Pos

Ravika Kawan SLI

3 Alasan Menjadi KAWAN SLI

Tak pernah terfikirkan saat ini bisa menginjakan kaki di Bumi Sriwijaya. Pernah ketika ditanya oleh teman “setelah kuliah mau kemana?” dan dengan spontannya menjawab “ke Palembang”. Tidak terlintas sama sekali untuk ke Bumi Sriwijaya, tapi Tuhan berkehendak lain, Dia mengabulkan ucapan pertama yang disebutkan. Dan sekarang telah hampir 10 purnama berada di Bumi Sriwijaya.

KAWAN SLI (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia), Dompet Dhuafa, kata-kata yang sangat asing untuk didengar dan dengan persepsi awal akan bekerja apalah itu “dhuafa”. Tetapi dengan semangat optimis tetap berani melanjutkan pendaftaran untuk menjadi KAWAN SLI 2. Sampai saat ini masih ada kenangan dan terpatri di sudut memori tentang seleksi pendaftaran yang sangat menarik, baru seleksi saja sudah kenal orang satu Sumatra Barat, apalagi kalau lolos ya pasti kenal se-Indonesia.

KAWAN SLI merupakan pemuda pemudi pilihan yang dipilih oleh lembaga Dompet Dhuafa untuk meningkatkan kualitas sekolah, yang diilih secara profesional melalui proses seleksi secara nasional. Menjadi KAWAN SLI merupakan bagian terunik yang pernah dilalui, baik susah, senang, lelah maupun bahagia sebahagianya. Menjadi KAWAN SLI itu sangat menarik untuk dilalui, ketika harus mengikuti pelatihan intesif bahkan ketikan menghitung purnama di penempan.

Satu yang menjadi penekanan di dalam diri dan itu akan tersimpan untuk waktu yang tak terhingga dari ucapan seorang pengelola ketika pelatihan intensif yaitu jadilah karyawan Allah, karena semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ketika memperoleh apa yang diharapkan maka bersyukurlah, sedangkan ketika belum memperolehnya maka selalu berusaha dan jangan berburuk sangka kepada Allah. Dan aku selalu bersyukur sudah menjadi KAWAN SLI, hingga mampu merangkai mimpi-mimpi satu per satu.

Menjadi KAWAN SLI adalah pilihan awal yang benar setelah melewati beberapa halangan. Karena dengan menjadi KAWAN SLI bukan hanya KAWAN “teman” se-Indonesia yang dimiliki, tetapi ilmu-ilmu baru juga didapat dengan melalui pembekalan secara intensif 2 bulan. Dengan KAWAN SLI, saya tau pendidikan, suku, bahasa maupun kearifan lokal daerah penempatan yaitu Bumi Sriwijaya. Dan masih banyak lagi, hingga merangkum menjadi 3 alasan menjadi KAWAN SLI yaitu:

  1. Menjadi KAWAN SLI saya bisa menjadi bersyukur. Karena tidak semua orang bisa lolos menjadi KAWAN SLI. Dan bahkan tanpa KAWAN SLI saya tidak akan mampu menginjakan kaki di Bumi Sriwijaya. Selain itu, saya tau ternyata masih ada pola pendidikan unik yang dilakukan setiap daerah sesuai dengan kearifan lokal yang dimiliki. Saya bersyukur masih mendapatkan rahmatNya, hingga mampu melewati 10 purnama dengan berbagai cerita dan pengalaman unik disini.
  2. Menjadi KAWAN SLI saya melewatkan batas yang dibuat sendiri. Hal yang paling susah untuk pendiam yaitu berbicara, sedangkan diam paling susah untuk pembicara. Saya seorang yang pendiam, dan misi saya dari awal program SLI yaitu mampu public speaking.  Walaupun saya belum mampu dan sebaik KAWAN yang lain, tapi saya mampu melampaukan batas dan keluar dari zona nyaman untuk berani bicara di depan umum. Deg-degkan wajar untuk menit-menit awal, tapi lama kelamaan itu menjadi candu untuk bisa public speaking, dimana KAWAN SLI harus mampu mengisi pelatihan bersama guru, kepsek dan orangtua siswa.
  3. Menjadi KAWAN SLI saya mampu menambah pengalaman dan belajar lagi. Baik itu pengalaman pahit maupun pengalaman manis itu akan tetap terkenang. Kata ayah “carilah pengalaman selagi kamu masih muda, dan setelah tua maka ceritakan pengalamanmu untuk memotivasi anak cucumu”. Meskipun awalnya saya dinyatakan tidak lolos KAWAN SLI 2, tetapi saya dapat pengalaman bahwa untuk menjadi bagian suatu lembaga harus melewati seleksi yang profesional. Dan ketika dinyatakan lolos itu akan menjadi pengalaman terbaru buat saya untuk menginjakan kaki di pulau Jawa. Serta ketika di penempatan saya belajar banyak hal yang tak akan saya temui di bangku pendidikan formal dan karifan lokal setiap daerah itu unik untuk pelajari.

Tidak ada paksaan ketika memilik menjadi KAWAN SLI. Semua mengalir seperti air, dan setiap saat memiliki cerita unik seperti gelombang lautan. Dan sepertinya ini candu untuk menjadi karyawan Allah. Mimpi saya mulai terwujud dengan menjadi KAWAN SLI dapat memajukan pendidikan Indonesia, dan mimpi itu masih akan tetap berkibar hingga saatnya tiba.

Kontributor : Ravika (KAWAN SLI penempatan Ogan Ilir)

Ingin seperti Ravika yang mampu mengabdi sekaligus mengembangkan kapasitas diri?
.
Daftarkan dirimu segera menjadi KAWAN SLI angkatan 3 di http://www.makmalpendidikan.net/kawan-sli/Masih ada waktu sampai tanggal 31 juli 2019.

Kawan SLI Lutfia

Apa Saja yang Didapatkan Sebagai KAWAN SLI?

Sebuah pengalaman yang tidak ternilai, mewakafkan diri 12 purnama untuk menjadi Konsultan Relawan Pendidikan. Jika ditanyakan, mengapa mau jadi relawan? Dari sekian banyak alasan, satu yang pasti turut di-iya-kan, “menambah nilai diri”, sebab menyadari akan ada kompetensi yang bertumbuh dan bertambah, akan ada kebaikan yang dibagikan, bertambahnya manfaat diri bagi sesama. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah saw.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain).”  [HR.Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.]

Menantang diri keluar dari zona nyaman, dipilih sebagai langkah awalku, seorang guru yang telah mengabdikan diri selama 3 tahun pada Sekolah Dasar Islam Terpadu ternama di kota Binjai, kota kecil di Sumatera Utara, untuk menggenapi keinginan meluaskan nilai diri, mengambangkan kompetensi, belajar lebih, upaya lebih, serta menempuh tangga-tangga meralisasikan mimpi.

Dua bulan pertama dilalui di kota hujan, Bogor, Pembinaan sebelum konsultan dikirimkan ke wilayah penempatan. Ini sangat membantu, Sebagai bekalan pengetahuan dan arahan pelaksana peran Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Dari pembinaan bertambahlah kompetensi diri, aktivitas pelatihan digelar setiap hari, berlatih menjadi trainer, coche, dan mentor, sebagai bekalan konsultan di penempatan. Mengaplikasikan ilmu dikenyataan tidak semudah ketika microtriner pada proses pembinaan, ada beban moral yang diemban, nama baik diri dan lembaga dipertaruhkan, maka persiapan untuk jiwa dan kompetensi keilmuan dimantapkan.

