Pos

Pengumuman Akhir Seleksi KAWAN SLI 3

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Setelah melalui tahapan seleksi berkas dan direct assessment yang meliputi wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan Microtraining, panitia seleksi Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Angkatan 3 menetapkan 17 orang yang dinyatakan LOLOS seleksi. Adapun peserta seleksi yang dinyatakan lolos adalah sebagai berikut:

No. Nama Lengkap Asal Daerah
1 Akbar Kurniadi Lampung Selatan
2 Alivia Choirun Nisak Nganjuk
3 Cut Indah Putri Pidie
4 Darfin Kendari
5 Firman Siswanto Bima
6 Hairunnisah Mataram
7 Hasyim Bogor
8 Inayatul Asmaiyah Gresik
9 Musyawir S. Dunggu Gorontalo
10 Nur Husni Agam
11 Nurcahyaning Samsi Pertiwi Surabaya
12 Pelangi Apriliandini Salsabila Indramayu
13 Piska Yunita Padang
14 Putri Ria Utami Bandar Lampung
15 Yuyun Kurniawati Mojokerto
16 Irpa Sopiana Ramdani* Ciamis
17 Mita Seftyaningrum* Kediri

*Seleksi lokal kerjasama dengan Dompet Dhuafa Yogyakarta untuk program SLI wilayah Yogyakarta

Keputusan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan yang matang, bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.

Ditetapkan di Bogor,

Pada 20 Agustus 2019

Mulyadi Saputra

Manajer Program



KOMED MAIN SAINS

Serunya KOMED Main Sains

Tangerang – Tak seperti biasanya, pada sabtu ini tepatnya tanggal 03 Agustus 2019 kami harus berangkat pagi sekali menuju salah satu sekolah di daerah Tanjungkait Mauk. Kami berangkat bertiga bersama bu Yuni, miss Zubaedah, bu Umi dan bu Rohmah. Perjalanan ini kami lakukan dalam rangka pelaksanaan acara main sains. Main sains merupakan kegiatan bersenang – senang dalam praktik sains sederhana yang biasa terjadi di keseharian kita.  Terdapat beberapa demonstrasi main sains oleh pembicara dan kegiatan main sains yang dilakukan oleh peserta. Acara ini terselenggara oleh KOMED (Komunitas Media Pembelajaran) yang bekerjasama dengan PKG PAUD Kec.  Mauk – Tangerang.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi seisi mobil bertambah ramai karena kami berdiskusi mempersiapkan acara diselingi dengan adu argumentasi dan canda tawa tak berkesudahan, sangat luar biasa suara di dalam mobil yang hingar bingar sehingga tak terasa perjalanan berlalu secepat kilat.

Pukul 09.15 kami pun tiba di lokasi PAUD AN NAJAH Kecamatan MAUK disambut oleh Kepala Sekolah An Najah ibu Munajah. Alhamdulillah kelas tempat main sains sudah dipenuhi oleh peserta yang berasal dari beberapa PAUD yang tergabung di PKG PAUD Kecamatan Mauk.

Main sains dimulai dengan pembukaan oleh bu Munajah sebagai tuan rumah penyelenggara, dilanjutkan selayang pandang KOMED oleh saya sendiri. Dalam sesi ini saya memperkenalkan program-program dan kegiatan-kegiatan KOMED ke peserta main sains yang dihadiri sekitar 50 peserta. Para peserta antusias mendengarkan dan memperhatikan materi tentang KOMED.

Materi yang dinantikan akhirnya dimulai dengan penampilan pemateri yang sudah handal yaitu ibu Umi Barokah. Senyum hangat dan semangatnya yang membara membuat peserta terkesima menyimak materi yang disampaikan. Demo sains yang pertama yaitu belalai gajah dengan alat dan bahan sederhana namun dengan hasil yang keren dilanjut percobaan memecahkan balon dengan hanya mengusapkan tangan ke balon, menusukkan jarum ke balon dan mencampurkan cairan kimia yang dapat menyerupai lava gunung berapi. Semua percobaan sains diikuti dan dipraktekkan oleh para peserta dengan antusias yang tinggi, semua ingin mencobanya dengan semangat.

Kegiatan selanjutnya dipandu oleh bude Yuni yang diawali dengan perkenalan dan sedikit penjelasan tentang manfaat main sains untuk anak usia dini. Kit atau peralatan main sains dibagikan ke peserta, untuk tiap peserta mendapatkan 1 kantong yang di dalamnya terdapat peralatan dan bahan 10 macam percobaan sains.

Satu demi satu percobaan dilakukan oleh peserta dipandu dengan apik dan menarik oleh bude Yuni. Tak sendiri, kegiatan ini dibantu oleh para relawan yang gesit seperti  bu Roro, bu Rohmah dan miss Zubaedah.  Beberapa percobaan berhasil kami buat seperti membuat baling-baling kertas, ulat menggeliat, baling-baling sentrifugal, pesan rahasia, roket, tabung, dan gelas tertawa. Peserta aktif maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka terhadap percobaan sains yang sudah dilakukan.

Akhirnya kegiatan main sains ditutup dengan memberikan apresiasi untuk para peserta terbaik, terajin, tersemangat, serta sekolah yang paling banyak mengirimkan gurunya. Alhamdulillah main sains selesai ditutup dengan pesan dari bu Umi bahwa guru yang baik adalah yang amanah, yang siap berbagi ilmu yang telah didapatnya ke teman-teman maupun ke anak didiknya.

Sebelum perjalanan pulang kami mampir ke perkampungan nelayan yang tak jauh dari lokasi main sains. Di sana kami bertemu ibu- ibu dan anak-anak yang sedang mengupas kerang hijau , juga para nelayan yang sedang memperbaiki perahu, jala serta peralatan untuk menangkap ikan. Kamipun kembali pulang dengan perasaan bahagia karena bisa bertemu dan berbagi dengan guru-guru hebat disana.

Kontributor : Euis (Pengurus Komunitas Media Pembelajaran)

Ravika Kawan SLI

3 Alasan Menjadi KAWAN SLI

Tak pernah terfikirkan saat ini bisa menginjakan kaki di Bumi Sriwijaya. Pernah ketika ditanya oleh teman “setelah kuliah mau kemana?” dan dengan spontannya menjawab “ke Palembang”. Tidak terlintas sama sekali untuk ke Bumi Sriwijaya, tapi Tuhan berkehendak lain, Dia mengabulkan ucapan pertama yang disebutkan. Dan sekarang telah hampir 10 purnama berada di Bumi Sriwijaya.

KAWAN SLI (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia), Dompet Dhuafa, kata-kata yang sangat asing untuk didengar dan dengan persepsi awal akan bekerja apalah itu “dhuafa”. Tetapi dengan semangat optimis tetap berani melanjutkan pendaftaran untuk menjadi KAWAN SLI 2. Sampai saat ini masih ada kenangan dan terpatri di sudut memori tentang seleksi pendaftaran yang sangat menarik, baru seleksi saja sudah kenal orang satu Sumatra Barat, apalagi kalau lolos ya pasti kenal se-Indonesia.

