Pos

Guru! Saatnya Tingkatkan Kedisiplinan Di Sini!

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, semua pihak perlu terlibat aktif dalam pelaksanaannya. Bukan hanya sekolah beserta staff di sekolah saja yang terlibat namun perlu melibatkan masyarakat sekitar dan pemerintah. Komitmen dan semangat kesemua pihak tersebutlah yang akan menentukan seberapa jauh perbaikan pendidikan yang dapat kita lakukan. Kita semua harus sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Sudah sebulan lamanya kami berada di Kabupaten Halmahera Selatan, kabupaten yang memiliki pemandangan indah ini. Kami adalah dua orang Kawan SLI yang dipindahtugaskan dari lokasi penempatan sebelumnya yakni di perbatasan Indonesia-Malaysia, Sanggau di Kalimantan Barat dan penempatan Indragiri Hulu di Riau. Setelah melaksanakan program Sekolah Literasi Indonesia di penempatan kami sebelumnya yang lamanya sekitar 6 bulan, kami dipindahkan ke Halmahera Selatan untuk melaksanakan program baru yakni SLI transformasi. Dengan adanya kami berdua di kabupaten yang terkepung lautan ini, total ada tiga orang Kawan yang menjadi konsultan pendidikan di sini. Membersamai seorang Kawan yang telah duluan hadir di sini.

Selama enam bulan ke depan kami akan melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten ini. Tahapan kegiatan program SLI Transformasi adalah:melaksanakan pendaftaran dan sosialisasi kepada calon sekolah dampingan, melaksanakan school visit (kunjungan ke sekolah), melakukan pembinaan, serta melakukan pendampingan kepada sekolah dampingan.

Pekan ini kami masih berada pada tahap kunjungan ke sekolah. Mulai dari pagi hingga sore hari kami akan mengunjungi sejumlah sekolah untuk melihat kesungguhan dan komitmen sekolah dalam memajukan pendidikan di sekolah. Rutinitas harian yang demikian membuat kami dapat menyaksikan sendiri program-program yang ditawarkan sekolah dalam mencerdaskan anak bangsa. Beberapa contoh di antaranya adalah SDN 73 Halmahera Selatan yang melaksanakan program yang disebut pembiasaan “salam semut” yakni kegiatan membiasakan siswa untuk melakukan salim cium tangan kepada orang yang lebih tua seperti guru dan orangtua.

Pembiasaan lain juga dilakukan oleh SDN 12 Halmahera Selatan. Untuk mendidik siswa-siswi supaya menjadi anak yang religius, sekolah membiasakan siswa untuk membaca surat pendek al-Quran dan dzikir sesaat sebelum pulang sekolah. Pembiasaan-pembiasaan seperti inilah yang merupakan contoh usaha kita di dalam menciptakan generasi yang berakhlak baik dan religius.

Tidak hanya itu, ternyata pemerintah setempat juga membuat sebuah gebrakan dengan menjalankan program yang kiranya bertujuan untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disiplin. Program tersebut adalah apel kedisiplinan. Selama seminggu kami rutin melakukan kunjungan ke sekolah, kami jadi sering melihat pelaksanaan program yang dicanangkan pemerintah ini.

Setiap pagi dan siang hari, sekolah diminta untuk melaksanakan apel bersama seluruh staff sekolah dan siswa. Saat pelaksanaan apel kedisiplinan ini, sekolah diminta untuk mendokumentasikan pelaksanaannya lalu dikirim ke grup koordinasi dinas terkait. Dalam pelaksanaan apel ini, sekolah harus mengirimkan foto dokumentasi tidak melebihi waktu yang telah ditentukan. Tidak sampai di situ, semua dokumentasi yang dikirim harus dijadikan laporan yang tercetak. Jika ditemukan ASN dalam hal ini staff sekolah yang sering terlambat maka dinas terkait akan melakukan tindakan terhadap ASN bersangkutan.

Memang terlihat sederhana, hal sederhana inilah yang memberikan dampak yang sangat besar. Guru-guru menjadi lebih rajin untuk hadir tepat waktu. Meminimalisir adanya kesalahpahaman antara guru dan kepala sekolah karena penanganannya langsung ditindak oleh dinas terkait, serta menjadi sarana pengawasan dan kontrol yang hemat biaya dan tenaga bagi dinas terkait. Program-program seperti inilah yang sangat ditunggu kehadirannya dalam melakukan perbaikan pendidikan kita. Program-program yang melibatkan banyak pihak yang diawali dengan kita semua sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian, Kawan SLI Halmahera Selatan

Minat Belajar Bagi Siswa Makmal Pendidikan

Kira-Kira Kapan ya Mulai Meningkatkan Minat Baca Anak Makmalian?

Setiap orang dilahirkan memiliki kemampuan komunikasi agar orang lain mampu mengetahui apa yang di sampaikan. Komunikasi  mulai diajarkan oleh orang tua dari umur satu tahun dengan cara orang tua menyebutkan apa saja yang terdapat disekitarnya. Perkembangan komunikasi anak bertambah sesuai dengan tingkatan umur dari anak tersebut. Umur 5 tahun biasanya orang tua akan memasukkan anak ke sekolah TK, disana anak belajar bermain sambil belajar, karena usia anak lima tahun keatas cendrung lebih menyukai dunia bermain. Selain anak bermain, guru-guru yang ada TK biasanya akan memulai anak untuk belajar membaca, Mengenal huruf-huruf abjad, Menghitung dan lainnya.

