Anak Punk

Oleh: Atika Nursyahbani.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan

 

“Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
jangan menyerah, jangan menyerah, aaaaaa”

Satu judul lagu yang sama telah digetarkan dalam dua keadaan yang sangat berbeda oleh satu pita suara yang itu-itu juga.

Keadaan 20 tahun lalu yang kalau di putar kembali mungkin gue juga tidak akan percaya bahwa itu masih di alam yang sama.

Semua ketidakmungkinan yang terjadi begitu saja meluncur walau berulang-ulang tersendat oleh hambatan.

Merubah seekor anjing cerewet yang hobi menggonggong tapi dilecehkan menjadi seekor harimau pendiam tetapi di takuti.

Kenalkan gue Samson, begitu dulu orang-orang memanggil gue karena keberanian gue, karena kharisma gue yang terpancar keluar menembus baju hitam-hitam yang selalu gue kenakan dulu, dan karena style rambut gue yang di mohak tajam membuat gue semakin terlihat sangar, gue juga dulu mendapatkan predikat lelaki sejati, ini karena gue selalu setia sama ukulele gue yang kemana aja selalu disamping gue. Dulu gue jagoannya Depok dan Sekitarnya, sebut aja nama gue di depan pedagang kaki lima atau tukang angkot daerah sana, pasti kenal! Eh, tapi dari dulu pencitraan gue bagus, gue sering bantuin para pedagang angkut barang tanpa minta duit ya paling makanlah, tapi namanya juga anak jalanan pasti orang-orang bermobil, orang-orang bermotor, orang-orang yang nggak kenal kita bakalan punya stigma negatif sama kita, para Anak Punk!

HA! Terkadang dulu ada diantara kita yang karena dianggap seperti orang jahat, merasa diasingkan oleh orang-orang yang menilai hanya dari penampilan akhirnya prilaku berubah menjadi cenderung negatif, palingan bergaul ya cuma sesama anak jalanan, anak punk seperti kalian-kalian sekarang ini.

Gue ngamen, nyanyi-nyanyi, kumpul-kumpul, cari duit buat makan sama buat beli Pomade. Pulang? ngga pernah pulang HAH! ngga ada yang nyariin juga, orang tua repot cari duit buat perutnya sendiri. Gue haus kasih sayang bro, gue ngga bisa dapetin itu di bawah atap ya gue cari, gue keluar ngikutin cahaya matahari.

Walaupun gue anak punk dulu sebenarnya terbesit sebuah pertanyan-pertanyaan besar yang entah kenapa bisa timbul di benak seorang dekil seperti gue. Pertanyaan yang kalau kata pak Kardi tukang asongan yang suka duduk dipojokkan pintu stasuin adalah sebuah pertanyaan pencarian jati diri, maklum usia gue waktu itu 17 tahun.

Sampai waktu menghantarkan gue pada suatu pristiwa penting, kunci dalam cerita gue, tepat hari jum’at gue duduk di seberang masjid sambil liatin orang bubaran solat jum’at, gue duduk sambil peluk dengkul gue sendiri semakin lama gue tatap rombongan itu semakin sakit hati gue bro, seperti ada yang hampa, ada bagian penting dalam diri gue yang masih belum terisi, sakit, bingung, seperti ada yang tertinggal, tapi APA?

Lanjut, Saat itu gue gundah, gue hilang fokus, berjalan tertunduk sambil mengobrak-abrik seisi kepala tapi nihil gue ngga nemu apa-apa.

“BRUUK! Tiiin!” Ukulele kesayangan melayang keudara tertabrak mobil pas gue lagi ayun-ayunkan, iseng saking gue gundahnya. Tapi parahnya lagi, gue marah sebesar-besarnya, gue ngerasa seperti anjing liar yang di usili anak-anak terus ngamuk menggonggong. Saat itu wanita tua yang mengendarai mobil keluar untuk minta maaf tapi dengan kasarnya gue berkata “ Sialan! Bangsat! Keparat! Dasar orang kaya! Sombong! Ukulele gue di tabrak lu maunya apa sih jing!” yaaaa kata-kata sehari-hari kami para anak punk keluar dengan fasihnya, nenek itu ketakutan sambil ngasih duit ke gue, sepersekian detik gue bungkam memikirkan kenapa gue sebenarnya?  gue saat itu ngga butuh uang, gue butuh jawaban, jawaban untuk pertanyaan gue yang kedua. Petanyaan apa? Pertanyaan kenapa setelah sekian lama gue berkata seperti itu tapi baru kali ini air mata gue keluar dan menyisakan rasa sesal yang aneh? Gue butuh jawaban.