KAWAN SLI merupakan pemuda pemudi pilihan yang dipilih oleh lembaga Dompet Dhuafa untuk meningkatkan kualitas sekolah, yang diilih secara profesional melalui proses seleksi secara nasional. Menjadi KAWAN SLI merupakan bagian terunik yang pernah dilalui, baik susah, senang, lelah maupun bahagia sebahagianya. Menjadi KAWAN SLI itu sangat menarik untuk dilalui, ketika harus mengikuti pelatihan intesif bahkan ketikan menghitung purnama di penempan.

Satu yang menjadi penekanan di dalam diri dan itu akan tersimpan untuk waktu yang tak terhingga dari ucapan seorang pengelola ketika pelatihan intensif yaitu jadilah karyawan Allah, karena semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ketika memperoleh apa yang diharapkan maka bersyukurlah, sedangkan ketika belum memperolehnya maka selalu berusaha dan jangan berburuk sangka kepada Allah. Dan aku selalu bersyukur sudah menjadi KAWAN SLI, hingga mampu merangkai mimpi-mimpi satu per satu.

Menjadi KAWAN SLI adalah pilihan awal yang benar setelah melewati beberapa halangan. Karena dengan menjadi KAWAN SLI bukan hanya KAWAN “teman” se-Indonesia yang dimiliki, tetapi ilmu-ilmu baru juga didapat dengan melalui pembekalan secara intensif 2 bulan. Dengan KAWAN SLI, saya tau pendidikan, suku, bahasa maupun kearifan lokal daerah penempatan yaitu Bumi Sriwijaya. Dan masih banyak lagi, hingga merangkum menjadi 3 alasan menjadi KAWAN SLI yaitu:

  1. Menjadi KAWAN SLI saya bisa menjadi bersyukur. Karena tidak semua orang bisa lolos menjadi KAWAN SLI. Dan bahkan tanpa KAWAN SLI saya tidak akan mampu menginjakan kaki di Bumi Sriwijaya. Selain itu, saya tau ternyata masih ada pola pendidikan unik yang dilakukan setiap daerah sesuai dengan kearifan lokal yang dimiliki. Saya bersyukur masih mendapatkan rahmatNya, hingga mampu melewati 10 purnama dengan berbagai cerita dan pengalaman unik disini.
  2. Menjadi KAWAN SLI saya melewatkan batas yang dibuat sendiri. Hal yang paling susah untuk pendiam yaitu berbicara, sedangkan diam paling susah untuk pembicara. Saya seorang yang pendiam, dan misi saya dari awal program SLI yaitu mampu public speaking.  Walaupun saya belum mampu dan sebaik KAWAN yang lain, tapi saya mampu melampaukan batas dan keluar dari zona nyaman untuk berani bicara di depan umum. Deg-degkan wajar untuk menit-menit awal, tapi lama kelamaan itu menjadi candu untuk bisa public speaking, dimana KAWAN SLI harus mampu mengisi pelatihan bersama guru, kepsek dan orangtua siswa.
  3. Menjadi KAWAN SLI saya mampu menambah pengalaman dan belajar lagi. Baik itu pengalaman pahit maupun pengalaman manis itu akan tetap terkenang. Kata ayah “carilah pengalaman selagi kamu masih muda, dan setelah tua maka ceritakan pengalamanmu untuk memotivasi anak cucumu”. Meskipun awalnya saya dinyatakan tidak lolos KAWAN SLI 2, tetapi saya dapat pengalaman bahwa untuk menjadi bagian suatu lembaga harus melewati seleksi yang profesional. Dan ketika dinyatakan lolos itu akan menjadi pengalaman terbaru buat saya untuk menginjakan kaki di pulau Jawa. Serta ketika di penempatan saya belajar banyak hal yang tak akan saya temui di bangku pendidikan formal dan karifan lokal setiap daerah itu unik untuk pelajari.

Tidak ada paksaan ketika memilik menjadi KAWAN SLI. Semua mengalir seperti air, dan setiap saat memiliki cerita unik seperti gelombang lautan. Dan sepertinya ini candu untuk menjadi karyawan Allah. Mimpi saya mulai terwujud dengan menjadi KAWAN SLI dapat memajukan pendidikan Indonesia, dan mimpi itu masih akan tetap berkibar hingga saatnya tiba.

Kontributor : Ravika (KAWAN SLI penempatan Ogan Ilir)

Ingin seperti Ravika yang mampu mengabdi sekaligus mengembangkan kapasitas diri?
.
Daftarkan dirimu segera menjadi KAWAN SLI angkatan 3 di http://www.makmalpendidikan.net/kawan-sli/Masih ada waktu sampai tanggal 31 juli 2019.

Bunda Namira, sang penakluk hati

Bunda Namira, sang penakluk hati

“Bun, Bunda Namira sudah datang, belum?”

“Bun, hari ini Bunda Namira kan yang ngajar kami?”

“Bun, Bunda Namira masuk kan, Bun?”

Pertanyaan bernada sama biasanya akan terulang lagi kurang dari waktu tiga menit. Hampir setiap hari kantor kepala sekolah akan menerima pertanyaan seperti itu dari murid kelas III.B MIS Azrina yang terkenal ‘istimewa’. Hampir semua guru yang pernah masuk ke kelas ini mengeluh pusing menghadapi siswa-siswanya. Bahkan ada yang mengaku trauma dan tidak mau lagi bila diminta mengisi kelas III.B. Tantangan pertama masuk di kelas ini adalah ‘penolakan nyata’ dari beberapa siswa yang tidak mau belajar kecuali dengan Bunda mereka. Terkadang ada juga seorang siswi menangis di pojokan kelas. Entah apa sebabnya dan ia tidak mau ditenangkan. Beberapa siswa lainnya sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang bising berdebat di dalam kelompoknya. Suasana kelas menjadi riuh tak terkendali hingga pemilik kelas datang. “Bundaaaaa,” sorak mereka penuh bahagia.  

Ya, beliaulah Bunda Namira, peraih hati siswa kelas III.B, kelas istimewa MIS Azrina. Saat ditanya bagaimana tips menghadapi siswa dengan beragam perangai, Bunda Namira mengaku tak ada hal spesial yang dilakukannya.

“Awalnya saya juga merasa kesulitan menghadapi siswa-siswa saya ini, tetapi kemudian saya mencoba mengenal karakter masing-masing anak dan harus berpandai-pandai menarik perhatian, misalnya dengan cara memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan dan mendatangkan kesan bagi mereka. ”

Lebih lanjut beliau menambahkan bila sudah bisa meraih hati anak-anak, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengenalkan mereka dengan aturan yang berlaku. “Kalau perlu aturan tersebut dibuat bersama agar mereka berkomitmen dalam melaksanakannya.” Siswa kelas III.B bahkan takut menyakiti perasaan guru kesayangan mereka ini. Setiap mereka merasa melakukan kesalahan maka berbagai upaya akan dilakukan agar Bunda mereka tidak marah, salah satunya dengan menulis surat. Tak heran bila kemudian Bunda Namira sering menerima surat cinta dari siswa kelas III.B. Tidak hanya surat permintaan maaf, banyak juga surat yang berisi ungkapan perasaan sayang mereka.  