Ketika anak masuk sekolah dasar, anak akan diajarkan kembali mengenal huruf, mengeja bacaan sehingga menjadi satu kalimat, Berhitung, dan Menggambar. Guru adalah penggerak yang akan memainkan peranan tersebut. Guru akan mendesain bagaimana cara anak menyukai dunia membaca, dari hal-hal yang sederhana.

Meningkatkan daya minat baca peserta didik harus dilakukan sejak dini dan di mulai dari anak sekolah dasar kelas rendah, minat baca pada anak tidak akan tumbuh sendiri tanpa dimulai tanpa diajarkan betapa pentingnya membaca dan dilakukan setiap harinya selama dalam kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan secara berulang-ulang.

Anak-anak yang masih duduk dibangku kelas rendah akan tertarik dengan membaca buku yang tidak banyak teksnya, lebih suka bergambar dan banyak warna, hurufnya lebih besar dan cerita dongeng, yang akan mendorong minat baca peserta didik lebih meningkat. Maka dari itu guru-guru perlu memilih buku yang sesuai dengan tingkatan usia anak, sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk membaca buku.

Masa anak-anak adalah masa yang  paling cepat untuk mengahafal, lebih mudah anak-anak akan menceritakan kembali apa yang mereka baca, maka dari itu guru-guru perlu mereview kembali buku yang dibaca oleh anak-anak.

Lima belas menit sebelum belajar adalah salah satu cara untuk meningkatkan minat baca untuk anak-anak, dengan cara yang seperti ini yang dilakukan setiap hari anak akan bisa menuntaskan beberapa buku bacaan dalam  satu semester. Anak yang sudah berakali-kali membeca buku yang sama mereka akan bosan. Guru harus bisa memperbaharui buku, sehingga minat baca anak-anak terus meningkat dan selalu semangat dalam membacanya.

Buku adalah jendela dunia yang akan mengahantaarkan anak-ank ke masa depan yang lebih baik. Guru adalah penyokong anak untuk mewujudkan masa depan, yang dumulai dari meningkatkan minat baca anak-anak dimasa duduk dibangku sekolah dasar. “Guru Menginspirasi, Karena Guru Adalah Inspirasi” teruslah berkarya mencetak generasi-genearsi perdaban masa depan yang akan dimulai dari dini, dengan cara meningkatkan anak-anak menyukai dunia membaca.

Kontributor : Piska Yunita (KAWAN SLI Angkatan 2)

Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Sang Polwan Dalam Kelas

Oleh: Oki Dwi Ramadian (KAWAN SLI Penempatan Indragiri Hulu)

Mungkin Makmalian masih mengingat mengenai dua potong seragam pramuka yang kekecilan. Dua potong seragam pramuka itu jatah bantuan untuk dua orang murid perempuanku. Ukurannya terlalu kecil untuk tubuhnya jadilah seragam itu hanya tergeletak di ruang kelas. Jika diamati maka kita bisa melihat lapisan debu disekitarnya. Ini masih sambungan dari kisah dua potong baju pramuka itu dan pemiliknya.

Aku merasa kasihan dengan dua siswiku itu. Di hari-hari biasa mereka tetap menggunakan pakaian putih merah yang sudah lusuh meskipun bukan hari senin atau selasa. Aku paham hal itu tidak sesuai dengan keadaan mereka bahwa kedua siswiku itu tidak memiliki baju pramuka yang pas. Sama pahamnya aku ketika menyaksikan siswa-siswaku yang lain yang tidak memakai sepatu, kaus kaki, memakai baju putih saja tanpa celana merahnya, memakai kemeja pramuka tanpa celana kain coklatnya, atau bahkan tidak memakai seragam sekalian. Hanya sebuah tas yang digendong di punggung dan dirinya yang dibalut pakaian sehari-hari. Pemandangan unik yang menjadi terasa biasa bagiku.

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mengusahakan baju seragam pramuka untuk dua muridku itu. Seperti yang telah kuceritakan pada kisah sebelumnya, aku mengambil dua pasang baju pramuka lalu kubawa ke pasar Soegih Belilas untuk ditukar. Namun sayang ternyata tidak ada yang mau menukarnya dengan seragam yang lebih besar padahal saya sudah menyampaikan bahwa ini untuk siswa pelosok. Aku pulang dengan tangan kosong.

Waktu berlalu lama hingga aku kembali resah dengan dua siswiku itu. Kucoba lagi mengantar dua seragam itu untuk di tukar di hilir. Kali ini di pasar seberida. Pasar yang lebih dekat dengan lokasi penempatanku bahkan masyarakat di penempatan saya selalu berbelanja di sini. Warga pasar dan Dusun Nunusan sudah saling kenal akrab. Awalnya saya menemukan bahwa ada saja yang menolak menerima menukar baju seragam itu. Waktu itu aku datang terlambat ke pasar itu. Beberapa lapak sudah tutup. Keadaannya sudah sepi. Penjual dan pembeli yang masih bertahan bergerak malas.

