Pos

Pelatihan-Guru-DD

Model Pembelajaran di SDN 08 Indralaya Utara

“Dulu, ada guru model keren di sini. Namanya Pak Tris. Namun, sekarang beliau mutasi, diganti guru baru.” Begitu ujar Kak Forta, Kawan SLI penempatan Ogan Ilir angkatan pertama ketika kami sedang silaturahim di SDN 08 Indralaya Utara.

Sebenarnya saya penasaran dengan sosok Pak Tris yang disebut-sebut, yang kata guru sini juga ngajarnya bagus, selalu semangat dalam setiap program, dan aktif. Saya hanya bisa melihat jejak-jejaknya saja di kelas III B berupa beberapa display kelas. Dalam hati saya berdoa, semoga kelas modelnya diwariskan kepada guru model otomatis yang keren, bahkan semoga lebih keren dari Pak Tris.

Sesuai aturan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, setiap tahun guru model dari sekolah dampingan bertambah dua, satu kelas tinggi dan satu kelas rendah. Begitupun fisik kelasnya menyesuaikan. Artinya, kelas model tahun sebelumnya tetap menjadi kelas model dengan diisi oleh guru model. Jadi, guru baru yang mengisi kelas model otomatis menjadi guru model.

Kelas Pak Tris diwariskan kepada Bu Nopa. Beliau orang Sumatra Barat yang mendapat tugas di Ogan Ilir. Pertama kali bertemu Bu Nopa, saya dan rekan saya menilai bahwa beliau guru yang ramah. Beliau satu daerah dengan Kawan Ravika sehingga sangat asyik bertukar cerita tentang Lintau Buo. Hingga, pada suatu hari tibalah saatnya saya dan rekan saya mengobservasi dan supervisi pembelajaran Bu Nopa. Beliau mengampu 14 siswa.

Beliau telah memiliki dasar pengetahuan yang baik dalam mengelola kelas dan melaksanakan pembelajaran K13. Saat berkesempatan diskusi dengan beliau, beliau menyampaikan, “Saya baru mengajar memakai K13, mengandalkan baca-baca dan cari informasi sendiri saja.”

Meski beliau secara otodidak belajar K13 dan menerapkannya, cara mengajar beliau sudah sangat bagus, bahkan hasil supervisi model pembelajaran beliau terkategori sangat baik. Bagaimana tidak? Ketika mengajar beliau telah melibatkan benda-benda kongkret, dan itulah yang anak sekolah dasar butuhkan.

Selama hampir tiga bulan berada di sini dan berinteraksi setidaknya seminggu sekali dengan beliau, aku benar-benar menemukan pribadi pembelajar dan berkarakter dari sosok Bu Nopa. Seorang perempuan Minang ini memiliki motto hidup, “Iman jangan dikurang, dosa jangan ditambah, cinta jangan dibagi, karena hidup hanya sekali.” Beliau pengganti Pak Tris yang kece! Aku tidak bisa membandingkan keduanya karena aku yakin keduanya memiliki keunikan tersendiri.

Tetap semangat menjadi guru pembelajar, Bu Nopa! Teruslah mengajar dari hati, karena apa-apa yang tulus dari hati akan diterima oleh hati. Tetaplah menjadi kebanggaan murid-murid kelas III B dan seluruh civitas SDN 08 Indralaya Utara.

Kotributor : Nida Fadlilah (Kawan Sekolah Literasi Indonesia)