Berkenalan dengan Literasi Media

Oleh: Devi

Literasi Media. Apa itu? Kalau makna literasi secara umum yang berhubungan dengan budaya baca, tulis, dan bertutur lisan, mungkin kita sudah terbiasa dan cukup paham. Literasi media merupakan proses dan upaya untuk membentuk khalayak/audiens/pengguna media agar memiliki pengetahuan, wawasan, kesadaran, serta refleksi terbaik dalam hal berinteraksi dengan media.

Kenapa media ?

Hari ini media sudah menjadi salah satu kebutuhan utama yang tak dapat ditinggalkan. Media memegang peranan penting dalam kehidupan untuk mempertukarkan informasi, alat berkomunikasi, memperoleh hiburan, sampai peranan mengedukasi. Media menjadi sesuatu yg sangat lekat dengan kehidupan kita.

Adakah yang perlu dikhawatirkan dari media?

Kalau melihat dari peranan-peranan media yg disebutkan di atas, semuanya nampak positif. Betapa baiknya media ada dalam kehidupan kita. Tapi, kita perlu mengenal lebih dekat lagi dengan media. Bahwa media dan segala apa yang ada di dalamnya, merupakan sebuah REKONSTRUKSI. Rekonstruksi merupakan penyusunan atau penggambaran kembali tentang suatu hal.

Poinnya, segala apa yang ada di media itu bukan merupakan realita yang dapat dipercayai begitu saja. Bahkan sekalipun konten berita (news) yang mengedepankan aktualitas dan fakta. Meskipun gambaran peristiwa yang disajikan mungkin nyata dan benar, tetapi arah opini dan argumen yg disampaikan, nah ini juga merupakan suatu bentuk rekonstruksi yang bisa membentuk opini publik (public opinion). Apalagi kalau bicara konten media hiburan seperti sinetron, film televisi, kartun. Nah ini rekonstruksinya akan lebih jelas karena ada alur cerita yang disampaikan dan merupakan gambaran kehidupan.

Warna yang diberikan oleh rekonstruksi media ini bermacam-macam, bisa berbentuk persuasif, provokatif, inspiratif, atau bahkan untuk menyerang dan menjatuhkan pihak tertentu. Sadar tidak sadar, rekonstruksi yg dilakukan media ini secara berproses akan masuk dan berpengaruh ke pola pikir, nilai-nilai, cara pandang, dan bahkan perilaku kita sebagai penggunanya. Dalam tahap yang ekstrem, kita bisa menjadi orang yang didikte oleh media. Kita menjadi sangat ketergantungan dengan media (kecanduan/addiction), sangat percaya pada media, sampai akhirnya kita memiliki keyakinan baru yang dibentuk dari hasil menonton/melihat apa yang ada di media. Ini disebut dengan TEORI KULTIVASI MEDIA.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai pengguna media?

Menghadapi sifat media yang penuh rekonstruksi dan baik buruk benar salahnya belum semua dapat dipertanggungjawabkan, maka kita sebagai pengguna memiliki kewajiban untuk tahu, paham, sadar, dan yakin bahwa kita bukanlah pengguna yang pasif. Selalu ada kesempatan untuk menjadi pengguna yang aktif dan cerdas. Caranya? Dengan menerapkan literasi media, minimal dimulai dari diri kita sendiri. Literasi media meliputi beberapa hal yaitu:

(1) Seleksi terhadap jenis media yang digunakan – menyesuaiakan  manfaat yg ditawarkan dengan kebutuhan diri- bukan hanya ikut ikutan tren.
(2) Kontrol waktu/ intensitas dalam mengakses media.
(3) Menganalisis konten media (tidak hanya menikmati dan menerima apa apa yang ditayangkan media, melibatkan pemikiran kritis dan standar moral, terutama pada tayangan untuk anak dan remaja).
(4) Mengetahui,memahami, dan mengantisipasi dampak positif maupun negatif yang mungkin muncul dari penggunaan media
(5) Menemukan cara/hal/kegiatan yg dapat menjadi alternatif dalam menyeimbangkan penggunaan media (menghindari kecanduan bermedia dan untuk meminimalisir dampak bagi gangguan fisik dan psikologis yg terlalu lama terpapar media).

Komentar

komentar