Pos

Minat Belajar Bagi Siswa Makmal Pendidikan

Kapan Mulai Meningkatkan Minat Baca Anak?

Setiap orang dilahirkan memiliki kemampuan komunikasi agar orang lain mampu mengetahui apa yang di sampaikan. Komunikasi  mulai diajarkan oleh orang tua dari umur satu tahun dengan cara orang tua menyebutkan apa saja yang terdapat disekitarnya. Perkembangan komunikasi anak bertambah sesuai dengan tingkatan umur dari anak tersebut. Umur 5 tahun biasanya orang tua akan memasukkan anak ke sekolah TK, disana anak belajar bermain sambil belajar, karena usia anak lima tahun keatas cendrung lebih menyukai dunia bermain. Selain anak bermain, guru-guru yang ada TK biasanya akan memulai anak untuk belajar membaca, Mengenal huruf-huruf abjad, Menghitung dan lainnya.

Ketika anak masuk sekolah dasar, anak akan diajarkan kembali mengenal huruf, mengeja bacaan sehingga menjadi satu kalimat, Berhitung, dan Menggambar. Guru adalah penggerak yang akan memainkan peranan tersebut. Guru akan mendesain bagaimana cara anak menyukai dunia membaca, dari hal-hal yang sederhana.

Meningkatkan daya minat baca peserta didik harus dilakukan sejak dini dan di mulai dari anak sekolah dasar kelas rendah, minat baca pada anak tidak akan tumbuh sendiri tanpa dimulai tanpa diajarkan betapa pentingnya membaca dan dilakukan setiap harinya selama dalam kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan secara berulang-ulang.

Anak-anak yang masih duduk dibangku kelas rendah akan tertarik dengan membaca buku yang tidak banyak teksnya, lebih suka bergambar dan banyak warna, hurufnya lebih besar dan cerita dongeng, yang akan mendorong minat baca peserta didik lebih meningkat. Maka dari itu guru-guru perlu memilih buku yang sesuai dengan tingkatan usia anak, sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk membaca buku.

Masa anak-anak adalah masa yang  paling cepat untuk mengahafal, lebih mudah anak-anak akan menceritakan kembali apa yang mereka baca, maka dari itu guru-guru perlu mereview kembali buku yang dibaca oleh anak-anak.

Lima belas menit sebelum belajar adalah salah satu cara untuk meningkatkan minat baca untuk anak-anak, dengan cara yang seperti ini yang dilakukan setiap hari anak akan bisa menuntaskan beberapa buku bacaan dalam  satu semester. Anak yang sudah berakali-kali membeca buku yang sama mereka akan bosan. Guru harus bisa memperbaharui buku, sehingga minat baca anak-anak terus meningkat dan selalu semangat dalam membacanya.

Buku adalah jendela dunia yang akan mengahantaarkan anak-ank ke masa depan yang lebih baik. Guru adalah penyokong anak untuk mewujudkan masa depan, yang dumulai dari meningkatkan minat baca anak-anak dimasa duduk dibangku sekolah dasar. “Guru Menginspirasi, Karena Guru Adalah Inspirasi” teruslah berkarya mencetak generasi-genearsi perdaban masa depan yang akan dimulai dari dini, dengan cara meningkatkan anak-anak menyukai dunia membaca.

Kontributor : Piska Yunita (KAWAN SLI Angkatan 2)

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Tata Krama Memanusiakan ABK lewat Kolaborasi Pendidikan

Percayakah kita bahwa setiap manusia yang dilahirkan di dunia adalah karya agung Tuhan yang dilekatkan pada dirinya label spesial. Percayakah kita bahwa setiap anak yang kakinya  berpijak pada tanah memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, tumbuh, berkembang, bermain, disayangi, dan mendapatkan pengakuan sebagai warga negara yang mesti dilindungi dan mengecap rasa pendidikan. Karena pendidikan tidak berbicara perihal manusia normal melulu. Bagaimanapun kondisinya, seperti apa mentalnya tetap saja hak tersebut milik setiap anak. Lebih jelasnya kita menyebut perlakuan ini sebagai tata krama dalam memanusiakan manusia.

