Pos

Jurus Guru menangani siswa bermasalah Makmal Pendidikan

Jurus Guru Menangani Kelas Bermasalah

Dunia anak adalah dunia bermain, penuh kecandaan dan penuh dengan kesenangan. Mereka begitu menikmatinya, sehingga tak jarang keseruan pada saat bermain terbawa di dalam kelas. Sehingga tak ayal pembelajaran pun tidak efisien.         

Anak-anak di SDN 227 Bengkulu Utara Kecamatan Napal Putih pun begitu sangat aktif. Terlebih anak-anak di kelas 4  Ketika pembelajaran dimulai ada yang suka berlari-larian, hilir mudik keluar, sebagian lagi sangat senang mengusili temannya. Ada juga siswa yang membawa mainan gambar sehingga mengalihkan perhatian temannya yang lain. Pokoknya pembelajaran di kelas jauh dari kata optimal. Tidak heran bila setiap selesai mengajar di kelas ini, guru-guru selalu mengeluh dan marah-marah. “ Mengajar di kelas selama seharian itu sangat melelahkan, dan membuat tensi darah saya naik,” ucap bu Wien selaku guru disini yang pernah masuk di kelas 4 untuk mengganti guru kelas 4 yang tidak masuk. Bahkan tidak heran juga bila kelas 4 selalu dicap sebagai kelas paling bermasalah di sekolah.

Syukurnya, Kepala Sekolah memiliki kesabaran dan ketekunan yang begitu luar biasa. Mungkin karena pengalaman yang sudah bertahun-tahun sehingga beliau santai saja dalam menghadapinya. Termasuk ketika menghadapi anak didik seperti di kelas 4 tersebut.

Faktor utama anak – anak di kelas tersebut berprilaku demikian adalah modal belajar dan kecerdasan, tugas kita sebagai seorang guru adalah positif Felling serta sabar,” tanggap Kepala Sekolah. “ Jadi, kita tidak boleh mengecap anak- anak sebagai anak yang nakal.”

Menarik sekali apa yang disampaikan Kepala Sekolah terkait keadaan kelas 4. Tidak ada anak yang nakal melainkan kita sebagai guru yang belum tau modal belajar dan kecerdasan para peserta didik kita. Oleh beliau saya diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas tersebut. Saya diberi amanah untuk mengajar karena wali kelas 4 tidak masuk sekolah. Saya di beri amanah untuk mengajar IPA dan Matematika.

Bertemu dan mengajar siswa-siswa kelaas 4 ini, saya justru tidak menemukan suasana yang sering disampaikan oleh beberapa guru. Saya merasa senang mengajar, dan anak-anak juga merasa hal yang sama dengan saya. Bahkan sebenarnya mereka menginginkan saya untuk menjadi wali kelasnya mereka. Sampai di luar kelas pun, mereka selalu mengejar-ngejar saya sembari menyebutkan pelejaran yang pernah saya sampaikan, ditambah mereka menampakkan wajah senangnya dan berharap saya akan masuk kelas mereka lagi dan mengajar mereka.

Guru-guru terheran-heran dengan apa yang saya lakukan. Mereka heran bisa seperti sahabat seperti itu dengan anak-anak dan dapat membangun energi positif di kelas. Mereka bertanya-tanya kepada saya, “kok bisa sih, Pak? Apa rahasianya? Apa ada trik khusus?”

Tidak ada rahasia atau trik khusus untuk mewujudkan kelas yang menyenangkan. Saya hanya melakukan jurus-jurus sederhana berikut.

Pertama, menegakkan aturan.

Saya membuat kesepakatan aturan sebelum pembelajaran dimulai. Isi aturan ini dibuat bersama siswa dan sudah mendapat persetujuan siswa terlebih dahulu. Kolaborasi seperti ini yang terkadang dilupakan oleh para guru. Dengan adanya kolaborasi ini kemungkinan siswa mematuhi aturan ini lebih besar, berbeda ceritanya jika aturan dibuat secara sepihak dan mucul atas dasar otoriter dari guru.

Contoh aturan yang saya buat dan disepakati siswa adalah membawa mainan dan memainanya di kelas. Siswa yang membawa mainan dan memainkannya di kelas. Namun  siswa yang membawa mainan ke kelas dan memainkannya ketika saya sedang menjelaskan pelajaran, maka mainannya akan bapa ambil.

“Gimana anak-anak? Setujuuuu?” Tanya saya.

Dengan kompak dan diiring suara yang lantang, semua siswa kelas 4 menjawab setuju. Saat aturan ini sudah diberlakukan namun masih ada siswa yang tidak mengindahkan, langsung saya ambil mainan gambar tersebut. Siswa pun menerima dan tidak memberikan perlawanan. Hari-hari berikutnya tidak ada lagi yang membawa mainan ke dalam kelas.

Kedua, menggunakan media pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan alat bantu bagi seorang guru, adanya media pembelajaran mampu memberikan rangsangan dan menimbulkan motivasi yang besar dalam belajar kepada anak-anak sehingga pembelajaran begitu menarik dan terkontrol sehingga suasana pembelajaran pun akan kondusif. Antusias belajar pun nampak terlihat dari wajah anak-anak sehingga keceriaan dalam kelas dapat dirasakan bersama. Hal itulah yang nampak terlihat jelas ketika proses pembelajaran berlangsung.

Ketiga, melibatkan semua anak dalam pembelajaran.

Mayoritas siswa kelas 4 memiliki modal belajar kinestetik. Mereka tidak bisa diam dan hanya mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, saya melibatkan semua siswa. Dalam sebuah pembelajaran, alangkah baiknya melibatkan semua elemen yang ada di kelas. Ketika mengajarkan materi tentang fungsi panca indera manusia, dengan bergiliran saya meminta siswa untuk maju satu per satu untuk menunjukkannya dan menjelaskan fungsi berdasarkan apa yang siswa ketahui. Dengan cara seperti ini, alhamdulillah siswa kelas 4 mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan cepat menyerap pelajaran yang disampaikan.

