Bangsa Tangguh Bangsa Terdidik

Oleh: Asep Sapa’at, Praktisi Pendidikan

Siapa yang tak miris melihat situasi bangsa terkini. Tawuran masal mudah sekali terjadi. Dari mulai gesekan antar pelajar, hingga tawuran antar kampung. Tak ada lagi logika. Semua masalah tampaknya hanya bisa diselesaikan dengan otot saja. Hampir tak ada bedanya perilaku orang yang berpendidikan maupun yang tak sempat terdidik karena tak punya akses mendapatkan pendidikan berkualitas. Ini jelas menjadi sebuah ironi.

Andai situasi ini lestari terjadi, hendak jadi apa bangsa kita ini. Prof. Ir. Lilik Hendrajaya, Ph.D. (2008) dalam kajiannya yang berjudul “Pendidikan & Ketahanan Nasional” mengurai secara tuntas mengenai kontribusi dunia pendidikan terhadap ketahanan nasional bangsa. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis bangsa yang merupakan keuletan dan ketanggguhan yang membentuk kekuatan dalam menghadapi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan dari dalam dan luar negeri. Dalam persepsi pertahanan negara, ada 2 jenis ancaman yang mesti diwaspadai, yaitu ancaman militer dan non-militer. Ancaman militer harus dilawan dengan senjata. Namun, bicara soal ancaman non-militer, sistem pendidikan harus mengambil peran untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh dan mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa

Ada 2 fokus utama yang mesti dikembangkan dalam penguatan pendidikan bagi SDM Indonesia, yaitu IPTEK & perilaku. IPTEK bicara soal “kompetensi” dan perilaku erat kaitannya dengan upaya pembangunan karakter (character building) peserta didik. Kompetensi tanpa karakter adalah kerusakan. Karakter tanpa kompetensi akan pincang. Orang cerdas, menguasai IPTEK, tapi senang berbuat culas. Celaka bangsa ini. Setiap perilakunya punya potensi mendatangkan keburukan bagi banyak orang. Contoh nyata orang kompeten tak berkarakter. Sebaliknya, orang jujur tanpa punya kemampuan penguasaan IPTEK, bisa jadi sepanjang hidup “di kadalin” orang lain. Contoh orang berkarakter tanpa punya kompetensi.

Esensi Tahapan Pendidikan

Ada cara berpikir yang keliru jika kita memahami bahwa belajar di sekolah hanya untuk menghafal materi pelajaran. Mengulang pelajaran dengan tingkat kesulitan yang relatif meningkat dari mulai jenjang SD sampai SMA atau bahkan Perguruan tinggi (PT), itu kesalahan berpikir yang sesungguhnya. Naasnya, jika semua yang dipelajari itu hanya sebatas pengetahuan semata.

Masih menurut Prof. Ir. Lilik Hendrajaya (2008), sesungguhnya tujuan dari masing-masing tahapan pendidikan adalah berbeda. Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar bernalar dan berkomunikasi. Pendidikan menengah bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar adaptasi dengan tuntutan lingkungan kerja. Pendidikan tinggi Strata sampai dengan Strata-1 bertujuan untuk memberikan kemampuan dan pengalaman awal berproduksi. Pendidikan pasca sarjana untuk memberikan kemampuan analisis untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan upaya penyelesaian masalah. Konsekuensi logisnya, ada beragam cara dan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan di setiap jenjang pendidikan tersebut.

Mungkinkah kemampuan bernalar dan berkomunikasi siswa SD dapat berkembang jika pendekatan pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered)? Berkomunikasi dan bernalar hanya akan berkembang ketika guru memberikan keleluasaan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan dan bertanya tentang sesuatu hal yang belum dipahami. Tegasnya, guru secara sadar mampu memainkan perannya sebagai kawan dalam diskusi dan lawan dalam berdebat bagi para siswanya. Keterbukaan pikiran dan kebesaran jiwa untuk menerima perbedaan menjadi sikap hidup yang terintegrasi dalam diri seorang guru, baik sebagai sosok pribadi maupun seorang profesional sejati.