“Muara dari pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia,” tak ada yang dapat mengelak kalimat tersebut. Tujuannya semata-mata memuaskan akal-akal manusia akan pengetahuan, menyejukkan hati melalui keteladanan terhadap sesama agar hukum rimba tidak bertengger dan hukum keseimbangan tetap kokoh terjaga. Sederhananya formula keseimbangan yang dikemukakan oleh Newton:  aksi = reaksi. Ruas kiri dan kanan akan terus seirama, seberapa banyak energy yang diberikan pada aksi sebanyak itu pula hasil yang dituai pada reaksi. Seberapa banyak pengetahuan dan keteladanan yang kita berikan, kita berharap sebanyak itu pula tumbuh pada diri manusia laiinnya.

Pemenuhan pengetahuan dan keteladanan ini dapat dijawab melalui kolaborasi pendidikan formal dan Informal. Langkah ini adalah langkah terjitu yang dapat ditempuh. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal dan rumah sebagai madrasah pertama bertanggungjawab seutuhnya mengantarkan anak ke gerbang kondisi terbaik.

Hal-hal diatas  dilakukan orang tua Gaga pada Gaga. Gaga adalah anak berpostur tubuh besar dan tinggi yang di lingkungannya diberi cap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).  Setiap yang memandangnya sekilas lantas berasumsi Gaga adalah anak yang duduk di bangku kelas tinggi. Termasuk pandangan awal saya saat kunjungan ke-3 dalam agenda pemutaran video kirim budi, September lalu.  Belakangan saya tahu Gaga adalah anak kelas II.

Pada kenyataannya Ia baru satu setengah tahun mengenyam pendidikan formal di SDN 2 Wanasari Kab.Indramayu Jawa Barat. Orang tuanya memilih pendidikan inklusi, jarak sekolah dan rumahnya cukup dekat jadi alternative pilihan saat itu. Alasannya sederhana agar mereka dapat mengontrol perkembangannya. Hari pertama sekolah dan beberapa bulan berkutnya ibunya selalu mengantar ke pintu kelas, menunggu selama proses pembelajaran hingga bel berbunyi pertanda waktu pulang telah tiba.

Suatu waktu, orang tuanya memindahkan Gaga ke SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tak bertahan lama, temponya hanya seminggu. Gaga meminta kembali ke SDN 2 Wanasari . Ia tak ingin belajar dengan ABK lainnya, Ia hanya ingin belajar dari ibu Masnaeni guru kelasnya. Di tengah keterbatasan mental yang membelenggu dirinya Gaga masih leluasa menentukan sekolah, nuraninya jujur berbahasa tempat ternyaman belajar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memaksa Gaga tetap di SLB,  orang tuanya mengikuti keinginannya kembali pindah ke SDN 2 Wanasari.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung (Rombot: 2017), membuahkan perubahan dan perkembangan dalam diri Gaga. Saya teringat film Taare Zaman Pare  dari India yang menceritakan seorang ABK yang Imanjinatif, kemudian diberi perlakuan khusus dari guru seninya, dibimbing dan dididik hingga Ia benar-benar percaya pada bidang keahliannya. Hal serupa juga diterapkan pada Gaga, saat duduk dibangku kelas I Ibu Masnaeni memberikannya les khusus dalam tempo 2 atau 3 kali dalam seminggu. Alhasil, perkembangannya semakin meningkat. Walaupun tak 100% dapat mengikuti laju perkembangan  teman kelasnya.

