Agar Siswa Mampu Membaca

mbaca

“Siapa yang belum bisa membaca?” Tanya saya kepada para siswa di kelas 1A SDN 060932 Bangun Mulia, Medan (Sumatera Utara).

Beberapa anak mengacungkan jari. Kurang dari sepuluh anak ternyata yang mengacungkan jari. Saya pun membuat kesepakatan jadwal belajar dengan mereka, yakni usai pulang sekolah bertempat di perpustakaan.

“Kita berlatih membaca bersama Ibu. Apakah mau?” Saya meyakinkan mereka kembali.

Anak kelas 1A yang masuk pagi pun selesai jam sekolahnya. Sebagian anak menuju perpustakaan sesuai kesepakatan. Dibandingkan jumlah yang mengacungkan jari di kelas, anak-anak yang datang ke perpustakaan berjumlah lebih sedikit. Beberapa yang datang malah bukan yang mengacungkan jari.

Malu-malu mereka berdiri di depan pintu. Hingga ada seorang anak berani bertanya, “Bu, boleh kami membaca?”

“Tentu boleh. Ayo, silakan masuk di perpustakaan kita,” jawab saya. “Ini ya siswa-siswa hebat yang mau belajar membaca?”

Namanya juga baru kelas 1, ikut-ikutan kawan adalah hal lumrah. Jelas jauh lebih baik ketimbang yang ikut-ikutan pulang meski tadinya acungkan jari tidak bisa membaca. Bisa jadi ini karena siswa tersebut belum tahu betapa penting membaca.

Sebagai permulaan, saya tetap mensyukuri anak-anak yang telah mengusahakan diri untuk hadir. Tampak di wajah satu per satu, semangat mau membaca bersama. Terukir pula segaris senyum yang menambah tulus keceriaan mereka.

Empat anak duduk melingkar. Kami membentuk lingkaran supaya masing-masing saling mengenal. Tentu ini juga memudahkan saya untuk fleksibel dalam memfasilitasi kemampuan belajar mereka.

Sama hal seperti mengajar, bagian permulaan ini juga menyertakan apersepsi. Hanya, lebih singkat. Seperti menanyakan nama, kabar, dan cita-cita. Atau cukup menyanyikan sebuah lagu.

Saya selanjutnya membagikan buku bacaan ke masing-masing anak. Sumber belajar apa pun itu kita gunakan, baik buku pelajaran maupun yang sudah ada di perpustakaan, sebagai upaya mewujudkan kemampuan literasi membaca siswa.

Tiga siswa membaca buku yang sudah berada di genggaman tangan masing-masing, sementara seorang temannya lagi lebih mendekat ke sisi saya untuk ber-latih membaca. Dengan mengeja ataupun tidak, saya tetap punya keyakinan bahwa mereka mampu. Sebab, hakikatnya setiap siswa memiliki daya kemampuan. Tidak ada produk ciptaan-Nya yang gagal. Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan khas. Jika tidak terasah, ia hanya belum bertemu dengan guru yang tepat.

Metode yang saya praktikkan sederhana, yakni menggunakan kartu bergambar bertuliskan huruf-huruf. Misalkan hewan ayam untuk huruf berawalan a. Kartu ini diberikan ke anak cukup satu hari satu huruf. Terus diberikan hingga huruf z. Esok harinya siswa mengembalikan kartu yang saya pinjamkan. Seraya mengembalikan kartu ke saya, siswa pun menyebutkan lagi huruf. Setelah tamat kartu huruf satu per satu, bertambah lagi dengan kata, suku kata, dan kalimat.

Selain kartu kecil, guru dapat menuliskan huruf di pergelangan tangan siswa. Hal ini pernah saya lakukan dengan meminta izin terlebih dulu ke siswa. Setelah mendapat izin, guru menuliskan satu huruf. Dengan sentuhan dan ucapan kata-kata positif, guru telah menjalin keakraban siswa dan guru.

Inti setiap metode pembelajaran sebenarnya bagaimana kita membuat siswa supaya senang belajar. Guru memberikan perhatian, kasih sayang, dan ketulusan mendidik. Siswa berkonsentrasi dan membuat dirinya sendiri nyaman belajar membaca. Karena itu, guru yang tepat tidak lain guru yang tulus mendidik, mengajar sepenuh jiwa. Senang berlama-lama dengan siswa untuk membimbingnya. Optimis terhadap siswa, seolah di keningnya tertulis angka seratus atau nilai tertinggi. Begitu pula dengan mengajarkan membaca. Siswa yang belum dapat membaca hanya butuh banyak latihan. Guru dapat memberikan perhatian lebih agar siswa pandai membaca.

 

Destiarny

Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 060932 Bangun Mulia, Medan (Sumatera Utara)

Komentar

komentar