Berhias Kelas di Pelatihan Display Kelas

Oleh: Siti Badriyah.

“Pemberitahuan kepada seluruh penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 292 jurusan Jakarta – Pontianak mengalami keterlambatan karena diakibatkan cuaca buruk!“

Kalimat pemberitahuan tersebut sudah dua kali terucap oleh petugas Bandara Soekarno Hatta.  Saya harus sabar menanti datangnya pesawat. Keberangkatan saya menuju Pontianak bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Cina yaitu Imlek yang hampir setiap tahunnya diiringi dengan turunnya hujan. Akhirnya, tiba juga pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 292 yang mengalami keterlambatan 2 jam lebih.

Kedatangan saya di Pontianak disambut dengan rintikan hujan di malam hari sekitar pukul delapan malam. Air hujan telah membasahi Kota Pontianak. Perjalanan saya masih panjang, tidak berhenti di Kota Pontianak. Saya harus meneruskan perjalanan menuju Bengkayang dengan waktu tempuh sekitar delapan jam melalui jalur darat. Perjalanan saya menuju Bengkayang harus keluar masuk pemukiman Suku Dayak yang berlatar belakang hutan. Mata ini sama sekali tidak bisa terpejam walaupun rasa lelah telah menyelimuti tubuh saya.

Tepat pukul 03.00 dini hari saya tiba di Kecamatan Seluas, Bengkayang. Saya bermalam di sebuah penginapan yang sangat sederhana yang lantai dan dindingnya terbuat dari papan, dengan pemandangan sebuah sungai yang cukup panjang yang biasa digunakan sebagai jalur transportasi masyarakat Bengkayang. Ini adalah penginapan terbagus di Kecamatan Seluas. Malam ini mata saya hanya terpejam selama dua jam. Pukul 06.00 pagi hari saya sudah harus siap-siap menuju tempat pelatihan di UPTD Seluas.

Pelatihan Display Kelas pada hari pertama dihiasi dengan hujan yang tidak begitu deras. Tak ada payung di tangan, saya terpaksa harus menerobos rintik-rintik hujan menuju UPTD Seluas. Pendamping sekolah Bengkayang yang bernama Nurdin cukup khawatir dengan kehadiran peserta karena hujan di pagi hari ini bisa membuat banjir dibeberapa daerah di Bengkayang. Walaupun Makmal Pendidikan hanya mendampingi SDN 05 Saparan tapi untuk pelatihan hari ini beliau mengundang beberapa sekolah di Kecamatan Seluas Bengkayang. Pukul 08.00 pagi hari ketika pelatihan akan segera dimulai, ternyata masih ada beberapa peserta yang belum hadir karena masih terjebak banjir. Akhirnya pelatihan dimulai pada pukul 09.00 dengan jumlah peserta yang tidak hadir sekitar lima belas orang.

Pada awal pelatihan, saya merasa tidak santai/tidak enjoy sekali ketika menyampaikan materi. Mungkin karena rasa lelah telah menemani saya, hmmm…atau mungkin karena rasa “parno” saya akibat cerita teman-teman saya tentang Suku Dayak karena sebagian besar dari peserta pelatihan adalah orang dari Suku Dayak. Kekhawatiran-kekhawatiran terus membayangi saya selama beberapa jam pelatihan. Khawatir saya melakukan kesalahan dan menyingung perasaaan mereka. Ternyata memang tidak mudah membuat suasana pelatihan mencair dan membuat mereka menyatu dengan saya. Pelatihan kali ini sangat berbeda dengan pelatihan-pelatihan saya di tempat lain seperti di Pulau Rote, Rumpin Bogor, dan Padang. Begitu mudahnya saya mencairkan suasana dengan peserta yang lebih ekspresif di daerah-daerah tersebut. Namun, dengan berjalannya waktu pelatihan akhirnya suasana sedikit mencair.

Dengan keterbatasan informasi, tidak ada televisi maupun surat kabar dan terbatasnya jaringan komunkasi telepon di beberapa sekolah di Kecamatan Seluas membuat saya sedikit mengalami kesulitan menerangkan materi “Display”. Sepertinya kata display baru pertama kali didengar oleh sebagian peserta. Menerangkan materi display memang harus dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta. Apalagi ketika saya menjelaskan peralatan-peralatan display, ada yang namanya kertas samson, spidol, crayon, double tape, dll. Ada beberapa orang guru yang belum pernah melihat dan mengetahui nama dari peralatan-peralatan tersebut. Contoh nama peralatannya yang mereka tidak kenal namun banyak orang yang mengetahui, yaitu crayon dan double tape.