Kontributor : Fitriani (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia angkatan 2)

Ratulil Fatihah, Jagoan Sains dari Tanah Mbojo (Bima)

Ratulil Fatihah, Jagoan Sains dari Tanah Mbojo (Bima)

Ratulill Fatihah, siswa kelas 2 MIS Yasim Belo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat berhasil lolos ke Babak Final Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2019 di Jakarta pada tanggal 06 sampai 07 Juli di Jakarta tepatnya di Gedung Titan centre. Olimpiade Sains yang digelar sejak tahun 2008 ini selalu mengalami peningkatan jumlah peserta dari tahun ke tahun. Tahun ini diikuti oleh 93.000 peserta dari seluruh Indonesia pada babak penyisihan dan akhirnya hanya 304 peserta yang lolos ke babak Final di Jakarta. Ada tiga level dalam Olimpiade Sains ini yakni level 1 (Kelas 1 dan 2), Level 2 (Kelas 3 dan 4) dan level 3 (Kelas 5 dan 6). Babak penyisihan dan semifinal dilaksanakan di kabupaten masing-masing salah satunya di Kabupaten Bima. Ada enam sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa yang mengikuti seleksi Olimpiade Sains ini salah satunya adalah MIS Yasim Belo.


Ratu tidak pernah menyangka akan lolos Olimpiade Sains Kuark hingga Babak final ke Jakarta, soal-soal olimpiade yang dia kerjakan saat babak penyisihan sangat membingungkan apalagi untuk level 1 ini. Banyak di antara teman-temannya masih mengeja soal-soal Olimpiade Sains tersebut ditambah lagi dengan lembar jawaban yang diperiksa menggunakan sistem komputerisasi harus benar-benar diisi dengan rapi. Ketika pengumuman peserta yang lolos ke babak semifinal, salah satu nama yang muncul adalah Ratulil Fatihah untuk level 1 dan ada juga beberapa siswa MIS Yasim Belo baik level 2 maupun level 3.


Setelah Ratu mengetahui bahwa dirinya lolos ke babak semifinal, dia sangat senang dan bersemangat untuk terus belajar, dia pun meminta ibunya untuk membelikan majalah Sains Kuark agar bisa belajar lebih banyak lagi tentang Sains dan bisa menjawab soal-soal olimpiade yang ada.
MIS Yasim Belo, salah satu Madrasah Ibtidayah Swasta di Kabupaten Bima milik Yayasan Islam Bima. Bangunan sekolah ini hanya terdiri dari tiga lokal yang semuanya disekat sehingga bisa menjadi enam kelas. Tidak ada ruang perpustakaan apalagi laboratorium untuk melakukan eksperimen Sains, namun hal itu tidak menjadi hambatan dalam proses pembelajaran, keterbatasan tersebut justru menjadi cambuk bagi para guru dan siswa untuk tetap menorehkan prestasi.

Tentu moment ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Ratu Karena banyak hal yang dia dapatkan selama dua hari di Jakarta. Bertemu dengan teman-teman baru dari seluruh Indonesia, naik kereta MRT ke bundaran HI, melakukan eksperimen Sains merakit lampu solar dan latihan memainkan Angklung. Semoga kedepannya akan lebih banyak lagi jagoan jagoan Sains yang tidak hanya membanggakan orangtuanya tetapi juga bisa membanggakan sekolah dan kabupatennya bukan hanya di bidang Sains tetapi juga di Bidang-bidang yang lain.

Siap menjadi saksi perjuangan anak-anak Indonesia dalam meraih mimpi? Segera #DaftarKawanSLI3via www.makmalpendidikan.net/kawan-sli/

Kawan SLI Lutfia

Apa Saja yang Didapatkan Sebagai KAWAN SLI?

Sebuah pengalaman yang tidak ternilai, mewakafkan diri 12 purnama untuk menjadi Konsultan Relawan Pendidikan. Jika ditanyakan, mengapa mau jadi relawan? Dari sekian banyak alasan, satu yang pasti turut di-iya-kan, “menambah nilai diri”, sebab menyadari akan ada kompetensi yang bertumbuh dan bertambah, akan ada kebaikan yang dibagikan, bertambahnya manfaat diri bagi sesama. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah saw.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain).”  [HR.Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.]

Menantang diri keluar dari zona nyaman, dipilih sebagai langkah awalku, seorang guru yang telah mengabdikan diri selama 3 tahun pada Sekolah Dasar Islam Terpadu ternama di kota Binjai, kota kecil di Sumatera Utara, untuk menggenapi keinginan meluaskan nilai diri, mengambangkan kompetensi, belajar lebih, upaya lebih, serta menempuh tangga-tangga meralisasikan mimpi.

Dua bulan pertama dilalui di kota hujan, Bogor, Pembinaan sebelum konsultan dikirimkan ke wilayah penempatan. Ini sangat membantu, Sebagai bekalan pengetahuan dan arahan pelaksana peran Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Dari pembinaan bertambahlah kompetensi diri, aktivitas pelatihan digelar setiap hari, berlatih menjadi trainer, coche, dan mentor, sebagai bekalan konsultan di penempatan. Mengaplikasikan ilmu dikenyataan tidak semudah ketika microtriner pada proses pembinaan, ada beban moral yang diemban, nama baik diri dan lembaga dipertaruhkan, maka persiapan untuk jiwa dan kompetensi keilmuan dimantapkan.

Dari penempatan aku belajar mengaplikasikan keilmuan, menjadi trainer pada kegiatan pelatihan, pertama kali menjadi pemateri di tengah kepala sekolah dan guru-guru, tentu merasa menegangkan dengan khwatir yang berlebihan. Perlahan hitungan bulan berganti, menjadi pusat perhatian, berdiri di depan para kepala sekolah dan guru, telah menjadi hal yang biasa. Kepercayaan diri tumbuh dan berkembang, tidak hanya di hadapan warga sekolah, pada beberapa kesempatan berhadapan dengan puluhan bahkan ratusan wali murid adalah sebuah pengalaman berbeda, menyesuaikan penggunaan bahasa yang mudah dipahami masyarakat umumnya, juga tantangan tersendiri bagi Kawan SLI, yang kemudian menyuntikkan spirit untuk mendalami karakter dan budaya warga setempat.

Semarang, Jawa Tengah, dikenal dengan ikon Kota Lumpia, mayoritas penduduk bersuku Jawa, maka inilah bahasa yang digunakan masyarakat pada kesehariannya. Penempatan di kota ini menambahkan kekayaan budaya baru bagiku, budaya sopan santun khususnya. Aku baru tau, bahwa di tanah Jawa, penggunaan Bahasa Jawa itu ada tingkatan tutur bahasanya, dari penggunaan bahasa keseharian ada yang halus, dan tidak halus atau dinamakan tingkatan Ngoko, Madyo, dan Krama. Setiap kosa bahasa jawa memiliki variasi bentuk morfologis yang menunjukkan tingkat rasa hormat atau kesopanan, hal ini bertalian dengan kasta kebangsawanan atau kekeratonannya.