Ketika siswa masuk sekolah di jenjang SMP & SMA, maka guru punya kewajiban untuk membantu siswa membuka cara berpikir mereka tentang rencana masa depan. Siswa harus disadarkan mengenai arti penting dari tanggung jawab. Waktu adalah investasi, belajar sepanjang waktu jadi jalan untuk meraih cita-cita masa depan mereka. Jika guru sukses melakoni peran ini, maka siswa dengan sendirinya akan belajar sepenuh hati mereka, bebas merdeka tanpa paksaan.

‘Mahasiswa’, julukannya lebih mentereng lagi dibanding siswa. Celaka kalau cara berpikir mahasiswa masih seperti siswa. Jika pun benar hal ini terjadi, pasti ada pola penajaran dan pendidikan yang keliru yang terjadi di tahapan pendidikan dasar dan menengah. Suatu ketika penulis bertanya kepada mahasiswa yang hendak di wisuda, “Apa yang hendak dilakukan esok hari setelah diwisuda?”. “Tak tahu”, singkat jawabnya. ‘Tak tahu’ tanda tak punya rencana atau belum punya rencana masa depan. Yang pasti, mahasiswa tipe seperti itu tidak memulai melakukan sesuatu dalam fase hidupnya sebagai mahasiswa. Bagaimana pula dengan setumpuk skripsi yang memenuhi gudang perpustakaan? Cerita lain yang memilukan. Mahasiswa S1 hendaknya mampu berproduksi dengan cara atau teknologi yang ada dan produksinya menjadi komoditas yang terpasarkan. Alangkah lebih baiknya jika skripsi S1 adalah pembuatan inkubator usaha yang terkait dengan bidangnya. Inilah hal yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan unit-unit produksi di daerah. Tegasnya, sarjana S1 sudah diarahkan untuk mampu menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri.

Wahai Perguruan Tinggi (PT), dimanakah peranmu kini bagi bangsa tercinta? Apalah arti dari ribuan lulusan yang terus dihasilkan tiap tahunnya jika hanya menjadi ‘masalah’ buat bangsa, bukan sebagai aset bangsa. Banyaknya volume pengangguran terdidik menjadi fenomena yang memilukan sekaligus memalukan. PT jadinya terkesan hanya melakoni peran sebagai penghasil calon pengangguran terdidik saja. Tak ada link & match antara PT dan dunia kerja. Hasil riset tak mampu menghasilkan komoditas yang terserap pasar. Kalau pun ada, jangan sampai hasil riset itu meresahkan masyarakat. Namun justru harus menjadi sumber rujukan informasi terpercaya bagi masyarakat karena eksistensi PT sebagai centre of excellence. Kita tentu tak pernah putus berharap, tenaga dosen dan penelitinya sangat visioner dan mempunyai leadership yang mampu menjadi penggerak perubahan dalam laju pembangunan bangsa. Bangsa ini sudah cukup punya banyak masalah, maka objektivitas cara berpikir dan bersikap para lulusan S2 & S3 sebagai pemecah masalah (problem solver) membawa harapan tersendiri untuk menyelesaikan berbagai problem bangsa.

Pendidikan Dasar di Ujung Batas Negeri

Pendidikan adalah aset masa depan bangsa. Tak serius menata soal ini, masa depan bangsa bakalan berantakan. Saya terkaget-kaget sendiri ketika berkunjung ke daerah Kepulauan Natuna. “1 – (1/3 + 1/4), berapa hasilnya?” Hanya 3 orang guru dari 50 guru yang bisa selesaikan soal matematika ini. Nah lho, apa yang bisa diharapkan dari profil guru seperti ini. Sulit rasanya berharap punya siswa yang berprestasi tinggi jika kompetensi gurunya alakadarnya. Ini baru satu persoalan. Saya belum tahu bagaimana kompetensi kepala sekolahnya, sistem manajemen sekolahnya, termasuk kebijakan pemerintah daerah terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerahnya.

Berdiam diri, jelas bukan solusi yang bijak dalam situasi sekarang. Berbuat sesuatu, pilihan yang harus dilakoni. Darimana kita memulai? Apa yang harus diperbaiki? Pertanyaan yang tak mudah dijawab. Mari cermati gambar 1.2.