Tiga rahasia yang bukan rahasia inilah yang saya terapkan di kelas 4. Yang jelas, saya senantiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik dan para penghuni kelas 4 benar-benar memiliki kegembiraan, kesenangan, dan keceriaan yang megundang tawa saat belajar di kelas. Hal yang paling membahagiakan saya pada saat menyaksikan anak-anak kelas 4 ini tampil penuh antusias dalam pembelajaran.

Kontributor : Adi Setiawan( Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Peran Kawan SLI di MIS Azrina

Peran KAWAN SLI meningkatkan kualitas MIS Azrina

Madrasah Ibtidaiah Azrina, merupakan sekolah mungil berkonsep rumah, terletak di Jalan Marelan Raya Pasar II Nomor 287 B, Kecamatan Rengas Pulau, Medan Marelan. Lebih tepatnya di samping Irian Swalayan. Didirikan tahun 2012 oleh Alm. Muhammad Arif dengan visi-misi yang sangat sederhana, yaitu menjadi wadah bagi anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa menikmati bangku sekolah. Ketua Yayasan Pendidikan Islam Azrina, Drs. Wahyudi, merealisasikan niat tulus tersebut melalui berbagai beasiswa yang tersedia, diantaranya adalah Beasiswa Yatim, yaitu beasiswa untuk siswa yatim, bebas SPP dari kelas satu hingga kelas enam.

Selanjutnya ada Beasiswa Separuh, peruntukannya bagi siswa yang orangtuanya masih utuh namun berpenghasilan kecil. Menjadi pertanyaan, bukan? Mengapa tidak disamakan saja, bebas SPP, misalnya? Ternyata, dibalik itu, MIS Azrina ingin menempa orangtua siswanya untuk tetap bertanggungjawab terhadap kewajibannya terhadap anak, sesuai Hadits Riwayat Bukhari Nomor 2278 bahwa

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Harapannya, dengan dibantu separuh, orangtua siswa bisa lebih semangat mencari nafkah. Ada pula Beasiswa Prestasi, yaitu beasiswa untuk tiga siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di setiap kelasnya, persemester. Berupa bebas SPP selama tiga bulan. Tujuannya agar menjadi penyemangat siswa untuk rajin belajar. Dari 207 siswa, yang tercatat menerima manfaat beasiswa tersebut adalah 48 siswa. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan di dalamnya. Aamiin.

MIS Azrina memiliki dua belas tenaga pendidik. Sepuluh guru kelas dan dua guru bidang studi (Olahraga dan Bahasa Arab). Muda-muda, penyayang dan pembelajar. Kepala Madrasah pun masih muda. Wilfa Hayati, S.Pd.I, perempuan kuat dan murah senyum, serta pembelajar yang ulung. Saat ini, MIS Azrina menjadi sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Analoginya seperti ini, Kepala Madrasah adalah akar, maka Konsultan Relawan adalah pupuk dan airnya.

Tenaga pendidik dan kependidikan MIS Azrina adalah pembelajar terbukti dari sikap antusias mereka setiap mengikuti Pelatihan Guru. Seperti yang pernah dilakukan di semester satu, Pelatihan Guru Tahap I dengan dua tema yaitu Pengantar Kurikulum, serta Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif. Terlihat mereka ingin belajar untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai guru di dalam kelas agar lebih professional. Jika belum memahami, maka mereka bertanya. Jika memiliki informasi, maka mereka sharing. Pada semester dua ini dilakukan Pelatihan Guru Tahap II dengan tema Desain Pembelajaran Aktif dan Media Pembelajaran. Pemateriannya tidak lagi diisi oleh Konsultan Relawan, tetapi oleh guru model. Tentu dengan lebih dulu dilatih oleh Konsultan Relawan dan dirangkul serta disemangati oleh Kepala Madrasah. Suasana pelatihan lebih hidup, aktif dan menyenangkan. Begitu juga dengan Kepala Madrasah, beliau mengisi kegiatan Pelatihan Pengembangan Keluarga dengan tema Mewujudkan Anak Cerdas dan Sholeh. Dibawakan dengan santai, hangat dan menyenangkan. Keilmuannya mengenai keislaman pun menjadikan kegiatan tersebut lebih hidup sehingga orangtua siswa yang hadir mendapatkan ilmu baru. Benar-benar potensial.

Sekolah dapat dikatakan baik — tidak semata terukur dari fasilitas. Karena yang lebih penting dari itu adalah kualitas SDM di dalamnya. Untuk bisa mengkualitaskan diri, maka diperlukan “kemauan”. Mau memperbaiki diri, mau belajar, mau berkembang. Jika sudah memiliki kesadaran tersebut maka pelayanan terhadap siswa dan orangtua/wali siswa pun akan prima. Siswa senang datang ke sekolah. Orangtua senang bersinergi dengan sekolah. Sehingga tercipta kepuasan dari berbagai pihak.

“Jadikan anak-anak sebagai generasi pembelajar. Dengan perasaan senang datang ke sekolah dan pulang sekolah.” –Anies Baswedan.

Pengumuman Duta Gemari Baca

Pengumuman Peserta Lulus Duta Gemari Baca 5

Selamat kepada 26 peserta yang berhasil lulus seleksi Duta Gemari Baca Batch 5. Seluruh peserta yang lulus akan mengikuti program Inkubasi Duta Gemari Baca pada 5-7 April 2019.

