Awal Petualangan Baru

Cuaca dingin begitu terasa saat saya memasuki daerah Kawah Kamojang yang berlokasi di Kabupaten Bandung. Kawah Kamojang adalah kawah yang sejak kecil saya ketahui namanya, tetapi baru hari ini saya bisa menginjakkan kaki langsung di kawasan wisata khas Kabupaten Bandung ini. Dahulu, saya sering menganggap bahwa kawah ini berada di kawasan Kabupaten Garut. Namun, dugaan saya ternyata salah, Kawah Kamojang bukan berada di Kabupaten Garut, melainkan berada di daerah administratif Kabupaten Bandung.

Dingin, itulah kesan saya terkait kondisi cuaca di areal pegunungan Kawah Kamojang. Meski berhawa dingin, tetapi daerah ini sudah disulap menjadi wilayah pertanian dan pertambangan. Hampir semua penduduk di Dusun Kamojang ini berprofesi sebagai petani.

Ketika sampai di Kamojang, saya disambut oleh sahabat lama saya yang saat ini menjadi penyuluh di perkebunan herbal dan peternakan. Saya pun diajak mengunjungi sekretariat kawan-kawan lainnya yang juga mengabdikan dirinya di dusun ini.

Banyak program yang telah dilaksanakan di Desa Laksana, khususnya di Dusun Kamojang. Pemberdayaan Kemandirian Masyarakat berupa pendampingan pembiakan domba kepada empat dusun yang berada di desa Laksana adalah salah satunya. Selain itu, ada juga program Herbal Bunga Stevia dan Rosella bagi ibu-ibu. Ada juga Internet Masuk Desa, Penanggulangan Sampah, dan Pendampingan Sekolah di SDN Kamojang.

Sekarang adalah tahun kedua bagi saya sebagai Pendamping Sekolah di Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Setelah setahun sebelumnya berjibaku dengan para guru di Sorong, Papua Barat, dalam meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Inpres 44 Klamalu, saat ini saya kembali dipercaya untuk mendampingi SDN Kamojang dalam program Green School atau sekolah yang berbasis lingkungan atau disebut juga Sekolah Adiwiyata.

Sebuah tantangan bagi saya untuk lebih mengetahui perkembangan dunia pendidikan di daerah kelahiran saya. Sudah dua belas tahun lebih saya meninggalkan daerah ini untuk mencari setitik hikmah dalam kehidupan ini. Sering ada kawan yang berseloroh bahwa kebanyakan sekolah yang berada di Garut dan Bandung lebih sering mendiskusikan gaji daripada metode pengajaran dan peningkatan mutu pendidikan.

Sebuah diskusi kecil dengan seorang guru, sedikitnya telah membuka mata hati saya akan kondisi pendidikan di sekolah ini. Sebuah rencana besar harus segera digaungkan guna membangunkan para pionir pendidik maju dan bersemangat dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia yang memiliki wawasan kebangsaan yang lengkap dan berkarakter kebhinekaan.

Program apa pun yang dibebankan kepada tenaga pendidik, tidak akan berjalan baik apabila tidak ada “im-balan” yang sesuai dengan kebutuhan para pendidiknya. Kita bisa melihat bahwa kemajuan Tiongkok saat ini ternyata dibangun dengan kesungguhan para pemimpinnya dalam membenahi pendidikan. Kita bisa melihat bagaimana sosok birokrat yang sangat peduli dengan pendidikan di nega-ranya, kita mengenalnya dengan nama Li Lanqing. Dia adalah seorang Wakil Perdana Menteri China yang pada tahun 1993 rela mengunjungi sekolah-sekolah di daerah pedalaman Cina guna mengetahui keadaan riil pendidikan di Cina saat itu. Dia rela naik-turun gunung, baik dengan naik sepeda atau berjalan kaki berkilo-kilo meter demi mengetahui masalah pendidikan yang melanda rakyatnya.

Sebuah kesimpulan besar dia dapatkan, yakni harus ada perbaikan sekolah yang dimulai dari pemberian kesejahte-raan kepada para pendidik seperti rumah, gaji, gedung, dan fasilitas sekolah lainnya. Dan inti dari kesimpulan Li Lanqing ini adalah guru harus disejahterakan karena merekalah yang menjadi garda terdepan dalam masalah pendidikan.

Selaras dengan perkembangan dunia pendidikan di Jepang yang sangat memerhatikan kesejahteraan para guru, Tiongkok berusaha meneladaninya dengan menambah anggaran belanja untuk bidang pendidikan. Bisa kita saksikan Tiongkok hari ini, ketika kesejahteraan guru tercukupi, bangsa itu maju.

Sebuah tantangan bagi saya dan kaum muda saat ini untuk memberikan advokasi bagi kesejahteraan para guru dan nasib kelangsungan hidupnya. Harus ada garansi dari para wakil rakyat di Senayan guna mewujudkan guru yang sejahtera.

Itu mungkin sebuah catatan kecil saya dalam rangka melakukan pendampingan di SDN Kamojang ini. Suka atau tidak, bangsa ini memang sepatutnya berkaca pada dua negara maju saat ini: Jepang dan Cina, terutama dalam hal pengelolaan dunia pendidikan. Kedua negara ini sudah seharusnya dijadikan refleksi bagi para pembuat kebijakan di negeri ini untuk lebih mengutamakan kesejahteraan para guru.

Guru juga manusia yang membutuhkan keterjaminan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, dan negara wajib mencukupinya. Jika tidak, kita hanya akan menjadi bangsa penonton di era globalisasi dan pasar bebas ini. Semoga nasib para guru kita bisa menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang. Amin.

 

Irman Parihadin

(Pendamping Sekolah SDN Kamojang)

Komentar

komentar