Dari penempatan aku belajar mengaplikasikan keilmuan, menjadi trainer pada kegiatan pelatihan, pertama kali menjadi pemateri di tengah kepala sekolah dan guru-guru, tentu merasa menegangkan dengan khwatir yang berlebihan. Perlahan hitungan bulan berganti, menjadi pusat perhatian, berdiri di depan para kepala sekolah dan guru, telah menjadi hal yang biasa. Kepercayaan diri tumbuh dan berkembang, tidak hanya di hadapan warga sekolah, pada beberapa kesempatan berhadapan dengan puluhan bahkan ratusan wali murid adalah sebuah pengalaman berbeda, menyesuaikan penggunaan bahasa yang mudah dipahami masyarakat umumnya, juga tantangan tersendiri bagi Kawan SLI, yang kemudian menyuntikkan spirit untuk mendalami karakter dan budaya warga setempat.

Semarang, Jawa Tengah, dikenal dengan ikon Kota Lumpia, mayoritas penduduk bersuku Jawa, maka inilah bahasa yang digunakan masyarakat pada kesehariannya. Penempatan di kota ini menambahkan kekayaan budaya baru bagiku, budaya sopan santun khususnya. Aku baru tau, bahwa di tanah Jawa, penggunaan Bahasa Jawa itu ada tingkatan tutur bahasanya, dari penggunaan bahasa keseharian ada yang halus, dan tidak halus atau dinamakan tingkatan Ngoko, Madyo, dan Krama. Setiap kosa bahasa jawa memiliki variasi bentuk morfologis yang menunjukkan tingkat rasa hormat atau kesopanan, hal ini bertalian dengan kasta kebangsawanan atau kekeratonannya.

Suatu ketika suasana pertemuan dengan kepala madrasah dan guru-guru yang semula hangat mendadak berubah direspon dingin, hanya sebab aku salah menggunakan bahasa, “sampean” dalam pertemuan formal tersebut, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Kamu atau Anda”, dirasa terdengar terlalu kasar, sementara keseharian para guru menggunakan bahasa “njenengan” untuk menyebutkan orang kedua yang diajak berdialog. Berbulan-bulan telah menyatu dengan budaya setempat membuatku sedikit-banyak memahami kosa kata Bahasa Jawa, namun sejak kejadian lalu, aku belajar untuk berhati-hati, dan memilih menjawab dengan bahasa indonesia saja jika diajak berbicara.

Berperan sebagai Kawan SLI tanpa kusadari juga telah mewujudkan salah satu dari mimpi-mimpiku. “Menjadi gurunya para guru” tulisku satu ketika bertahun-tahun silam pada lembaran kertas yang menghimpun cita-citaku. Tak pernah terbayangkan beginilah cara Allah merealisasikan mimpiku, meskipun sekarang belum berezeki untuk lanjut pendidikan S2, tapi nyatanya Allah mewujudkannya lebih dahulu sekalipun tanpa titel master. Ketika berprofesi menjadi guru adalah cita yang terbangun sejak SMA, lalu aku memimpikan agar kebermanfaatanku dapat dirasakan lebih, maka menjadi gurunya para guru adalah sebuah cita mulia.

Mengelola Sekolah Sendiri, juga bagian dari cita jangka panjang yang pernah kutuliskan, sehingga menjadi Kawan SLI bagiku merupakan tangga-tangga untuk mewujudkan mimpi. Sebab telah dibekali dengan ilmu pengelolaan, pengukuran, dan peningkatan performa sekolah. Dari sana aku belajar bagaiamana cara meng-choching dan me-mentoring para kepala madrasah untuk mengabil solusi menejemen terbaik bagi sekolah mereka. Dari pengalaman penempatan ini aku belajar tantang realitas mengelola manusia dan sistem pendidikan, ini bekal penting untukku. Enam Madrasah Ibtidaiyah Marjinal di tengah Kota Semarang memberikan banyak pembelajaran, dengan corak gaya kepemimpinan, dan pengelolaan madrasah yang berbeda-beda, dengan kelebihan dan kekurangannya.

Menjadi Kawan SLI membuatku terlatih untuk mampu melihat lebih luas arah masa depan sebuah sekolah. Sebab Kawan SLI telah dibekali dengan gambaran sistem ideal sebuah sekolah model. Bahwa sekolah dikatakan berkualitas baik apabila terpenuhinya ketiga lingkup metode uswah, yaitu kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah. Semua erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusianya. Gambaran sejauh apa hasil yang akan dituai sebuah sekolah, dapat diprediksi dari komitmen dan kompetensi kepala madrasah dalam mengelola madrasah serta guru-gurunya, disusul kemudian dengan terpenuhinya sarana prasarana yang memadai.

Hebatnya lagi, menyandang status sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia memudahkan intervensi kepada pihak sekolah dan masyarakat, karena dibawahi oleh lembaga resmi Dompet Dhuafa Pendidikan. Ini memudahkan jalannya pendampingan sekolah, memudahkan menyusupkan nilai-nilai kebaikan, kekhasan literasi, budaya sekolah islami, sebab saran dan pertimbangan Kawan SLI tentu diperhitungkan baik oleh pihak sekolah, masyarakat, maupun di tingkat pengawas sekolah.

Kawan SLI yang umumnya berusia jauh lebih muda dari para kepala madrasah dan guru-guru yang didampinginya, oleh pihak sekolah sering diberikan perlakukan istimewa pada berbagai kegiatan madrasah, disejajarkan dengan pengawas madrasah. Dari sini pembelajaran baru dipetik, di kota Lumpia ini, kesantunan dan pengagungan terahadap tamu diutamakan.

Mengabdikan diri 12 Purnama pada wilayah asing, melatih kepekaan dan mengembangkan kemampuan beradaptasi, sebab tidak ada tempat bergantung selain Allah dan diri sendiri. Di sini aku belajar jeli melihat dan menangkap kesempatan, meluaskan jaringan, mencari berbagai komunitas yang sejalan dengan program.

Banyak hal yang dapat dilakukan selain menjalankan tugas sebagai Kawan SLI di sekolahan. Salah satunya mengembangkan komptensi dalam menulis. Seperti dua tulisan yang telah dimuat oleh Radar Semarang, surat kabar lokal, begitupun bebarapa artikel yang telah dimuat di media elektronik internal, makmalpendidikan.net ataupun jateng.dompetdhuafa.org. Selain itu juga memfasilitasi proyek menulis buku antologi para kepala madrasah dan guru-guru sekolah dampingan SLI Semarang. Bergabung dengan komunitas tertentu, juga telah menimbulkan rasa bertambahnya nilai manfaat diri. Mencoba berbagi, dengan terlibat pada aktivitas remaja setempat, mengisi kegiatan anak kampus UNNES, terlibat bersama komunitas pengajian ibu-ibu hingga menggerakkan kegitan fun literacy untuk anak-anak di  TPQ terdekat.

Menjalankan program ini, artinya mengemban amanah besar, berbulan-bulan dihidupi oleh uang umat, menjaga kepercayaan umat dan janji pada Sang Maha Melihat. Pada pengabdian ini bekerja sebagai kayawan Allah, suka relawan, untuk mewujudkan sebuah visi menebar kebaikan, meningkatkan performa sekolah marginal. Maka berada jauh dari keluarga kian melatih pribadi kerelawanan. Semoga tiap detik yang terlewati terhitung sebagai upaya menggapai keridhoan-Nya.