Duta Gemari Baca merupakan program pembinaan dan pengembangan kapasitas bagi generasi muda yang memiliki passion dan talenta dalam mengembangkan literasi di masyarakat

Berikut adalah daftar nama peserta yang lulus seleksi Duta Gemari Baca Batch 5 :

NamaSekolah/UniversitasAsal Daerah
Aisyah Mutiara ElfianaUIN Syarif Hidayatullah JakartaDKI Jakarta
Ardhi RidwansyahUPN Veteran JakartaDKI Jakarta
BahriannorUniversitas Lambung MangkuratKalimantan Selatan
Beddu HafidzUniversitas Bandar LampungLampung
Cahya Karisma PertiwiUPI Kampus PurwakartaJawa Barat
FatimahUniversitas TadulakoSulawesi Tengah 
Fitrotun NisaUniversitas Islam Negeri WalisongoJawa Tengah
Joana Maria Zettira Da CostaUIN Sunan Kalijaga YogyakartaYogyakarta
Karan HavinasUniversitas Kader BangsaSumatera Selatan
Linda DwiyantiUniversitas Negeri JakartaDKI Jakarta
Mahvira Fitra ApriliaUniversitas Ibn Khaldun BogorJawa Barat
Muhammad Afrizal Indra PratamaUniversitas Islam IndragiriRiau
Murnia SariUIN Sunan Ampel SurabayaJawa Timur
NadiyahUIN Sultan Maulana HasanudinBanten
Nur HolifahSMK Negeri 3 DepokJawa Barat
NurhayatiMA Mu’alimat NW PancorNTB
Putri Mutiara Nafisah NasutionUniversitas Muhammadiyah Sumatera UtaraSumatera Utara
Radika Cahya PermanaUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)Banten
Rana Indah SetiawatiSMK NU UngaranJawa Tengah
Rery AfiantoUniversitas DiponegoroJawa Tengah
RismayantiUniversitas MataramNTB
Sinta Gisthi ArdhianiUniversitas Pendidikan IndonesiaJawa Barat
Siti Inna HummaUniversitas PadjadjaranJawa Barat
Taufik HidayatSMK Negeri 2 KlatenJawa Tengah
Ulfatur RohmanUniversitas Pendidikan Indonesia Jawa Barat
Vita Siti ZulaehaUniversitas Pendidikan IndonesiaJawa Barat

Terkait teknis dan lain-lain akan dihubungi oleh panitia pusat.

Cara untuk tingkatkan kedisiplinan guru

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, semua pihak perlu terlibat aktif dalam pelaksanaannya. Bukan hanya sekolah beserta staff di sekolah saja yang terlibat namun perlu melibatkan masyarakat sekitar dan pemerintah. Komitmen dan semangat kesemua pihak tersebutlah yang akan menentukan seberapa jauh perbaikan pendidikan yang dapat kita lakukan. Kita semua harus sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Sudah sebulan lamanya kami berada di Kabupaten Halmahera Selatan, kabupaten yang memiliki pemandangan indah ini. Kami adalah dua orang Kawan SLI yang dipindahtugaskan dari lokasi penempatan sebelumnya yakni di perbatasan Indonesia-Malaysia, Sanggau di Kalimantan Barat dan penempatan Indragiri Hulu di Riau. Setelah melaksanakan program Sekolah Literasi Indonesia di penempatan kami sebelumnya yang lamanya sekitar 6 bulan, kami dipindahkan ke Halmahera Selatan untuk melaksanakan program baru yakni SLI transformasi. Dengan adanya kami berdua di kabupaten yang terkepung lautan ini, total ada tiga orang Kawan yang menjadi konsultan pendidikan di sini. Membersamai seorang Kawan yang telah duluan hadir di sini.

Selama enam bulan ke depan kami akan melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten ini. Tahapan kegiatan program SLI Transformasi adalah:melaksanakan pendaftaran dan sosialisasi kepada calon sekolah dampingan, melaksanakan school visit (kunjungan ke sekolah), melakukan pembinaan, serta melakukan pendampingan kepada sekolah dampingan.

Pekan ini kami masih berada pada tahap kunjungan ke sekolah. Mulai dari pagi hingga sore hari kami akan mengunjungi sejumlah sekolah untuk melihat kesungguhan dan komitmen sekolah dalam memajukan pendidikan di sekolah. Rutinitas harian yang demikian membuat kami dapat menyaksikan sendiri program-program yang ditawarkan sekolah dalam mencerdaskan anak bangsa. Beberapa contoh di antaranya adalah SDN 73 Halmahera Selatan yang melaksanakan program yang disebut pembiasaan “salam semut” yakni kegiatan membiasakan siswa untuk melakukan salim cium tangan kepada orang yang lebih tua seperti guru dan orangtua.

Pembiasaan lain juga dilakukan oleh SDN 12 Halmahera Selatan. Untuk mendidik siswa-siswi supaya menjadi anak yang religius, sekolah membiasakan siswa untuk membaca surat pendek al-Quran dan dzikir sesaat sebelum pulang sekolah. Pembiasaan-pembiasaan seperti inilah yang merupakan contoh usaha kita di dalam menciptakan generasi yang berakhlak baik dan religius.

Tidak hanya itu, ternyata pemerintah setempat juga membuat sebuah gebrakan dengan menjalankan program yang kiranya bertujuan untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disiplin. Program tersebut adalah apel kedisiplinan. Selama seminggu kami rutin melakukan kunjungan ke sekolah, kami jadi sering melihat pelaksanaan program yang dicanangkan pemerintah ini.

Setiap pagi dan siang hari, sekolah diminta untuk melaksanakan apel bersama seluruh staff sekolah dan siswa. Saat pelaksanaan apel kedisiplinan ini, sekolah diminta untuk mendokumentasikan pelaksanaannya lalu dikirim ke grup koordinasi dinas terkait. Dalam pelaksanaan apel ini, sekolah harus mengirimkan foto dokumentasi tidak melebihi waktu yang telah ditentukan. Tidak sampai di situ, semua dokumentasi yang dikirim harus dijadikan laporan yang tercetak. Jika ditemukan ASN dalam hal ini staff sekolah yang sering terlambat maka dinas terkait akan melakukan tindakan terhadap ASN bersangkutan.

