Bermimpi untuk Sebuah Kebaikan adalah Kebaikan di Sisi Allah

Oleh : Amal Lubis,S.Pd.I

Awalnya saya tidak mengerti mengapa saya harus berada di jalan ini. Dunia pendidikan yang tidak pernah saya cita-citakan dalam hidup saya, semua mengalir bagai air. Menjelang akhir perkuliahan, saya sudah membayangkan akan segera membawa gelar ke kampung halaman dengan sematan Ahli Madya (Amd) Teknik Industri dan mempersembahkan kepada ayah ibu. Tapi ternyata takdir berkata lain, disaat baru saja saya menyelesaikan PPL, ayah yang sangat saya cintai terkena stroke berat. Ibarat burung yang patah sayap, keluarga kami terjatuh. Ayah yang jadi tumpuan keluarga kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tak ada yang dapat ku lakukan lagi kecuali harus pulang menggantikan peran ayah sebagai penopang keluarga. Ternyata Allah punya rahasia dibalik itu semua, di kampung halaman di samping bekerja sebagai penopang keluarga ku temukan hal yang selama ini yang tidak pernah terpikirkan.

Kondisi pendidikan anak-anak muslim yang sangat memprihatinkan. Ternyata hampir selama 7 tahun ke belakang anak-anak muslim usia emas telah mendapatkan pendidikan yang sebenarnya tidak pantas mereka dapatkan. Sebagian anak-anak tersebut telah di didik di TK Kristen Immanuel yang berada di desa kami. Bisa dibayangkan anak-anak polos tersebut dididik dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Diajarkan berdoa dengan doa Kristen, bertata krama dengan tata krama Kristen yang sama sekali berbeda dengan tata krama Islam. Dengan bekal semangat pernah mengikuti Lembaga Dakwah Kampus (LDK) saya menghimpun teman-teman, tokoh-tokoh islam dan orang yang mempunyai kepedulian terhadap dakwah islam. Alhamdulillah dari pertemuan tersebut disepakati akan di dirikan sebuah Taman Kanak-Kanak Alternatif dengan nama TK Nurul Ilmi. Tapi perjuanangan belum selesai pada hanya sekadar pendirian dan pemberian nama. Saya bingung bagaimana caranya menyediakan siswanya, pengadaan guru serta sarana dan prasarananya. Bukan persoalan mudah untuk mendapatkan kepercayaan para orangtua calon siswa untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya di lembaga yang belum memiliki apapun.

Dengan kerja keras bersama teman-teman yang lain kami bergerilya dari satu rumah ke rumah muslim yang lainnya. Alhamdulillah terkumpullah 27 orang calon siswa TK Nurul Ilmi. Tahun 2006 dimulailah angkatan 1 sekolah Islam satu-satunya di kecamatan kami di tengah mayoritas umat Non-Islam. Kelas yang digunakan adalah sebuah kelas madrasah yang tidak layak disebut sebagai sebuah kelas disebelah masjid desa kami. Dengan sarana yang serba darurat dan guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kami kerjakan dengan terlatih. Setelah 2 tahun berjalan, masalah muncul pada lembaga yang kami jalankan, segelintir orang yang mengatasnamakan tokoh masyarakat memprotes penggunaan madrasah sebagai ruang kelas TK Islam.

Untuk menghindari masalah yang lebih besar, kami mengalah dan memindahkan kelas TK ke rumah saya pribadi yang sangat sederhana. Rumah yang hanya berdinding tepas bambu, kami menyulap rumah tersebut menjadi kelas di siang hari dan kembali jadi rumah di malam hari. Di rumah ini kami laksanakan pendidikan TK Islam tersebut selama 4 tahun, tak terhitung berapa kali kami meneteskan air mata dengan kondisi tersebut, semua hanya bisa kami serahkan kepada Allah Yang Maha Besar. Pada tahun ketiga di rumah tersebut dengan iseng tapi sebenarnya menjadi mimpi saya sebuah maket gedung yang mewah. Maket tersebut saya tunjukkan kepada guru-guru TK Nurul Ilmi. Saya mengatakan suatu hari nanti kita akan memiliki gedung yang seperti ini, saya menyuruh mereka mengaminkan dengan keras. Kita tak pernah memiliki perasaan apapun setelah itu, tapi Subhanallah ternyata Allah Maha Pengabul doa hamba-Nya. Tahun 2010 sebuah lembaga zakat Dompet Dhuafa Waspada Sumatera Utara hadir di sekolah kami menawarkan kerja sama penyelenggaraan pendidikan tingkat dasar. Lembaga tersebut membebaskan lahan seluas 4 rantai sekaligus membangun gedung yang cukup megah untuk kelas sekolah kami. Percaya atau gedung itu ternyata sama persis dengan maket sederhana kardus mie instan yang saya buat. Allahu Akbar ternyata mimpi kami untuk sebuah kebaikan adalah sebuah kebaikan di sisi Allah. Insha Allah akan Allah kabulkan. Alhamdulillah lembaga yang kami rintis dengan keprihatinan kini sudah berkembang sampai tingkat MTs dan Insha Allah akan terus menebar kebaikan di bumi Allah. Aamiin.

Komentar

komentar