Tugas Seorang Guru Tidak Lagi Sama

 

Oleh: Siti Sahauni

Siapapun yang menerjunkan dirinya pada dunia pendidikan, terutama menjadi seorang guru, berarti mereka telah siap lahir dan batin untuk memberikan perubahan di dunia pendidikan. Tentu perubahan yang baik bagi anak-anak didiknya di masa mendatang. Karena menjadi guru adalah panggilan jiwa. Sehingga mereka akan bekerja dengan sepenuh hati untuk mencintai pekerjaannya.


Seiring berjalannya waktu, tugas seorang guru tidak lagi sama. Jika dulu tugas seorang guru hanya mengajar dan dirasa sudah tuntas pekerjaanya. Kini tidak lagi begitu. Dewasa ini, tuntutan seorang guru tidak hanya sebatas mengajar. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan tantangan zaman yang semakin tak terelakkan oleh siapapun. Tanpa ada pengecualian. Terlebih bagi seorang guru, yang dirasa paling mampu dalam segala bidang. Adapun alasan lainnya adalah karena mereka telah mengenyam pendidikan tinggi, sehingga memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan masyarakat yang kurang beruntung.

 

Bicara mengenai seseorang dalam menuntut ilmu tidak akan ada habisnya. Tua, muda, Kaya, miskin, semuanya berlaku bagi siapapun. Tanpa memandang tinggi ataupun rendah profesinya lagi, terlebih bagi seorang guru, yang tak kunjung berhenti memberikan dedikasinya dalam pembelajaran dan pengajaran.

 

Sebuah ungkapan imam besar seolah mengingatkan kita sebagai manusia bahwa menuntut ilmu tidak berhenti hingga pada titik tertentu. Saat dimana posisi atau kedudukan kita telah berada di ambang kejayaan, maka pupuslah tuntutan kita untuk terus belajar.

 

Imam Ahmad menguatkan alasan mengapa seseorang tidak boleh berhenti untuk terus memperbaiki diri. Dalam hal ini adalah belajar. Karena amalan baik seseorang akan putus ketika kita dipanggil oleh-Nya. “Ut lubul ‘ilma minal Mahdi ilallahdi” yang artinya tuntutlah ilmu dari sejak buaiyan (gendongan ibu) sampai liang lahat.
Meninggal dengan membawa amalan yang baik, siapa yang tidak menginginkan itu. Diantara tiga amalan yang dituliskan, salah satu diantaranya adalah ilmu yang bermanfaat. Sehingga ketika ilmu yang kita miliki memberikan manfaat bagi banyak orang, maka itu akan menjadi ladang pahala kita. Karena akan terus mengalir seperti air, sampai ia menemukan muaranya. Hadis riwayat Muslim memaparkan dengan sangat jelas akan siklus hidup manusia. “Bila meninggal seorang manusia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu sodakoh jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

 

Apalah arti pencapaian prestasi pendidikan yang pernah kita tempuh jika pada akhirnya tidak berpengaruh sedikitpun untuk diri kita sendiri, terlebih untuk orang lain. Tak ubahnya seperti onggokan sampah di tepi sungai, yang dibuang pemiliknya sembarang. Karena menganggapnya sudah tidak berarti lagi. Sehingga benar apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie, “Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru”.

 

Seseorang yang telah mencapai pendidikan tinggi, pikiran mereka akan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, dan pertanyaan yang akan muncul dari kepala adalah ‘bagaimana?’ Pertanyaan “bagaimana” inilah yang dapat menimbulkan keinginan agar menciptakan sesuatu yang baru. Dan bila itu terus diasah dan dicari tahu dengan mengupayakan melalui pengembangan diri, maka yang akan terjadi adalah terbangunnya kesadaran diri agar menjadi guru yang lebih baik lagi ke depannya.

 

Ketuntasan guru dalam melakukan perbaikan diri pada dunia pendidikan yang terus menerus dilakukan, akan berdampak pada dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh si pendidiknya melainkan juga peserta didiknya. Karena kita telah membuka mata, telinga, dan hati untuk memberikan dedikasi di dunia pendidikan ke jalan yang sebenarnya. Yakni, menjadi guru pembelajar.

Komentar

komentar