Daya ingat, kejelasan berbicara, ketelitian dan perubahan sikap merupakan suatu prestasi yang membanggakan.  Sekarang, Ia merupakan anak dengan daya ingat yang kuat. Ia menghapal semua motor milik gurunya. Pada waktu pagi, jika ada motor guru yang belum datang Ia menuju menanyakan keberadaan guru   tersebut. Ia hapal, setiap hari Jumat ada mata pelajaran agama, oleh karenanya menanyakan guru mata pelajaran agama. Yang awalnya sering menangis seiring perjalanan waktu sikap itu mulai redup, Saat bel masuk berbunyi Ia mengakomodir teman kelasnya untuk masuk di kelas. Yang awalnya diantar jemput, saat ini hanya di jemput. Jika uang jajannya habis, Ia memilih pulang  meminta kepada ibunya dan kembali lagi ke sekolah dibanding menerima uang dari gurunya. Dan ada 1 hal kebiasaan yang melekat pada dirinya yaitu  menyalami dan mencium tangan guru-gurunya saat bertatap muka.

Melihat langsung dan mendengar kisah perkembangan Gaga dari Ibu  kepala SDN 2 Wanasari kita semakin membuka mata bahwa setiap anak itu berbeda, cepat atau lambat pasti akan bisa, ini hanyalah persoalan waktu. Mereka mempunyai bagiannya masing-masing dalam soal kemampuan. Dalam diri mereka ada harta karun yang terkubur, dan tugas orang-orang dewasa yang membersamainya adalah menggali dan menemukannya. Tokoh-tokoh penemu justru banyak dari penyandang ABK  seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan Wolfgang Amadeus Mozart, misalnya

Dalam lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khususlah yang akan mengikuti anak-anak normal laiinnya, tidak sebaliknya. Berawal dari sinilah titik perubahan, kolaborasi pendidikan orang tua dan guru menjadi kunci pintu  perkembangannya. Semoga tata krama memanusiakan ABK lewat kolaborasi pendidikan  terus berlangsung dalam proses pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia DD Pendidikan)

Referensi : Rombot, Olifia. 2017. Pendidikan Inkluisi. (Online) https//pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi. Dikutip 23 Desember 2018

Pic : Google.co.id

Makmal Penddikan Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Tujuan Pendidikan; Impian atau Angan-Angan?

Menyoal masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Di balik sederet prestasi akademik yang membanggakan, nyatanya masih ada hal mendasar yang belum terselesaikan.

Pertanyaan paling mendasar untuk mengukur keberhasilan pendidikan adalah: Apakah tujuan pendidikan sudah tercapai? Kalaupun belum tercapai sepenuhnya, apakah ada tanda-tanda kita akan mencapainya? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan jawaban ya atau tidak.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional, sesuai yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 adalah “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Berdasarkan kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kompetensi lainnya adalah sebagai penyempurna.

Iman menurut para ulama adalah perkataan dalam lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi semua larangan-Nya, serta menjaga diri agar terhindar dari api neraka atau murka Allah SWT. Banyaknya kasus tawuran pelajar (202 anak di tahun 2017-2018), penyalahgunaan narkoba (5,9 juta anak dari 87 juta populasi anak)*, pornografi, prostitusi, hingga penganiayaan terhadap guru sendiri mengindikasikan bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Lebih dari itu, pendidikan kita masih jauh dari tujuan yang dicita-citakan. Alat ukurnya jelas, yaitu iman, taqwa, serta akhlak mulia.

Sejatinya, pendidikan kita sudah memiliki pijakan yang sangat baik, berupa tujuan mulia yang termaktub dalam undang-undang dasar negara. Hanya saja, pada praktinya tujuan tersebut belum dijabarkan dan diimplementasikan ke dalam langkah nyata. Orientasi terbesar pendidikan kita masih terfokus pada aspek kognitif semata. Kurikulum belum benar-benar dirancang untuk menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa. Bukan iman dan takwa yang sekadar sebagai pengetahuan, tetapi juga terwujud dalam sikap dan perbuatan.

