Antara Literasi dan Uswah

Oleh: Ika Pahliawati, S.Pd.
(Asosiasi Konsultan Sekolah Literasi Indonesia)

Akhir-akhir ini dalam perkembangan dunia pendidikan kata literasi menjadi topik terhangat yang selalu diperbincangkan. Literasi dianggap menjadi salah satu upaya pendorong bangkitnya kemajuan sebuah bangsa. Hal ini terkait dengan kemampuan masyarakat dalam menyerap berbagai informasi dan menjadikan mereka berpikir lebih kritis dan pada akhirnya diharapkan masyarakat khususnya para pelajaran menjadi lebih kreatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Miris sekali bila melihat kenyataan bahwa bangsa kita menduduki peringkat bawah dalam budaya literasi. Hal ini terbukti di lapangan, pelajar tidak menyukai kebiasaan membaca. Dan tentunya untuk menggiatkan mereka untuk mau mebaca atau mebuadayakan kegiatan literasi diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan sifatnya harus berkelanjutan.

Telah dipaparkan di atas bahwa pembiasaan budaya literasi tidak dapat hanya dijadikan sebuah jargon atau sekedar pemanis yang hanya dijadikan tulisan, yang dipajang di dinding sekolah. Peran seorang guru dalam kegiatan literasi mempunyai peran penting. Pemberian contoh atau uswah atau keteladanan seorang guru diharapkan mampu membuat para siswa tergugah atau termotivasi untuk lebih giat dalam berliterasi.

Uswah seperti apa yang mampu menjadi motivasi bagi siswa? Uswah ini dapat diwujudkan dengan adanya bukti nyata berupa karya tulis misalnya, guru membuat tulisan yang berbentuk puisi, artikel, opini dan sebgainya. Hal yang lebih baik lagi yang baik lagi adalah tulisan yang dikaryakan menjadi sebuah buku.
Selain menjadi salah satu bentuk keteladanan literasi, pembuatan karya tulis ini dapat menjadi daya penguat kepercayaan diri seorang guru dalam kegiatannya dalam mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekitarnya, khususnya di lingkungan sekolah.

Lalu, apakah cukup hanya pembuatan karya tulis saja? Tentu saja tidak, pengembangan budaya literasi mengharapkan perubahan paradigma guru dalam kegiatan belajar mengajarnya. Paradigma yang selama ini mengaharuskan siswa untuk tetap mengikuti aturan hukum-hukum keilmuan secara baku sekarang diharpkan siswa mampu mengembangkan keilmuan tersebuat dengan bahasanya sendiri. Misalnya saja, seorang siswa tidak harus menghapal sebuah definisi kebudayaan sesuai dengan teks yang terdapat dalam sebuah buku. Tapi siswa diharapkan mampu mengembangkan pemahamannya terhadap definisi kebudayaan dengan menggunakan bahasanya sendiri.

Selain itu, budaya literasi mencoba mendidik siswa untuk lebih banyak bertanya, menganalisis terhadap masalah keilmuan. Yang nanti pada akhirnya mereka akan lebih berpikir kritis bahkan memicu mereka untuk dapat menciptakan sebuah karya yang inovatif.

Budaya literasi di sekolah, tidaklah mungkin terwujud jika tidak didukung oleh sistem dan kepemimpinan sekolah yang kuat. Jika di sekolah hanya ada satu dua orang saja yang gemar membaca, budaya di sekolah tersebut belum dikatakan literasi. Literasi di sekolah harus dijalankan oleh semua secara sistemik bukan oleh orang per-orang. Untuk menjalankan itu semua butuh kepemimpinan yang kemudian mengarahkan semua sumber daya untuk terlibat.

Untuk mencapai hal tersebut, tentu saja seorang guru harus lebih membuka diri terhadap perubahan-perubahan keilmuan. Salah satu cara mengimbangi perubahan tersebut yaitu dengan melakukan upgrade diri dengan banyak membaca buku atau media informasi lainnya, mengikuti berbagai pelatihan dan tentu saja dengan membuat sebuah karya tulis atau produk lainnya sebagai wujud aplikasi dari hasil budaya literasi.

Diharapkan uswah dan perubahan paradigma guru ini menjadi pemicu motivasi masyarakat sekitarnya khususnya rekan sejawat dan siswa untuk lebih giat lagi dalam kegiatan literasi. (red-mSg)

Komentar

komentar