Bila Zakat Semudah Memberi Like

Tempo hari saya sempat merenung tentang spanduk yang banyak bertebaran di pinggir jalan raya. Ucapan marhaban ya Ramadhan, anjuran bersedekah dan berzakat dari instansi hingga pribadi. Ada yang datar-datar saja, unik, juga jleb.  Banyak versi dan masing-masing punya style tersendiri. Tetapi, ada satu yang menarik dan memikat saya untuk memikirkannya lebih jauh. Hingga dalam hati saya terus berpikir dan membatin, “keren sekali orang yang punya ide ini. Kreatif. Siapa, ya, yang ahli fikir dalam lembaga itu” Hehe.

 

Zakatnesia dengan hastagnya yang kekinian, ‘ZAKAT SEMUDAH MEMBERI LIKE’.

 

Wow, bagi Anda yang tak asing dengan sosmed, tentu sering memberi like pada sebuah status,  gambar, atau apa saja yang sering nampang di wall sosmed Anda. Mudah bukan kalau sekadar memberi like? Cukup mengarahkan kursor dan menyentuh tanda like. Maka, jadilah Anda penyumbang like pada wall yang nampang di dinding sosmed Anda itu. Tetapi, tahukah Anda bahwa orang yang memberi like pada sebuah status juga butuh proses membaca dan merenunginya hingga tergugahlah mereka untuk memberi like.

 

Tema di atas menurut saya sangat menarik. Penasaran dengan lembaga zakat yang punya tema itu? Sejauh pemahaman saya, ide cemerlang itu digaungkan oleh salah satu lembaga zakat nasional yang telah banyak berkiprah, berkhidmat untuk kaum dhuafa. Ini bukan promosi, ya! Saya tertarik saja dengan ide lembaganya. Tapi kalau ini termasuk iklan juga tidak mengapa. Itung-itung beramal bila melalui tulisan saya, Anda menjadi mudah untuk berzakat.  Kira-kira, pembaca tahu tidak, ya? Lembaga zakat yang saya maksud?

 

Dompet Dhuafa. Ya, itu nama lembaganya! Wuidih, keren juga nama lembaganya. Dompet para dhuafa. Tak diragukan lagi, orang-orang di dalam lembaga inj, nih, super hebat dan keren.

 

Zakatnesia, zakat untuk Indonesia. Itu versi saya. Barangkali pembaca juga punya versi lain bila mendengar dan melihat kata itu. Seluruh muslim tahu bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam. Artinya, kudu ada dalam laku dan diri tiap-tiap mukmin. Lah, apa jadinya kalau zakat tak dipahami sebagai suatu kewajiban? Bisa brabe, dong, ya? Kan, yang wajib-wajib itu ganjarannya adalah Naar bila tak ditunaikan? Serem, deh!

 

“Kalau menyalurakannya secara langsung gimana, sis?”

“Ya, gak masalah, sih, tetapi harus tepat sasaran”

“Tepat sasaran bagaimana maksudnya, sis?”

“Ya, kan, ada 7 kategori yang berhak mendapat zakat. Ingat, kan?”

“Oh, gitu, ya, sis?”

“Iya, makanya harus hati-hati, tuh dalam memberikan zakat!”

“Wadddduh, tipa tahun keluarga dan seisi kampung saya, sis, menyerahkannnya ke imam kampung, itu bisa ya sis?”

“Bisa saja, asal disalurkan lagi kepada yang berhak tadi”

“Nah, itu, dia, sis, usut punya usut zakat itu dijual lagi, kata warga sebagian disalurkan sis. Tetapi, penyalurannya juga tidak transparan”

“Innalillah, makanya agar zakat Anda lebih aman, melalui lembaga zakat yang kredibel saja penyalurannya, seperti lembaga yang saya paparkan sekarang ini, nih”

 

Wah, bahaya. Bahaya banget bila ada pengumpul zakat yang tak transparan. Apalagi kalau dijual atau ditumpuk untuk diri. Kasihan yang berzakat melalui orang tersebut. Itu baru satu sisi, loh. Masih ada sisi lain. Tadi subuh saya sempat japrian dengan Andriansyah Andri, salah satu pimpinan lembaga zakat yang ada di Sulsel. Menanyakan tentang potensi zakat, kata Andriansyah, ada 217 Trilyun potensi zakat di Indonesia. Namun, yang terhimpun dari seluruh LAZ, baru sekitar 4 Trilyun. Gila, bro dan sis! Kebayang tidak berapa yang disalurkan secara langsung dan berapa persen yang tidak menyalurkan sama sekali? Ini angka yang fantastis, nih. Trilyuuun, bro-sis! Kira-kira ke mana, ya?

 

Itu data se-Indonesia. Kalau wilayah Sulsel saja, bagaimana, banyak tidak? Katanya, lagi nih, ya, potensi Sulsel sebesar  700M. (Tujuh ratus milyar). Dan yang terserap dari per lembaga sekitaran 1, 3 Milyaran. Kalau misalnga lembaga zakat di Sulsel ada 20 dan 1, 3 Milyar dikali 20, sepertinya masih sangat jauh dari potensi yang ada.

Lagi-lagi, saya bertanya-tanya ke mana zakat2 yang lain? Ya, jawabannya bisa jadi ada yang menyalurkan sendiri, atau bahkan ada yang tak menyalurkan sama sekali. Loh, kok bisa ada yang tak menyalurkan? Bisa jadi! Kan, tak semua paham akan kewajiban berzakat ini. Sama halnya, dengan tulisan di wallmu tadi, temanmu ada 2.000 misalnya, apa semua memberikan like? Tidak, kan? Hanya yang paham dan ngerti isi yang memberikan ‘like’.

 

Andai saja zakat semudah memberi like, seperti hastag yang digaungkan itu. Maka, tak ada warga kelaparan. Seperti zaman Khalifah Umar bin khattab yang menghimpun zakat seluruh masyarakat kala itu. Kemudian, ia salurkan pada orang yang tepat. Maka, jadilah di zaman kepemimpinannya, tak ada lagi warga miskin, nelangsa nan melarat.

 

Sekarang, memang banyak tempat berzakat. Pemerintah punya, yayasan juga punya. Andai zakat ini menjadi model rule yang benar-benar terimplementasikan dengan baik. Didukung oleh pemerintah sepenuhnya, layaknya metode Umar. Barangkali, tak ada lagi pengemis yang bertebaran. Tapi, apa pun itu kondisinya, Anda yang paham zakat sebagai rukun Islam, yuk, mari berzakat di tempat yang tepat. Sebab, tak sah keislaman kita bila tak menunaikan kewajiban berzakat ini. Banyak, ayat dalam kitab yang menyerukannya. Ia pun posisi kedua terpenting setelah sholat. Zakatnesia, zakat untuk Indonesia, mari kita bantu gaungkan, di dumay dan nyata.

Kalau Anda banyak di dumay. Minimal dengan memberi like dan membagikan tulisan tentang zakat.

 

#sahurkataKMO35

#1000penulismuda

#byDasnah

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.