Banyak Anak TKI Yang Tak Didampingi Orangtua

Oleh: Riko Aditya Wardana

banyak-anak-tki-yang-tak-didampingi-orangtua

Melihat Hari Pertama Masuk Sekolah di Sekolah Tapal Batas

Banyak cerita menarik saat mengawali tahun ajaran baru di Sekolah Tapal Batas, di Desa Sei Limau, Kecamatan Sebatik Tengah. Salah satunya tentang aktivitas hari pertama sekolah, penyambutan dan sosialisasi nilai-nilai sekolah dari pihak sekolah.

Mengikuti kebijakan baru pemerintah yang mengimbau kepada orangtua untuk mengantarkan anaknya ke sekolah di hari pertama sekolah secara serentak dilakukan sejumlah sekolah. Lain halnya di sekolah ini yang letaknya di perbatasan, hanya beberapa orangtua yang bisa mengantarkan anaknya ke sekolah.

“Hanya orangtua yang tinggal dan bekerja di Indonesia yang bisa mengantarkan, sedangkan siswa yang tinggal di negara tetangga Malaysia, mereka tidak bisa merasakan kehangatan hari pertama sekolah bersama orangtuanya,” ujar Guru Konsultan Makmal Pendidikan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa Achmad Salido, kepada Radar Nunukan ketika diwawancarai.

Achmad mengatakan, penyebab masih adanya siswa yang tidak diantarkan orangtuanya di hari pertama masuk sekolah lantaran mereka bekerja dari pagi hingga malam di beberapa perusahaan kelapa sawit yang tersebar di Malaysia.

Kebanyakan orangtua siswa tidak punya jatah cuti selain hari Minggu sebagai hari libur mereka. Apalagi kebijakan baru perusahaan yang saat ini diterapkan, tidak ada lagi upah minimal bulanan seperti yang pernah ditetapkan sebelumnya, melainkan upah yang dihitung harian.

“Mereka yang paling banyak dapat upah adalah yang paling banyak hasil pekerjaannya. Sehingga setiap orang harus bekerja maksimal untuk mendapatkan upah maksimal. Belum lagi dengan beban hidup yang sangat tinggi di daerah tersebut. Hal itu membuat mereka tidak sempat lagi mengantarkan anaknya ke sekolah,” ungkap Achmad.

Walaupun mayoritas siswa yang hadir hari itu tidak diantar orangtua mereka, itu tidak mempengaruhi semangat mereka menyambut tahun ajaran baru. Sebab, sekolah juga memberikan penyambutan hangat kepada siswa-siswinya.

Dalam statusnya sebagai rumah kedua untuk aktivitas belajar setelah lingkungan keluarga. Terdengar ucapan selamat hari raya, bermaaf-maafan dari kepala sekolah dan guru kepada seluruh siswa.

Selain itu beberapa siswa diajak untuk bercerita dan berbagi pengalaman sekitar kegiatan yang dilalui saat libur Ramadan kemarin. Dari mereka yang pemalu hingga yang percaya diri ditunjuk secara bergantian untuk menceritakan pengalaman liburnya dan terlihat ceria menceritakan pengalamannya.

Saat itu kata Achmad, tahun ajaran baru di sekolah tapal batas tersebut diawali dengan upacara bendera. Kepala Sekolah Tapal Batas Hj. Suraidah, menyampaikan banyak hal kepada siswa-siswinya dalam amanatnya.

Terdapat satu pertanyaan yang jawabannya sedikit menyentil pemerintah saat upacara kala itu. Kepala sekolah dalam amanatnya meminta contoh perilaku buruk kepada para siswa, sontak sejumlah siswa menjawab.

“Mencuri, berbohong, minum tuwak dan sabu,” cetus salah satu siswa yang meneriakkan ketika upacara waktu itu.

Sontak salah satu jawaban dari anak-anak tersebut membuat kepala sekolah sedikit kaget, dimana ada beberapa anak yang menjawab sabu. Segera kepala sekolah merespon jawaban mereka dengan kembali mempertanyakan adakah yang sudah pernah melihat sabu?.

Seorang siswa kembali menjawab “Iya ummi, sabu biasanya dicampur air baru diisap,” jawab salah satu anak.

Anak-anak yang menjawab tersebut diketahui mayoritas yang tinggal di wilayah Malaysia.

Kepala sekolah yang melanjutkan pertanyaannya dimana mereka pernah melihat, anak-anak menjawab hanya pernah melihat kakak-kakaknya yang melakukan penyalahgunaan barang haram mematikan tersebut.

Untuk melindungi anak-anak di sekolahnya, kepala sekolah akhirnya memesankan agar tidak lagi mendekati dan melihat mereka yang menyalahgunakan sabu.

Achmad pun mengharapkan kerawanan dan kerentanan terhadap prilaku buruk daerah perbatasan harus mendapat perhatian khusus. Sehingga sekolah harus segera merespon berbagai penyimpangan dan kerusakan moral yang ada di sekitarnya. Apalagi daerah perbatasan merupakan daerah rawan penyebaran obat-obat terlarang.

Menurut Achmad, sekolah tersebut memang harus responsif terhadap indikasi kriminalitas dan penyimpangan sosial. Sekokah harusnya menjadi ikon penanaman karakter dan juga respon pencegahan dan penanggulangan tindakan negatif di daerah perbatasan tersebut.

Mengawali tahun ajaran baru, pihak sekolah pun mensosialisasikan beberapa nilai yang harus dilaksanakan masyarakat sekolah tapal batas. Ada sembilan nilai yang menjadi cerminan kekhasan dari sekolah ini. Nilai-nilai tersebut adalah ikhlas, jujur, amanah, disiplin, bertanggungjawab, berusaha keras, bekerjasama, sabar dan berbagi.

“setiap siswa harus ikhlas untuk membiasakan prilaku baik dan terpuji. Walaupun tidak dilihat guru ataupun kepala sekolah. Selain itu siswa juga harus membiasakan perkataan jujur. Tidak berbohong saat berbicara, termasuk tidak menyontek saat ujian sekolah,” ujarnya yang menjelaskan secuil penjelasan dari kepala sekolah mengenai nilai-nilai yang harus dibiasakan di sekolah tapal batas saat hari pertama masuk sekolah. (***/eza)

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.