Memang terlihat sederhana, hal sederhana inilah yang memberikan dampak yang sangat besar. Guru-guru menjadi lebih rajin untuk hadir tepat waktu. Meminimalisir adanya kesalahpahaman antara guru dan kepala sekolah karena penanganannya langsung ditindak oleh dinas terkait, serta menjadi sarana pengawasan dan kontrol yang hemat biaya dan tenaga bagi dinas terkait. Program-program seperti inilah yang sangat ditunggu kehadirannya dalam melakukan perbaikan pendidikan kita. Program-program yang melibatkan banyak pihak yang diawali dengan kita semua sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian, Kawan SLI Halmahera Selatan

Si Kulit Bundar Penyatu Perbedaan

Perbedaan merupakan hal yang lumrah dalam kebersamaan, bahkan kita telah sepakat pelangi indah karena beraneka ragam perbedaan warna. Lantas kenapa kita terlalu fokus pada perbedaan yang sering kali justru mengkotak-kotakkan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan tak lantas menjadi alasan kita untuk saling bermusuhan bahkan dalam Alquran telah gamblang dijelaskan yaitu pada surat Al Hujurot ayat ke 13 bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa untuk saling mengenal. Saling mengenal merupakan cara kita memahami bahwa kita semua memiliki persamaan diantara banyaknya perbedaan salah satunya sama-sama mahluk ciptaan Allah SWT. Sudah sepatutnya persamaan inilah menjadi fokus pandangan kita, untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam kebersamaan.

Sudah lima purnama saya sebagai Konsultan Sekolah Literasi Indonesia hidup dalam kebersamaan masyarakat Desa Engkerengas Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, untuk hubungan sosial saya pribadi dengan masyarakat desa tak menemui kendala sebab pada dasarnya sikap terbuka dan memuliakan tamu atau orang baru dari masyarakat desa sangat saya rasakan tak jarang hari-hari masyarakat silih berganti memberikan lauk maupun makanan kepada saya, bahkan saya telah memiliki orang tua angkat Pak Marzuki namanya.

Namun hal ini justru berbeda yang tampak pada kehidupan sosial masyarakat antara yang satu dengan yang lain, hidup berkubu-kubu masih terlihat diantara mereka, saling menggunjing dan menyalahkan satu pihak menjadi hal biasa. Terlebih lagi persoalan ketidakpuasan terhadap pemerintah desa yang paling besar menyumbang ketidak harmonisan masyarakat desa. Akan tetapi walaupun begitu kegiatan gotong royong masih menjadi budaya disini, segala kegiatan yang ada di masyarakat diputuskan melalui musyawarah dan dikerjakan dengan bergotong royong.

Walaupun sering terjadi perbedaan dan selisih paham yang merupakan hal biasa dalam bermasyarakat namun ada hal yang membuat mereka bisa tertawa bersama, yaitu permainan sepak bola. Di desa Engkerengas tak memandang wanita dan pria baik anak-anak hingga kakek-kakek sering membahas permainan ini. Menjadi hal mudah untuk membaur dengan masyarakat disini cukup pandai bermain bola dan tahu seluk beluk permainan ini.

Pada 3 bulan pertama saya mengadakan pertandingan futsal untuk desa, selama ini mereka hanya bermain sepakbola belum pernah melakukan pertandingan futsal, ku buka pendaftaran banyak yang mendaftar karena penasaran namun ada juga yang malu untuk mendaftar karena malu jika nanti ditertawakan dalam pertandingan. Hingga pertandingan dimulai ramai penonton yang datang bahkan ada yang berjualan disekitar lapangan sorak sorai penonton tua muda baik wanita maupun pria, tak jarang gelak tawa pecah membahana jika ada salah satu pemain yang terjatuh, semua larut dalam tawa lupa akan segala perbedaan dan peselisihan.

Itulah kehebatan si kulit bundar menyatukan masyarakat desa ini, bahkan jika ditanya anak-anak sekolah yang laki-laki tentunya kebanyakan mereka suka dan bercita-cita menjadi pemain sepak bola terkenal. Sehingga akupun terinspirasi untuk mengadakan latihan sepak bola sekali sepekan setiap usai shalat ashar, akupun tak pandai dan tahu banyak teknik permainan sepak bola namun semua itu bisa berjalan sambil belajar banyak konten you tube dan aku telah memesan buku teknik-teknik dasar bermain sepak bola yang bisa ku ajarkan pada mereka yang belum tentu juga teknik itu aku kuasai sendiri, tapi melihat antusiasme mereka dalam latihan membuat aku malu jika menyia-nyiakan semangat mereka.

Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Siswaku adalah Polwan

Mungkin pembaca masih mengingat mengenai dua potong seragam pramuka yang kekecilan. Dua potong seragam pramuka itu jatah bantuan untuk dua orang murid perempuanku. Ukurannya terlalu kecil untuk tubuhnya jadilah seragam itu hanya tergeletak di ruang kelas. Jika diamati maka kita bisa melihat lapisan debu disekitarnya. Ini masih sambungan dari kisah dua potong baju pramuka itu dan pemiliknya.

Aku merasa kasihan dengan dua siswiku itu. Di hari-hari biasa mereka tetap menggunakan pakaian putih merah yang sudah lusuh meskipun bukan hari senin atau selasa. Aku paham hal itu tidak sesuai dengan keadaan mereka bahwa kedua siswiku itu tidak memiliki baju pramuka yang pas. Sama pahamnya aku ketika menyaksikan siswa-siswaku yang lain yang tidak memakai sepatu, kaus kaki, memakai baju putih saja tanpa celana merahnya, memakai kemeja pramuka tanpa celana kain coklatnya, atau bahkan tidak memakai seragam sekalian. Hanya sebuah tas yang digendong di punggung dan dirinya yang dibalut pakaian sehari-hari. Pemandangan unik yang menjadi terasa biasa bagiku.

