Wajah Pendidikan Indonesia

Oleh : Yulya Srinovita (Peneliti di Litbang Makmal Pendidikan)

Siapa yang tak kenal dengan nama Andi Hakim Nasution, guru besar IPB, tahun 1970an – 1990an. Nama almarhum sekarang diabadikan sebagai nama gedung Rektorat IPB di Kampus Darmaga Bogor. Sosok yang akrab dipanggil Andi ini adalah pengajar mata kuliah Matematika dan Kalkulus. Bapak Andi, dikenal sebagai sosok yang tak hanya inspiratif dan cerdas tetapi juga sangat baik hati. Beliau memperhatikan mahasiswa bahkan calon mahasiswa yang perlu bantuan keuangan. Berdasarkan hasil penuturan Hendi Setiawan (dalam edukasi.kompasiana.com) bahwa seorang teman karib menceritakan bahwa ia mendapat beasiswa dari IPB untuk kuliah bebas biaya atas bantuan pak Andi. Satu kisah lagi yang pernah diceritakan pak Andi sendiri di media massa, beliau pernah menyurati seorang Bupati di Jawa Barat agar membiayai seorang warga desa di Kabupatennya agar bisa berangkat ke Bogor untuk kuliah di IPB dan di Bogor si mahasiswa dicarikan beasiswa oleh Pak Andi. Selain itu, Beliau juga mengusulkan penyaluran sebagian dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan untuk membantu biaya penelitian mahasiswa pascasarjana. Beliau juga berhasil menginspirasi lembaga pemberi beasiswa di perguruan tinggi seperti yang dapat kita rasakan saat ini.

Begitu luar biasa, jasa yang sudah Beliau torehkan. Namun, mungkin tak seorangpun yang menyangka bahwa Bapak A. H Nasution ini hidup dalam kesederhanaan. Bahkan, penulis sendiri sempat kaget, mendengar penuturan dari Ketua Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Sri Nurhidayah, mengenai kisah Bapak A.H Nasution dalam membayar biaya rumah sakit menjelang Beliau wafat. Seorang Guru Besar, mengalami kesulitan dalam melunasi biaya rumah sakit, hingga teman dan mahasiswa Beliau ikut “patungan” dalam membantu. Betapa hal ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, bahwa pengabdian tak melihat harta, bahwa pengabdian guru tak berbanding lurus dengan kesejahteraannya. Hanya niat yang tulus untuk mencerdasakan kehidupan bangsa. Semoga Allah menempatkan Alm (para guru bangsa) di tempat yang terbaik.

Mungkin puisi ini sangat cocok menggambarkan kondisi pendidikan (guru) kita saat ini:

“Sobat, perkenalkan ini guru matematikaku. Ia tiap hari bermain angka-angka. Tapi, bukan menghitung gajinya. Karena gajinya hanya cukup sampai tanggal lima. Guru matematikaku suka menghubungkan garis-garis searah. Tapi bukan membuat sketsa rumah. Karena urusan rumah, ia hanya bisa pasrah. Tak ada pilihan selain tipe RS 7, Rumah sangat sempit sekali sehingga selonjor saja susah. Guru matematikaku gajinya berbanding terbalik dengan jasanya. Jangan bandingkan dengan gajinya artis ibukota. Guru dibayar murah untuk tanamkan akhlak remaja. Artis dibayar mahal untuk rusak akhlak remaja. Guru matematikaku, tak mampu ongkosi anaknya. Yang masuk rumah sakit dan butuh biaya. Tapi, untunglah ada dermawan yang membantunya. Bukan presiden, mentri, atau kepala dinas kota. Melainkan, iuran semua siswa sekolahnya.” (Dikutip dalam Slide Kegiatan Pojok Advokasi yang dibuat oleh Muhammad Syafi’ie).

“Guru adalah tiang sebuah negara”, mungkin istilah ini bisa menggambarkan betapa pentingnya peran seorang guru. Merekalah yang akan melahirkan calon-calon pemimpin bangsa yang cerdas dan berkualitas. Namun, apa yang terjadi di Indonesia? Hasil penelitian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebutkan bahwa kualitas guru Indonesia berada di urutan ke-14 dari 14 Negara yang diteliti, 77,85% guru SD tidak layak menjadi guru, rata-rata nilai penguasaan mata pelajaran Guru TK dan SD hanya 34,26 (Hasil Pengujian Depdiknas 2007/2008 dalam Kompas 2009). Betapa mirisnya kualitas guru di Indonesia.