Hikmah lain dari peran Kawan SLI di penempatan, ialah terjalinnya silaturahim, dan meluasnya jaringan.  Kepala madrasah dan guru-guru dari enam sekolah dampingan di Kota Semarang sejumlah 64 orang, dengan karakter yang berbeda-beda menambahkan syukur bahwa dicipta sedemikian rupa agar saling mengenal. Beberapa guru dan kepala madrasah memperlakukan Kawan SLI selayaknya keluarga sendiri, alhamdulillah mendapatkan keluarga baru lagi disini. Meluasnya jaringan kebaikan pribadi, baik dari lingkungan pendidikan, masyarakat tempat tinggal, pergaulan dengan berbagai komunitas, hingga menjalin silaturahmi kepada pengelola media cetak, koran lokal, kesemua adalah bonus dari menebarkan kebermanfaatan sebagai Konsultan Relawan SLI.

Untuk 12 Purnama pengabdian, begitu banyak yang telah didapatkan sebagai Kawan SLI. Syukur yang tertambat, mewakili begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Qs. Lukman: 27]

Kontributor : Lutfia (KAWAN SLI)

Pembinaan Kawan SLI 2 (Tulisan Kawan Nida)

Motivasi, Konsekuensi, dan Manfaat Menjadi Kawan SLI

Ukuran sukses setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang melihat dari tinggi jabatan di tempat kerja, bisa kuliah ke mancanegara, atau bisa menikah dengan orang yang dicinta. Tak semua hal itu juga menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang. Ada orang sukses tapi tidak bahagia. Begitulah kehidupan, selalu digemerlapkan dengan berbagai kemilau yang relatif sekali sudut pandangnya.

Mulai semenjak kuliah, pikiran saya sudah terkontaminasi oleh pernyataan Bapak Ridwan Kamil bahwa, “Pekerjaan yang baik adalah hobi yang dibayar.” Semenjak turut menganut paham itu, maka saya berusaha sedemikian rupa agar ketika tiba masanya berkecimpung di dunia pasca kampus, saya mendapatkan pekerjaan yang membahagiakan.

Alhasil, saya selalu bertanya kepada diri saya tentang apa saja hal-hal yang membuat saya bahagia. Beberapa di antaranya adalah membaca, menulis, dan bertandang ke beragam tempat. Kemudian, ketika saya mendapatkan informasi mengenai pendaftaran Kawan SLI di tahun 2018, saya tak banyak pertimbangan lagi untuk segera daftar. Tanggung jawabnya cukup beririsan dengan hal-hal yang saya suka. Meski, ada beberapa konsekuensi yang tentunya nanti akan saya dapatkan. Salah satu konsekuensinya adalah menembus zona nyaman.

Ketika menjalani tahapan wawancara, Bapak Zainal Umuri selaku pengelola program pada zamannya berkali-kali bertanya, “Kamu yakin bersedia? Siap ditempatkan di daerah mana saja? Kalau susah air gimana?” Saya juga agak khawatir sebenarnya waktu itu, akan tetapi Allah memberikan keyakinan dengan amat mudah kepada saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya saat itu, jika orang-orang di daerah marginal dapat hidup, mengapa saya harus khawatir?

Motivasi Menjadi Kawan SLI

Banyak keluarga dan teman-teman saya yang bertanya mengenai motivasi apa yang mendorong saya untuk menjadi seorang Kawan SLI. Selain dari tanggung jawab pekerjaannya yang beririsan dengan hal-hal yang saya sukai, motivasi lainnya adalah menambah pengalaman. Keluar dari daerah asal akan membuat kita belajar untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda sekaligus menabung pengalaman sebagai bekal hidup. Hal itu pun saya dapatkan selama berada di daerah penempatan. Dahulu, saya kira kesempurnaan hidup tiap orang itu melalui fase yang sama. Akan tetapi tidak, setiap orang punya jalan unik masing-masing. Saya mengamati kehidupan orang-orang di Ogan Ilir serta guru-guru di sekolah yang didampingi. Setiap dari mereka memiliki kisah unik. Ada keluarga guru yang sudah menikah puluhan tahun tapi tak kunjung memiliki putra, ada guru yang hampir pensiun tapi belum bertemu jodoh, ada pula guru yang baru menikah di usia hampir setengah abad. Setiap orang memiliki jalan hidup sekaligus tantangan dari Allah yang unik. Di sini sudut pandang tersebut terbuka.

Motivasi yang tak kalah penting adalah menambah ilmu. Selama dua bulan sebelum penempatan saya banyak mendapatkan ilmu mengenai kurikulum pendidikan, RPP, pembelajaran berbasis literasi, display kelas, menjadi trainer, coaching, dan banyak lagi. Bagi saya, ilmu-ilmu tersebut sangat aplikatif dan bermanfaat. Tak hanya selama saya menjadi konsultan relawan, akan tetapi akan bermanfaat kelak ketika saya menjadi bagian dari masyarakat atau berperan sebagai ibu bagi anak-anak. Betapa baik sekali Dompet Dhuafa Pendidikan, terutama ketika salah satu pemateri pelatihan (kalau tidak salah Pak Syafe’i) menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa Pendidikan menganut sistem efek domino. Jadi, meski nanti Kawan SLI sudah lengser dalam tugas, diharapkan agar ilmu-ilmu yang telah didapatkan dapat tertular dan tak henti tersebar.

Konsekuensi Menjadi Kawan SLI

Setelah dinyatakan lolos menjadi Kawan SLI Angkatan 2, saya pun segera membuat list konsekuensi apa saja yang mungkin nanti akan saya dapatkan. Lalu, saya segera memberitahukannya kepada keluarga inti.

Pertama, akan jarang pulang. Ditempatkan di daerah marginal tentu akan membuat Kawan SLI jarang pulang dalam setahun. Biasanya dalam setahun, saya bisa pulang tiga sampai empat kali. Saya beri tahu kemungkinan terburuk kepada keluarga, bisa jadi saya hanya akan pulang sekali salam setahun atau tidak sama sekali. Namun, alhamdulillah, Allah memberikan takdir terbaik kepada saya dengan ditempatkan di Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan. Dengan begitu, saya masih dapat memaksimalkan jatah cuti dengan pulang dua kali selama satu tahun.

Kedua, fisik berubah. Bagi orang-orang yang memiliki adaptasi yang cukup atau sangat baik, sepertinya hal ini tak terlalu menjadi masalah. Namun, bagi saya yang memiliki alergi debu dan sensitivitas kulit yang tinggi, membuat saya harus lebih ikhlas untuk membiarkan jika kelak fisik saya berubah. Ternyata benar saja, di daerah penempatan tempat saya bertugas merupakan daerah rawa, perkembunan karet, dan masih lengang suasananya. Rumah yang saya tempati berada di tengah-tengah kebun sehingga banyak sekali nyamuk besar-besar setiap hari. Alhasil, setiap hari pula saya digigit nyamuk. Saya sudah memakai lotion anti-nyamuk dan minyak telon plus longer protection yang melindungi dari gigitan nyamuk selama 8 jam. Kedua produk itu sia-sia, nyamuk di sini sudah resisten. Membakar obat nyamuk bukan menjadi pilihan, karena saya akan sesak napas. Pilihannya hanya ikhlas jika kulit memiliki bekas gigitan nyamuk yang sukar hilang.

