Bersama KAWAN SLI Aku Bahagia

Bersama KAWAN SLI Aku Bahagia

 

Aku bahagia sekaligus bingung dan takut, mengapa? Karena baru saja temanku mengirimkan ucapan selamat atas kelululusanku sebagai Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa. Hari itu di Bulan Ramadan yang penuh berkah, Allah Swt. kembali memberikan nikmat yang begitu besar kepadaku. Pada 11 Juli 2018 bertepatan 25 Ramadan 1439 H, Aku dinyatakan lulus sebagai peserta KAWAN SLI Angkatan 2. Aku cukup terkejut saat temanku mengirimkan pesan itu, karena belum ada informasi yang aku dapatkan dari panitia. Namun, informasi yang ia sampaikan aku yakin benar, karena ia bekerja di Dompet Dhuafa. Kabar ini hanya kusimpan sendiri, dan kuceritakan pada Allah Swt. dalam shalatku berharap diberikan ketetapan hati untuk menentukan keputusan yang terbaik dan apapun yang aku putuskan, orangtuaku ridha atasnya.

Aku galau, bingung, dan segala macam pikiran yang datang di benakku. Apakah aku harus memilih SLI ? Apakah aku bisa memahami segala hal yang berhubungan dengan sekolah? Apakah aku bisa amanah? Apakah aku bisa menjadi Konsultan Relawan? Apakah aku bisa hidup di daerah penempatan yang daerahnya adalah di desa, urban, dan beranda? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tetapi di sisi lain aku ingin belajar, aku ingin ilmuku bermanfaat dan menjadi amal jariyah, aku ingin mencoba sesuatu yang baru, aku ingin mengembangkan diri dan segala keinginan lainnya. Dan semua itu bisa aku dapatkan di SLI. Akhirnya setelah melobi sang khalik, kuputuskan untuk memilih.

Sehari setelah lebaran saat malam tiba, dengan hati-hati aku mulai mendekati orangtuaku yang sedang menonton televisi, dengan perlahan sambil menikmati kue kering aku mengatakan bahwa aku tidak akan kembali ke Gorontalo setelah lebaran, dan  menyampaikan bahwa dalam waktu dua pekan ke depan aku akan menuju Bogor dan mengikuti pelatihan Kawan SLI selama dua bulan dan kemudian aku akan ditempatkan di daerah selama satu tahun.

Mama dan bapakku tidak terlalu kaget atas apa yang kukatakan, karena sebelumnya mereka berdua memintaku untuk mencari pekerjaan di Makassar saja. Namun, mereka tetap bertanya mengapa? Dan kusampaikanlah hal di atas. Kusampaikan pada orangtuaku bahwa SLI tetaplah bergerak di bidang pendidikan. Di mana nanti aku akan mendampingi sekolah di daerah-daerah terpencil. Walaupun,  bapak mamaku tidak terlalu mengerti tentang apa yang kusampaikan tetapi mereka selalu menyetujui keputusanku.

Oh iya! Sebelumnya aku menyebutkan bahwa aku tidak akan kembali ke Gorontalo. Jadi ceritanya gini, sebelumnya aku bekerja di salah satu universitas di Gorontalo sebagai dosen dan di sana aku merasa sangat miris dengan kondisi mahasiswa dan sistem yang ada di kampus tersebut. Di sana itu, rata-rata keinginan dan semangat sekolah mahasiswanya itu masih sangat rendah. Ketika aku mengajar aku merasa sedang menghadapi anak Sekolah Dasar (SD). Lantas aku bertanya-tanya pada diriku apa yang salah dengan kondisi ini? Apakah karena aku yang tidak mampu mengajar, mendidik atau mereka yang tidak punya motivasi belajar? Karena alasan inilah ketika info SLI kulihat di Facebook, aku memutuskan mendaftar.

Aku tidak ingin menangis saat pamit dengan mamaku tetapi  air mataku tetap mengalir karena mamaku terisak. Aku tahu bahwa beliau sedih dan berat melepasku dalam waktu yang lama serta dipisahkan jarak yang sangat jauh. Namun mamaku selalu percaya aku bisa bertanggung jawab dengan kepercayaan yang mereka berdua berikan.