Aku nyaris menyerah namun di perjalanan menuju pintu keluar aku menemukan lapak baju terakhir. Kucoba kujelaskan mengenai keadaan kami yang memerlukan baju seragam dan lain-lain. Kali ini pedagang baju yang sedang siap-siap untuk menutup lapaknya bergeming sesaat. Dia berpikir beberapa jenak lalu tanggapannya menunjukkan respon positif. Kupikir dia membolehkan aku menukar dua seragam itu dengan seragam yang lebih besar.

Ternyata betul ia mau menukar dua seragam kekecilan itu tapi dengan beberapa syarat berupa tiga pasang seragam pramuka ditukar dengan dua pasang yang lebih besar serta dengan membayar beberapa rupiah. Aku sepakat dan akhirnya kali ini aku berhasil pulang dengan baju seragam yang lebih besar. Siswaku kan memakai seragam yang pas. Untuk ukurannya sendiri ternyata ukuran yang pas adalah seukuran siswa SMP.

Besoknya saya telah berada di Nunusan kembali bertugas dengan mengajari siswa-siswi kesayanganku. Kutaruh dua pakaian pramuka itu di dalam laci kedua siswaku. Kuminta untuk mencarinya lalu mereka kegirangan bukan main mendapati isinya. Langsung mereka coba-coba meski tidak dipakai.

Tahu tidak, beberapa siswaku telah terdaftar sebagai pemilih untuk pemilu presiden 2019. Mereka masih semangat untuk belajar dan semangat itulah yang menjadi motivasi saya yang menyemangati untuk terus mengajar.

Waktu berlalu lagi hingga tiba hari di mana siswa diperkenankan memakai seragam pramuka. Si Isel dan Linda datang. Yang paling besar adalah Isel. Mereka masuk barisan dengan rapi. Kulihat mereka tertangkap mataku hebat sekali seragam itu pas dengan badan mereka. Rapi dan pas sekali. Aku bahagia melihatnya. Kemudian aku terbayang sesuatu mereka mirip polwan dengan seragam kemeja coklat dan berbaris serupa itu. Kemudian aku sedih karena mereka hanya siswa SD yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap SMP dan SMA. Aku bersedih.

Sepenggal kisah di Bumi Raflesia

Sepenggal kisah di Bumi Raflesia

“Selamat datang pak Adi di desa Jabi” Chusnul Rahmasari, Kepala Sekolah SDN 227 Bengkulu Utara.

Itulah kata sambutan yang pertama kali saya dengar ketika menginjakan kaki di bumi Raflesia Bengkulu Utara. Sebuah kalimat hangat yang penuh harapan, namun sekaligus menggelitik hati kecil saya. Benarkah saya ditempatkan disini? Benarkah saya menjalani selama satu tahun disini? Benarkah saya datang kesini untuk mengabdi? Benarkah saya siap dengan segala suka dan duka yang akan saya temui disini nanti? Entahlah. Saat itu di benak saya masih banyak pertempuran.

Tetapi karena itulah saya ditempatkan dan hadir disini. Berdiri di salah satu daerah indah bagian dari Indonesia. Mencoba mewakafkan diri selama satu tahun, mencoba meninggalkan hingar bingar kota untuk hidup dalam keterbatasan, namun syarat akan inspirasi. Semua untuk satu misi, mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan ikut serta kerja barengan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Dan seiring perjalanan yang saya lalui selama satu tahun di penempatan, satu persatu jawaban mulai muncul layaknya potongan puzzle yang merangkai bingkai kehidupan.

Allah memang sangat istimewa. Dia mewujudkan cita-cita yang pernah saya tuliskan di secarik kertas, bahwasanya saya ingin mencoba mengabdikan diri di daerah pelosok di Indonesia. Hingga pada akhirnya saya berada di Bengkulu Utara. Banyak hal yang saya dapatkan dari pengalaman mengabdi saya selama disini, budaya baru, bahasa baru, dan bahkan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bisa saya temukan di kota-kota besar disana.

 “Apalah artinya sebuah kalimat tanpa spasi”. Dia akan kehilangan maknanya karena hanya berisi timbunan huruf tanpa jeda, tanpa jarak, dan tanpa ruang yang menjadikan kalimat tersebut tak berarti. Hidup juga terkadang seperti itu, sering kali kita terlalu cepat berlari, hingga menangisi atau memaki hari-hari yang telah dilalui. Terjebak dalam rutinitas, terkejar oleh hasrat duniawi untuk sebuah materi. Maka inilah saatnya saya coba untuk mengikuti suara hati dan berefleksi. Sebuah perenungan yang akan mengisi kekosongan batin dari sesaknyaaktivitas yang membelenggu diri.

Ruang inilah yang saya cari. Sebuah ruangan tempat saya bernapas sejenak,dan mulai menggali inspirasi. Saatnya diri ini di-charge kembali hingga baterainya benar-benar penuh. Karena disini saya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan, dan kesabaran. Menempa diri, menjalani kuliah kehidupan selama dua semester, yang jika lulus akan menjadi pelajaran berharga seumur hidup saya. Sebuah pengalaman lahir batin, yang akan selalu dikenang. Setahun mengajar, seumur hidup terinspirasi.