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mengusahakan baju seragam pramuka untuk dua muridku itu. Seperti yang telah kuceritakan pada kisah sebelumnya, aku mengambil dua pasang baju pramuka lalu kubawa ke pasar Soegih Belilas untuk ditukar. Namun sayang ternyata tidak ada yang mau menukarnya dengan seragam yang lebih besar padahal saya sudah menyampaikan bahwa ini untuk siswa pelosok. Aku pulang dengan tangan kosong.

Waktu berlalu lama hingga aku kembali resah dengan dua siswiku itu. Kucoba lagi mengantar dua seragam itu untuk di tukar di hilir. Kali ini di pasar seberida. Pasar yang lebih dekat dengan lokasi penempatanku bahkan masyarakat di penempatan saya selalu berbelanja di sini. Warga pasar dan Dusun Nunusan sudah saling kenal akrab. Awalnya saya menemukan bahwa ada saja yang menolak menerima menukar baju seragam itu. Waktu itu aku datang terlambat ke pasar itu. Beberapa lapak sudah tutup. Keadaannya sudah sepi. Penjual dan pembeli yang masih bertahan bergerak malas.

Aku nyaris menyerah namun di perjalanan menuju pintu keluar aku menemukan lapak baju terakhir. Kucoba kujelaskan mengenai keadaan kami yang memerlukan baju seragam dan lain-lain. Kali ini pedagang baju yang sedang siap-siap untuk menutup lapaknya bergeming sesaat. Dia berpikir beberapa jenak lalu tanggapannya menunjukkan respon positif. Kupikir dia membolehkan aku menukar dua seragam itu dengan seragam yang lebih besar.

Ternyata betul ia mau menukar dua seragam kekecilan itu tapi dengan beberapa syarat berupa tiga pasang seragam pramuka ditukar dengan dua pasang yang lebih besar serta dengan membayar beberapa rupiah. Aku sepakat dan akhirnya kali ini aku berhasil pulang dengan baju seragam yang lebih besar. Siswaku kan memakai seragam yang pas. Untuk ukurannya sendiri ternyata ukuran yang pas adalah seukuran siswa SMP.

Besoknya saya telah berada di Nunusan kembali bertugas dengan mengajari siswa-siswi kesayanganku. Kutaruh dua pakaian pramuka itu di dalam laci kedua siswaku. Kuminta untuk mencarinya lalu mereka kegirangan bukan main mendapati isinya. Langsung mereka coba-coba meski tidak dipakai.

Tahu tidak, beberapa siswaku telah terdaftar sebagai pemilih untuk pemilu presiden 2019. Mereka masih semangat untuk belajar dan semangat itulah yang menjadi motivasi saya yang menyemangati untuk terus mengajar.

Waktu berlalu lagi hingga tiba hari di mana siswa diperkenankan memakai seragam pramuka. Si Isel dan Linda datang. Yang paling besar adalah Isel. Mereka masuk barisan dengan rapi. Kulihat mereka tertangkap mataku hebat sekali seragam itu pas dengan badan mereka. Rapi dan pas sekali. Aku bahagia melihatnya. Kemudian aku terbayang sesuatu mereka mirip polwan dengan seragam kemeja coklat dan berbaris serupa itu. Kemudian aku sedih karena mereka hanya siswa SD yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap SMP dan SMA. Aku bersedih.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian (KAWAN SLI Penempatan Indragiri Hulu)

Minat Belajar Bagi Siswa Makmal Pendidikan

Kapan Mulai Meningkatkan Minat Baca Anak?

Setiap orang dilahirkan memiliki kemampuan komunikasi agar orang lain mampu mengetahui apa yang di sampaikan. Komunikasi  mulai diajarkan oleh orang tua dari umur satu tahun dengan cara orang tua menyebutkan apa saja yang terdapat disekitarnya. Perkembangan komunikasi anak bertambah sesuai dengan tingkatan umur dari anak tersebut. Umur 5 tahun biasanya orang tua akan memasukkan anak ke sekolah TK, disana anak belajar bermain sambil belajar, karena usia anak lima tahun keatas cendrung lebih menyukai dunia bermain. Selain anak bermain, guru-guru yang ada TK biasanya akan memulai anak untuk belajar membaca, Mengenal huruf-huruf abjad, Menghitung dan lainnya.

Ketika anak masuk sekolah dasar, anak akan diajarkan kembali mengenal huruf, mengeja bacaan sehingga menjadi satu kalimat, Berhitung, dan Menggambar. Guru adalah penggerak yang akan memainkan peranan tersebut. Guru akan mendesain bagaimana cara anak menyukai dunia membaca, dari hal-hal yang sederhana.

Meningkatkan daya minat baca peserta didik harus dilakukan sejak dini dan di mulai dari anak sekolah dasar kelas rendah, minat baca pada anak tidak akan tumbuh sendiri tanpa dimulai tanpa diajarkan betapa pentingnya membaca dan dilakukan setiap harinya selama dalam kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan secara berulang-ulang.

Anak-anak yang masih duduk dibangku kelas rendah akan tertarik dengan membaca buku yang tidak banyak teksnya, lebih suka bergambar dan banyak warna, hurufnya lebih besar dan cerita dongeng, yang akan mendorong minat baca peserta didik lebih meningkat. Maka dari itu guru-guru perlu memilih buku yang sesuai dengan tingkatan usia anak, sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk membaca buku.

Masa anak-anak adalah masa yang  paling cepat untuk mengahafal, lebih mudah anak-anak akan menceritakan kembali apa yang mereka baca, maka dari itu guru-guru perlu mereview kembali buku yang dibaca oleh anak-anak.

Lima belas menit sebelum belajar adalah salah satu cara untuk meningkatkan minat baca untuk anak-anak, dengan cara yang seperti ini yang dilakukan setiap hari anak akan bisa menuntaskan beberapa buku bacaan dalam  satu semester. Anak yang sudah berakali-kali membeca buku yang sama mereka akan bosan. Guru harus bisa memperbaharui buku, sehingga minat baca anak-anak terus meningkat dan selalu semangat dalam membacanya.