Kondisi air dan debu di Indralaya membuat wajah saya juga bermasalah. Wilayah di sini mayoritas rawa. Airnya tak sejernih air di Garut, kampung halaman saya. Cuaca panas (kalau sedang tinggi bisa sampai 36 derajat celcius) dan tanah merah berdebu membuat kulit wajah saya mudah sekali terpapar. Padahal, saat datang ke Ogan Ilir ini kulit wajah saya sedang masa penyembuhan pasca ekspedisi dari salah satu pulau. Ternyata, kondisi di sini tidak lebih baik. Tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain rela menerima. Toh, suatu saat nanti pun kulit yang rusak akan menjalani masa pengobatan dan mudah-mudahan Allah memberi kesembuhan. Take it easy.

Ketiga, jarang senang-senang. ‘Senang-senang’ ini ialah dalam arti sudut pandang masing-masing orang. Setiap orang tentu berbeda definisi kesenangannya. Kalau bagi saya, senang-senang adalah pergi ke Gramedia lalu membaca dan membeli buku, pergi nonton ke bioskop, makan makanan khas Sunda, dan jajan cilung (aci gulung). Lagi-lagi, yang patut dilakukan adalah men-setting otak, hati, dan fisik kita untuk rela ‘jarang senang-senang’ selama penempatan. Saya yakin, dengan ‘jarang senang-senang’ kita akan menjadi amat bersyukur saat menjumpai kembali kesenangan masing-masing kita.

Ada sebuah kutipan yang pernah saya baca dari tulisan seseorang, “Bisa jadi, kondisi yang sekarang kita jalani adalah kondisi yang orang lain harapkan. Maka, bersyukurlah.” Setidaknya, setelah direnungkan, kondisi di daerah penempatan Ogan Ilir tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kondisi daerah penempatan Kawan SLI yang berada di pulau Kalimantan atau Riau. Mereka harus berjalan sekian kilometer untuk mendapat air bersih. Ada pula yang harus rela menahan kebosanan akibat tak kunjung makan nasi, yang ada hanya singkong sebagai makanan sehari-hari. Kita semua memiliki cara untuk bersyukur dengan cara masing-masing. Dengan itu, kita dapat lebih menghargai hidup.

Manfaat Menjadi Kawan SLI

Saya merasa banyak sekali manfaat yang didapat selama menjadi Kawan SLI. Hampir setahun di daerah tempat pengabdian, bagi saya, tak sia-sia. Ada banyak hikmah kehidupan yang saya ambil dan menjadikan diri menjadi lebih terbuka serta lebih banyak bersyukur.

Manfaat pertama, mendapat ilmu dan pengalaman hidup. Tentang ini, sudah saya jelskan sebelumnya di bagian motivasi. Ternyata, apa yang menjadi tujuan saya sesuai dengan manfaat yang saya perloleh.

Manfaat kedua, mengenal keunikan daerah penempatan. Hampir setahun di sini, saya sudah mencicipi makanan khas Sumatra Selatan seperti pempek, tempoyak, lenggang, pindang, tekwan, dan lain-lain. Ada salah satu sekolah yang setiap pekan mengenalkan makanan-makanan khas Sumsel. Saya dan rekan saya pun mencicipinya secara gratis. Kemudian, ketika datang masa monev dan jalan-jalan perpisahan kelas VI, menjadi kesempatan Kawan SLI untuk berkunjung ke daerah-daerah wisata dan tempat-tempat menarik di Sumsel. Ada Pulau Kemaro, Alquran Akbar, Masjid Ching-Ho, Gor Jakabaring, Punti Kayu, De-Matto, dan lain-lain. Kesempatan ini menjadi ajang wisata literasi.

Manfaat ketiga, memperluas relasi/jaringan. Salah satu tujuan SLI adalah agar programnya berkelanjutan, sehingga Kawan SLI dituntut untuk membuka jaringan yang luas sekaligus memberdayakan agar ketika Kawan SLI usai masa jabatan, program masih dapat berjalan tanpa pendampingan langsung. Sungguh, realisasi hal ini amat berat di Ogan Ilir. Akan tetapi telah ada contoh di SLI Angkatan 1, yang mana ada sekolah yang dapat berdaya dan justru sekolah tersebut memberi dampak kepada sekolah lain di Musirawas Utara.

Adapun di Ogan Ilir, telah berusaha membuka jalan kerjasama dengan FLP Ogan Ilir. Meski sistem kerjasamanya masih belum optimal, setidaknya Kawan SLI memiliki relasi dengan orang-orang yang sama bergiat terhadap bidang literasi. Selain itu, di Ogan Ilir pula berdisi universitas negeri yaitu UNSRI. Saya dan rekan saya pun memiliki kenalan mahasiswa-mahasiswa yang hebat dan siap sedia membantu kelancaran agenda kami jika dibutuhkan. Menjadi Kawan SLI membukan jalan untuk berteman dengan banyak orang.

Akan banyak kebaikan yang didapatkan selama mewakafkan diri untuk menjadi Kawan SLI. Meski bukan keuntungan materi, menjadi Kawan SLI akan memberi pengalaman yang berarti. Kelak, akan menjadi bekal kehidupan kita di kemudian hari jika kita benar-benar rela menjalaninya. Ada satu kutipan yang saya dapatkan dari Kawan SLI ketika ia dimonev oleh pengelola, “Apa pun yang terjadi tetaplah mendampingi.” Jika kelak banyak hal yang terjadi dan itu tak sesuai ekspekstasi, kembalilah ke niat awal kita (motivasi). Karena motivasilah yang akan menjadi kekuatan selama berada di daerah perempatan.

Kontributor Nida Fadlilah (KAWAN SLI Angkatan 2

Peran Kawan SLI di MIS Azrina

Peran KAWAN SLI meningkatkan kualitas MIS Azrina

Madrasah Ibtidaiah Azrina, merupakan sekolah mungil berkonsep rumah, terletak di Jalan Marelan Raya Pasar II Nomor 287 B, Kecamatan Rengas Pulau, Medan Marelan. Lebih tepatnya di samping Irian Swalayan. Didirikan tahun 2012 oleh Alm. Muhammad Arif dengan visi-misi yang sangat sederhana, yaitu menjadi wadah bagi anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa menikmati bangku sekolah. Ketua Yayasan Pendidikan Islam Azrina, Drs. Wahyudi, merealisasikan niat tulus tersebut melalui berbagai beasiswa yang tersedia, diantaranya adalah Beasiswa Yatim, yaitu beasiswa untuk siswa yatim, bebas SPP dari kelas satu hingga kelas enam.

Selanjutnya ada Beasiswa Separuh, peruntukannya bagi siswa yang orangtuanya masih utuh namun berpenghasilan kecil. Menjadi pertanyaan, bukan? Mengapa tidak disamakan saja, bebas SPP, misalnya? Ternyata, dibalik itu, MIS Azrina ingin menempa orangtua siswanya untuk tetap bertanggungjawab terhadap kewajibannya terhadap anak, sesuai Hadits Riwayat Bukhari Nomor 2278 bahwa

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Harapannya, dengan dibantu separuh, orangtua siswa bisa lebih semangat mencari nafkah. Ada pula Beasiswa Prestasi, yaitu beasiswa untuk tiga siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di setiap kelasnya, persemester. Berupa bebas SPP selama tiga bulan. Tujuannya agar menjadi penyemangat siswa untuk rajin belajar. Dari 207 siswa, yang tercatat menerima manfaat beasiswa tersebut adalah 48 siswa. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan di dalamnya. Aamiin.