Suatu ketika suasana pertemuan dengan kepala madrasah dan guru-guru yang semula hangat mendadak berubah direspon dingin, hanya sebab aku salah menggunakan bahasa, “sampean” dalam pertemuan formal tersebut, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Kamu atau Anda”, dirasa terdengar terlalu kasar, sementara keseharian para guru menggunakan bahasa “njenengan” untuk menyebutkan orang kedua yang diajak berdialog. Berbulan-bulan telah menyatu dengan budaya setempat membuatku sedikit-banyak memahami kosa kata Bahasa Jawa, namun sejak kejadian lalu, aku belajar untuk berhati-hati, dan memilih menjawab dengan bahasa indonesia saja jika diajak berbicara.

Berperan sebagai Kawan SLI tanpa kusadari juga telah mewujudkan salah satu dari mimpi-mimpiku. “Menjadi gurunya para guru” tulisku satu ketika bertahun-tahun silam pada lembaran kertas yang menghimpun cita-citaku. Tak pernah terbayangkan beginilah cara Allah merealisasikan mimpiku, meskipun sekarang belum berezeki untuk lanjut pendidikan S2, tapi nyatanya Allah mewujudkannya lebih dahulu sekalipun tanpa titel master. Ketika berprofesi menjadi guru adalah cita yang terbangun sejak SMA, lalu aku memimpikan agar kebermanfaatanku dapat dirasakan lebih, maka menjadi gurunya para guru adalah sebuah cita mulia.

Mengelola Sekolah Sendiri, juga bagian dari cita jangka panjang yang pernah kutuliskan, sehingga menjadi Kawan SLI bagiku merupakan tangga-tangga untuk mewujudkan mimpi. Sebab telah dibekali dengan ilmu pengelolaan, pengukuran, dan peningkatan performa sekolah. Dari sana aku belajar bagaiamana cara meng-choching dan me-mentoring para kepala madrasah untuk mengabil solusi menejemen terbaik bagi sekolah mereka. Dari pengalaman penempatan ini aku belajar tantang realitas mengelola manusia dan sistem pendidikan, ini bekal penting untukku. Enam Madrasah Ibtidaiyah Marjinal di tengah Kota Semarang memberikan banyak pembelajaran, dengan corak gaya kepemimpinan, dan pengelolaan madrasah yang berbeda-beda, dengan kelebihan dan kekurangannya.

Menjadi Kawan SLI membuatku terlatih untuk mampu melihat lebih luas arah masa depan sebuah sekolah. Sebab Kawan SLI telah dibekali dengan gambaran sistem ideal sebuah sekolah model. Bahwa sekolah dikatakan berkualitas baik apabila terpenuhinya ketiga lingkup metode uswah, yaitu kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah. Semua erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusianya. Gambaran sejauh apa hasil yang akan dituai sebuah sekolah, dapat diprediksi dari komitmen dan kompetensi kepala madrasah dalam mengelola madrasah serta guru-gurunya, disusul kemudian dengan terpenuhinya sarana prasarana yang memadai.

Hebatnya lagi, menyandang status sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia memudahkan intervensi kepada pihak sekolah dan masyarakat, karena dibawahi oleh lembaga resmi Dompet Dhuafa Pendidikan. Ini memudahkan jalannya pendampingan sekolah, memudahkan menyusupkan nilai-nilai kebaikan, kekhasan literasi, budaya sekolah islami, sebab saran dan pertimbangan Kawan SLI tentu diperhitungkan baik oleh pihak sekolah, masyarakat, maupun di tingkat pengawas sekolah.

Kawan SLI yang umumnya berusia jauh lebih muda dari para kepala madrasah dan guru-guru yang didampinginya, oleh pihak sekolah sering diberikan perlakukan istimewa pada berbagai kegiatan madrasah, disejajarkan dengan pengawas madrasah. Dari sini pembelajaran baru dipetik, di kota Lumpia ini, kesantunan dan pengagungan terahadap tamu diutamakan.

Mengabdikan diri 12 Purnama pada wilayah asing, melatih kepekaan dan mengembangkan kemampuan beradaptasi, sebab tidak ada tempat bergantung selain Allah dan diri sendiri. Di sini aku belajar jeli melihat dan menangkap kesempatan, meluaskan jaringan, mencari berbagai komunitas yang sejalan dengan program.

Banyak hal yang dapat dilakukan selain menjalankan tugas sebagai Kawan SLI di sekolahan. Salah satunya mengembangkan komptensi dalam menulis. Seperti dua tulisan yang telah dimuat oleh Radar Semarang, surat kabar lokal, begitupun bebarapa artikel yang telah dimuat di media elektronik internal, makmalpendidikan.net ataupun jateng.dompetdhuafa.org. Selain itu juga memfasilitasi proyek menulis buku antologi para kepala madrasah dan guru-guru sekolah dampingan SLI Semarang. Bergabung dengan komunitas tertentu, juga telah menimbulkan rasa bertambahnya nilai manfaat diri. Mencoba berbagi, dengan terlibat pada aktivitas remaja setempat, mengisi kegiatan anak kampus UNNES, terlibat bersama komunitas pengajian ibu-ibu hingga menggerakkan kegitan fun literacy untuk anak-anak di  TPQ terdekat.

Menjalankan program ini, artinya mengemban amanah besar, berbulan-bulan dihidupi oleh uang umat, menjaga kepercayaan umat dan janji pada Sang Maha Melihat. Pada pengabdian ini bekerja sebagai kayawan Allah, suka relawan, untuk mewujudkan sebuah visi menebar kebaikan, meningkatkan performa sekolah marginal. Maka berada jauh dari keluarga kian melatih pribadi kerelawanan. Semoga tiap detik yang terlewati terhitung sebagai upaya menggapai keridhoan-Nya.

Hikmah lain dari peran Kawan SLI di penempatan, ialah terjalinnya silaturahim, dan meluasnya jaringan.  Kepala madrasah dan guru-guru dari enam sekolah dampingan di Kota Semarang sejumlah 64 orang, dengan karakter yang berbeda-beda menambahkan syukur bahwa dicipta sedemikian rupa agar saling mengenal. Beberapa guru dan kepala madrasah memperlakukan Kawan SLI selayaknya keluarga sendiri, alhamdulillah mendapatkan keluarga baru lagi disini. Meluasnya jaringan kebaikan pribadi, baik dari lingkungan pendidikan, masyarakat tempat tinggal, pergaulan dengan berbagai komunitas, hingga menjalin silaturahmi kepada pengelola media cetak, koran lokal, kesemua adalah bonus dari menebarkan kebermanfaatan sebagai Konsultan Relawan SLI.

Untuk 12 Purnama pengabdian, begitu banyak yang telah didapatkan sebagai Kawan SLI. Syukur yang tertambat, mewakili begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Qs. Lukman: 27]

Kontributor : Lutfia (KAWAN SLI)

Pembinaan Kawan SLI 2 (Tulisan Kawan Nida)

Motivasi, Konsekuensi, dan Manfaat Menjadi Kawan SLI

Ukuran sukses setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang melihat dari tinggi jabatan di tempat kerja, bisa kuliah ke mancanegara, atau bisa menikah dengan orang yang dicinta. Tak semua hal itu juga menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang. Ada orang sukses tapi tidak bahagia. Begitulah kehidupan, selalu digemerlapkan dengan berbagai kemilau yang relatif sekali sudut pandangnya.