Permasalahan guru di Indonesia tak hanya seperti yang dipaparkan di atas. Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa merupakan salah satu NGO yang fokus dalam perbaikan kualitas pendidikan Indonesia. Dari tahun ke tahun, Dompet Dhuafa sudah banyak melaksanakan program-program pendidikan di berbagai daerah dan menemukan beberapa permasalahan dalam dunia pendidikan Indonesia, diantaranya permasalahan guru. Saat ini, Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, melalui Pusat Riset dan Advokasi, Litbang Makmal Pendidikan sudah mulai fokus dalam melakukan penelitian-penelitian pendidikan sebagai bahan advokasi untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Aktivitas advokasi sudah mulai dilakukan dalam internal Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, salah satunya dengan mengadakan Pojok Advokasi

Hasil dari diskusi ini akan dijadikan sebagai sarana untuk mengumpulkan bahan advokasi satu tahun ke depan. Tahun ini, advokasi Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, difokuskan pada peningkatan kualitas guru Indonesia.

Pojok Advokasi Perdana ini diadakan pada Hari Rabu tanggal 4 Maret 2015 di Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan dengan tema “Mencari Formulasi Meningkatkan Kualitas & Kesejahteraan Guru”. Diskusi yang berlangsung selama 1,5 jam ini dihadiri oleh perwakilan semua organ/ unit di Yayasan Pendidikan, diantaranya Sekolah Guru Indonesia (SGI), Makmal Pendidikan (MP), Beastudi Indonesia (BI), Smart Ekselensia Indonesia (SMART EI), Unit Komunitas dan Kemitraan (UNIKK), dan Unit Kepemimpinan (UK). Adapun diskusi Pojok Advokasi tersebut dipandu oleh Manager Litbang Makmal Pendidikan (Muhammad Syafi’ie) ini, diantaranya:

(1) Apa titik lemah kualitas guru? dan bagaimanakah gambaran kualitas guru di daerah?

Menurut salah seorang pengelola Sekolah Guru Indonesia, Ami, secara kualitas, umumnya guru-guru di daerah memiliki sikap kurang percaya diri. Mereka hanya mengambil peran sebagai pengajar. Padahal sikap kurang percaya diri akan berpengaruh terhadap kinerja, yang berdampak pada lemahnya performa mengajar. Hal ini membuat SGI terdorong untuk meningkatkan performa guru-guru daerah dengan meningkatkan percaya diri dan skill tambahan.

Sementara salah seorang pengelola Makmal Pendidikan, Zayd Sayfullah, juga memaparkan bahwa titik lemah kualitas guru adalah tidak memiliki orientasi yang jelas dalam mengajar (prinsip dia menjadi guru). Pengalaman Makmal Pendidikan di lapangan, memperlihatkan bahwa pelatihan guru tidak menjamin peningkatan kualitas guru. Sementara sertifikasi guru dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan guru, namun hal tersebut juga tidak berdampak pada peningkatan kualitas guru.

Lain halnya dengan pendapat dari Abdul Kodir (Pengelola Unit Kemitraan dan Komunitas) yang mengatakan bahwa permasalahan guru saat ini ada dua, yakni kesejahteraan dan kompetensi. Kesejahteraan guru harus ditingkatkan seiring dengan meningkatnya kompetensi. Kesejahteraan disini bukan dalam arti “mewah”, tapi guru harus mendapatkan gaji yang layak. Kasusnya seperti guru honorer yang saat ini gajinya masih dibawah standar bahkan memprihatinkan. Kenaikan gaji guru honorer dilakukan sebagai seleksi guru terbaik. Sebab fenomena saat ini adalah guru yang masuk sekolah negeri bukanlah guru yang memiliki kompetensi yang bagus. Makmal sendiri dengan pendampingan sekolahnya berhasil meningkatkan kompetensi guru, namun itu hanya bersifat jangka pendek. Sebab banyak guru saat ini yang kebutuhan pokoknya belum terpenuhi, sehingga mereka mencari pekerjaan tambahan dan hanya mengajar seadanya.

(2) Apakah ada korelasi antara performa guru dengan background jurusan.