MIS Azrina memiliki dua belas tenaga pendidik. Sepuluh guru kelas dan dua guru bidang studi (Olahraga dan Bahasa Arab). Muda-muda, penyayang dan pembelajar. Kepala Madrasah pun masih muda. Wilfa Hayati, S.Pd.I, perempuan kuat dan murah senyum, serta pembelajar yang ulung. Saat ini, MIS Azrina menjadi sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Analoginya seperti ini, Kepala Madrasah adalah akar, maka Konsultan Relawan adalah pupuk dan airnya.

Tenaga pendidik dan kependidikan MIS Azrina adalah pembelajar terbukti dari sikap antusias mereka setiap mengikuti Pelatihan Guru. Seperti yang pernah dilakukan di semester satu, Pelatihan Guru Tahap I dengan dua tema yaitu Pengantar Kurikulum, serta Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif. Terlihat mereka ingin belajar untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai guru di dalam kelas agar lebih professional. Jika belum memahami, maka mereka bertanya. Jika memiliki informasi, maka mereka sharing. Pada semester dua ini dilakukan Pelatihan Guru Tahap II dengan tema Desain Pembelajaran Aktif dan Media Pembelajaran. Pemateriannya tidak lagi diisi oleh Konsultan Relawan, tetapi oleh guru model. Tentu dengan lebih dulu dilatih oleh Konsultan Relawan dan dirangkul serta disemangati oleh Kepala Madrasah. Suasana pelatihan lebih hidup, aktif dan menyenangkan. Begitu juga dengan Kepala Madrasah, beliau mengisi kegiatan Pelatihan Pengembangan Keluarga dengan tema Mewujudkan Anak Cerdas dan Sholeh. Dibawakan dengan santai, hangat dan menyenangkan. Keilmuannya mengenai keislaman pun menjadikan kegiatan tersebut lebih hidup sehingga orangtua siswa yang hadir mendapatkan ilmu baru. Benar-benar potensial.

Sekolah dapat dikatakan baik — tidak semata terukur dari fasilitas. Karena yang lebih penting dari itu adalah kualitas SDM di dalamnya. Untuk bisa mengkualitaskan diri, maka diperlukan “kemauan”. Mau memperbaiki diri, mau belajar, mau berkembang. Jika sudah memiliki kesadaran tersebut maka pelayanan terhadap siswa dan orangtua/wali siswa pun akan prima. Siswa senang datang ke sekolah. Orangtua senang bersinergi dengan sekolah. Sehingga tercipta kepuasan dari berbagai pihak.

“Jadikan anak-anak sebagai generasi pembelajar. Dengan perasaan senang datang ke sekolah dan pulang sekolah.” –Anies Baswedan.

Pengumuman Duta Gemari Baca

Pengumuman Peserta Lulus Duta Gemari Baca 5

Selamat kepada 26 peserta yang berhasil lulus seleksi Duta Gemari Baca Batch 5. Seluruh peserta yang lulus akan mengikuti program Inkubasi Duta Gemari Baca pada 5-7 April 2019.

Duta Gemari Baca merupakan program pembinaan dan pengembangan kapasitas bagi generasi muda yang memiliki passion dan talenta dalam mengembangkan literasi di masyarakat

Berikut adalah daftar nama peserta yang lulus seleksi Duta Gemari Baca Batch 5 :

NamaSekolah/UniversitasAsal Daerah
Aisyah Mutiara ElfianaUIN Syarif Hidayatullah JakartaDKI Jakarta
Ardhi RidwansyahUPN Veteran JakartaDKI Jakarta
BahriannorUniversitas Lambung MangkuratKalimantan Selatan
Beddu HafidzUniversitas Bandar LampungLampung
Cahya Karisma PertiwiUPI Kampus PurwakartaJawa Barat
FatimahUniversitas TadulakoSulawesi Tengah 
Fitrotun NisaUniversitas Islam Negeri WalisongoJawa Tengah
Joana Maria Zettira Da CostaUIN Sunan Kalijaga YogyakartaYogyakarta
Karan HavinasUniversitas Kader BangsaSumatera Selatan
Linda DwiyantiUniversitas Negeri JakartaDKI Jakarta
Mahvira Fitra ApriliaUniversitas Ibn Khaldun BogorJawa Barat
Muhammad Afrizal Indra PratamaUniversitas Islam IndragiriRiau
Murnia SariUIN Sunan Ampel SurabayaJawa Timur
NadiyahUIN Sultan Maulana HasanudinBanten
Nur HolifahSMK Negeri 3 DepokJawa Barat
NurhayatiMA Mu’alimat NW PancorNTB
Putri Mutiara Nafisah NasutionUniversitas Muhammadiyah Sumatera UtaraSumatera Utara
Radika Cahya PermanaUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)Banten
Rana Indah SetiawatiSMK NU UngaranJawa Tengah
Rery AfiantoUniversitas DiponegoroJawa Tengah
RismayantiUniversitas MataramNTB
Sinta Gisthi ArdhianiUniversitas Pendidikan IndonesiaJawa Barat
Siti Inna HummaUniversitas PadjadjaranJawa Barat
Taufik HidayatSMK Negeri 2 KlatenJawa Tengah
Ulfatur RohmanUniversitas Pendidikan Indonesia Jawa Barat
Vita Siti ZulaehaUniversitas Pendidikan IndonesiaJawa Barat

Terkait teknis dan lain-lain akan dihubungi oleh panitia pusat.

Si Kulit Bundar Penyatu Perbedaan

Perbedaan merupakan hal yang lumrah dalam kebersamaan, bahkan kita telah sepakat pelangi indah karena beraneka ragam perbedaan warna. Lantas kenapa kita terlalu fokus pada perbedaan yang sering kali justru mengkotak-kotakkan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan tak lantas menjadi alasan kita untuk saling bermusuhan bahkan dalam Alquran telah gamblang dijelaskan yaitu pada surat Al Hujurot ayat ke 13 bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa untuk saling mengenal. Saling mengenal merupakan cara kita memahami bahwa kita semua memiliki persamaan diantara banyaknya perbedaan salah satunya sama-sama mahluk ciptaan Allah SWT. Sudah sepatutnya persamaan inilah menjadi fokus pandangan kita, untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam kebersamaan.

Sudah lima purnama saya sebagai Konsultan Sekolah Literasi Indonesia hidup dalam kebersamaan masyarakat Desa Engkerengas Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, untuk hubungan sosial saya pribadi dengan masyarakat desa tak menemui kendala sebab pada dasarnya sikap terbuka dan memuliakan tamu atau orang baru dari masyarakat desa sangat saya rasakan tak jarang hari-hari masyarakat silih berganti memberikan lauk maupun makanan kepada saya, bahkan saya telah memiliki orang tua angkat Pak Marzuki namanya.

Namun hal ini justru berbeda yang tampak pada kehidupan sosial masyarakat antara yang satu dengan yang lain, hidup berkubu-kubu masih terlihat diantara mereka, saling menggunjing dan menyalahkan satu pihak menjadi hal biasa. Terlebih lagi persoalan ketidakpuasan terhadap pemerintah desa yang paling besar menyumbang ketidak harmonisan masyarakat desa. Akan tetapi walaupun begitu kegiatan gotong royong masih menjadi budaya disini, segala kegiatan yang ada di masyarakat diputuskan melalui musyawarah dan dikerjakan dengan bergotong royong.

