan ini tidak datang dua kali.

Sepulang sekolah, kami berangkat menuju bukit 3G. Bukit tempat di mana segala aktivitas yang berhubungan dengan internet bisa dilakukan. Memakai sampan selama satu jam kami pun sampai. Akhirnya semua berkas telah siap. “Boi, gimana dengan biaya nya ? ” Aku memecah keheningan. ” Uang tabungan buat kuliah dipakai dulu pak, nanti saya pinjam sama kakak juga,” ia tambah optimis sambil mengisi formulir yang barusan diunduh. Harapan yang dipenuhi doa seorang pemuda yang berada di pelosok Hulu Sungai Kapuas.

Namanya Aswat, seorang pemuda yang menyambutku pertama kali sampai di penempatan keduaku, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Namanya Aswat, seorang pemuda yang mengabdikan dirinya sebagai seorang guru disebuah sekolah pelosok pedalaman walaupun ia hanya tamatan SMA. Namanya Aswat, seorang pemuda yang punya banyak mimpi yang salah satu mimpinya terwujud bulan April lalu saat ia berangkat ke Pulau Jawa pertama kali mengikuti Konferensi Kepala Sekolah mewakili sekolahnya. Hal inilah yang membuat ia ingin kembali ke Bogor, memperdalam ilmu untuk bekal pengabdiannya. Seperti yang ia sering katakan padaku “saya akan selalu berjuang untuk anak-anak di desa ini, pak”.

Akhirnya pesan di email itu pun masuk, ia dinyatakan lulus bersama salah satu rekan mengajarnya di sekolah. Dengan segala keterbatasan yang ada, doanya terkabul, Bogor masih berjodoh dengannya. “Alhamdulillah bisa naik pesawat lagi pak,” tak henti ia sujud syukur. Perjuangan ia mengumpulkan biaya untuk berangkat lagi dari gaji guru yang ia terima setiap enam bulan sekali dari dana swadaya masyarakat memberikan sebuah pelajaran bahwa Allah tak akan diam dengan niat dan harapan hamba-Nya untuk mengejar ilmu.

Bung Karno pernah berkata, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia, kurasa, Aswat adalah salah satunya. Pemuda yang penuh dengan mimpi dan harapan, pemuda yang terkadang membuat iri dengan jam belajarnya yang banyak setiap harinya. Cita-cita mulianya untuk membahagiakan orangtua dengan memberi manfaat bagi orang lain dengan ilmu yang ia punya terus ia buktikan.

Apa yang bisa kita berikan untuk agama, bangsa dan negara maka lakukanlah, jangan coba bertanya balik. Seperti kata Buya Hamka, jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan nilai dari mana kita berasal tapi nilailah sudah sejauh mana kita bermanfaat. Mulailah dengan langkah kecil, karena langkah yang jauh selalu dimulai dari langkah awal yang kecil.

Komentar

komentar