Mulai semenjak kuliah, pikiran saya sudah terkontaminasi oleh pernyataan Bapak Ridwan Kamil bahwa, “Pekerjaan yang baik adalah hobi yang dibayar.” Semenjak turut menganut paham itu, maka saya berusaha sedemikian rupa agar ketika tiba masanya berkecimpung di dunia pasca kampus, saya mendapatkan pekerjaan yang membahagiakan.

Alhasil, saya selalu bertanya kepada diri saya tentang apa saja hal-hal yang membuat saya bahagia. Beberapa di antaranya adalah membaca, menulis, dan bertandang ke beragam tempat. Kemudian, ketika saya mendapatkan informasi mengenai pendaftaran Kawan SLI di tahun 2018, saya tak banyak pertimbangan lagi untuk segera daftar. Tanggung jawabnya cukup beririsan dengan hal-hal yang saya suka. Meski, ada beberapa konsekuensi yang tentunya nanti akan saya dapatkan. Salah satu konsekuensinya adalah menembus zona nyaman.

Ketika menjalani tahapan wawancara, Bapak Zainal Umuri selaku pengelola program pada zamannya berkali-kali bertanya, “Kamu yakin bersedia? Siap ditempatkan di daerah mana saja? Kalau susah air gimana?” Saya juga agak khawatir sebenarnya waktu itu, akan tetapi Allah memberikan keyakinan dengan amat mudah kepada saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya saat itu, jika orang-orang di daerah marginal dapat hidup, mengapa saya harus khawatir?

Motivasi Menjadi Kawan SLI

Banyak keluarga dan teman-teman saya yang bertanya mengenai motivasi apa yang mendorong saya untuk menjadi seorang Kawan SLI. Selain dari tanggung jawab pekerjaannya yang beririsan dengan hal-hal yang saya sukai, motivasi lainnya adalah menambah pengalaman. Keluar dari daerah asal akan membuat kita belajar untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda sekaligus menabung pengalaman sebagai bekal hidup. Hal itu pun saya dapatkan selama berada di daerah penempatan. Dahulu, saya kira kesempurnaan hidup tiap orang itu melalui fase yang sama. Akan tetapi tidak, setiap orang punya jalan unik masing-masing. Saya mengamati kehidupan orang-orang di Ogan Ilir serta guru-guru di sekolah yang didampingi. Setiap dari mereka memiliki kisah unik. Ada keluarga guru yang sudah menikah puluhan tahun tapi tak kunjung memiliki putra, ada guru yang hampir pensiun tapi belum bertemu jodoh, ada pula guru yang baru menikah di usia hampir setengah abad. Setiap orang memiliki jalan hidup sekaligus tantangan dari Allah yang unik. Di sini sudut pandang tersebut terbuka.

Motivasi yang tak kalah penting adalah menambah ilmu. Selama dua bulan sebelum penempatan saya banyak mendapatkan ilmu mengenai kurikulum pendidikan, RPP, pembelajaran berbasis literasi, display kelas, menjadi trainer, coaching, dan banyak lagi. Bagi saya, ilmu-ilmu tersebut sangat aplikatif dan bermanfaat. Tak hanya selama saya menjadi konsultan relawan, akan tetapi akan bermanfaat kelak ketika saya menjadi bagian dari masyarakat atau berperan sebagai ibu bagi anak-anak. Betapa baik sekali Dompet Dhuafa Pendidikan, terutama ketika salah satu pemateri pelatihan (kalau tidak salah Pak Syafe’i) menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa Pendidikan menganut sistem efek domino. Jadi, meski nanti Kawan SLI sudah lengser dalam tugas, diharapkan agar ilmu-ilmu yang telah didapatkan dapat tertular dan tak henti tersebar.

Konsekuensi Menjadi Kawan SLI

Setelah dinyatakan lolos menjadi Kawan SLI Angkatan 2, saya pun segera membuat list konsekuensi apa saja yang mungkin nanti akan saya dapatkan. Lalu, saya segera memberitahukannya kepada keluarga inti.

Pertama, akan jarang pulang. Ditempatkan di daerah marginal tentu akan membuat Kawan SLI jarang pulang dalam setahun. Biasanya dalam setahun, saya bisa pulang tiga sampai empat kali. Saya beri tahu kemungkinan terburuk kepada keluarga, bisa jadi saya hanya akan pulang sekali salam setahun atau tidak sama sekali. Namun, alhamdulillah, Allah memberikan takdir terbaik kepada saya dengan ditempatkan di Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan. Dengan begitu, saya masih dapat memaksimalkan jatah cuti dengan pulang dua kali selama satu tahun.

Kedua, fisik berubah. Bagi orang-orang yang memiliki adaptasi yang cukup atau sangat baik, sepertinya hal ini tak terlalu menjadi masalah. Namun, bagi saya yang memiliki alergi debu dan sensitivitas kulit yang tinggi, membuat saya harus lebih ikhlas untuk membiarkan jika kelak fisik saya berubah. Ternyata benar saja, di daerah penempatan tempat saya bertugas merupakan daerah rawa, perkembunan karet, dan masih lengang suasananya. Rumah yang saya tempati berada di tengah-tengah kebun sehingga banyak sekali nyamuk besar-besar setiap hari. Alhasil, setiap hari pula saya digigit nyamuk. Saya sudah memakai lotion anti-nyamuk dan minyak telon plus longer protection yang melindungi dari gigitan nyamuk selama 8 jam. Kedua produk itu sia-sia, nyamuk di sini sudah resisten. Membakar obat nyamuk bukan menjadi pilihan, karena saya akan sesak napas. Pilihannya hanya ikhlas jika kulit memiliki bekas gigitan nyamuk yang sukar hilang.

Kondisi air dan debu di Indralaya membuat wajah saya juga bermasalah. Wilayah di sini mayoritas rawa. Airnya tak sejernih air di Garut, kampung halaman saya. Cuaca panas (kalau sedang tinggi bisa sampai 36 derajat celcius) dan tanah merah berdebu membuat kulit wajah saya mudah sekali terpapar. Padahal, saat datang ke Ogan Ilir ini kulit wajah saya sedang masa penyembuhan pasca ekspedisi dari salah satu pulau. Ternyata, kondisi di sini tidak lebih baik. Tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain rela menerima. Toh, suatu saat nanti pun kulit yang rusak akan menjalani masa pengobatan dan mudah-mudahan Allah memberi kesembuhan. Take it easy.

Ketiga, jarang senang-senang. ‘Senang-senang’ ini ialah dalam arti sudut pandang masing-masing orang. Setiap orang tentu berbeda definisi kesenangannya. Kalau bagi saya, senang-senang adalah pergi ke Gramedia lalu membaca dan membeli buku, pergi nonton ke bioskop, makan makanan khas Sunda, dan jajan cilung (aci gulung). Lagi-lagi, yang patut dilakukan adalah men-setting otak, hati, dan fisik kita untuk rela ‘jarang senang-senang’ selama penempatan. Saya yakin, dengan ‘jarang senang-senang’ kita akan menjadi amat bersyukur saat menjumpai kembali kesenangan masing-masing kita.