Walaupun sering terjadi perbedaan dan selisih paham yang merupakan hal biasa dalam bermasyarakat namun ada hal yang membuat mereka bisa tertawa bersama, yaitu permainan sepak bola. Di desa Engkerengas tak memandang wanita dan pria baik anak-anak hingga kakek-kakek sering membahas permainan ini. Menjadi hal mudah untuk membaur dengan masyarakat disini cukup pandai bermain bola dan tahu seluk beluk permainan ini.

Pada 3 bulan pertama saya mengadakan pertandingan futsal untuk desa, selama ini mereka hanya bermain sepakbola belum pernah melakukan pertandingan futsal, ku buka pendaftaran banyak yang mendaftar karena penasaran namun ada juga yang malu untuk mendaftar karena malu jika nanti ditertawakan dalam pertandingan. Hingga pertandingan dimulai ramai penonton yang datang bahkan ada yang berjualan disekitar lapangan sorak sorai penonton tua muda baik wanita maupun pria, tak jarang gelak tawa pecah membahana jika ada salah satu pemain yang terjatuh, semua larut dalam tawa lupa akan segala perbedaan dan peselisihan.

Itulah kehebatan si kulit bundar menyatukan masyarakat desa ini, bahkan jika ditanya anak-anak sekolah yang laki-laki tentunya kebanyakan mereka suka dan bercita-cita menjadi pemain sepak bola terkenal. Sehingga akupun terinspirasi untuk mengadakan latihan sepak bola sekali sepekan setiap usai shalat ashar, akupun tak pandai dan tahu banyak teknik permainan sepak bola namun semua itu bisa berjalan sambil belajar banyak konten you tube dan aku telah memesan buku teknik-teknik dasar bermain sepak bola yang bisa ku ajarkan pada mereka yang belum tentu juga teknik itu aku kuasai sendiri, tapi melihat antusiasme mereka dalam latihan membuat aku malu jika menyia-nyiakan semangat mereka.

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Tata Krama Memanusiakan ABK lewat Kolaborasi Pendidikan

Percayakah kita bahwa setiap manusia yang dilahirkan di dunia adalah karya agung Tuhan yang dilekatkan pada dirinya label spesial. Percayakah kita bahwa setiap anak yang kakinya  berpijak pada tanah memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, tumbuh, berkembang, bermain, disayangi, dan mendapatkan pengakuan sebagai warga negara yang mesti dilindungi dan mengecap rasa pendidikan. Karena pendidikan tidak berbicara perihal manusia normal melulu. Bagaimanapun kondisinya, seperti apa mentalnya tetap saja hak tersebut milik setiap anak. Lebih jelasnya kita menyebut perlakuan ini sebagai tata krama dalam memanusiakan manusia.

“Muara dari pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia,” tak ada yang dapat mengelak kalimat tersebut. Tujuannya semata-mata memuaskan akal-akal manusia akan pengetahuan, menyejukkan hati melalui keteladanan terhadap sesama agar hukum rimba tidak bertengger dan hukum keseimbangan tetap kokoh terjaga. Sederhananya formula keseimbangan yang dikemukakan oleh Newton:  aksi = reaksi. Ruas kiri dan kanan akan terus seirama, seberapa banyak energy yang diberikan pada aksi sebanyak itu pula hasil yang dituai pada reaksi. Seberapa banyak pengetahuan dan keteladanan yang kita berikan, kita berharap sebanyak itu pula tumbuh pada diri manusia laiinnya.

Pemenuhan pengetahuan dan keteladanan ini dapat dijawab melalui kolaborasi pendidikan formal dan Informal. Langkah ini adalah langkah terjitu yang dapat ditempuh. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal dan rumah sebagai madrasah pertama bertanggungjawab seutuhnya mengantarkan anak ke gerbang kondisi terbaik.

Hal-hal diatas  dilakukan orang tua Gaga pada Gaga. Gaga adalah anak berpostur tubuh besar dan tinggi yang di lingkungannya diberi cap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).  Setiap yang memandangnya sekilas lantas berasumsi Gaga adalah anak yang duduk di bangku kelas tinggi. Termasuk pandangan awal saya saat kunjungan ke-3 dalam agenda pemutaran video kirim budi, September lalu.  Belakangan saya tahu Gaga adalah anak kelas II.

Pada kenyataannya Ia baru satu setengah tahun mengenyam pendidikan formal di SDN 2 Wanasari Kab.Indramayu Jawa Barat. Orang tuanya memilih pendidikan inklusi, jarak sekolah dan rumahnya cukup dekat jadi alternative pilihan saat itu. Alasannya sederhana agar mereka dapat mengontrol perkembangannya. Hari pertama sekolah dan beberapa bulan berkutnya ibunya selalu mengantar ke pintu kelas, menunggu selama proses pembelajaran hingga bel berbunyi pertanda waktu pulang telah tiba.

Suatu waktu, orang tuanya memindahkan Gaga ke SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tak bertahan lama, temponya hanya seminggu. Gaga meminta kembali ke SDN 2 Wanasari . Ia tak ingin belajar dengan ABK lainnya, Ia hanya ingin belajar dari ibu Masnaeni guru kelasnya. Di tengah keterbatasan mental yang membelenggu dirinya Gaga masih leluasa menentukan sekolah, nuraninya jujur berbahasa tempat ternyaman belajar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memaksa Gaga tetap di SLB,  orang tuanya mengikuti keinginannya kembali pindah ke SDN 2 Wanasari.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung (Rombot: 2017), membuahkan perubahan dan perkembangan dalam diri Gaga. Saya teringat film Taare Zaman Pare  dari India yang menceritakan seorang ABK yang Imanjinatif, kemudian diberi perlakuan khusus dari guru seninya, dibimbing dan dididik hingga Ia benar-benar percaya pada bidang keahliannya. Hal serupa juga diterapkan pada Gaga, saat duduk dibangku kelas I Ibu Masnaeni memberikannya les khusus dalam tempo 2 atau 3 kali dalam seminggu. Alhasil, perkembangannya semakin meningkat. Walaupun tak 100% dapat mengikuti laju perkembangan  teman kelasnya.

Daya ingat, kejelasan berbicara, ketelitian dan perubahan sikap merupakan suatu prestasi yang membanggakan.  Sekarang, Ia merupakan anak dengan daya ingat yang kuat. Ia menghapal semua motor milik gurunya. Pada waktu pagi, jika ada motor guru yang belum datang Ia menuju menanyakan keberadaan guru   tersebut. Ia hapal, setiap hari Jumat ada mata pelajaran agama, oleh karenanya menanyakan guru mata pelajaran agama. Yang awalnya sering menangis seiring perjalanan waktu sikap itu mulai redup, Saat bel masuk berbunyi Ia mengakomodir teman kelasnya untuk masuk di kelas. Yang awalnya diantar jemput, saat ini hanya di jemput. Jika uang jajannya habis, Ia memilih pulang  meminta kepada ibunya dan kembali lagi ke sekolah dibanding menerima uang dari gurunya. Dan ada 1 hal kebiasaan yang melekat pada dirinya yaitu  menyalami dan mencium tangan guru-gurunya saat bertatap muka.