Hari ini bahkan tidak ada yang bisa menjamin apakah anak lulusan SMA yang beragama Islam sudah benar akidahnya, sudah baik sholatnya, serta lancar mengajinya. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin. Barangkali kita masih ingat hasil survei yang dilakukan salah satu universitas ternama di Aceh terhadap mahasiswa baru di kampusnya, tahun 2015 silam. Sebanyak 82% mahasiswa baru tidak bisa membaca Alquran. Artinya, hanya 1% saja yang bisa membaca Al-Quran. Dan itupun barangkali bukan karena andil dari pendidikan formalnya, bisa jadi karena belajar dari guru ngaji atau orang tuanya di rumah.

Hal tersebut terjadi karena memang kurikulum pendidikan di Indonesia tidak dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kurikulum pendidikan hari ini lebih menitikberatkan pada pengetahuan umum saja. Misalnya, lulusan SD harus bisa membaca, mahir operasi bilangan matematika, serta menguasai beberapa ilmu umum lainnya. Bagaimana ibadahnya kepada Sang Maha Pencipta, bukan menjadi prioritas utama.

Jika kita benar-benar ingin mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, maka (pemerintah) kita harus berani melakukan perubahan besar di tubuh pendidikan kita.

Berbicara masalah pendidikan, ada empat aspek penting yang sangat menentukan; tujuan, kurikulum, program, serta evaluasi. Tujuan pendidikan kita sudah sangat baik, rasanya tidak perlu lagi diotak-atik. PR selanjutnya adalah bagaimana merancang kurikulum, program, serta evaluasi yang selaras dengan tujuan, sehingga menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan.

Merancang Kurikulum yang Tepat

Kurikulum harus mampu menjadi kendaraan yang tepat dalam upaya menuju tujuan. Dan tujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia akan bisa tercapai manakala kurikulumnya dirancang berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Dengan kurikulum yang berlandaskan iman dan takwa, maka orientasi terpenting dari pendidikan adalah menjadikan peserta didik semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam bukunya “Pendidikan Islam; Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 204”’ Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa kurikulum yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan menekankan pada penanaman adab serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Adab dan iIlmu-ilmu fardhu ain seperti akidah, ibadah, syariah, akhlak, dan lain-lain diletakkan sebagai kurikulum inti (kurikuler). Ko-kurikulernya adalah serangkaian praktik ibadah, zikir, shadaqah, dan lain-lain, untuk menguatkan target kurikulernya. Sementara ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, sains, dan ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat ditempatkan sebagai ekstra-kurikuler.

Lalu, bagaimana dengan sekolah yang memiliki latar belakang agama berbeda? Pada prinsipnya sama, keimanan dan ketakwaan harus menjadi orientasi utama. Tinggal disesuaikan implementasinya berdasarkan tuntunan agama masing-masing.

Setelah kurikulumnya sudah selaras, maka perlu dirancang program yang mampu menumbuhkan dan menguatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia. Program-program tersebut harus dibuat terpadu antara pengajaran, pengamalan/pembiasaan, serta keteladanan. Untuk detailnya, pemerintah bisa meminta para ulama/cendekiawan muslim untuk merumuskan program yang lebih rinci dan operasional, sehingga hasilnya bisa lebih optimal.

Pentingnya Sistem Evaluasi

Selanjutnya, untuk memastikan agar tujuan pendidikan bisa tercapai, perlu dirancang sistem evaluasi yang terpadu, yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif saja. Mengukur keberhasilan pendidikan hanya pada aspek koginitif akan berampak buruk pada kehidupan bangsa ini. Betapa banyak orang pintar di negeri ini, tetapi jauh dari Tuhannya. Dan ujung dari semua itu adalah lahirnya para akademisi yang sekuler, pejabat-pejabat yang korup, pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, dan rakyat yang kurang beradab.

Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievaluasi secara kognitif semata. Memang benar bahwa tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Namun setidaknya bisa diukur dari ciri-ciri yang nampak, mengacu pada ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits.