Ada sebuah kutipan yang pernah saya baca dari tulisan seseorang, “Bisa jadi, kondisi yang sekarang kita jalani adalah kondisi yang orang lain harapkan. Maka, bersyukurlah.” Setidaknya, setelah direnungkan, kondisi di daerah penempatan Ogan Ilir tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kondisi daerah penempatan Kawan SLI yang berada di pulau Kalimantan atau Riau. Mereka harus berjalan sekian kilometer untuk mendapat air bersih. Ada pula yang harus rela menahan kebosanan akibat tak kunjung makan nasi, yang ada hanya singkong sebagai makanan sehari-hari. Kita semua memiliki cara untuk bersyukur dengan cara masing-masing. Dengan itu, kita dapat lebih menghargai hidup.

Manfaat Menjadi Kawan SLI

Saya merasa banyak sekali manfaat yang didapat selama menjadi Kawan SLI. Hampir setahun di daerah tempat pengabdian, bagi saya, tak sia-sia. Ada banyak hikmah kehidupan yang saya ambil dan menjadikan diri menjadi lebih terbuka serta lebih banyak bersyukur.

Manfaat pertama, mendapat ilmu dan pengalaman hidup. Tentang ini, sudah saya jelskan sebelumnya di bagian motivasi. Ternyata, apa yang menjadi tujuan saya sesuai dengan manfaat yang saya perloleh.

Manfaat kedua, mengenal keunikan daerah penempatan. Hampir setahun di sini, saya sudah mencicipi makanan khas Sumatra Selatan seperti pempek, tempoyak, lenggang, pindang, tekwan, dan lain-lain. Ada salah satu sekolah yang setiap pekan mengenalkan makanan-makanan khas Sumsel. Saya dan rekan saya pun mencicipinya secara gratis. Kemudian, ketika datang masa monev dan jalan-jalan perpisahan kelas VI, menjadi kesempatan Kawan SLI untuk berkunjung ke daerah-daerah wisata dan tempat-tempat menarik di Sumsel. Ada Pulau Kemaro, Alquran Akbar, Masjid Ching-Ho, Gor Jakabaring, Punti Kayu, De-Matto, dan lain-lain. Kesempatan ini menjadi ajang wisata literasi.

Manfaat ketiga, memperluas relasi/jaringan. Salah satu tujuan SLI adalah agar programnya berkelanjutan, sehingga Kawan SLI dituntut untuk membuka jaringan yang luas sekaligus memberdayakan agar ketika Kawan SLI usai masa jabatan, program masih dapat berjalan tanpa pendampingan langsung. Sungguh, realisasi hal ini amat berat di Ogan Ilir. Akan tetapi telah ada contoh di SLI Angkatan 1, yang mana ada sekolah yang dapat berdaya dan justru sekolah tersebut memberi dampak kepada sekolah lain di Musirawas Utara.

Adapun di Ogan Ilir, telah berusaha membuka jalan kerjasama dengan FLP Ogan Ilir. Meski sistem kerjasamanya masih belum optimal, setidaknya Kawan SLI memiliki relasi dengan orang-orang yang sama bergiat terhadap bidang literasi. Selain itu, di Ogan Ilir pula berdisi universitas negeri yaitu UNSRI. Saya dan rekan saya pun memiliki kenalan mahasiswa-mahasiswa yang hebat dan siap sedia membantu kelancaran agenda kami jika dibutuhkan. Menjadi Kawan SLI membukan jalan untuk berteman dengan banyak orang.

Akan banyak kebaikan yang didapatkan selama mewakafkan diri untuk menjadi Kawan SLI. Meski bukan keuntungan materi, menjadi Kawan SLI akan memberi pengalaman yang berarti. Kelak, akan menjadi bekal kehidupan kita di kemudian hari jika kita benar-benar rela menjalaninya. Ada satu kutipan yang saya dapatkan dari Kawan SLI ketika ia dimonev oleh pengelola, “Apa pun yang terjadi tetaplah mendampingi.” Jika kelak banyak hal yang terjadi dan itu tak sesuai ekspekstasi, kembalilah ke niat awal kita (motivasi). Karena motivasilah yang akan menjadi kekuatan selama berada di daerah perempatan.

Kontributor Nida Fadlilah (KAWAN SLI Angkatan 2

Anak Nakal, ini sumbernya sekolah literasi indonesia

Anak nakal?, ini sumbernya..

Anak tidak dapat memilih di keluarga mana ia dilahirkan. Jika anak dapat memilih di keluarga mana ia dapat dilahirkan, tentunya ia akan memilih di keluarga yang penuh limpahan kasih sayang. Tidak pula semua anak di dunia ini terlahir dengan memiliki keluarga yang utuh. Ada yang disebabkan oleh perceraian hidup, kematian yang merenggut salah satu orangtua, ada yang memiliki ayah atau ibu yang lebih dari 1. Bahkan ada pula yang ditinggalkan oleh orangtua kandungnya dengan dalih tak memiliki kemampuan untuk merawat anaknya sendiri sehingga dititipkan kepada orang lain.

Kemampuan?, Ya.. saat orang tua tak lagi mampu membesarkan mereka dengan dalih apapun, maka anak tumbuh dipelihara oleh anggota keluarga lain. Tentu saja oleh keluarga yang mampu memeliharanya. Sehingga anak akan merasakan perbedaan karena tidak dirawat oleh orang tua kandungnya sendiri.

Sama halnya dengan guru, mereka memiliki kadar kemampuan yang berbeda-beda. Baik dalam pembelajaran, komunikasi, untuk menatap wajah peserta didik, mengusap rambut, ataupun menyentuh bahunya bahkan dalam memberikan kalimat-kalimat pujian dan mengucapkan kalimat-kalimat positif. Ini menjadi bahan renungan pada diri kita sendiri, mari kita tanyakan ke diri sendiri seberapa sering kita mampu melakukannya?

Mungkin kita sering mendengar istilah anak itu seperti kertas putih yang kosong ketika pertama kali dilahirkan, tinggal bagaimana kita sebagai orang dewasa mampu mengarahkan. Anak pada dasarnya belum tahu apa-apa. Dia pun tak meminta dilahirkan dalam keadaan keluarga yang tak lengkap. Dia hanya butuh kehadiran orang yang memperhatikan, dan orang yang mampu memberikan curahan kasih sayang untuknya.

Jika di dalam rumah belum dia dapatkan, anak pasti akan berpikir dia harus menemukan dan dapat mengambil bentuk kasih sayang dari yang lain. Seperti mengekspresikan dirinya ke dalam cara yang orang dewasa anggap kurang baik (menjadi  anak nakal). Itu dia lakukan hanya sekedar untuk mendapatkan sebentuk perhatian dan kasih sayang.

Baginya, dengan dia berbuat nakal maka guru akan mendekat kepadanya, mau menyapa dan berbicara padanya. Dengan label nakal tersebut dia merasa mendapatkan perhatian. Guru akan sering memanggilnya, dan dekat-dekat berada di sisinya. Sehingga timbul di benaknya,

“oh jadi dengan berbuat itu, dengan aku nakal, guruku akan terpusat perhatiannya padaku”.