Melihat langsung dan mendengar kisah perkembangan Gaga dari Ibu  kepala SDN 2 Wanasari kita semakin membuka mata bahwa setiap anak itu berbeda, cepat atau lambat pasti akan bisa, ini hanyalah persoalan waktu. Mereka mempunyai bagiannya masing-masing dalam soal kemampuan. Dalam diri mereka ada harta karun yang terkubur, dan tugas orang-orang dewasa yang membersamainya adalah menggali dan menemukannya. Tokoh-tokoh penemu justru banyak dari penyandang ABK  seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan Wolfgang Amadeus Mozart, misalnya

Dalam lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khususlah yang akan mengikuti anak-anak normal laiinnya, tidak sebaliknya. Berawal dari sinilah titik perubahan, kolaborasi pendidikan orang tua dan guru menjadi kunci pintu  perkembangannya. Semoga tata krama memanusiakan ABK lewat kolaborasi pendidikan  terus berlangsung dalam proses pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia DD Pendidikan)

Referensi : Rombot, Olifia. 2017. Pendidikan Inkluisi. (Online) https//pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi. Dikutip 23 Desember 2018

Pic : Google.co.id

Makmal Penddikan Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Tujuan Pendidikan; Impian atau Angan-Angan?

Menyoal masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Di balik sederet prestasi akademik yang membanggakan, nyatanya masih ada hal mendasar yang belum terselesaikan.

Pertanyaan paling mendasar untuk mengukur keberhasilan pendidikan adalah: Apakah tujuan pendidikan sudah tercapai? Kalaupun belum tercapai sepenuhnya, apakah ada tanda-tanda kita akan mencapainya? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan jawaban ya atau tidak.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional, sesuai yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 adalah “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Berdasarkan kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kompetensi lainnya adalah sebagai penyempurna.

Iman menurut para ulama adalah perkataan dalam lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi semua larangan-Nya, serta menjaga diri agar terhindar dari api neraka atau murka Allah SWT. Banyaknya kasus tawuran pelajar (202 anak di tahun 2017-2018), penyalahgunaan narkoba (5,9 juta anak dari 87 juta populasi anak)*, pornografi, prostitusi, hingga penganiayaan terhadap guru sendiri mengindikasikan bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Lebih dari itu, pendidikan kita masih jauh dari tujuan yang dicita-citakan. Alat ukurnya jelas, yaitu iman, taqwa, serta akhlak mulia.

Sejatinya, pendidikan kita sudah memiliki pijakan yang sangat baik, berupa tujuan mulia yang termaktub dalam undang-undang dasar negara. Hanya saja, pada praktinya tujuan tersebut belum dijabarkan dan diimplementasikan ke dalam langkah nyata. Orientasi terbesar pendidikan kita masih terfokus pada aspek kognitif semata. Kurikulum belum benar-benar dirancang untuk menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa. Bukan iman dan takwa yang sekadar sebagai pengetahuan, tetapi juga terwujud dalam sikap dan perbuatan.

Hari ini bahkan tidak ada yang bisa menjamin apakah anak lulusan SMA yang beragama Islam sudah benar akidahnya, sudah baik sholatnya, serta lancar mengajinya. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin. Barangkali kita masih ingat hasil survei yang dilakukan salah satu universitas ternama di Aceh terhadap mahasiswa baru di kampusnya, tahun 2015 silam. Sebanyak 82% mahasiswa baru tidak bisa membaca Alquran. Artinya, hanya 1% saja yang bisa membaca Al-Quran. Dan itupun barangkali bukan karena andil dari pendidikan formalnya, bisa jadi karena belajar dari guru ngaji atau orang tuanya di rumah.

Hal tersebut terjadi karena memang kurikulum pendidikan di Indonesia tidak dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kurikulum pendidikan hari ini lebih menitikberatkan pada pengetahuan umum saja. Misalnya, lulusan SD harus bisa membaca, mahir operasi bilangan matematika, serta menguasai beberapa ilmu umum lainnya. Bagaimana ibadahnya kepada Sang Maha Pencipta, bukan menjadi prioritas utama.

Jika kita benar-benar ingin mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, maka (pemerintah) kita harus berani melakukan perubahan besar di tubuh pendidikan kita.

Berbicara masalah pendidikan, ada empat aspek penting yang sangat menentukan; tujuan, kurikulum, program, serta evaluasi. Tujuan pendidikan kita sudah sangat baik, rasanya tidak perlu lagi diotak-atik. PR selanjutnya adalah bagaimana merancang kurikulum, program, serta evaluasi yang selaras dengan tujuan, sehingga menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan.

Merancang Kurikulum yang Tepat

Kurikulum harus mampu menjadi kendaraan yang tepat dalam upaya menuju tujuan. Dan tujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia akan bisa tercapai manakala kurikulumnya dirancang berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Dengan kurikulum yang berlandaskan iman dan takwa, maka orientasi terpenting dari pendidikan adalah menjadikan peserta didik semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam bukunya “Pendidikan Islam; Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 204”’ Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa kurikulum yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan menekankan pada penanaman adab serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Adab dan iIlmu-ilmu fardhu ain seperti akidah, ibadah, syariah, akhlak, dan lain-lain diletakkan sebagai kurikulum inti (kurikuler). Ko-kurikulernya adalah serangkaian praktik ibadah, zikir, shadaqah, dan lain-lain, untuk menguatkan target kurikulernya. Sementara ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, sains, dan ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat ditempatkan sebagai ekstra-kurikuler.

Lalu, bagaimana dengan sekolah yang memiliki latar belakang agama berbeda? Pada prinsipnya sama, keimanan dan ketakwaan harus menjadi orientasi utama. Tinggal disesuaikan implementasinya berdasarkan tuntunan agama masing-masing.

Setelah kurikulumnya sudah selaras, maka perlu dirancang program yang mampu menumbuhkan dan menguatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia. Program-program tersebut harus dibuat terpadu antara pengajaran, pengamalan/pembiasaan, serta keteladanan. Untuk detailnya, pemerintah bisa meminta para ulama/cendekiawan muslim untuk merumuskan program yang lebih rinci dan operasional, sehingga hasilnya bisa lebih optimal.

Pentingnya Sistem Evaluasi

Selanjutnya, untuk memastikan agar tujuan pendidikan bisa tercapai, perlu dirancang sistem evaluasi yang terpadu, yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif saja. Mengukur keberhasilan pendidikan hanya pada aspek koginitif akan berampak buruk pada kehidupan bangsa ini. Betapa banyak orang pintar di negeri ini, tetapi jauh dari Tuhannya. Dan ujung dari semua itu adalah lahirnya para akademisi yang sekuler, pejabat-pejabat yang korup, pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, dan rakyat yang kurang beradab.

Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievaluasi secara kognitif semata. Memang benar bahwa tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Namun setidaknya bisa diukur dari ciri-ciri yang nampak, mengacu pada ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits.

Aplikasi sederhananya misalnya, siswa muslim jenjang SLTP/SLTA yang melalaikan sholat lima waktu, buta aksara Alquran, maka tidak bisa lulus, sampai ia benar-benar mampu menjaga sholat dan bisa membaca Alquran. Siswa yang durhaka kepada guru, curang dalam ujian, terlibat tawuran, pecandu miras/narkoba, dan lain-lain, tidak bisa lulus sampai ia benar-benar bertaubat. Tidak peduli sepintar apapun anaknya. Dengan demikian, orientasi belajar tidak lagi sekadar untuk mendapatkan nilai akademik yang baik.

Kesimpulan

Kesimpulannya, untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan, maka kurikulum, program, dan evaluasinya harus diselaraskan. Tujuan pendidikan adalah amanat undang-undang yang harus ditunaikan, dan menjadikan pendidikan sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah amanat Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam.