Pada sesi terakhir di hari pertama pelatihan display, para peserta diberi tugas membuat contoh display dengan tema Hutan. Wooww…kata yang terucap dari lisan saya. Pada saat mereka membuat display, tampilan yang disajikan sangat berantakan dan terlihat kasar. Saya sempat bertanya pada pendamping sekolah, “Mas Nurdin, kenapa bisa berantakan, yah?” Mas Nurdin bilang, selain sebagai guru mereka juga berprofesi sebagai petani. Jadi mereka terbiasa dengan pekerjaan yang kasar. Namun, diakhir sesi saya memberikan evaluasi supaya peserta mengetahui apa saja yang harus diperbaiki untuk menghasilkan sebuah display yang benar.

Cuaca cerah menghampiri hari kedua pelatihan display di Kecamatan Seluas. Pada awal sesi di hari kedua, saya me-review materi yang diberikan pada hari pertama karena perlunya penguatan kembali materi yang baru buat para peserta. Pelatihan hari ini hanya berlangsung setengah hari, peserta diberi tugas untuk membuat perencanaan display dan langsung membuatnya secara berkelompok. Berbekal dari pembuatan contoh display kemarin, display yang dibuat para peserta sudah lumayan tertata dengan rapi walaupun dalam proses pembuatannya mereka masih ada yang bertanya tentang pewarnaan, isi dari display dan huruf yang sesuai. Alhasil pada pelatihan hari ini menghasilkan 4 buah display. Bahagia rasanya ketika para peserta sudah bisa menyelesaikan dan menghasilkan sebuah display yang lebih baik dari pembuatan display di hari pertama. Semoga materi display yang diberikan pada pelatihan dapat diterapkan di sekolah masing-masing, sehingga bisa menghidupkan dan membuat rasa nyaman kelas.

Rasa lelah masih menjadi milikku saat ini, namun karena diiringi dengan rasa lega karena telah menyelesaikan tugas memberikan pelatihan Display Kelas di Bengkayang. Sekarang waktunya jalan-jalan! Melepas semua rasa lelah setelah 2 hari memberikan pelatihan.

Bersama dengan pendamping sekolah Makmal Pendidikan dan teman dari Dompet Ummat Pontianak, saya diajak mereka ke luar negeri yaitu ke Negeri Jiran, Malaysia. Kesannya gaya banget saya bisa ke luar negeri, padahal saya hanya singgah ke Pasar Sarikin di Sarawak Malaysia. Pasar Sarikin adalah salah satu daerah perbatasan langsung antara Malaysia dengan Indonesia. Dengan menggunakan motor (sewa ojek) saya menuju ke daerah Sarawak, kami melewati hutan, sungai dan perkebunan. Sebelum memasuki daerah Sarawak kami harus meminta izin ke kantor imigrasi untuk mendapatkan surat ijin masuk ke Malaysia. Hanya dengan berbekal surat kerja dan biaya Rp 15.000/orang, saya sudah bisa ke luar negeri. Hal yang paling menarik saat dalam perjalanan menuju Sarawak adalah ketika mau naik motor, saya dibonceng di belakang dan saya duduk dengan posisi miring karena menggunakan rok. Orang yang membonceng saya bilang, dia malu dengan posisi duduk saya yang miring karena selama ini ia tidak pernah membonceng orang dengan posisi seperti itu, khawatir dibilang norak! Tidak apa-apalah dibilang norak yang penting bisa ke luar negeri.

Selesai sudah perjalanan saya di Bengkayang, Pontianak. Saatnya saya kembali ke Jakarta, untuk menjalani rutinitas. Kembali saya mendengarkan suara, “Pemberitahuan kepada seluruh penumpang Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 293 jurusan Pontianak-Jakarta mengalami keterlambatan karena diakibatkan cuaca buruk!“ Kali ini keterlambatan pesawatnya bukan hanya dua jam seperti ketika berangkat tapi lima jam! Saya harus menunggu datangnya pesawat di Bandara Supadio, Pontianak selama itu. Dinikmati saja.
 
Sekilas Info :

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari pendamping sekolah Makmal Pendidikan bahwa :

  1. Beberapa guru peserta pelatihan ada yang berjalan kaki menuju tempat pelatihan selama dua jam.
  2. Seorang Kepala Sekolah dari Daerah Sentabeng berjalan kaki menuju tempat pelatihan, berangkat dari rumahnya pukul 10 malam sampai di Seluas sekitar pukul 7 pagi.
  3. Sebenarnya tempat pelatihan display adalah di Desa Saparan namun karena terkena banjir, sekolahnya pun ikut terendam banjir, sehingga tidak bisa digunakan untuk pelatihan.
  4. Beberapa guru dari SDN 05 Saparan yang terkena banjir terpaksa harus menginap di UPTD Seluas karena jalur darat menuju ke desa tersebut tidak bisa dilalui, hanya bisa dilalui jalur sungai.

Komentar

komentar