Atau,

“Mengapa ya kalau saya bisa membaca satu kalimat, guru tidak mau memuji saya? Padahal, susah payah saya berjuang untuk selalu berlatih mengeja huruf per huruf, kata demi kata“

Pertama kali saya hadir sebagai konsultan relawan di salah satu sekolah di daerah Bengkulu Utara sangat kaget, karena hampir semua guru bercerita anak-anak disini hampir semua nakal-nakal.
“Saat belajar saja tidak mau memperhatikan pak, sukanya main-main.“ Perlu kesabaran dan perhatian yang sangat ekstra terhadap anak-anak seperti ini gumam saya dalam hati. Namun saya percaya jika kita terus menciptakan suasana yang positif, mampu berkawan dengan mereka, dan mampu membangun kedekatan dengan mereka bukan hal mustahil mereka akan berubah.

Berangkat dari cerita tersebut saya coba untuk sering-sering mendekati peserta didik, memberikan berbagai macam permainan. Tanpa ragu saya yang memulai dan duduk bersama mereka ketika mereka sedang beristirahat atau sedang kumpul-kumpul. Saya coba pandang kedua matanya.

Menciptakan pola pendekatan terhadap peserta didik bukanlah hal yang mudah perlu ketekunan dan perubahan pola pikir yang berbeda, apa lagi di daerah masih saja ada guru yang beranggapan biarlah anak orang lain ini, untuk apa kita mati-matian mencurahkan segala perhatian yang kita punya kepadanya. Ahhhh,,, tak habis pikir saya, kok masih saja ada seorang guru yang berpikiran seperti itu.

Beberapa bulan saya disini hampir setiap hari mata saya tertuju kepada sosok anak bernama  Prawira namun anak-anak disini sering memanggilnya dengan sebutan cilik. Dia adalah siswa anak kelas 3 yang terkenal sangat sulit diatur. Cilik terkenal anak yang tidak mau menulis bahkan membaca dan berdiam diri di kelas pun ia enggan.

Suatu ketika anak kelas 3 mendapatkan tugas untuk menulis, namun cilik seperti biasanya tidak mau menulis dah bahkan sering berlari-lari ke luar kelas. Saat cilik melakukan hal seperti ini dan dia tak mau menulis, sering terdengar ucapan dari guru, “ Masa seperti itu saja tidak mau, susah sekali kamu ini untuk belajar”. Kalimat yang menusuk hatinya secara bertubi-tubi pada cilik. Semestinya, perhatikan lebih baik anak, cari tahu mengapa dia tidak mau menulis, adakah kesukaran yang dialaminya?

Mari biasakan mendekati siswa, berjalan ke arahnya, duduk disampingnya dan menanyakan tentang kesehariannya dan apa yang kita bisa bantu terhadapnya. Jangan gengsi untuk melemparkan pujian kepadanya atas segala yang sudah dia kerjakan, sampaikan padanya, “Hebat, kamu Nak, bapak bangga terhadapmu.” Bila dia tetap seperti itu dan tidak mau, berikan sentuhan lembut di kepala atau pundak sang anak. Ajak dia untuk menjadi kawan atau sahabat kita.

Terus berikan usapan lembut di kepala dan bahunya. Juga sampaikan selalu kalimat positif kepadanya. Sebagai seorang pendidik carilah terus sisi baik yang dimiliki anak itu, tentu ada dan pastinya banyak sekali. Karena itu adalah tugas kita, dengan kemauan dan kemampuan sebagai pendidik, kitalah yang berhak mendidik dengan penuh kasih sayang siswa. Sentuhlah siswa dengan hati dan lakukan semuanya dari hati karena apa yang berawal dari hati maka akan kembali ke hati.

Kontributor Adi Setiawan – Kawan SLI Bengkulu Utara

Jurus Guru menangani siswa bermasalah Makmal Pendidikan

Jurus Guru Menangani Kelas Bermasalah

Dunia anak adalah dunia bermain, penuh kecandaan dan penuh dengan kesenangan. Mereka begitu menikmatinya, sehingga tak jarang keseruan pada saat bermain terbawa di dalam kelas. Sehingga tak ayal pembelajaran pun tidak efisien.         

Anak-anak di SDN 227 Bengkulu Utara Kecamatan Napal Putih pun begitu sangat aktif. Terlebih anak-anak di kelas 4  Ketika pembelajaran dimulai ada yang suka berlari-larian, hilir mudik keluar, sebagian lagi sangat senang mengusili temannya. Ada juga siswa yang membawa mainan gambar sehingga mengalihkan perhatian temannya yang lain. Pokoknya pembelajaran di kelas jauh dari kata optimal. Tidak heran bila setiap selesai mengajar di kelas ini, guru-guru selalu mengeluh dan marah-marah. “ Mengajar di kelas selama seharian itu sangat melelahkan, dan membuat tensi darah saya naik,” ucap bu Wien selaku guru disini yang pernah masuk di kelas 4 untuk mengganti guru kelas 4 yang tidak masuk. Bahkan tidak heran juga bila kelas 4 selalu dicap sebagai kelas paling bermasalah di sekolah.

Syukurnya, Kepala Sekolah memiliki kesabaran dan ketekunan yang begitu luar biasa. Mungkin karena pengalaman yang sudah bertahun-tahun sehingga beliau santai saja dalam menghadapinya. Termasuk ketika menghadapi anak didik seperti di kelas 4 tersebut.

Faktor utama anak – anak di kelas tersebut berprilaku demikian adalah modal belajar dan kecerdasan, tugas kita sebagai seorang guru adalah positif Felling serta sabar,” tanggap Kepala Sekolah. “ Jadi, kita tidak boleh mengecap anak- anak sebagai anak yang nakal.”

Menarik sekali apa yang disampaikan Kepala Sekolah terkait keadaan kelas 4. Tidak ada anak yang nakal melainkan kita sebagai guru yang belum tau modal belajar dan kecerdasan para peserta didik kita. Oleh beliau saya diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas tersebut. Saya diberi amanah untuk mengajar karena wali kelas 4 tidak masuk sekolah. Saya di beri amanah untuk mengajar IPA dan Matematika.

Bertemu dan mengajar siswa-siswa kelaas 4 ini, saya justru tidak menemukan suasana yang sering disampaikan oleh beberapa guru. Saya merasa senang mengajar, dan anak-anak juga merasa hal yang sama dengan saya. Bahkan sebenarnya mereka menginginkan saya untuk menjadi wali kelasnya mereka. Sampai di luar kelas pun, mereka selalu mengejar-ngejar saya sembari menyebutkan pelejaran yang pernah saya sampaikan, ditambah mereka menampakkan wajah senangnya dan berharap saya akan masuk kelas mereka lagi dan mengajar mereka.

Guru-guru terheran-heran dengan apa yang saya lakukan. Mereka heran bisa seperti sahabat seperti itu dengan anak-anak dan dapat membangun energi positif di kelas. Mereka bertanya-tanya kepada saya, “kok bisa sih, Pak? Apa rahasianya? Apa ada trik khusus?”

Tidak ada rahasia atau trik khusus untuk mewujudkan kelas yang menyenangkan. Saya hanya melakukan jurus-jurus sederhana berikut.

Pertama, menegakkan aturan.

Saya membuat kesepakatan aturan sebelum pembelajaran dimulai. Isi aturan ini dibuat bersama siswa dan sudah mendapat persetujuan siswa terlebih dahulu. Kolaborasi seperti ini yang terkadang dilupakan oleh para guru. Dengan adanya kolaborasi ini kemungkinan siswa mematuhi aturan ini lebih besar, berbeda ceritanya jika aturan dibuat secara sepihak dan mucul atas dasar otoriter dari guru.