Aplikasi sederhananya misalnya, siswa muslim jenjang SLTP/SLTA yang melalaikan sholat lima waktu, buta aksara Alquran, maka tidak bisa lulus, sampai ia benar-benar mampu menjaga sholat dan bisa membaca Alquran. Siswa yang durhaka kepada guru, curang dalam ujian, terlibat tawuran, pecandu miras/narkoba, dan lain-lain, tidak bisa lulus sampai ia benar-benar bertaubat. Tidak peduli sepintar apapun anaknya. Dengan demikian, orientasi belajar tidak lagi sekadar untuk mendapatkan nilai akademik yang baik.

Kesimpulan

Kesimpulannya, untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan, maka kurikulum, program, dan evaluasinya harus diselaraskan. Tujuan pendidikan adalah amanat undang-undang yang harus ditunaikan, dan menjadikan pendidikan sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah amanat Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam.

Sumber dan Referensi:

Buku Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-202-anak-tawuran-dalam-dua-tahun
https://kumparan.com/@kumparannews/kpai-5-9-juta-anak-indonesia-jadi-pecandu-narkoba
http://aceh.tribunnews.com/2015/07/28/82-mahasiswa-baru-tak-bisa-baca-quran

Kontributor : Andi Ahmadi (Aktivis Sekolah Literasi Indonesia – Dompet Dhuafa Pendidikan)

Dimana engkau Permainan Tradisional?

Seiring perkembangan zaman, maka banyak hal-hal baru yang menjadi sebuah patokan jikalau seseorang tidak ingin disebut sebagai makhluk kuno. Orang-orang mulai beralih mencari hal-hal baru yang mereka anggap bahwa itu adalah sebuah pencapaian maksimal diantara pergantian waktu. Hal itu sontak membuat segalanya menjadi sesuatu yang modern, terutama tentang teknologi. Teknologi canggih saat ini sudah menyelimuti bumi bahkan mungkin mencapai planet lain, banyak hal yang tidak masuk akal bisa terjadi dan terkadang memang di luar nalar manusia. Mungkin kalau disebut salah satu hal yang mempengaruhi dunia yaitu, gadget. Gadget menjadi sebuah media penghubung yang saat ini mempermudah segala hal yang diinginkan makhluk paling pintar di bumi, fungsinya beragam, mulai dari media komunikasi yang sudah paling canggih, tempat berbelanja, order kendaraan, order makanan, dan banyak lagi.

Game Effect

Salah satu hal yang paling membuat orang-orang menjadi betah berlama-lama dengan gadget mereka adalah game. Para pecandu game sekarang tidak akan bersusah payah untuk pergi ke rental PS atau Warnet. Sekarang game di gadget sudah menyediakan sesuatu yang membuat orang-orang terhipnotis untuk tidak bisa jauh dari gadget mereka. Dan bicara tentang Games, itu tidak akan jauh dari hobi anak-anak generasi milineal saat ini. Jikalau generasi X Y Z disaat umur anak – anak masih bermain tali dan kelereng, generasi milineal sekarang malah menghabiskan waktu mereka untuk bermain game di handphone yang sengaja di fasilitasi oleh orang tua mereka. Terkadang orang tua tidak memberikan batasan untuk penggunaan gadget bagi anak-anak mereka.

Bandung menjadi tempat bagi saya sebagai konsultan relawan untuk mempersembahkan diri agar bermanfaat bagi orang lain. Tentu saja tidak menjadi rahasia umum kalau Bandung sudah menjadi wadah bagi anak – anak maupun remaja-remaja untuk mengeksplore diri mereka sesuai perkembangan zaman. Dan fakta yang terlihat memang ketika melihat anak-anak seusia sekolah dasar berkumpul, masing-masing mereka sibuk dengan memfokuskan diri mereka untuk bermain gadget.