Kawan setiap orang sejatinya bisa menjadi changemaker bagi diri dan lingkungannya. Inilah saatnya jadi tahu, lebih peduli, lalu berbuat aksi nyata. Inilah tangga untuk mengabdi dan menyatukan diri pada Indonesia. Inilah masanya mengenal negeri ini dari sudut yang berbeda. Nikmati, alami, dan lalui, pengalamannya secara langsung. Maka meski banyak rintangan menghadang, inilah waktunya untuk mengatakan “Bengkulu Utara terimakasih atas pembelajaran kece selama satu tahun pengabdian ini”.

Jurus Guru menangani siswa bermasalah Makmal Pendidikan

Kelas Bermasalah? Jangan Khawatir Ini Jurus Jitu Mengatasinya

Dunia anak adalah dunia bermain, penuh kecandaan dan penuh dengan kesenangan. Mereka begitu menikmatinya, sehingga tak jarang keseruan pada saat bermain terbawa di dalam kelas. Sehingga tak ayal pembelajaran pun tidak efisien.         

Anak-anak di SDN 227 Bengkulu Utara Kecamatan Napal Putih pun begitu sangat aktif. Terlebih anak-anak di kelas 4  Ketika pembelajaran dimulai ada yang suka berlari-larian, hilir mudik keluar, sebagian lagi sangat senang mengusili temannya. Ada juga siswa yang membawa mainan gambar sehingga mengalihkan perhatian temannya yang lain. Pokoknya pembelajaran di kelas jauh dari kata optimal. Tidak heran bila setiap selesai mengajar di kelas ini, guru-guru selalu mengeluh dan marah-marah. “ Mengajar di kelas selama seharian itu sangat melelahkan, dan membuat tensi darah saya naik,” ucap bu Wien selaku guru disini yang pernah masuk di kelas 4 untuk mengganti guru kelas 4 yang tidak masuk. Bahkan tidak heran juga bila kelas 4 selalu dicap sebagai kelas paling bermasalah di sekolah.

Syukurnya, Kepala Sekolah memiliki kesabaran dan ketekunan yang begitu luar biasa. Mungkin karena pengalaman yang sudah bertahun-tahun sehingga beliau santai saja dalam menghadapinya. Termasuk ketika menghadapi anak didik seperti di kelas 4 tersebut.

Faktor utama anak – anak di kelas tersebut berprilaku demikian adalah modal belajar dan kecerdasan, tugas kita sebagai seorang guru adalah positif Felling serta sabar,” tanggap Kepala Sekolah. “ Jadi, kita tidak boleh mengecap anak- anak sebagai anak yang nakal.”

Menarik sekali apa yang disampaikan Kepala Sekolah terkait keadaan kelas 4. Tidak ada anak yang nakal melainkan kita sebagai guru yang belum tau modal belajar dan kecerdasan para peserta didik kita. Oleh beliau saya diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas tersebut. Saya diberi amanah untuk mengajar karena wali kelas 4 tidak masuk sekolah. Saya di beri amanah untuk mengajar IPA dan Matematika.

Bertemu dan mengajar siswa-siswa kelaas 4 ini, saya justru tidak menemukan suasana yang sering disampaikan oleh beberapa guru. Saya merasa senang mengajar, dan anak-anak juga merasa hal yang sama dengan saya. Bahkan sebenarnya mereka menginginkan saya untuk menjadi wali kelasnya mereka. Sampai di luar kelas pun, mereka selalu mengejar-ngejar saya sembari menyebutkan pelejaran yang pernah saya sampaikan, ditambah mereka menampakkan wajah senangnya dan berharap saya akan masuk kelas mereka lagi dan mengajar mereka.

Guru-guru terheran-heran dengan apa yang saya lakukan. Mereka heran bisa seperti sahabat seperti itu dengan anak-anak dan dapat membangun energi positif di kelas. Mereka bertanya-tanya kepada saya, “kok bisa sih, Pak? Apa rahasianya? Apa ada trik khusus?”

Tidak ada rahasia atau trik khusus untuk mewujudkan kelas yang menyenangkan. Saya hanya melakukan jurus-jurus sederhana berikut.

Pertama, menegakkan aturan.

Saya membuat kesepakatan aturan sebelum pembelajaran dimulai. Isi aturan ini dibuat bersama siswa dan sudah mendapat persetujuan siswa terlebih dahulu. Kolaborasi seperti ini yang terkadang dilupakan oleh para guru. Dengan adanya kolaborasi ini kemungkinan siswa mematuhi aturan ini lebih besar, berbeda ceritanya jika aturan dibuat secara sepihak dan mucul atas dasar otoriter dari guru.

Contoh aturan yang saya buat dan disepakati siswa adalah membawa mainan dan memainanya di kelas. Siswa yang membawa mainan dan memainkannya di kelas. Namun  siswa yang membawa mainan ke kelas dan memainkannya ketika saya sedang menjelaskan pelajaran, maka mainannya akan bapa ambil.

“Gimana anak-anak? Setujuuuu?” Tanya saya.