Buku adalah jendela dunia yang akan mengahantaarkan anak-ank ke masa depan yang lebih baik. Guru adalah penyokong anak untuk mewujudkan masa depan, yang dumulai dari meningkatkan minat baca anak-anak dimasa duduk dibangku sekolah dasar. “Guru Menginspirasi, Karena Guru Adalah Inspirasi” teruslah berkarya mencetak generasi-genearsi perdaban masa depan yang akan dimulai dari dini, dengan cara meningkatkan anak-anak menyukai dunia membaca.

Kontributor : Piska Yunita (KAWAN SLI Angkatan 2)

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Tata Krama Memanusiakan ABK lewat Kolaborasi Pendidikan

Percayakah kita bahwa setiap manusia yang dilahirkan di dunia adalah karya agung Tuhan yang dilekatkan pada dirinya label spesial. Percayakah kita bahwa setiap anak yang kakinya  berpijak pada tanah memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, tumbuh, berkembang, bermain, disayangi, dan mendapatkan pengakuan sebagai warga negara yang mesti dilindungi dan mengecap rasa pendidikan. Karena pendidikan tidak berbicara perihal manusia normal melulu. Bagaimanapun kondisinya, seperti apa mentalnya tetap saja hak tersebut milik setiap anak. Lebih jelasnya kita menyebut perlakuan ini sebagai tata krama dalam memanusiakan manusia.

“Muara dari pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia,” tak ada yang dapat mengelak kalimat tersebut. Tujuannya semata-mata memuaskan akal-akal manusia akan pengetahuan, menyejukkan hati melalui keteladanan terhadap sesama agar hukum rimba tidak bertengger dan hukum keseimbangan tetap kokoh terjaga. Sederhananya formula keseimbangan yang dikemukakan oleh Newton:  aksi = reaksi. Ruas kiri dan kanan akan terus seirama, seberapa banyak energy yang diberikan pada aksi sebanyak itu pula hasil yang dituai pada reaksi. Seberapa banyak pengetahuan dan keteladanan yang kita berikan, kita berharap sebanyak itu pula tumbuh pada diri manusia laiinnya.

Pemenuhan pengetahuan dan keteladanan ini dapat dijawab melalui kolaborasi pendidikan formal dan Informal. Langkah ini adalah langkah terjitu yang dapat ditempuh. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal dan rumah sebagai madrasah pertama bertanggungjawab seutuhnya mengantarkan anak ke gerbang kondisi terbaik.

Hal-hal diatas  dilakukan orang tua Gaga pada Gaga. Gaga adalah anak berpostur tubuh besar dan tinggi yang di lingkungannya diberi cap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).  Setiap yang memandangnya sekilas lantas berasumsi Gaga adalah anak yang duduk di bangku kelas tinggi. Termasuk pandangan awal saya saat kunjungan ke-3 dalam agenda pemutaran video kirim budi, September lalu.  Belakangan saya tahu Gaga adalah anak kelas II.

Pada kenyataannya Ia baru satu setengah tahun mengenyam pendidikan formal di SDN 2 Wanasari Kab.Indramayu Jawa Barat. Orang tuanya memilih pendidikan inklusi, jarak sekolah dan rumahnya cukup dekat jadi alternative pilihan saat itu. Alasannya sederhana agar mereka dapat mengontrol perkembangannya. Hari pertama sekolah dan beberapa bulan berkutnya ibunya selalu mengantar ke pintu kelas, menunggu selama proses pembelajaran hingga bel berbunyi pertanda waktu pulang telah tiba.

Suatu waktu, orang tuanya memindahkan Gaga ke SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tak bertahan lama, temponya hanya seminggu. Gaga meminta kembali ke SDN 2 Wanasari . Ia tak ingin belajar dengan ABK lainnya, Ia hanya ingin belajar dari ibu Masnaeni guru kelasnya. Di tengah keterbatasan mental yang membelenggu dirinya Gaga masih leluasa menentukan sekolah, nuraninya jujur berbahasa tempat ternyaman belajar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memaksa Gaga tetap di SLB,  orang tuanya mengikuti keinginannya kembali pindah ke SDN 2 Wanasari.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung (Rombot: 2017), membuahkan perubahan dan perkembangan dalam diri Gaga. Saya teringat film Taare Zaman Pare  dari India yang menceritakan seorang ABK yang Imanjinatif, kemudian diberi perlakuan khusus dari guru seninya, dibimbing dan dididik hingga Ia benar-benar percaya pada bidang keahliannya. Hal serupa juga diterapkan pada Gaga, saat duduk dibangku kelas I Ibu Masnaeni memberikannya les khusus dalam tempo 2 atau 3 kali dalam seminggu. Alhasil, perkembangannya semakin meningkat. Walaupun tak 100% dapat mengikuti laju perkembangan  teman kelasnya.

Daya ingat, kejelasan berbicara, ketelitian dan perubahan sikap merupakan suatu prestasi yang membanggakan.  Sekarang, Ia merupakan anak dengan daya ingat yang kuat. Ia menghapal semua motor milik gurunya. Pada waktu pagi, jika ada motor guru yang belum datang Ia menuju menanyakan keberadaan guru   tersebut. Ia hapal, setiap hari Jumat ada mata pelajaran agama, oleh karenanya menanyakan guru mata pelajaran agama. Yang awalnya sering menangis seiring perjalanan waktu sikap itu mulai redup, Saat bel masuk berbunyi Ia mengakomodir teman kelasnya untuk masuk di kelas. Yang awalnya diantar jemput, saat ini hanya di jemput. Jika uang jajannya habis, Ia memilih pulang  meminta kepada ibunya dan kembali lagi ke sekolah dibanding menerima uang dari gurunya. Dan ada 1 hal kebiasaan yang melekat pada dirinya yaitu  menyalami dan mencium tangan guru-gurunya saat bertatap muka.