Yang Harus Kita Benahi

Saat ini saya tinggal didaerah urban, daerah padat penduduk kelas menengah, dengan profesi kebanyakan sebagai buruh pabrik dan pedagang asongan yang berpenghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu tentu saja membuat sebagian mereka tidak dapat membelikan teknologi secanggih gadget untuk anak-anak mereka. Dan faktanya, lingkungan tersebut masih melestarikan permainan tradisional. Mereka bermain seperti layaknya generasi X Y Z dimana disaat itu permainan silih berganti alias permainan musiman, mulai musim gambar, main kelereng, main sondah, main karet gelang, dan lain-lain. Dan disini saya melihat bahwa kehidupan sosial mereka berjalan sebagaimana mestinya. Perkumpulan mereka bukan hanya untuk sebuah teknologi, namun lebih kepada aktivitas yang saya anggap bermutu dan mampu mengalahkan gadget. Terkadang kita sebagai orang dewasa perlu memilah seperti apa pergaulan dan perkembangan anak yang tepat, sehingga semasa hidup tidak hanya diperbudak oleh teknologi. Semoga tidak akan hilang permainan tradisional dibumi ini. Tetaplah ada dan jangan pernah hilang diterpa ombak yang menenggelamkan.

Kontributor : Reni Rahayu (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Makmal Penddidikan Maluku - Sekolah Baru Semangat Baru 1

Sekolah Baru, Semangat Baru

Alhamdulillah, di 1 Desember 2018 menjadi hari terakhir Ulangan Akhir Semester Ganjil bagi anak-anak di MI Al-Azhar Saumlaki. Sebelum ulangan dimulai, anak-anak sudah bersiap untuk beres-beres peralatan dan perlengkapan yang ada di sekolah lama. Lho kok diberesi? Iya. Karena, anak-anak akan pindah ke gedung sekolah baru. Setelah ulangan, dengan semangat 45, mereka bekerjasama membantu para ibu guru untuk packing segala peralatan yang ada di sekolah lama.

“Katong su mau pindah ke gedung sekolah baru, kalian senang ka seng?” Tanya kepala madrasah kepada anak-anak.

“Beta senang sekali, Ibu Guru. Katong su punya gedung sekolah baru,” ucap salah satu siswa.

Memang sejak tahun 2016, MI Al-Azhar Saumlaki mengontrak 3 ruangan di Jl. Bukit Duri Saumlaki dengan biaya sewa sekitar 21 juta per tahun. Dua tahun sudah pemasukan yang diperoleh madrasah diotak-atik guna membayar biaya sewa gedung yang tak murah. Tak heran jika peralatan dan perlengkapan yang mendukung kegiatan guru dan siswa di sekolah masih sangat terbatas.

2. Makmal Penddidikan Maluku - Sekolah Baru Semangat Baru 2
2. Makmal Penddidikan Maluku – Sekolah Baru Semangat Baru 2

Meskipun demikian, sejak cairnya bantuan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, MI Al-Azhar Saumlaki diberi kesempatan untuk membangun 2 buah ruang kelas. Atas musyawarah yang dilakukan oleh pihak madrasah, yayasan, dan panitia pembangunan maka diputuskan untuk membangun 2 ruang kelas dan 1 ruang guru. Pembangunan dimulai sejak Juli 2018 dan rampung di akhir Desember ini.

Kalau dilihat memang pembangunan gedung ini dirasa sangat lama, hal ini bukan tanpa alasan. Kurangnya biaya menjadi kendala utama panitia pembangunan dalam merampungkan gedung sekolah baru. Terlebih ketika perkara pembebasan lahan yang belum juga selesai. Beragam kendala muncul selama pembangunan gedung sekolah baru. Bahkan sampai saat ini, kamar mandi pun belum dibangun.