Dengan kompak dan diiring suara yang lantang, semua siswa kelas 4 menjawab setuju. Saat aturan ini sudah diberlakukan namun masih ada siswa yang tidak mengindahkan, langsung saya ambil mainan gambar tersebut. Siswa pun menerima dan tidak memberikan perlawanan. Hari-hari berikutnya tidak ada lagi yang membawa mainan ke dalam kelas.

Kedua, menggunakan media pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan alat bantu bagi seorang guru, adanya media pembelajaran mampu memberikan rangsangan dan menimbulkan motivasi yang besar dalam belajar kepada anak-anak sehingga pembelajaran begitu menarik dan terkontrol sehingga suasana pembelajaran pun akan kondusif. Antusias belajar pun nampak terlihat dari wajah anak-anak sehingga keceriaan dalam kelas dapat dirasakan bersama. Hal itulah yang nampak terlihat jelas ketika proses pembelajaran berlangsung.

Ketiga, melibatkan semua anak dalam pembelajaran.

Mayoritas siswa kelas 4 memiliki modal belajar kinestetik. Mereka tidak bisa diam dan hanya mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, saya melibatkan semua siswa. Dalam sebuah pembelajaran, alangkah baiknya melibatkan semua elemen yang ada di kelas. Ketika mengajarkan materi tentang fungsi panca indera manusia, dengan bergiliran saya meminta siswa untuk maju satu per satu untuk menunjukkannya dan menjelaskan fungsi berdasarkan apa yang siswa ketahui. Dengan cara seperti ini, alhamdulillah siswa kelas 4 mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan cepat menyerap pelajaran yang disampaikan.

Tiga rahasia yang bukan rahasia inilah yang saya terapkan di kelas 4. Yang jelas, saya senantiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik dan para penghuni kelas 4 benar-benar memiliki kegembiraan, kesenangan, dan keceriaan yang megundang tawa saat belajar di kelas. Hal yang paling membahagiakan saya pada saat menyaksikan anak-anak kelas 4 ini tampil penuh antusias dalam pembelajaran.

Kontributor : Adi Setiawan( Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Anak Nakal, ini sumbernya sekolah literasi indonesia

Kenapa Anak Bisa Nakal? Sumbernya Bisa Makmalian Cek Di Sini

Anak tidak dapat memilih di keluarga mana ia dilahirkan. Jika anak dapat memilih di keluarga mana ia dapat dilahirkan, tentunya ia akan memilih di keluarga yang penuh limpahan kasih sayang. Tidak pula semua anak di dunia ini terlahir dengan memiliki keluarga yang utuh. Ada yang disebabkan oleh perceraian hidup, kematian yang merenggut salah satu orangtua, ada yang memiliki ayah atau ibu yang lebih dari 1. Bahkan ada pula yang ditinggalkan oleh orangtua kandungnya dengan dalih tak memiliki kemampuan untuk merawat anaknya sendiri sehingga dititipkan kepada orang lain.

Kemampuan?, Ya.. saat orang tua tak lagi mampu membesarkan mereka dengan dalih apapun, maka anak tumbuh dipelihara oleh anggota keluarga lain. Tentu saja oleh keluarga yang mampu memeliharanya. Sehingga anak akan merasakan perbedaan karena tidak dirawat oleh orang tua kandungnya sendiri.

Sama halnya dengan guru, mereka memiliki kadar kemampuan yang berbeda-beda. Baik dalam pembelajaran, komunikasi, untuk menatap wajah peserta didik, mengusap rambut, ataupun menyentuh bahunya bahkan dalam memberikan kalimat-kalimat pujian dan mengucapkan kalimat-kalimat positif. Ini menjadi bahan renungan pada diri kita sendiri, mari kita tanyakan ke diri sendiri seberapa sering kita mampu melakukannya?

Mungkin kita sering mendengar istilah anak itu seperti kertas putih yang kosong ketika pertama kali dilahirkan, tinggal bagaimana kita sebagai orang dewasa mampu mengarahkan. Anak pada dasarnya belum tahu apa-apa. Dia pun tak meminta dilahirkan dalam keadaan keluarga yang tak lengkap. Dia hanya butuh kehadiran orang yang memperhatikan, dan orang yang mampu memberikan curahan kasih sayang untuknya.

Jika di dalam rumah belum dia dapatkan, anak pasti akan berpikir dia harus menemukan dan dapat mengambil bentuk kasih sayang dari yang lain. Seperti mengekspresikan dirinya ke dalam cara yang orang dewasa anggap kurang baik (menjadi  anak nakal). Itu dia lakukan hanya sekedar untuk mendapatkan sebentuk perhatian dan kasih sayang.

Baginya, dengan dia berbuat nakal maka guru akan mendekat kepadanya, mau menyapa dan berbicara padanya. Dengan label nakal tersebut dia merasa mendapatkan perhatian. Guru akan sering memanggilnya, dan dekat-dekat berada di sisinya. Sehingga timbul di benaknya,

“oh jadi dengan berbuat itu, dengan aku nakal, guruku akan terpusat perhatiannya padaku”.

