Aspek Penunjang Sekolah Unggul

unggul

Oleh: Achmad Salido

Guru Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan

 

Keunggulan sebuah sekolah, salah satu penunjangnya adalah pada sinergitas antara sekolah dan lingkungannya. Paling tidak, ada tiga aspek yang sangat mempengaruhi kualitas sebuah sekolah di luar sistem manajemen yang telah dimilikinya. Ketiga aspek tersebut adalah sekolah itu sendiri, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga. Aspek-aspek tersebut harus bersinergi  dan saling menunjang dalam mewujudkan sekolah yang unggul. Sekolah sebagai tempat pembelajaran formal yang syarat dengan aturan dan tata tertib yang mengikat, harus dikuatkan oleh lingkungan masyarakat dan keluarga. Masyarakat sebagai lingkungan permisif bagi peserta didik dalam bersosialisasi harus mendukung pembiasaan karakter yang ditanamkan di sekolah. Sedangkan keluarga sebagai bagian dari individu peserta didik harus mampu menunjang, menguatkan dan menyaring segala informasi yang diperoleh oleh peserta didik. Karena setiap lingkungan, disadari ataupun tidak pasti memberi pengaruh dalam perkembangan peserta didik. Baik perkembangan psikologi, kognitif, afektif, ataupun psikomotor. Sedangkan dalam interaksi sehari-hari, peserta didik tidak pernah terlepas dari ketiga aspek di atas.

Pendidikan anak bukan sepenuhnya tanggung jawab sekolah. Sekolah hanya bagian terkecil dari pembentuk karakter dan kepribadian anak. Waktu anak disekolah sangatlah terbatas jika dibanding dengan waktu yang mereka lewati di masyarakat ataupun keluarga. Pembiasaan yang diberikan oleh sekolah tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada penguatan dalam lingkungan masyarakat dan keluarga. Terlebih lagi jika lingkungan masyarakat dan keluarga tidak mendukung bahkan bertolak belakang dengan pembiasaan karakter yang ditanamkan di bangku sekolah.

Pendidikan di sekolah pada dasarnya bukan hanya sekadar masalah nilai A, B, C, D dan E yang tercantum pada buku raport siswa. Akan tetapi, lebih dari itu adalah terjadi perubahan pada perilaku dan keterampilan yang terimplementasi dalam perilaku peserta didik. Perilaku baik dan terpuji harus menjadi karakter yang tertanam kokoh dalam individu peserta didik. Sehingga selain pengetahuannya berubah dari tidak tahu menjadi tahu, perilakunya juga harus berubah dari kurang baik menjadi baik, dan kemampuannya dalam memecahkan sebuah masalah bertambah. Jika sebelum sekolah anak belum terbiasa hidup mandiri, maka setelah menempuh bangku sekolah harusnya bisa mandiri dan bertanggung jawab. Atau pun karakter terpuji lainnya yang ditanamkan oleh sekolah, semisal kejujuran, rasa percaya diri, disiplin dan kerjasama. Perubahan lain yang harus lahir dari sebuah didikan sekolah adalah keterampilan. Peserta didik hasil tempaan sekolah harusnya lebih terampil dibandingkan dengan anak seusianya yang tidak menempuh bangku sekolah. Keterampilan public speaking, menyimak, mengamati, mencipta, ataupun memberi solusi terhadap sebuah masalah harus muncul dari diri setiap peserta didik. Karena pada dasarnya, keberhasilan sebuah pendidikan terlihat dari adanya perubahan pada pengetahuan, sikap atau perilaku dan keterampilan.

Sekolah yang baik adalah sekolah yang kehadirannya diidamkan oleh elemen  masyarakat sekitar, sehingga mereka mau mendukung dan membantu setiap program-programnya. Keadaan sekolah seperti inilah yang dikenal sebagai sekolah berbasis masyarakat. Masyarakat mau mengambil peran dalam pengondisian lingkungan sekolah agar kondusif saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Mereka menjadi penguat pembiasan karakter yang ditanamkan oleh sekolah ke seluruh peserta didiknya. Misalnya saat peserta didik sedang alpa dari pengawasan guru membuang sampah tidak pada tempatnya, maka masyarakat yang melihat akan mengingatkannya. Saat peserta didik makan sambil berjalan, maka akan diingatkan untuk duduk sejenak menyelesaikaan makanannya baru kemudian meneruskan perjalanan. Ketika anak-anak tengah asyik bermain saat adzan berkumandang, maka masyarakat akan mengingatkan agar mereka bersegera dalam melaksanakan sholat. Selain sebagai penguat pembiasaan karakter, masyarakat juga bisa menjadi sponsor dan pendukung utama sekolah dalam meningkatkan kualitasnya. Bahkan tanpa diminta mereka akan ikut mempromosikan sekolah terhadap siapapun yang mereka temui. Tentang visi dan misi sekolah, program unggulannya, prestasi yang telah diraih dan sistem manajerialnya. Bahkan mereka akan ikut menjalankan posisi check and ballance bagi setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh sekolah. Kuncinya ada pada keterbukaan sekolah dalam menjalin kerjasama yang baik dengan masyarakat sekitar.

Peran keluarga sebagai lingkungan terdekat peserta didik, juga tidak kalah pentingnya dengan sekolah dan masyarakat. Posisinya jika kita cermati lebih urgent daripada  lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Sebab lingkungan keluarga adalah madrasah pertama yang dilalui oleh seorang anak sebelum menjadi peserta didik dari sebuah sekolah. Selain itu, usia emas anak dilalui dalam lingkungan ini. Ketika lingkungan keluarga tidak mampu memainkan perannya dengan baik, maka akan berdampak buruk pada perkembangan kepribadian anak. Sebaliknya ketika lingkungan keluarga akomodatif terhadap tingkah lalu dan perkembangan anak, maka akan mampu melahirkan kepribadian yang unggul.

Lingkungan keluarga yang bersinergi dengan sekolah dan masyarakat, akan sangat membantu dalam menuntaskan program pembentukan karakter peserta didik. Dengan sinergitas yang terbangun, akan melahirkan forum diskusi terkait penyelesaian masalah yang dialami peserta didik saat proses pembelajaran.  Permasalahan yang disebabkan oleh keaneka ragaman kemampuan peserta didik dalam menerima informasi ataupun pembelajaran. Termasuk sistem pembinaan sekolah yang menerapkan reward and punishment bagi peserta didiknya. Sebaliknya akan menjadi sulit bagi sekolah ketika keluarga tidak mendukung pembinaan yang dilakukan oleh sekolah. Apalagi saat ini dunia pendidikan tengah mendapat banyak sorotan karena ulah beberapa oknum guru. Saat hak-hak anak dilindungi oleh undang-undang, sekolah menjadi dilema. Sehingga pembentukan karakter oleh sekolah tidak akan berhasil ketika bertolak belakang dengan pemahaman dan kebutuhan keluarga. Karena keluarga akan cenderung protektif terhadap kebutuhannya terhadap anaknya. Saat sekolah membiasakan anak untuk bertutur kata yang sopan, sedangkan dilingkungan keluarga anak selalu mendapatkan kata-kata yang kurang sopan maka anak akan cenderung mengikuti kebiasan di keluarga. Sebab waktu yang dimiliki anak bersama keluarga lebih panjang daripada waktu yang dilewati anak di sekolah. Sedangkan di sisi lain, anak adalah perekam terbaik dari setiap gerak gerik orang tua.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.