Meskipun demikian, sejak pindahnya anak-anak ke gedung sekolah baru pada 3 Desember 2018, pancaran kebahagiaan muncul di wajah polos anak-anak. Kebahagiaan terlihat ketika mereka bermain, berlarian ke halaman untuk mencari belalang. Iya, sekolah baru kami memang berada di dekat hutan jati, jadi ketika masuk musim penghujan seperti ini, banyak belalang bermunculan di rumput-rumput tinggi yang mengelilingi sekolah. Selain itu, kebahagiaan anak-anak juga terlihat dari celotehan mereka, “sekolah kita sudah ada lantainya sekarang.”

Kebahagiaan juga tak hanya muncul di wajah anak-anak, para gurupun sudah mulai membuat beragam rencana untuk memperindah kelasnya. Sang kepala madrasah juga berencana untuk memperindah lingkungan sekolah. Sebagai KAWAN yang mendampingi mereka, saya pun ikut berbahagia. Meskipun banyak kendala-kendala yang mengiringi pembangunan gedung sekolah baru ini, cercah-cercah harapan agar MI Al-Azhar Saumlaki menjadi sekolah islam terbaik di Kepulauan Tanimbar terlihat dari semangat pengabdian dan perubahan mereka.

Kontributor : Fajar (Kawan SLI penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat)

sedekah-jumat berbagi

Kerennya Jumat Berbagi di MI Darul Huda

Jumat berbagi adalah kegiatan yang digagas dan dipelopori oleh Ketua Yayasan Darul Huda, yakni Bapak Ali Al Bustom. Sesuai dengan namanya kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, yang mana bagi umat Islam merupakan hari yang baik. Konsep awal kegiatan ini adalah warung atau kantin yang dikelola oleh yayasan akan memberikan jajanan senilai Rp 1.000,00 untuk setiap siswa MI Darul Huda. Setiap siswa cukup membayar dengan membaca Al Fatihah dan doa untuk kemajuan yayasan dan sekolah, serta doa agar banyak donatur yang sholeh hatinya untuk menyumbang pada yayasan. Dalam rencana yang dirancang oleh Bapak Ali, Jumat berbagi ini dilaksanakan hanya dua kali dalam satu bulan.

Permulaan Jumat Berbagi

            Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan pada Jumat, 05 Oktober  2018. Siswa-siwa menyambut antusias kegiatan Jumat Berbagi ini, walaupun awalnya tampak beberapa siswa yang kebingungan dan bertanya-tanya, namun kegiatan ini meninggalkan kesan yang sangat baik bagi para siswa. Jumat berikutnya Bapak Ali kembali mencoba melaksanakan kegiatan Jumat berbagi ini, namun kali ini nominalnya naik menjadi Rp 2.000,00. Menariknya adalah ketika selesai shalat dhuha, Kepala Sekolah yaitu Ibu Titin Suwartini memimpin doa bersama para siswa dan guru-guru yang ditujukan agar semakin banyak donatur yang bersedia menyumbang pada yayasan. Saat kembali ke kantor, Bapak Ali mengabarkan bahwa ada donatur yang menyumbang untuk yayasan dan donatur tersebut ingin agar sumbangannya dibagikan dalam bentuk jajanan seharga Rp 5.000,00 per siswa. Saya, Kepala Sekolah, dan semua guru langsung takjup dan kami langsung mengatakan bahwa ini adalah sebenar-benarnya kekuatan doa.

            Sejak saat itu, kegiatan Jumat Berbagi dapat dilaksanakan secara rutin dengan nominal yang terus meningkat. Penyebaran informasi dilakukan melalui whatsapp dan juga media sosial seperti facebook dan instagram. Setiap hari Kamis, Bapak Ali dan guru-guru secara rutin membagikan info tentang kegiatan Jumat Berbagi ini.  Di Jumat keempat pelaksanaan kegiatan ini, tak hanya jajanan yang dibagikan kepada siswa, namun juga uang tunai yang diperuntukkan bagi siswa yang yatim, piatu, dan dhuafa. Bapak Ali secara rutin membuat video ucapan terima kasih dari seluruh siswa yang ditujukan kepada para donatur.