Atau,

“Mengapa ya kalau saya bisa membaca satu kalimat, guru tidak mau memuji saya? Padahal, susah payah saya berjuang untuk selalu berlatih mengeja huruf per huruf, kata demi kata“

Pertama kali saya hadir sebagai konsultan relawan di salah satu sekolah di daerah Bengkulu Utara sangat kaget, karena hampir semua guru bercerita anak-anak disini hampir semua nakal-nakal.
“Saat belajar saja tidak mau memperhatikan pak, sukanya main-main.“ Perlu kesabaran dan perhatian yang sangat ekstra terhadap anak-anak seperti ini gumam saya dalam hati. Namun saya percaya jika kita terus menciptakan suasana yang positif, mampu berkawan dengan mereka, dan mampu membangun kedekatan dengan mereka bukan hal mustahil mereka akan berubah.

Berangkat dari cerita tersebut saya coba untuk sering-sering mendekati peserta didik, memberikan berbagai macam permainan. Tanpa ragu saya yang memulai dan duduk bersama mereka ketika mereka sedang beristirahat atau sedang kumpul-kumpul. Saya coba pandang kedua matanya.

Menciptakan pola pendekatan terhadap peserta didik bukanlah hal yang mudah perlu ketekunan dan perubahan pola pikir yang berbeda, apa lagi di daerah masih saja ada guru yang beranggapan biarlah anak orang lain ini, untuk apa kita mati-matian mencurahkan segala perhatian yang kita punya kepadanya. Ahhhh,,, tak habis pikir saya, kok masih saja ada seorang guru yang berpikiran seperti itu.

Beberapa bulan saya disini hampir setiap hari mata saya tertuju kepada sosok anak bernama  Prawira namun anak-anak disini sering memanggilnya dengan sebutan cilik. Dia adalah siswa anak kelas 3 yang terkenal sangat sulit diatur. Cilik terkenal anak yang tidak mau menulis bahkan membaca dan berdiam diri di kelas pun ia enggan.

Suatu ketika anak kelas 3 mendapatkan tugas untuk menulis, namun cilik seperti biasanya tidak mau menulis dah bahkan sering berlari-lari ke luar kelas. Saat cilik melakukan hal seperti ini dan dia tak mau menulis, sering terdengar ucapan dari guru, “ Masa seperti itu saja tidak mau, susah sekali kamu ini untuk belajar”. Kalimat yang menusuk hatinya secara bertubi-tubi pada cilik. Semestinya, perhatikan lebih baik anak, cari tahu mengapa dia tidak mau menulis, adakah kesukaran yang dialaminya?

Mari biasakan mendekati siswa, berjalan ke arahnya, duduk disampingnya dan menanyakan tentang kesehariannya dan apa yang kita bisa bantu terhadapnya. Jangan gengsi untuk melemparkan pujian kepadanya atas segala yang sudah dia kerjakan, sampaikan padanya, “Hebat, kamu Nak, bapak bangga terhadapmu.” Bila dia tetap seperti itu dan tidak mau, berikan sentuhan lembut di kepala atau pundak sang anak. Ajak dia untuk menjadi kawan atau sahabat kita.

Terus berikan usapan lembut di kepala dan bahunya. Juga sampaikan selalu kalimat positif kepadanya. Sebagai seorang pendidik carilah terus sisi baik yang dimiliki anak itu, tentu ada dan pastinya banyak sekali. Karena itu adalah tugas kita, dengan kemauan dan kemampuan sebagai pendidik, kitalah yang berhak mendidik dengan penuh kasih sayang siswa. Sentuhlah siswa dengan hati dan lakukan semuanya dari hati karena apa yang berawal dari hati maka akan kembali ke hati.

Kontributor Adi Setiawan – Kawan SLI Bengkulu Utara

Ratulil Fatihah, Jagoan Sains dari Tanah Mbojo (Bima)

Jagoan Sains dari Tanah Mbojo (Bima) yang Kudu Makmalian Tahu

Ratulill Fatihah, siswa kelas 2 MIS Yasim Belo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat berhasil lolos ke Babak Final Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2019 di Jakarta pada tanggal 06 sampai 07 Juli di Jakarta tepatnya di Gedung Titan centre. Olimpiade Sains yang digelar sejak tahun 2008 ini selalu mengalami peningkatan jumlah peserta dari tahun ke tahun. Tahun ini diikuti oleh 93.000 peserta dari seluruh Indonesia pada babak penyisihan dan akhirnya hanya 304 peserta yang lolos ke babak Final di Jakarta. Ada tiga level dalam Olimpiade Sains ini yakni level 1 (Kelas 1 dan 2), Level 2 (Kelas 3 dan 4) dan level 3 (Kelas 5 dan 6). Babak penyisihan dan semifinal dilaksanakan di kabupaten masing-masing salah satunya di Kabupaten Bima. Ada enam sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa yang mengikuti seleksi Olimpiade Sains ini salah satunya adalah MIS Yasim Belo.


Ratu tidak pernah menyangka akan lolos Olimpiade Sains Kuark hingga Babak final ke Jakarta, soal-soal olimpiade yang dia kerjakan saat babak penyisihan sangat membingungkan apalagi untuk level 1 ini. Banyak di antara teman-temannya masih mengeja soal-soal Olimpiade Sains tersebut ditambah lagi dengan lembar jawaban yang diperiksa menggunakan sistem komputerisasi harus benar-benar diisi dengan rapi. Ketika pengumuman peserta yang lolos ke babak semifinal, salah satu nama yang muncul adalah Ratulil Fatihah untuk level 1 dan ada juga beberapa siswa MIS Yasim Belo baik level 2 maupun level 3.


