38 Kepala Sekolah Se-Indonesia Mengikuti Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia

Oleh: Ahmad Yani, S.Pd

Bogor – Pada Selasa lalu kegiatan Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia resmi dibuka, kegiatan ini bertempat di PPPTK Penjas dan BK dan diikuti 38 kepala sekolah dari sekolah pendampingan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) se-Indonesia.

Rina fatimah, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, dalam sambutanya menyatakan ada tiga program Dompet Dhuafa Pendidikan yakni menyantun Dhuafa, menjalin ukhwah, menggugah etos kerja. Selain Rina Fatimah ada juga Orasi Pendidikan oleh Dr. Zaim Ukhrawi.  Dr. Zaim Ukhrawi mengatakan bahwa ketika sekolah ingin maju, kepala sekolah harus mampu memberikan KETELADANAN, seorang  pendidik  merupakan contoh yang akan ditiru oleh anak didiknya, anak didik tidak akan menjadi anak yang baik ketika gurunya tidak memberikan contoh KETELADANAN yang baik pada siswa/siswinya ujar Dr. Zaim Ukhrawi.

Melirik sejarah masa kejayaan pendidikan Indonesia pada masa Ki. Hajar Dewantara yang menganut  sistem pendidikan mengacu pada “Ing ngarso sungtulodo (di depan sebagai teladah), Ing Madyo Mangun korso (di tengah memberikan semangat), Tut Wuri Hadayani (di belakang memberikan dorongan) pendidikan tidak mampu dijalankan secara personal akan tetapi melibatkan seluruh elemen yang punya tanggungjawab terhadap pendidikan. Oleh karenanya sekolah harus memiliki visi dan misi serta tujuan agar visi dan misi tersebut tercapai, selain itu sekolah juga harus membuat Rencana Strategi untuk mengukur ketercapain visi misi Sekolah

 

Berbagai materi penting seputar pemaksimalan kompetensi sekolah kami dapat, namun materi mumpuni lain tetap diberikan, salah satunya pelatihan sistem Instruksoinal dalam MPC4SP 2.0 yang dibawakan langsung oleh Zayd Syaefullah, ia mengungkapkan bahwa dalam sekolah harus menerapkan metode USWAH , Budaya sekolah dan Sistem pembelajaran yang baik. Ia juga mengajak seluruh kepala sekolah yang hadir untuk menerapkan Metode USWAH dalam upaya peningkatan pembelajaran yang berkualitas.

Menurut Zayd sistem pendidikan di sekolah tidak mampu dijalankan oleh guru saja, tetapi harus melibatkan seluruh komponen pendidikan yang Sekolah, Keluarga dan Masyarakat.

“Untuk mengefektifkan pembelajaran di sekolah dapat dilakukan melalui pelayanan prima, pembelajaran aktif dan penilaian hasil. Sekolah yang maju adalah sekolah yang mampu menciptakan budaya sekolah yang kondusif, tertib, aman, dan nyaman,” tutupnya.

 

Betapa bahagia berada di Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia, di sini kami bisa mendapatkan banyakilmu dari pembicara hebat seperti Muhammad Syafei Al-Bantanie, GM Sekolah Model Dompet dhyafa Pendidikan. Dalam pemaparannya Syafei mengatakan bahwa guru harus menjadi teladan bagi siswanya karena mereka harus mencontoh kemuliaan akhlak dan keistiqamahan ibadah oleh Rasulullah Muhammad saw. Ia menambahkan bahwa tujuan pendidikan akan terwujud ketika guru menjadi teladan, siswa ikhlas menuntut ilmu dan didukung oleh kurikulum Islami.

Selain guru kepala sekolah juga harus berperan aktif mewujudkan sekolah yang baik, karena majunya sebuah sekolah tergantung dari kepala sekolahnya maka seorang kepala sekolah harus kreatif dan mampu berpengaruh dalam rangka merubah guru-gurunya menuju guru yang profesional dan berkualitas. Dan setelah itu baru kemudian dapat dibenahi siswanya, karena siswa bertercermin dari perilaku-perilaku yang dimunculkan oleh guru-gurunya, untuk itu jadilah teladan bagi siswa-siswanya.

Di dalam sebuah lembaga pendidikan yang harus ditanamkan oleh  guru adalah menerapkan pendidikan berbasis Islami dengan cara menanamkan akhlak dan teladan yang baik pada siswa sehingga kelak menjadi insan yang berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama.

Komentar

komentar