Target Jumat Berbagi

            Bapak Ali selaku penggagas kegiatan ini berharap agar kegiatan ini dapat terus terlaksana dengan baik dan mengalami peningkatan setiap waktu pelaksanaannya. Kedepannya beliau berharap agar nantinya saat sumbangan dari donatur telah mencukupi, yayasan dan sekolah mampu berbagi pada orang-orang yang membutuhkan yang berada di sekitar wilayah sekolah.

Pelatihan-Guru-DD

Model Pembelajaran di SDN 08 Indralaya Utara

“Dulu, ada guru model keren di sini. Namanya Pak Tris. Namun, sekarang beliau mutasi, diganti guru baru.” Begitu ujar Kak Forta, Kawan SLI penempatan Ogan Ilir angkatan pertama ketika kami sedang silaturahim di SDN 08 Indralaya Utara.

Sebenarnya saya penasaran dengan sosok Pak Tris yang disebut-sebut, yang kata guru sini juga ngajarnya bagus, selalu semangat dalam setiap program, dan aktif. Saya hanya bisa melihat jejak-jejaknya saja di kelas III B berupa beberapa display kelas. Dalam hati saya berdoa, semoga kelas modelnya diwariskan kepada guru model otomatis yang keren, bahkan semoga lebih keren dari Pak Tris.

Sesuai aturan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, setiap tahun guru model dari sekolah dampingan bertambah dua, satu kelas tinggi dan satu kelas rendah. Begitupun fisik kelasnya menyesuaikan. Artinya, kelas model tahun sebelumnya tetap menjadi kelas model dengan diisi oleh guru model. Jadi, guru baru yang mengisi kelas model otomatis menjadi guru model.

Kelas Pak Tris diwariskan kepada Bu Nopa. Beliau orang Sumatra Barat yang mendapat tugas di Ogan Ilir. Pertama kali bertemu Bu Nopa, saya dan rekan saya menilai bahwa beliau guru yang ramah. Beliau satu daerah dengan Kawan Ravika sehingga sangat asyik bertukar cerita tentang Lintau Buo. Hingga, pada suatu hari tibalah saatnya saya dan rekan saya mengobservasi dan supervisi pembelajaran Bu Nopa. Beliau mengampu 14 siswa.

Beliau telah memiliki dasar pengetahuan yang baik dalam mengelola kelas dan melaksanakan pembelajaran K13. Saat berkesempatan diskusi dengan beliau, beliau menyampaikan, “Saya baru mengajar memakai K13, mengandalkan baca-baca dan cari informasi sendiri saja.”

Meski beliau secara otodidak belajar K13 dan menerapkannya, cara mengajar beliau sudah sangat bagus, bahkan hasil supervisi model pembelajaran beliau terkategori sangat baik. Bagaimana tidak? Ketika mengajar beliau telah melibatkan benda-benda kongkret, dan itulah yang anak sekolah dasar butuhkan.

Selama hampir tiga bulan berada di sini dan berinteraksi setidaknya seminggu sekali dengan beliau, aku benar-benar menemukan pribadi pembelajar dan berkarakter dari sosok Bu Nopa. Seorang perempuan Minang ini memiliki motto hidup, “Iman jangan dikurang, dosa jangan ditambah, cinta jangan dibagi, karena hidup hanya sekali.” Beliau pengganti Pak Tris yang kece! Aku tidak bisa membandingkan keduanya karena aku yakin keduanya memiliki keunikan tersendiri.

Tetap semangat menjadi guru pembelajar, Bu Nopa! Teruslah mengajar dari hati, karena apa-apa yang tulus dari hati akan diterima oleh hati. Tetaplah menjadi kebanggaan murid-murid kelas III B dan seluruh civitas SDN 08 Indralaya Utara.

Kotributor : Nida Fadlilah (Kawan Sekolah Literasi Indonesia)