Beranda yang Tak Terawat

Oleh: Purwo Udiutomo, Pegiat Pendidikan

 

POTRET utuh pendidikan Indonesia tidak dapat diperoleh dari gambaran pendidikan di kota-kota besar, namun harus juga menilik ke daerah terluar, terpencil, tertinggal (3T).Kualitas dan kuantitas guru misalnya, walaupun jumlah guru secara nasional kelebihan sekitar 500 ribu orang, namun banyak sekolah di kawasan 3T yang malah kekurangan guru.Wajar saja, 68 persen sekolah yang kelebihan guru ada di perkotaan, sementara 66 persen sekolah terpencil justru kekurangan guru sebagaimana yang dilaporkan World Bank.

 

Kurangnya kualitas guru ini setidaknya tergambar dari pengalaman program Pendampingan Sekolah Beranda oleh Makmal Pendidikan di Kepulauan Natuna yang menunjukkan bahwa hanya 3 dari 50 guru SD yang mampu menjawab pertanyaan “Berapa hasil 1 – (1/3 + 1/4)?” Bila gurunya saja tidak mampu menjawab dengan benar, tidak heran bila muridnya juga demikian.

 

Ketimpangan serupa juga jelas terlihat di beberapa kota di Papua yang berbatasan dengan Papua Nugini. Keterbatasan jumlah guru membuat kualitas pembelajaran di Papua terbilang rendah.Beberapa guru mata pelajaran, termasuk yang diujikan, tidak ada sehingga guru mata pelajaran lain pun merangkap. Anggota TNI pos pengamanan perbatasan yang tidak dibekali pendidikan guru akhirnya juga kerap membantu.

 

Satu guru mengajar dua hingga enam kelas bukan hal yang asing di beberapa wilayah Papua. Sarana dan prasarana minim, akses ke sekolah sulit, kultur masyarakat pun kurang mendukung pendidikan anak.Sejumlah siswa di Papua harus menempuh perjalanan 2-3 jam berangkat dan pulang sekolah naik turun bukit. Tidak sedikit siswa yang meninggalkan sekolah 1-2 bulan karena harus membantu orangtua bekerja atau ada upacara adat. Kompas, 2 Desember 2011.

 

Program Pendampingan Sekolah Beranda di Bengkayang, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Malaysia juga mengungkapkan ketimpangan pendidikan. Akses untuk ke sekolah tidak dapat ditempuh dengan mobil, melainkan harus menggunakan sepeda motor dan sampan tanpa pengaman.

 

Jalur darat tak dapat ditempuh jika hujan karena becek dan licin, tergelincir dari jalur motor berarti terjebak di kubangan lumpur. Hujan deras berarti libur sekolah.Ban motor bocor, rantai putus, dan berbagai kerusakan motor lainnya, berarti bersiap mendorong motor berkilo-kilo meter. Sementara di jalur sungai, mesin sampan sering mati jika menabrak potongan kayu atau sampah di sungai yang terapung.

 

Kedua jalur dilalui tanpa lampu penerang jalan, tanpa sinyal handphone. Guru dan siswa sudah terbiasa berjalan hingga lima kilometer melewati hutan dan bebatuan untuk mencapai sekolah. Bahkan ada kepala sekolah yang berjalan kaki selama sembilan jam untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Makmal Pendidikan. Siswa juga terbiasa tidak beralas kaki atau menggunakan sandal jepit di sekolah karena kondisi jalan yang sering tergenang air.

 

Ketimpangan akses ini juga terjadi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sejumlah siswa setiap hari harus menempuh jarak hingga belasan kilometer, menyeberangi jembatan gantung, menembus hutan belantara dan perbukitan dari rumah ke sekolahnya dengan berjalan kaki.Sebagian besar guru di sana adalah guru honorer, bahkan ada kepala sekolah yang sudah mengabdi belasan tahun masih berstatus guru honorer. Kompas, 10 Desember 2012

 

Potret ketimpangan pendidikan juga dapat dilihat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Hingga 2009, tercatat 8.502 anak di Kepulauan Mentawai tidak tersentuh pendidikan dasar.Mereka tersebar di sepuluh wilayah kecamatan di Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Tidak mudah mendirikan sekolah-sekolah di pedalaman karena banyak permukiman yang hanya dihuni sekitar 50 orang.

 

Potret buram pendidikan di wilayah perbatasan memang bukan hal baru. Beranda terdepan Indonesia yang seharusnya tampak indah untuk menyambut tamu yang datang itu seolah menjadi gudang (ter)belakang yang kumuh.Bagaimana tidak, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia misalnya, mencetak quin-trick sebagai provinsi dengan angka kelulusan UN terendah di Indonesia selama tahun 2008-2012. Angka melek huruf di NTT baru sekitar 88,74 persen , padahal pemerintah mengungkapkan bahwa sekitar 93 persen masyarakat Indonesia sudah melek huruf.

 

Fakta di NTT ini rupanya disaingi Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di Sanggau, 30 persen masyarakatnya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf, dengan 5-10 persen anak usia pendidikan dasar putus sekolah.Dari 34 kota/kabupaten di 12 provinsi yang berbatasan dengan 10 negara tetangga, masih banyak fakta yang sudah ataupun belum terungkap dari beranda negara kita ini. Ya, beranda terdepan yang mestinya enak dipandang itu malah tertinggal, terdepan dalam ketertinggalan. Mulai dari keterbatasan sarana dan fasilitas, akses pendidikan dan kesehatan yang begitu sulit hingga minimnya kesejahteraan.

 

Pemerintah bukan tanpa perhatian melihat kesenjangan ini. Beberapa program pendidikan digulirkan, mulai dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Sarjana Mendidik di wilayah 3T, kerja sama dengan TNI, hingga pembangunan perguruan tinggi di wilayah beranda Indonesia. Namun, kue pembangunan yang telanjur tidak tersebar merata membuat berbagai program pendidikan di wilayah ini butuh kesungguhan dan kerja keras dalam merealisasikannya.Butuh penyesuaian dan penahapan serta sinergi program dengan segenap elemen terkait. Jika tidak, program Wajib Belajar 9 Tahun hanya omong kosong di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Filipina karena beberapa pulau hanya mempunyai SD, tidak mungkin anak-anak melanjutkan ke SMP.

 

Pelajaran komputer juga hanya akan berhenti sebatas angan di Desa Suruh Tembawang, Kabupaten Entikong, Kalimantan Barat (berbatasan dengan Malaysia), dan Distrik Sota (Merauke, Papua yang berbatasan dengan Papua Nugini) karena para siswa belum pernah melihat komputer dan listrik pun sering padam. []

 

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.