Sumber dan Referensi:

Buku Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-202-anak-tawuran-dalam-dua-tahun
https://kumparan.com/@kumparannews/kpai-5-9-juta-anak-indonesia-jadi-pecandu-narkoba
http://aceh.tribunnews.com/2015/07/28/82-mahasiswa-baru-tak-bisa-baca-quran

Kontributor : Andi Ahmadi (Aktivis Sekolah Literasi Indonesia – Dompet Dhuafa Pendidikan)

Makmal Penddidikan Maluku - Sekolah Baru Semangat Baru 1

Sekolah Baru, Semangat Baru

Alhamdulillah, di 1 Desember 2018 menjadi hari terakhir Ulangan Akhir Semester Ganjil bagi anak-anak di MI Al-Azhar Saumlaki. Sebelum ulangan dimulai, anak-anak sudah bersiap untuk beres-beres peralatan dan perlengkapan yang ada di sekolah lama. Lho kok diberesi? Iya. Karena, anak-anak akan pindah ke gedung sekolah baru. Setelah ulangan, dengan semangat 45, mereka bekerjasama membantu para ibu guru untuk packing segala peralatan yang ada di sekolah lama.

“Katong su mau pindah ke gedung sekolah baru, kalian senang ka seng?” Tanya kepala madrasah kepada anak-anak.

“Beta senang sekali, Ibu Guru. Katong su punya gedung sekolah baru,” ucap salah satu siswa.

Memang sejak tahun 2016, MI Al-Azhar Saumlaki mengontrak 3 ruangan di Jl. Bukit Duri Saumlaki dengan biaya sewa sekitar 21 juta per tahun. Dua tahun sudah pemasukan yang diperoleh madrasah diotak-atik guna membayar biaya sewa gedung yang tak murah. Tak heran jika peralatan dan perlengkapan yang mendukung kegiatan guru dan siswa di sekolah masih sangat terbatas.

2. Makmal Penddidikan Maluku - Sekolah Baru Semangat Baru 2
2. Makmal Penddidikan Maluku – Sekolah Baru Semangat Baru 2

Meskipun demikian, sejak cairnya bantuan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, MI Al-Azhar Saumlaki diberi kesempatan untuk membangun 2 buah ruang kelas. Atas musyawarah yang dilakukan oleh pihak madrasah, yayasan, dan panitia pembangunan maka diputuskan untuk membangun 2 ruang kelas dan 1 ruang guru. Pembangunan dimulai sejak Juli 2018 dan rampung di akhir Desember ini.

Kalau dilihat memang pembangunan gedung ini dirasa sangat lama, hal ini bukan tanpa alasan. Kurangnya biaya menjadi kendala utama panitia pembangunan dalam merampungkan gedung sekolah baru. Terlebih ketika perkara pembebasan lahan yang belum juga selesai. Beragam kendala muncul selama pembangunan gedung sekolah baru. Bahkan sampai saat ini, kamar mandi pun belum dibangun.

Meskipun demikian, sejak pindahnya anak-anak ke gedung sekolah baru pada 3 Desember 2018, pancaran kebahagiaan muncul di wajah polos anak-anak. Kebahagiaan terlihat ketika mereka bermain, berlarian ke halaman untuk mencari belalang. Iya, sekolah baru kami memang berada di dekat hutan jati, jadi ketika masuk musim penghujan seperti ini, banyak belalang bermunculan di rumput-rumput tinggi yang mengelilingi sekolah. Selain itu, kebahagiaan anak-anak juga terlihat dari celotehan mereka, “sekolah kita sudah ada lantainya sekarang.”

Kebahagiaan juga tak hanya muncul di wajah anak-anak, para gurupun sudah mulai membuat beragam rencana untuk memperindah kelasnya. Sang kepala madrasah juga berencana untuk memperindah lingkungan sekolah. Sebagai KAWAN yang mendampingi mereka, saya pun ikut berbahagia. Meskipun banyak kendala-kendala yang mengiringi pembangunan gedung sekolah baru ini, cercah-cercah harapan agar MI Al-Azhar Saumlaki menjadi sekolah islam terbaik di Kepulauan Tanimbar terlihat dari semangat pengabdian dan perubahan mereka.

Kontributor : Fajar (Kawan SLI penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat)

sedekah-jumat berbagi

Kerennya Jumat Berbagi di MI Darul Huda

Jumat berbagi adalah kegiatan yang digagas dan dipelopori oleh Ketua Yayasan Darul Huda, yakni Bapak Ali Al Bustom. Sesuai dengan namanya kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, yang mana bagi umat Islam merupakan hari yang baik. Konsep awal kegiatan ini adalah warung atau kantin yang dikelola oleh yayasan akan memberikan jajanan senilai Rp 1.000,00 untuk setiap siswa MI Darul Huda. Setiap siswa cukup membayar dengan membaca Al Fatihah dan doa untuk kemajuan yayasan dan sekolah, serta doa agar banyak donatur yang sholeh hatinya untuk menyumbang pada yayasan. Dalam rencana yang dirancang oleh Bapak Ali, Jumat berbagi ini dilaksanakan hanya dua kali dalam satu bulan.

Permulaan Jumat Berbagi

            Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan pada Jumat, 05 Oktober  2018. Siswa-siwa menyambut antusias kegiatan Jumat Berbagi ini, walaupun awalnya tampak beberapa siswa yang kebingungan dan bertanya-tanya, namun kegiatan ini meninggalkan kesan yang sangat baik bagi para siswa. Jumat berikutnya Bapak Ali kembali mencoba melaksanakan kegiatan Jumat berbagi ini, namun kali ini nominalnya naik menjadi Rp 2.000,00. Menariknya adalah ketika selesai shalat dhuha, Kepala Sekolah yaitu Ibu Titin Suwartini memimpin doa bersama para siswa dan guru-guru yang ditujukan agar semakin banyak donatur yang bersedia menyumbang pada yayasan. Saat kembali ke kantor, Bapak Ali mengabarkan bahwa ada donatur yang menyumbang untuk yayasan dan donatur tersebut ingin agar sumbangannya dibagikan dalam bentuk jajanan seharga Rp 5.000,00 per siswa. Saya, Kepala Sekolah, dan semua guru langsung takjup dan kami langsung mengatakan bahwa ini adalah sebenar-benarnya kekuatan doa.

            Sejak saat itu, kegiatan Jumat Berbagi dapat dilaksanakan secara rutin dengan nominal yang terus meningkat. Penyebaran informasi dilakukan melalui whatsapp dan juga media sosial seperti facebook dan instagram. Setiap hari Kamis, Bapak Ali dan guru-guru secara rutin membagikan info tentang kegiatan Jumat Berbagi ini.  Di Jumat keempat pelaksanaan kegiatan ini, tak hanya jajanan yang dibagikan kepada siswa, namun juga uang tunai yang diperuntukkan bagi siswa yang yatim, piatu, dan dhuafa. Bapak Ali secara rutin membuat video ucapan terima kasih dari seluruh siswa yang ditujukan kepada para donatur.

Target Jumat Berbagi

            Bapak Ali selaku penggagas kegiatan ini berharap agar kegiatan ini dapat terus terlaksana dengan baik dan mengalami peningkatan setiap waktu pelaksanaannya. Kedepannya beliau berharap agar nantinya saat sumbangan dari donatur telah mencukupi, yayasan dan sekolah mampu berbagi pada orang-orang yang membutuhkan yang berada di sekitar wilayah sekolah.