Segala rasa berkecamuk di dadaku, menemani perjalananku ke Bogor ke tempat Pembinaan Kawan SLI. Aku dan beberapa peserta dari luar Pulau Jawa dijemput di Bandara Soeta. Malam sudah cukup larut, saat aku tiba di Bumi Pengembangan Insani (BPI) Dompet Dhuafa. Karena lelah, malam itu aku belum sempat berkenalan dengan peserta lain yang ada di Asrama SLI Kecuali teman sekamar. Di asrama perempuan, panitia telah membagi peserta di dalam tiga kamar dan aku ditempatkan di kamar yang paling banyak yaitu enam orang sedang kamar lain hanya 5 orang. Jadwal kegiatan tiga hari ke depan pun telah ditempelkan di papan pengumuman.

Kantuk dan lelah tubuhku belum hilang saat pagi menjelang. Kegiatan pertama di mulai pada pukul 06.00 pagi. Semua peserta SLI diinstruksikan ke halaman parkir, di sanalah kami bertemu dengan Tim SLI dan seluruh peserta Kawan SLI yang berjumlah 24 orang. Dingin dan perasaan segan menyelimuti hati bertemu orang-orang hebat di dunia pendidikan. Namun aku mencoba berbaur agar akupun bisa menjadi hebat seperti mereka.

Pagi itu kami diberi permainan untuk menuju Kebun Raya Bogor per kelompok dengan hanya memberikan kata sandi dan uang. Semua alat elektronik dan dompet serta uang yang dimiliki peserta harus dikumpulkan. Keseruan, keakraban, nilai, dan harapan kurasakan hari itu dengan segala permainan dan arahan yang diberikan oleh Tim SLI. Lelah, letih, capek terbayar dengan keluarga baru yang akan membersamaiku selama dua bulan kedepan dan akan saling mendukung ditempat penempatan masing-masing di tempat penempatan nanti.

Jari-jariku sangat pegal keesokan harinya, kenapa? Karena ratusan soal psikotes harus aku dan peserta SLI selesaikan dengan waktu yang terbatas. “Alhamdulillah, akhirnya pendertaan ini berakhir,” celoteh salah satu KAWAN SLI saat tes itu berakhir. Menguras otak memang tapi ini menjadi pengalaman pertama buatku mengikuti psikotes.

Belum kembali lurusnya jari-jari kami, terus dilanjutkan persiapan untuk stadium general. Kami harus hafal dan nyanyi mars SLI dan gladi kotor untuk kegiatan esok hari. Sepanjang hari, perasaan kagum dan terpesona menghiasi hatiku karena stadium general  dihadiri oleh orang-orang hebat negeri ini, orang-orang yang peduli pendidikan di negeri ini.

Hari berikutnya perkuliahan kami telah dimulai, diawali dengan literasi pagi dan diakhiri dengan literasi sore. Kami belajar tentang kurikulum yang dipakai di sekolah, kerelawanan, RPP, display kelas, penilaian, manajemen kelas, bagaimana memotret dan menulis yang baik, diajarkan mikro teaching, konsep dasar SLI, dan masih banyak lagi materi yang kami pelajari.

Semangatku up dan down selama di sini, apalagi saat belajar perangkat pembelajaran. Namun, Aku bersyukur bertemu dengan KAWAN SLI yang tidak kikir akan ilmunya, mereka juga selalu menyemangatiku untuk tetap semangat belajar meskipun dari nol. Padahal awalnya aku sempat berpikir bahwa mereka sombong, tidak peduli, aku akan susah beradaptasi dengan mereka tetapi setelah bertemu dan saling mengenal kami serasa sudah lama saling mengenal dan saling mendukung satu sama lainnya.

Kakak-kakat Tim SLI pun tak henti memberikan dukungan, motivasi, dan menitipkan buku untuk kubaca. Aku bahagia berada di sini, ya meskipun kadang takut, khawatir muncul namun aku menikmatinya karena banyak hal yang Aku dapatkan ditempat ini. Keluarga baru, Ilmu baru, pengetahuan, asa, empati, mengembangkan diri, berani keluar dari zona nyamanku, melawan rasa takutku, belajar mengelola ekspektasiku dan banyak lagi yang tidak kuungkapkan dengan kata-kata. Aku bersyukur mengambil pilihan ini karena keputusan ini adalah pilihan yang menguntungkan untuk diriku. Terutama adalah aku bisa bertemu orang-orang yang memliki ketulusan sejati.

Komentar

komentar