Gue pergi ke warung klontong buat beli minum gue kasih duit lima puluh ribuan yang tadi dikasih paksa oleh wanita tua pengendara mobil itu, perasaan apa lagi yang menimpa gue saat karena itu tukang warung senyum simpul sambil ngasih kembalian lima belas ribu, gue jalan sambil minum dan berpikir keras kenapa gue ngga nanya harga air mineral ini berapa kenapa duit gue bisa sisa lima belas ribu hanya karena beli satu botol tanggung air mineral? Kali ini otak gue jadi pusing, gue merasa semua predikat yang temen-temen seperjuangan gue sematkan ngga berpengaruh apa-apa lagi sama gue. 3 hari 2 malam perasaan ini ngga pernah bisa keluar dan berhenti mengaduk-aduk pikiran dan hati. Gue ngga bisa ngamen terlebih karena ukulele gue harus masuk UGD. akhirnya gue berjalan kearah terminal dengan niat mau jadi kenek dadakan atau hanya sekedar ngamen manual alias tepok-tepok pake tangan aja. (diam dan mendongak keatas) mungkin saat itu Allah dengar apa yang gue panjatkan walau ngga sedikitpun keluar dari mulut ini, yaitu sebuah jawaban atas segala perasaan dan pertanyaan yang jika lebih lama lagi mengendap dalam diri bisa membuat gue terbunuh secara perlahan. Saat gue melewati sebuah trotoar ada portal yang terbuka di bibir jalan saat itu gue berhenti entah kenapa dan tiba-tiba adzan maghrib berkumandang “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” mendengar suara adzan maghrib seperti minum air dari telaga yang diatasnya banyak pohon-pohon rindang, adem. Padahal selama 17 tahun udah berapa ribu kali adzan berkumandang? Tapi baru kali ini gue benar-benar merasa mendengar! Angin disekitar gue berhembus seperti membelokan wajah gue ke arah sebuah bangunan yang ngga ngerti tempat apa, gue diam. “Dek!” tiba-tiba suara halus itu menyentuh pundak gue “Kamu mau sekolah? Ayo masuk kedalam daftar dulu” gue bingung, otak gue nge-blank tapi perasaan itu… perasaan yang selama ini menggangu.. hilang! Menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang mencari jawabannya.

Saat kaki gue masuk kedalam gerbang, gue mundur lagi dua langkah, gue inget isi dompet gue lebih banyak struk dibanding duitnya, lagi-lagi pertanyaan baru muncul, tapi kali ini pertanyaan itu ngga harus menunggu lama untuk bertemu dengan jawabannya. “saya ngga ada duit pak, sekolah mahal, lagi ini udah malem emang masih buka?” pemilik suara halus itu tersenyum “Jangan khawatir di sekolah ini gratis kok. Dan akan terus buka untuk kalian”, Kalian? Kami? Para anak jalanan? Anak punk? Sekolah apa ini? “ini namanya sekolah apa pak?” lagi-lagi dia tersenyum ramah “Sekolah Masjid Terminal, kami biasa menyebutnya MASTER”.

Satu bulan sudah gue disana, semua pertanyaan, semua keluh kesah, ke gundahan terjawab habis! Selama satu bulan itu gue tau kenapa gue merasa hampa melihat para rombongan sholat jum’at bubar saat itu ternyata nurani gue menuntut haknya, menuntut pembuktian atas segala ucapan “aku seorang muslim” kepada diri ini yang nyatanya belum pernah menunaikan kewajibannya. Akhirnya gue tau sebab keluarnya air mata penyesalan itu saat menampar seorang wanita tua dengan kata-kata kasar, dan akhirnya gue tau kenapa sisa uang gue pas itu tinggal lima belas ribu, ternyata gue udah dibodohi sama tukang warungnya! Harga air mineral yang waktu itu gue minum harganya jadi tiga puluh lima ribu, huft…

Tapi gue ngga merasa takut lagi gue ngerasa yakin bisa keluar dari semua konflik yang terjadi pada diri gue sendiri ini, gue yakin karena ada Allah dan ada MASTER! Disini gue di ajarin gimana caranya sholat, berbicara, gimana caranya menghitung, gue jadi tau kalau sebenernya gue suka otomotif. Gue belajar dimana aja yang gue mau, di bengkel, di tangga, bahkan di ambulans asalkan gue bersungguh-sungguh. Dan gue ngga merasa haus kasih sayang disana karena para guru yang selalu memperhatikan gue, kali ini gue merasa seperti pohon yang tinggal membusuk diberi pupuk dan di siram air lantas mekar kembali. Setelah lulus dari MASTER gue melanjutkan kuliah S1 dan S2 di luar negri, 20 tahun berselang gue bisa punya mobil pribadi yang mewah Bill Up dari Jerman, rumah, stelan yang rapih, istri cantik dan anak-anak yang cerdas. Memang kuping gue yang udah ditindik lebar ngga bisa balik seperti semula lagi tapi harapan, do’a, dan cita-cita selalu bisa di ubah dan mengubah asalkan ada do’a dari Allah dan terima kasih MASTER untuk semua yang udah diajarkan kepada kami para mantan anak punk!

 

-selesai-

Komentar

komentar