Setelah Ratu mengetahui bahwa dirinya lolos ke babak semifinal, dia sangat senang dan bersemangat untuk terus belajar, dia pun meminta ibunya untuk membelikan majalah Sains Kuark agar bisa belajar lebih banyak lagi tentang Sains dan bisa menjawab soal-soal olimpiade yang ada.
MIS Yasim Belo, salah satu Madrasah Ibtidayah Swasta di Kabupaten Bima milik Yayasan Islam Bima. Bangunan sekolah ini hanya terdiri dari tiga lokal yang semuanya disekat sehingga bisa menjadi enam kelas. Tidak ada ruang perpustakaan apalagi laboratorium untuk melakukan eksperimen Sains, namun hal itu tidak menjadi hambatan dalam proses pembelajaran, keterbatasan tersebut justru menjadi cambuk bagi para guru dan siswa untuk tetap menorehkan prestasi.

Tentu moment ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Ratu Karena banyak hal yang dia dapatkan selama dua hari di Jakarta. Bertemu dengan teman-teman baru dari seluruh Indonesia, naik kereta MRT ke bundaran HI, melakukan eksperimen Sains merakit lampu solar dan latihan memainkan Angklung. Semoga kedepannya akan lebih banyak lagi jagoan jagoan Sains yang tidak hanya membanggakan orangtuanya tetapi juga bisa membanggakan sekolah dan kabupatennya bukan hanya di bidang Sains tetapi juga di Bidang-bidang yang lain.

Siap menjadi saksi perjuangan anak-anak Indonesia dalam meraih mimpi? Segera #DaftarKawanSLI3via www.makmalpendidikan.net/kawan-sli/

Bunda Namira, sang penakluk hati

Bunda Namira, sang penakluk hati

“Bun, Bunda Namira sudah datang, belum?”

“Bun, hari ini Bunda Namira kan yang ngajar kami?”

“Bun, Bunda Namira masuk kan, Bun?”

Pertanyaan bernada sama biasanya akan terulang lagi kurang dari waktu tiga menit. Hampir setiap hari kantor kepala sekolah akan menerima pertanyaan seperti itu dari murid kelas III.B MIS Azrina yang terkenal ‘istimewa’. Hampir semua guru yang pernah masuk ke kelas ini mengeluh pusing menghadapi siswa-siswanya. Bahkan ada yang mengaku trauma dan tidak mau lagi bila diminta mengisi kelas III.B. Tantangan pertama masuk di kelas ini adalah ‘penolakan nyata’ dari beberapa siswa yang tidak mau belajar kecuali dengan Bunda mereka. Terkadang ada juga seorang siswi menangis di pojokan kelas. Entah apa sebabnya dan ia tidak mau ditenangkan. Beberapa siswa lainnya sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang bising berdebat di dalam kelompoknya. Suasana kelas menjadi riuh tak terkendali hingga pemilik kelas datang. “Bundaaaaa,” sorak mereka penuh bahagia.  

Ya, beliaulah Bunda Namira, peraih hati siswa kelas III.B, kelas istimewa MIS Azrina. Saat ditanya bagaimana tips menghadapi siswa dengan beragam perangai, Bunda Namira mengaku tak ada hal spesial yang dilakukannya.

“Awalnya saya juga merasa kesulitan menghadapi siswa-siswa saya ini, tetapi kemudian saya mencoba mengenal karakter masing-masing anak dan harus berpandai-pandai menarik perhatian, misalnya dengan cara memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan dan mendatangkan kesan bagi mereka. ”

Lebih lanjut beliau menambahkan bila sudah bisa meraih hati anak-anak, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengenalkan mereka dengan aturan yang berlaku. “Kalau perlu aturan tersebut dibuat bersama agar mereka berkomitmen dalam melaksanakannya.” Siswa kelas III.B bahkan takut menyakiti perasaan guru kesayangan mereka ini. Setiap mereka merasa melakukan kesalahan maka berbagai upaya akan dilakukan agar Bunda mereka tidak marah, salah satunya dengan menulis surat. Tak heran bila kemudian Bunda Namira sering menerima surat cinta dari siswa kelas III.B. Tidak hanya surat permintaan maaf, banyak juga surat yang berisi ungkapan perasaan sayang mereka.  

Kontributor : Fitriani (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia angkatan 2)

KOMED MAIN SAINS

Serunya KOMED Main Sains

Tangerang – Tak seperti biasanya, pada sabtu ini tepatnya tanggal 03 Agustus 2019 kami harus berangkat pagi sekali menuju salah satu sekolah di daerah Tanjungkait Mauk. Kami berangkat bertiga bersama bu Yuni, miss Zubaedah, bu Umi dan bu Rohmah. Perjalanan ini kami lakukan dalam rangka pelaksanaan acara main sains. Main sains merupakan kegiatan bersenang – senang dalam praktik sains sederhana yang biasa terjadi di keseharian kita.  Terdapat beberapa demonstrasi main sains oleh pembicara dan kegiatan main sains yang dilakukan oleh peserta. Acara ini terselenggara oleh KOMED (Komunitas Media Pembelajaran) yang bekerjasama dengan PKG PAUD Kec.  Mauk – Tangerang.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi seisi mobil bertambah ramai karena kami berdiskusi mempersiapkan acara diselingi dengan adu argumentasi dan canda tawa tak berkesudahan, sangat luar biasa suara di dalam mobil yang hingar bingar sehingga tak terasa perjalanan berlalu secepat kilat.