Melihat langsung dan mendengar kisah perkembangan Gaga dari Ibu  kepala SDN 2 Wanasari kita semakin membuka mata bahwa setiap anak itu berbeda, cepat atau lambat pasti akan bisa, ini hanyalah persoalan waktu. Mereka mempunyai bagiannya masing-masing dalam soal kemampuan. Dalam diri mereka ada harta karun yang terkubur, dan tugas orang-orang dewasa yang membersamainya adalah menggali dan menemukannya. Tokoh-tokoh penemu justru banyak dari penyandang ABK  seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan Wolfgang Amadeus Mozart, misalnya

Dalam lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khususlah yang akan mengikuti anak-anak normal laiinnya, tidak sebaliknya. Berawal dari sinilah titik perubahan, kolaborasi pendidikan orang tua dan guru menjadi kunci pintu  perkembangannya. Semoga tata krama memanusiakan ABK lewat kolaborasi pendidikan  terus berlangsung dalam proses pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia DD Pendidikan)

Referensi : Rombot, Olifia. 2017. Pendidikan Inkluisi. (Online) https//pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi. Dikutip 23 Desember 2018

Pic : Google.co.id

Makmal Penddikan Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Tujuan Pendidikan; Impian atau Angan-Angan?

Menyoal masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Di balik sederet prestasi akademik yang membanggakan, nyatanya masih ada hal mendasar yang belum terselesaikan.

Pertanyaan paling mendasar untuk mengukur keberhasilan pendidikan adalah: Apakah tujuan pendidikan sudah tercapai? Kalaupun belum tercapai sepenuhnya, apakah ada tanda-tanda kita akan mencapainya? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan jawaban ya atau tidak.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional, sesuai yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 adalah “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Berdasarkan kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kompetensi lainnya adalah sebagai penyempurna.

Iman menurut para ulama adalah perkataan dalam lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi semua larangan-Nya, serta menjaga diri agar terhindar dari api neraka atau murka Allah SWT. Banyaknya kasus tawuran pelajar (202 anak di tahun 2017-2018), penyalahgunaan narkoba (5,9 juta anak dari 87 juta populasi anak)*, pornografi, prostitusi, hingga penganiayaan terhadap guru sendiri mengindikasikan bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Lebih dari itu, pendidikan kita masih jauh dari tujuan yang dicita-citakan. Alat ukurnya jelas, yaitu iman, taqwa, serta akhlak mulia.

Sejatinya, pendidikan kita sudah memiliki pijakan yang sangat baik, berupa tujuan mulia yang termaktub dalam undang-undang dasar negara. Hanya saja, pada praktinya tujuan tersebut belum dijabarkan dan diimplementasikan ke dalam langkah nyata. Orientasi terbesar pendidikan kita masih terfokus pada aspek kognitif semata. Kurikulum belum benar-benar dirancang untuk menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa. Bukan iman dan takwa yang sekadar sebagai pengetahuan, tetapi juga terwujud dalam sikap dan perbuatan.

Hari ini bahkan tidak ada yang bisa menjamin apakah anak lulusan SMA yang beragama Islam sudah benar akidahnya, sudah baik sholatnya, serta lancar mengajinya. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin. Barangkali kita masih ingat hasil survei yang dilakukan salah satu universitas ternama di Aceh terhadap mahasiswa baru di kampusnya, tahun 2015 silam. Sebanyak 82% mahasiswa baru tidak bisa membaca Alquran. Artinya, hanya 1% saja yang bisa membaca Al-Quran. Dan itupun barangkali bukan karena andil dari pendidikan formalnya, bisa jadi karena belajar dari guru ngaji atau orang tuanya di rumah.

Hal tersebut terjadi karena memang kurikulum pendidikan di Indonesia tidak dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kurikulum pendidikan hari ini lebih menitikberatkan pada pengetahuan umum saja. Misalnya, lulusan SD harus bisa membaca, mahir operasi bilangan matematika, serta menguasai beberapa ilmu umum lainnya. Bagaimana ibadahnya kepada Sang Maha Pencipta, bukan menjadi prioritas utama.

Jika kita benar-benar ingin mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, maka (pemerintah) kita harus berani melakukan perubahan besar di tubuh pendidikan kita.

Berbicara masalah pendidikan, ada empat aspek penting yang sangat menentukan; tujuan, kurikulum, program, serta evaluasi. Tujuan pendidikan kita sudah sangat baik, rasanya tidak perlu lagi diotak-atik. PR selanjutnya adalah bagaimana merancang kurikulum, program, serta evaluasi yang selaras dengan tujuan, sehingga menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan.

Merancang Kurikulum yang Tepat

Kurikulum harus mampu menjadi kendaraan yang tepat dalam upaya menuju tujuan. Dan tujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia akan bisa tercapai manakala kurikulumnya dirancang berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Dengan kurikulum yang berlandaskan iman dan takwa, maka orientasi terpenting dari pendidikan adalah menjadikan peserta didik semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam bukunya “Pendidikan Islam; Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 204”’ Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa kurikulum yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan menekankan pada penanaman adab serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Adab dan iIlmu-ilmu fardhu ain seperti akidah, ibadah, syariah, akhlak, dan lain-lain diletakkan sebagai kurikulum inti (kurikuler). Ko-kurikulernya adalah serangkaian praktik ibadah, zikir, shadaqah, dan lain-lain, untuk menguatkan target kurikulernya. Sementara ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, sains, dan ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat ditempatkan sebagai ekstra-kurikuler.

Lalu, bagaimana dengan sekolah yang memiliki latar belakang agama berbeda? Pada prinsipnya sama, keimanan dan ketakwaan harus menjadi orientasi utama. Tinggal disesuaikan implementasinya berdasarkan tuntunan agama masing-masing.

Setelah kurikulumnya sudah selaras, maka perlu dirancang program yang mampu menumbuhkan dan menguatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia. Program-program tersebut harus dibuat terpadu antara pengajaran, pengamalan/pembiasaan, serta keteladanan. Untuk detailnya, pemerintah bisa meminta para ulama/cendekiawan muslim untuk merumuskan program yang lebih rinci dan operasional, sehingga hasilnya bisa lebih optimal.