Contoh aturan yang saya buat dan disepakati siswa adalah membawa mainan dan memainanya di kelas. Siswa yang membawa mainan dan memainkannya di kelas. Namun  siswa yang membawa mainan ke kelas dan memainkannya ketika saya sedang menjelaskan pelajaran, maka mainannya akan bapa ambil.

“Gimana anak-anak? Setujuuuu?” Tanya saya.

Dengan kompak dan diiring suara yang lantang, semua siswa kelas 4 menjawab setuju. Saat aturan ini sudah diberlakukan namun masih ada siswa yang tidak mengindahkan, langsung saya ambil mainan gambar tersebut. Siswa pun menerima dan tidak memberikan perlawanan. Hari-hari berikutnya tidak ada lagi yang membawa mainan ke dalam kelas.

Kedua, menggunakan media pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan alat bantu bagi seorang guru, adanya media pembelajaran mampu memberikan rangsangan dan menimbulkan motivasi yang besar dalam belajar kepada anak-anak sehingga pembelajaran begitu menarik dan terkontrol sehingga suasana pembelajaran pun akan kondusif. Antusias belajar pun nampak terlihat dari wajah anak-anak sehingga keceriaan dalam kelas dapat dirasakan bersama. Hal itulah yang nampak terlihat jelas ketika proses pembelajaran berlangsung.

Ketiga, melibatkan semua anak dalam pembelajaran.

Mayoritas siswa kelas 4 memiliki modal belajar kinestetik. Mereka tidak bisa diam dan hanya mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, saya melibatkan semua siswa. Dalam sebuah pembelajaran, alangkah baiknya melibatkan semua elemen yang ada di kelas. Ketika mengajarkan materi tentang fungsi panca indera manusia, dengan bergiliran saya meminta siswa untuk maju satu per satu untuk menunjukkannya dan menjelaskan fungsi berdasarkan apa yang siswa ketahui. Dengan cara seperti ini, alhamdulillah siswa kelas 4 mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan cepat menyerap pelajaran yang disampaikan.

Tiga rahasia yang bukan rahasia inilah yang saya terapkan di kelas 4. Yang jelas, saya senantiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik dan para penghuni kelas 4 benar-benar memiliki kegembiraan, kesenangan, dan keceriaan yang megundang tawa saat belajar di kelas. Hal yang paling membahagiakan saya pada saat menyaksikan anak-anak kelas 4 ini tampil penuh antusias dalam pembelajaran.

Kontributor : Adi Setiawan( Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Peran Kawan SLI di MIS Azrina

Peran KAWAN SLI meningkatkan kualitas MIS Azrina

Madrasah Ibtidaiah Azrina, merupakan sekolah mungil berkonsep rumah, terletak di Jalan Marelan Raya Pasar II Nomor 287 B, Kecamatan Rengas Pulau, Medan Marelan. Lebih tepatnya di samping Irian Swalayan. Didirikan tahun 2012 oleh Alm. Muhammad Arif dengan visi-misi yang sangat sederhana, yaitu menjadi wadah bagi anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa menikmati bangku sekolah. Ketua Yayasan Pendidikan Islam Azrina, Drs. Wahyudi, merealisasikan niat tulus tersebut melalui berbagai beasiswa yang tersedia, diantaranya adalah Beasiswa Yatim, yaitu beasiswa untuk siswa yatim, bebas SPP dari kelas satu hingga kelas enam.

Selanjutnya ada Beasiswa Separuh, peruntukannya bagi siswa yang orangtuanya masih utuh namun berpenghasilan kecil. Menjadi pertanyaan, bukan? Mengapa tidak disamakan saja, bebas SPP, misalnya? Ternyata, dibalik itu, MIS Azrina ingin menempa orangtua siswanya untuk tetap bertanggungjawab terhadap kewajibannya terhadap anak, sesuai Hadits Riwayat Bukhari Nomor 2278 bahwa

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Harapannya, dengan dibantu separuh, orangtua siswa bisa lebih semangat mencari nafkah. Ada pula Beasiswa Prestasi, yaitu beasiswa untuk tiga siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di setiap kelasnya, persemester. Berupa bebas SPP selama tiga bulan. Tujuannya agar menjadi penyemangat siswa untuk rajin belajar. Dari 207 siswa, yang tercatat menerima manfaat beasiswa tersebut adalah 48 siswa. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan di dalamnya. Aamiin.

MIS Azrina memiliki dua belas tenaga pendidik. Sepuluh guru kelas dan dua guru bidang studi (Olahraga dan Bahasa Arab). Muda-muda, penyayang dan pembelajar. Kepala Madrasah pun masih muda. Wilfa Hayati, S.Pd.I, perempuan kuat dan murah senyum, serta pembelajar yang ulung. Saat ini, MIS Azrina menjadi sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Analoginya seperti ini, Kepala Madrasah adalah akar, maka Konsultan Relawan adalah pupuk dan airnya.

Tenaga pendidik dan kependidikan MIS Azrina adalah pembelajar terbukti dari sikap antusias mereka setiap mengikuti Pelatihan Guru. Seperti yang pernah dilakukan di semester satu, Pelatihan Guru Tahap I dengan dua tema yaitu Pengantar Kurikulum, serta Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif. Terlihat mereka ingin belajar untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai guru di dalam kelas agar lebih professional. Jika belum memahami, maka mereka bertanya. Jika memiliki informasi, maka mereka sharing. Pada semester dua ini dilakukan Pelatihan Guru Tahap II dengan tema Desain Pembelajaran Aktif dan Media Pembelajaran. Pemateriannya tidak lagi diisi oleh Konsultan Relawan, tetapi oleh guru model. Tentu dengan lebih dulu dilatih oleh Konsultan Relawan dan dirangkul serta disemangati oleh Kepala Madrasah. Suasana pelatihan lebih hidup, aktif dan menyenangkan. Begitu juga dengan Kepala Madrasah, beliau mengisi kegiatan Pelatihan Pengembangan Keluarga dengan tema Mewujudkan Anak Cerdas dan Sholeh. Dibawakan dengan santai, hangat dan menyenangkan. Keilmuannya mengenai keislaman pun menjadikan kegiatan tersebut lebih hidup sehingga orangtua siswa yang hadir mendapatkan ilmu baru. Benar-benar potensial.

Sekolah dapat dikatakan baik — tidak semata terukur dari fasilitas. Karena yang lebih penting dari itu adalah kualitas SDM di dalamnya. Untuk bisa mengkualitaskan diri, maka diperlukan “kemauan”. Mau memperbaiki diri, mau belajar, mau berkembang. Jika sudah memiliki kesadaran tersebut maka pelayanan terhadap siswa dan orangtua/wali siswa pun akan prima. Siswa senang datang ke sekolah. Orangtua senang bersinergi dengan sekolah. Sehingga tercipta kepuasan dari berbagai pihak.

“Jadikan anak-anak sebagai generasi pembelajar. Dengan perasaan senang datang ke sekolah dan pulang sekolah.” –Anies Baswedan.