Idealnya, ini adalah tugas pemerintah. Meskipun demikian, sekadar mengkritik kerja pemerintah tak membuat pendidikan bangsa jadi lebih baik. Kita fokus melakukan perubahan sampai level sekolah. Mengapa demikian? Ingat, pendidikan berkualitas tidak dilihat dari gedung sekolahnya yang mewah, gelar gurunya yang mentereng, kurikulum yang mewah di tataran konsep, melainkan bagaimana mengelola semua sumber daya lingkungan yang tersedia untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Program sekolah beranda memiliki 3 tujuan utama, yaitu meningkatkan kualitas manajemen sekolah, memperbaiki dan meningkatkan kompetensi guru, dan meningkatkan partisipasi serta kontribusi masyarakat terhadap kelangsungan program sekolah. Kualitas kepemimpinan sekolah, kunci utama suksesnya pelaksanaan manajemen sekolah. Persoalan sekolah hakikatnya terletak pada cara berpikir kepala sekolahnya. Maju mundurnya sekolah, ada di sosok sentral yang satu ini. Kita dorong kepala sekolah bisa transparan dalam mengelola keuangan, profesional dalam kinerjanya, dan bisa membagikan visi yang ada di kepalanya agar bisa dipahami oleh guru dan para orang tua siswa.

Bicara soal guru, kita gugah kesadaran mereka akan perannya yang teramat penting sebagai seorang pengajar dan pendidik. Semangat untuk mau belajar, konsisten memperbaiki cara mengajar, dan lebih ikhlas dalam menjalani profesi, spirit yang selalu kita tanamkan dalam setiap pelatihan guru yang kita berikan kepada mereka. Ada guru agama yang mengajar matematika, siswanya linglung ketika belajar matematika. Tak jarang guru bahasa pun harus mengajar pelajaran IPA. Kita sering termenung-menung sendiri mencerna kenyataan tentang potret pendidikan di daerah-daerah pelosok nusantara. Soal pengelolaan dan distribusi gaji guru, kita prihatin. Ada guru yang gajinya kecil, loyalitasnya tetap terjaga. Di saat bersamaan, ada gaji guru yang sudah lebih dari cukup, kerjanya hanya makan gaji buta. Tak ada hubungan antara gaji besar dan tingkat profesionalitas menjadi seorang guru. Miris. Ini bukti sistem manajemen pendidikan yang masih amburadul.

Di ujung batas negeri, kualitas pendidikan masih carut marut. Sekali lagi kita ingin berinvestasi untuk masa depan Indonesia. Kerja ekstra keras harus dilakukan karena amanah ini tidak bisa dilakukan sepihak. Gurunya loyal mengabdi, kualitas kepala sekolah cukup mumpuni, birokrasi tak ‘bersahabat’, semuanya bisa berantakan. Merujuk pada ilustrasi dari EFA Global Monitoring Report 2005 di atas, semua pihak harus bersinergi. Jika sinergi terjadi, kita tinggal tunggu waktu hadirnya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Ketika tulisan ini dibuat, saya masih merasa galau dengan realita pendidikan yang terjadi di daerah-daerah pelosok nusantara. Kita harus akui, program sekolah beranda belum optimal. Meskipun kita sadar betul inilah resiko yang harus dihadapi ketika sinergi masih sulit dirangkai antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat daerah setempat. Rasa galau berganti menjadi sikap optimisme. Kita yakin bahwa dengan berbuat, perubahan yang dikehendaki akan datang jua. Tulisan-tulisan yang disajikan di buku ini menyajikan cerita yang membumi, menggugah, dan menyiratkan makna terdalam mengenai spirit perjuangan. Semoga Anda, para pembaca yang budiman, ikut ‘terbakar’ pula untuk melakukan sesuatu yang dapat membantu bangsa ini keluar dari keterpurukan. Satu Visi, Satu Sinergi, Satu Gerakan, kunci terjadinya perbaikan pendidikan di ujung batas negeri.

Komentar

komentar