Pentingnya Sistem Evaluasi

Selanjutnya, untuk memastikan agar tujuan pendidikan bisa tercapai, perlu dirancang sistem evaluasi yang terpadu, yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif saja. Mengukur keberhasilan pendidikan hanya pada aspek koginitif akan berampak buruk pada kehidupan bangsa ini. Betapa banyak orang pintar di negeri ini, tetapi jauh dari Tuhannya. Dan ujung dari semua itu adalah lahirnya para akademisi yang sekuler, pejabat-pejabat yang korup, pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, dan rakyat yang kurang beradab.

Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievaluasi secara kognitif semata. Memang benar bahwa tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Namun setidaknya bisa diukur dari ciri-ciri yang nampak, mengacu pada ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits.

Aplikasi sederhananya misalnya, siswa muslim jenjang SLTP/SLTA yang melalaikan sholat lima waktu, buta aksara Alquran, maka tidak bisa lulus, sampai ia benar-benar mampu menjaga sholat dan bisa membaca Alquran. Siswa yang durhaka kepada guru, curang dalam ujian, terlibat tawuran, pecandu miras/narkoba, dan lain-lain, tidak bisa lulus sampai ia benar-benar bertaubat. Tidak peduli sepintar apapun anaknya. Dengan demikian, orientasi belajar tidak lagi sekadar untuk mendapatkan nilai akademik yang baik.

Kesimpulan

Kesimpulannya, untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan, maka kurikulum, program, dan evaluasinya harus diselaraskan. Tujuan pendidikan adalah amanat undang-undang yang harus ditunaikan, dan menjadikan pendidikan sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah amanat Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam.

Sumber dan Referensi:

Buku Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-202-anak-tawuran-dalam-dua-tahun
https://kumparan.com/@kumparannews/kpai-5-9-juta-anak-indonesia-jadi-pecandu-narkoba
http://aceh.tribunnews.com/2015/07/28/82-mahasiswa-baru-tak-bisa-baca-quran

Kontributor : Andi Ahmadi (Aktivis Sekolah Literasi Indonesia – Dompet Dhuafa Pendidikan)

Dimana engkau Permainan Tradisional?

Seiring perkembangan zaman, maka banyak hal-hal baru yang menjadi sebuah patokan jikalau seseorang tidak ingin disebut sebagai makhluk kuno. Orang-orang mulai beralih mencari hal-hal baru yang mereka anggap bahwa itu adalah sebuah pencapaian maksimal diantara pergantian waktu. Hal itu sontak membuat segalanya menjadi sesuatu yang modern, terutama tentang teknologi. Teknologi canggih saat ini sudah menyelimuti bumi bahkan mungkin mencapai planet lain, banyak hal yang tidak masuk akal bisa terjadi dan terkadang memang di luar nalar manusia. Mungkin kalau disebut salah satu hal yang mempengaruhi dunia yaitu, gadget. Gadget menjadi sebuah media penghubung yang saat ini mempermudah segala hal yang diinginkan makhluk paling pintar di bumi, fungsinya beragam, mulai dari media komunikasi yang sudah paling canggih, tempat berbelanja, order kendaraan, order makanan, dan banyak lagi.

Game Effect

Salah satu hal yang paling membuat orang-orang menjadi betah berlama-lama dengan gadget mereka adalah game. Para pecandu game sekarang tidak akan bersusah payah untuk pergi ke rental PS atau Warnet. Sekarang game di gadget sudah menyediakan sesuatu yang membuat orang-orang terhipnotis untuk tidak bisa jauh dari gadget mereka. Dan bicara tentang Games, itu tidak akan jauh dari hobi anak-anak generasi milineal saat ini. Jikalau generasi X Y Z disaat umur anak – anak masih bermain tali dan kelereng, generasi milineal sekarang malah menghabiskan waktu mereka untuk bermain game di handphone yang sengaja di fasilitasi oleh orang tua mereka. Terkadang orang tua tidak memberikan batasan untuk penggunaan gadget bagi anak-anak mereka.

Bandung menjadi tempat bagi saya sebagai konsultan relawan untuk mempersembahkan diri agar bermanfaat bagi orang lain. Tentu saja tidak menjadi rahasia umum kalau Bandung sudah menjadi wadah bagi anak – anak maupun remaja-remaja untuk mengeksplore diri mereka sesuai perkembangan zaman. Dan fakta yang terlihat memang ketika melihat anak-anak seusia sekolah dasar berkumpul, masing-masing mereka sibuk dengan memfokuskan diri mereka untuk bermain gadget.

Yang Harus Kita Benahi

Saat ini saya tinggal didaerah urban, daerah padat penduduk kelas menengah, dengan profesi kebanyakan sebagai buruh pabrik dan pedagang asongan yang berpenghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu tentu saja membuat sebagian mereka tidak dapat membelikan teknologi secanggih gadget untuk anak-anak mereka. Dan faktanya, lingkungan tersebut masih melestarikan permainan tradisional. Mereka bermain seperti layaknya generasi X Y Z dimana disaat itu permainan silih berganti alias permainan musiman, mulai musim gambar, main kelereng, main sondah, main karet gelang, dan lain-lain. Dan disini saya melihat bahwa kehidupan sosial mereka berjalan sebagaimana mestinya. Perkumpulan mereka bukan hanya untuk sebuah teknologi, namun lebih kepada aktivitas yang saya anggap bermutu dan mampu mengalahkan gadget. Terkadang kita sebagai orang dewasa perlu memilah seperti apa pergaulan dan perkembangan anak yang tepat, sehingga semasa hidup tidak hanya diperbudak oleh teknologi. Semoga tidak akan hilang permainan tradisional dibumi ini. Tetaplah ada dan jangan pernah hilang diterpa ombak yang menenggelamkan.

Kontributor : Reni Rahayu (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)