Bermula dari Disiplin

Oleh : Nurdin Kadir.
Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 05 Saparan

Suasana pagi di Dusun Saparan (sebuah dusun terpencil di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia) masih terlihat gelap. Rombongan anak kecil berjalan beriringan sambil menggendong tas kecil mereka yang penuh sobekan menuju sebuah gedung yang atapnya sudah karatan. Setiap hari (kecuali hari libur) anak-anak yang rata-rata usianya di bawah 10 tahun ini, menghabiskan separuh hari mereka di gedung yang berlantaikan papan ini. Untuk sampai ke gedung yang memiliki 6 ruang tersebut, mereka rela berjalan kaki sejauh 1-2 km, melewati jalan setapak yang rusak dan becek, serta melintasi hutan yang banyak binatang berbisa, seperti ular, dan lain sebagainya. Meskipun penuh pengorbanan, mereka selalu tampil ceria dan energik serta selalu disiplin datang tepat waktu demi menggapai cita-cita mulia mereka. Siapakah mereka sebenarnya? Kenapa mereka rajin dan antusias mengunjungi gedung tersebut? Gedung apakah itu?

Rombongan anak kecil tersebut adalah para pencinta ilmu pengetahuan, calon intelektual dan pemimpin bangsa ini. Mereka adalah anak-anak cerdas yang memiliki potensi besar menjadi agen perubahan bagi bangsa ini. Mereka juga adalah harapan dan masa depan bagi orang tua dan keluarga mereka. Mereka itulah siswa-siswi SDN 05 Saparan yang selalu semangat dan giat belajar.

Semangat dan antusias belajar para siswa di pedalaman ini sungguh cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari kesungguhan mereka yang setiap hari sejak pagi-pagi buta setiap harinya sudah berangkat ke sekolah mereka yang atap gedungnya sudah karatan itu. Mereka biasanya sudah tiba di sekolah satu jam atau setengah jam sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, atau sekitar pukul 06.00 hingga pukul 06.30 WIB. Sementara KBM di SDN 05 Saparan dimulai sejak pukul 07.00 hingga pukul 11.30 WIB.

Sesampainya di sekolah, sebagian mereka menggunakan waktunya untuk bermain dan sebagian lainnya terlibat obrolan ringan. Beberapa menit sebelum jam masuk kelas, guru membunyikan bel tanda agar seluruh siswa berkumpul di depan kelas masing-masing. Di bawah pantauan guru, para siswa ini tanpa disuruh langsung memungut sampah-sampah yang masih tersisa di sekitar halaman kelas dan membuangnya di tempat pembuangan sampah yang terletak tak jauh dari sekolah. Para siswa ini kemudian berbaris memasuki ruang kelas mereka. Sambil menunggu kehadiran guru, dengan dipimpin ketua kelas mereka membaca doa sebelum belajar.

Khusus hari Jumat pagi, sebelum KBM dimulai, mereka mengikuti program kesehatan: praktek menyikat gigi yang benar. Mereka membawa sikat gigi dari rumah masing-masing, sementara sekolah menyediakan odolnya. Untuk hari Sabtu pagi, mereka bergotong royong mencabut rumput-rumput tinggi dan membersihkan halaman sekolah. Mereka juga merawat taman dan fasilitas sarana prasarana sekolah seperti menyiram bunga dan tanaman, membersihkan kantor dan ruang guru, menyikat lantai WC, melap kaca, dan lain-lain.

Dalam proses KBM, siswa, dan guru sama-sama aktif. Guru mengajar dengan aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Guru menggunakan metode bervariasi dalam mengajar dan siswa selain belajar aktif juga patuh dan menghormati guru-guru mereka. Dari awal hingga akhir KBM berlangsung penuh keceriaan dan menyenangkan. Tak lupa, sebelum jam pelajaran berakhir mereka kembali membaca doa setelah belajar yang dilanjutkan dengan mencium tangan kanan guru mereka sambil mengucapkan terima kasih.

KBM telah usai, segerombolan siswa pulang ke rumah masing-masing melewati jalan yang sama di bawah terik matahari yang sangat panas. Namun, guru-guru masih bertahan di kantor. Lantas, apa yangdilakukan guru-guru setelah jam pelajaran selesai? Mereka biasa untuk saling bertukar ide seputar pengalaman mereka selama di kelas, mengevaluasi metode pengajaran dan hasil pencapaian belajar para siswa, mengikuti program life skill seperti belajar komputer bersama, latihan menulis karya ilmiah, berbagi informasi, dan lain-lain. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 13.00 WIB.

Para pahlawan tanpa tanda jasa di perbatasan ini, meskipun mengajar di daerah yang infrastruktur jalannya sulit ditempuh dan akses perkembangan teknologi dan informasi yang sangat terbatas, namun dengan semangat perubahan mereka selalu meng-up grade skill dan wawasan pengetahuan mereka, dengan harapan tidak ketinggalan perkembangan informasi dan bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Mereka melakukan itu semua dengan penuh disiplin. Sebagai salah satu contoh, hadirnya siswa sejam sebelum jam pelajaran dimulai dan keaktifan guru-guru mengajar di sekolah menunjukan bahwa budaya disiplin telah ditegakkan di SDN 05 Saparan.

Berdisiplin itu bukanlah sesuatu pekerjaan yang berat dan sulit. Siapapun bisa melakukannya dengan mudah. Bahkan hidup berdisiplin akan terasa ringan dan nikmat, bila dilandasi kesadaran yang tinggi dan kemauan yang kuat. Seseorang akan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap nilai-nilai disiplin, apabila dia mengetahui, memahami dan menghayati hakekat disiplin dan kegunaannya dalam hidup. Dia akan memiliki kemampuan yang kuat untuk selalu hidup berdisiplin, apabila dengan kesadarannya itu dia mampu menciptakan motivasi yang kuat di dalam dirinya untuk hidup berdisiplin. Nah, para siswa dan guru-guru SDN 05 Saparan menegakkan disiplin atas dua landasan tersebut, yakni kesadaran yang tinggi dan kemauan yang kuat. Dan bermula dari disiplin SDN 05 Saparan terus raih prestasi.

 

Komentar

komentar