Bisa Bercerita, Tetapi Belum Bisa Baca

Tepat satu hari sebelum Hari Kunjung Perpustakaan, saya datang ke sekolah salah satu dampingan program Gemari baca  untuk melakukan monitoring, evaluasi dan supervisi kegiatan membaca. Seperti biasa sekolah sepi, karena siswa/i sibuk di ruang kelas masing – masing, kemudian saya langsung masuk ke ruangan perpustakaan yang kondisinya lebih nyaman dibanding sebulan sebelumnya. Bagaimana tidak? Ruangan yang awalnya kosong itu sekarang memiliki karpet yang tebal dan sudah berAC, maklumlah kabupaten Tangerang ini juga dikenal akan hawa panasnya, dengan ruangan berAC jangankan anak – anak sayapun betah, apalagi desainnya sangat nyaman dan ada deretan buku anak dengan cover menghadap depan.

Saat saya sedang menunggu, tibalah seorang guru dan pasukan siswa/inya datang untuk melakukan kegiatan membaca. Kehadiran saya di perpustakaan tersebut juga tak lain untuk mensupervisi kegiatan membaca lantang di kelas satu dan membaca berpasangan di kelas dua yang dilakukan oleh guru tersebut.

Saya menemukan kejadian yang sangat menarik. Ini terjadi saat sesi menceritakan kembali, Seusai aktivitas membaca, kami biasanya meminta beberapa siswa maju ke depan untuk menceritakan isi buku yang dibacanya.

“Naah…. sekarang bu guru mau meminta teman – teman untuk maju ke depan. Siapa yang berani untuk menceritakan kembali?” Sang guru bertanya

“Saya bu!” ucap seorang Siswa bernama Aboy

“Aduuhhhhh, gimana ni bu, si Aboy belum bisa baca tapi malah pengen ke depan” guru tersebut berbisik dengan suara pelan kepada saya. Saya hanya tersenyum mempersilahkan

“Silahkan Aboy dan temannya untuk maju ke depan”, Sang guru memilih untuk mempersilahkan Aboy dan temannya untuk ke depan

Dengan penuh ekspresi dan percaya diri Aboy berdiri di depan, ia bercerita tentang dunia kolam yang merupakan cerita dari buku yang dibacanya, dimana di dalamnya beragam hewan tumbuh di sana. Aboy bercerita dengan lancar, iapun bisa menjawab pertanyaan gurunya dengan baik.

Saya melihat jelas ekspresi kaget dari sang guru, “waaah… Bagaimana bisa ya bu Aboy bercerita dengan lancar? padahal ia belum bisa baca sama sekali, sampai saya harus mengadakan les khusus untuknya”, sang guru sangat keheranan

Saya sampaikan pada gurunya, hal demikiann merupakan dampak dari pembiasaan membaca. Membaca tidak hanya diartikan mengeja huruf per huruf, tetapi mampu mendefinisikan dan mengimajinasi gambar dan menghubungkannya dalam kehidupan sehari – hari. Dua kejadian tadi membuat sang guru semakin menyadari dampak aktivitas membaca juga bisa mendorong keterampilan dan penguasaan siswa terhadap materi ajar. Selama ini guru – guru di sekolah tersebut kurang antusias menerima program – program yang kami berikan , tetapi hanya dari satu kejadian tersebut sang Guru menjadi semakin semangat menerapkan kegiatan membaca menjadi pembiasaan di sekolah.

Hari berikutnya, tepat 14 September 2019 Tiga Belas sekolah dampingan merayakan Hari Kunjung Perpustakaan. Banyak sekali aktivitas yang digalakkan oleh sekolah, masing – masing memiliki inovasi kegiatannya sendiri. Seperti SDN Waringin dengan program unggulannya, Gebuk, Gelar Buku, perpustakaan yang mini membuat SDN Waringin harus memutar otak agar seluruh siswa dan orang tua bisa menikmati kegiatan membaca tanpa harus berdesakan di ruangan perpustakaan. Adapula kegiatan KUACI, Komunitas orang tua cinta literasi, meningkatkan minat baca penting sekali didukung poleh orang tua sehingga program dapat berjalan maksimal.

Perayaan Hari Kunjung Perpustakaan tersebut membuat saya selaku pengelola program Gemari Baca merefleksikan diri, ada lima  hal yang patut dijadikan bahan renungan :

Pertama, program ini tidak hanya mendorong keterampilan membaca, tetapi juga agar bagaimana anak – anak memiliki hubungan spesial dengan buku – buku. Keminatan tidak bisa dibangun dengan sekedar penyediaan akses yang lengkap, tetapi harus dibangun dengan hubungan yang tulus antara guru, siswa dan buku.

Kedua, keterampilan membaca tidak bisa selalu dinilai dengan terampilnya anak membaca aksara, tetapi juga bagaimana ia bisa mengambil pelajaran dan menghubungkan dengan kehidupan mereka sehari – hari, juga mampu mengambil dan menebarkan manfaat dari buku yang ia baca.

Ketiga, idealisme program Gemari Baca terkadang berbenturan dengan kebijakan di sekolah. Contoh yang paling sering terjadi adalah penentuan tanggal pembinaan dan pelatihan, terkadang bisa ditunda satu atau dua bulan agar sesuai dengan jadwal sekolah yang padat. Terlepas dari semua itu, program harus tetap diberikan. Tidak ada kata terlambat, setiap sekolah memiliki waktu cemerlangnya masing – masing.

Keempat, ruangan perpustakaan kami dorong agar bisa sangat nyaman. Tidak dimungkiri bahwa di sebuah sekolah perlu ada tempat rekreasi, tempat anak – anak bisa santai tanpa terbebani dengan rutinitas belajarnya. Desain yang nyaman di perpustakaan harapannya dapat mewujudkan hal tersebut. Meski, tidak semua anak datang ke sana untuk membaca, setidaknya hanya dengan berdiam diri di perpustakaan, lambat laun akan mendorong dirinya mengambil buku yang menarik minat hati mereka.

Kelima, tidak ada program yang dikatakan sangat bagus, atau sangat buruk. Semua memiliki waktu dan tempatnya masing – masing. Karena setiap sekolah dan setiap SDM di dalamnya memiliki karakteristik yang berbeda – beda.

Hari Kunjung Perpus (4)

Hari Kunjung Perpus (4)

Komentar

komentar