Berdasarkan penuturan salah seorang Guru SMART EI, Syahid, permasalahan guru bukan hanya layak atau tidak layak. Jika melihat realita saat ini, banyak guru dari background pendidikan, namun ternyata performa mengajarnya pun kurang baik. Di SMART sendiri, guru-gurunya bukan hanya dari background pendidikan, tapi nyatanya mereka mampu survive dan mengajar dengan baik. Hal tersebut karena guru-guru di SMART telah ditempa sebelumnya agar mereka memiliki kualitas yang baik.

Hal ini juga sejalan dengan hasil analisis pengelola SGI yang menunjukkan bahwa background pendidikan tidak berpengaruh terhadap rasa percaya diri guru, tetapi background kampus menjadi faktor yang berpengaruh secara signifikan.

(3) Apakah ada korelasi antara kualitas guru dengan kesejahteraan guru?

Manager Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan, mengungkapkan bahwa kesejahteraan guru tidak berpengaruh terhadap kualitas guru karena kenyataan saat ini, semakin sejahtera guru maka umumnya mereka semakin kurang kreatif. Pernyataan tersebut juga didukung oleh salah seorang Guru Smart EI yang menyatakan bahwa peningkatan gaji guru tidak diiringi dengan prestasi mereka. Berbeda dengan di luar negeri dimana guru yang memiliki kemampuan lebih dihargai lebih tinggi. Yang terpenting dari guru sendiri adalah kemampuan mereka untuk survive.

(4) Permasalahan guru yang ada saat ini, tanggung jawab siapakah?

Mengenai hal ini, Mas Udhi dan Mas Budi (Pimpinan UK) sepakat bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Artinya pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan yang berkualitas bagi warga negara. Tanggung jawab pendidikan diberikan dengan Wajib Belajar 12 tahun dan pendidikan gratis. Namun sanggupkah pemerintah melakukan itu? Bagaimana dengan sekolah swasta? Sehingga tanggung jawab pemerintah saat ini adalah menyamaratakan guru swasta dan guru negeri dan memastikan kesejahteraan mereka. Perlu ada orientasi bagi guru baru untuk meningkatkan kualitas guru dan tetap memperjuangkan kesejahteraan mereka. Namun, tentunya dalam hal ini pemerintah tak bekerja sendiri tetapi membutuhkan kerjasama dengan pihak lain.

Pada sesi terakhir, Direktur SGI, Agung Pardini, menutup diskusi ini dengan memaparkan sejarah pada zaman Kolonial Belanda. Pada zaman itu, pendidikan tidak bisa diakses oleh semua orang, apalagi profesi guru. Namun, saat ini profesi guru dengan mudahnya diakses semua orang. Menurut beliau, permasalahan pendidikan bukan hanya soal pemerataan akses dan kualitas, namun lebih rumit dari itu. Kunci dari perbaikan kualitas guru adalah Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK). LPTK merupakan lembaga yang paling bertanggungjawab untuk meningkatkan kualitas guru. Jika ingin meningkatkan kesejahteraan guru maka semua guru harus mendapat sertifikasi. Siapa yang bisa mengeluarkan sertifikasi guru? Jawabannya adalah LPTK. Butuh waktu minimal 10 tahun untuk memperbaiki kualitas guru ini. Menjadi guru profesional memang tidak harus diukur dengan uang atau gaji, namun pemerintah berkewajiban membayar mahal untuk meningkatkan kualitas guru. Kelemahan LPTK saat ini adalah LPTK tidak melakukan seleksi atas 4 kompetensi guru (pedagogi, sosial, profesional, dan kepribadian). Banyak LPTK “abal-abal” yang tidak terseleksi dan mengeluarkan guru-guru yang juga tidak terseleksi. Perbaikan ini tidak bisa dilakukan dari bawah, tapi dari atas dengan merubah kebijakan.

Pada akhir pemaparannya, beliau menyarankan tugas Litbang Makmal adalah membuat kajian yang panjang tentang kualitas pendidikan (guru, lptk, dll) sehingga hasilnya dapat disampaikan kepada pemangku kebijakan pendidikan tertinggi, yakni Mendikbud, Anies Baswedan dan juga masyarakat umum. Tahun ini, Sekolah Guru Indonesia akan fokus menjadi model LPTK yang akan melahirkan guru-guru yang berkualitas. Dengan dilakukannya peningkatan kualitas guru secara merata, diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

*(Dirangkum dari Hasil Diskusi Pojok Advokasi dan Berbagai Sumber)
– See more at: http://kantorberitapendidikan.net/wajah-pendidikan-indonesia/#sthash.O8OOPpF9.dpuf

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.