Biblioterapi for Refugee

Seorang anak menceritakan kisahnya di negara asalnya dengan penuh emosional. “Dulu waktu aku sekolah, semua guru selalu memukul aku juga teman-teman. Dipukul pakai rotan, ditampar kadang ditendang. Pernah suatu kali aku masuk kelas mengaji tiba-tiba disuruh berdiri dan dipukul. Ketika ditanya kenapa aku dipukul katanya karena aku pergi ke kolam renang,” ceritanya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Pengalaman pahit juga dirasakan oleh anak lainnya yang dia ceritakan melalui sebuah tulisan. Begini bunyi tulisannya, “ Sewaktu Ramadan di negara saya, terjadi perang. Banyak bom. Sewaktu keluar rumah saya melihat mayat dan darah di mana-mana,” tulisnya.

Luka emosional ini ternyata tidak saja mereka alami ketika masih di negara asalnya, melainkan juga saat berada di Indonesia. Hidup berbeda dengan orang-orang di sekitar adalah hal yang menantang dan berat apalagi dalam proses adaptasi tersebut menerima kekerasan verbal. Anak-anak yang berasal dari negara dengan kulit berwarna lebih gelap kerap kali menjadi ejekan dari warga lokal. Hal ini membuat mereka semakin tidak percaya diri dan tertutup. Belum lagi tekanan yang mereka dapatkan karena kondisi perekonomian yang tidak stabil. Benar-benar kompleks.

Biblioterapi telah dikenal sejak zaman Yunani Kuno, tepatnya di atas gedung Perpustakaan Thebes terdapat patung yang melukiskan orang tengah bosan dan di bawahnya terdapat manuskrip berbunyi “the healing place of the soul” (tempat penyembuhan jiwa). Biblioterapi berasal dari kata “Biblion” dan “Therapeia“, Biblion berarti buku atau bahan bacaan, sedangkan Therapeia artinya penyembuhan. Jadi, Biblioterapi berarti upaya penyembuhan lewat buku.

Saat ini, Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengambil inisiatif untuk melakukan Biblioterapi kepada anak-anak Refugee. Kegiatan ini dilakukan setiap dua minggu sekali dengan aktivitas menyenangkan seperti membacakan cerita, bernyanyi, membuat alat peraga bersama, berpuisi hingga bermain drama. Semua aktivitas ini dirancang untuk merangsang sekaligus melatih motorik, sensorik dan kognitif-afektif mereka. Sehingga Biblioterapi adalah kegiatan yang sangat dinanti anak-anak di setiap waktunya.

Mengingat anak-anak ini akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang akan menjadi bagian dari sebuah masyarakat maka program ini menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membuat mereka tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat mental dan pikiran. Dengan demikian mereka akan berkontribusi positif di masyarakat nantinya. Sebab, jika hari ini kita tidak memberikan buku di tangan mereka maka di kemudian hari pedang yang akan ada di tangan mereka.

Komentar

komentar