Pukul 09.15 kami pun tiba di lokasi PAUD AN NAJAH Kecamatan MAUK disambut oleh Kepala Sekolah An Najah ibu Munajah. Alhamdulillah kelas tempat main sains sudah dipenuhi oleh peserta yang berasal dari beberapa PAUD yang tergabung di PKG PAUD Kecamatan Mauk.

Main sains dimulai dengan pembukaan oleh bu Munajah sebagai tuan rumah penyelenggara, dilanjutkan selayang pandang KOMED oleh saya sendiri. Dalam sesi ini saya memperkenalkan program-program dan kegiatan-kegiatan KOMED ke peserta main sains yang dihadiri sekitar 50 peserta. Para peserta antusias mendengarkan dan memperhatikan materi tentang KOMED.

Materi yang dinantikan akhirnya dimulai dengan penampilan pemateri yang sudah handal yaitu ibu Umi Barokah. Senyum hangat dan semangatnya yang membara membuat peserta terkesima menyimak materi yang disampaikan. Demo sains yang pertama yaitu belalai gajah dengan alat dan bahan sederhana namun dengan hasil yang keren dilanjut percobaan memecahkan balon dengan hanya mengusapkan tangan ke balon, menusukkan jarum ke balon dan mencampurkan cairan kimia yang dapat menyerupai lava gunung berapi. Semua percobaan sains diikuti dan dipraktekkan oleh para peserta dengan antusias yang tinggi, semua ingin mencobanya dengan semangat.

Kegiatan selanjutnya dipandu oleh bude Yuni yang diawali dengan perkenalan dan sedikit penjelasan tentang manfaat main sains untuk anak usia dini. Kit atau peralatan main sains dibagikan ke peserta, untuk tiap peserta mendapatkan 1 kantong yang di dalamnya terdapat peralatan dan bahan 10 macam percobaan sains.

Satu demi satu percobaan dilakukan oleh peserta dipandu dengan apik dan menarik oleh bude Yuni. Tak sendiri, kegiatan ini dibantu oleh para relawan yang gesit seperti  bu Roro, bu Rohmah dan miss Zubaedah.  Beberapa percobaan berhasil kami buat seperti membuat baling-baling kertas, ulat menggeliat, baling-baling sentrifugal, pesan rahasia, roket, tabung, dan gelas tertawa. Peserta aktif maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka terhadap percobaan sains yang sudah dilakukan.

Akhirnya kegiatan main sains ditutup dengan memberikan apresiasi untuk para peserta terbaik, terajin, tersemangat, serta sekolah yang paling banyak mengirimkan gurunya. Alhamdulillah main sains selesai ditutup dengan pesan dari bu Umi bahwa guru yang baik adalah yang amanah, yang siap berbagi ilmu yang telah didapatnya ke teman-teman maupun ke anak didiknya.

Sebelum perjalanan pulang kami mampir ke perkampungan nelayan yang tak jauh dari lokasi main sains. Di sana kami bertemu ibu- ibu dan anak-anak yang sedang mengupas kerang hijau , juga para nelayan yang sedang memperbaiki perahu, jala serta peralatan untuk menangkap ikan. Kamipun kembali pulang dengan perasaan bahagia karena bisa bertemu dan berbagi dengan guru-guru hebat disana.

Kontributor : Euis (Pengurus Komunitas Media Pembelajaran)

Pengumuman Akhir Seleksi KAWAN SLI 3

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Setelah melalui tahapan seleksi berkas dan direct assessment yang meliputi wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan Microtraining, panitia seleksi Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Angkatan 3 menetapkan 17 orang yang dinyatakan LOLOS seleksi. Adapun peserta seleksi yang dinyatakan lolos adalah sebagai berikut:

No. Nama Lengkap Asal Daerah
1 Akbar Kurniadi Lampung Selatan
2 Alivia Choirun Nisak Nganjuk
3 Cut Indah Putri Pidie
4 Darfin Kendari
5 Firman Siswanto Bima
6 Hairunnisah Mataram
7 Hasyim Bogor
8 Inayatul Asmaiyah Gresik
9 Musyawir S. Dunggu Gorontalo
10 Nur Husni Agam
11 Nurcahyaning Samsi Pertiwi Surabaya
12 Pelangi Apriliandini Salsabila Indramayu
13 Piska Yunita Padang
14 Putri Ria Utami Bandar Lampung
15 Yuyun Kurniawati Mojokerto
16 Irpa Sopiana Ramdani* Ciamis
17 Mita Seftyaningrum* Kediri

*Seleksi lokal kerjasama dengan Dompet Dhuafa Yogyakarta untuk program SLI wilayah Yogyakarta

Keputusan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan yang matang, bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.

Ditetapkan di Bogor,

Pada 20 Agustus 2019

Mulyadi Saputra

Manajer Program