Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Siswaku adalah Polwan

Mungkin pembaca masih mengingat mengenai dua potong seragam pramuka yang kekecilan. Dua potong seragam pramuka itu jatah bantuan untuk dua orang murid perempuanku. Ukurannya terlalu kecil untuk tubuhnya jadilah seragam itu hanya tergeletak di ruang kelas. Jika diamati maka kita bisa melihat lapisan debu disekitarnya. Ini masih sambungan dari kisah dua potong baju pramuka itu dan pemiliknya.

Aku merasa kasihan dengan dua siswiku itu. Di hari-hari biasa mereka tetap menggunakan pakaian putih merah yang sudah lusuh meskipun bukan hari senin atau selasa. Aku paham hal itu tidak sesuai dengan keadaan mereka bahwa kedua siswiku itu tidak memiliki baju pramuka yang pas. Sama pahamnya aku ketika menyaksikan siswa-siswaku yang lain yang tidak memakai sepatu, kaus kaki, memakai baju putih saja tanpa celana merahnya, memakai kemeja pramuka tanpa celana kain coklatnya, atau bahkan tidak memakai seragam sekalian. Hanya sebuah tas yang digendong di punggung dan dirinya yang dibalut pakaian sehari-hari. Pemandangan unik yang menjadi terasa biasa bagiku.

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mengusahakan baju seragam pramuka untuk dua muridku itu. Seperti yang telah kuceritakan pada kisah sebelumnya, aku mengambil dua pasang baju pramuka lalu kubawa ke pasar Soegih Belilas untuk ditukar. Namun sayang ternyata tidak ada yang mau menukarnya dengan seragam yang lebih besar padahal saya sudah menyampaikan bahwa ini untuk siswa pelosok. Aku pulang dengan tangan kosong.

Waktu berlalu lama hingga aku kembali resah dengan dua siswiku itu. Kucoba lagi mengantar dua seragam itu untuk di tukar di hilir. Kali ini di pasar seberida. Pasar yang lebih dekat dengan lokasi penempatanku bahkan masyarakat di penempatan saya selalu berbelanja di sini. Warga pasar dan Dusun Nunusan sudah saling kenal akrab. Awalnya saya menemukan bahwa ada saja yang menolak menerima menukar baju seragam itu. Waktu itu aku datang terlambat ke pasar itu. Beberapa lapak sudah tutup. Keadaannya sudah sepi. Penjual dan pembeli yang masih bertahan bergerak malas.

Aku nyaris menyerah namun di perjalanan menuju pintu keluar aku menemukan lapak baju terakhir. Kucoba kujelaskan mengenai keadaan kami yang memerlukan baju seragam dan lain-lain. Kali ini pedagang baju yang sedang siap-siap untuk menutup lapaknya bergeming sesaat. Dia berpikir beberapa jenak lalu tanggapannya menunjukkan respon positif. Kupikir dia membolehkan aku menukar dua seragam itu dengan seragam yang lebih besar.

Ternyata betul ia mau menukar dua seragam kekecilan itu tapi dengan beberapa syarat berupa tiga pasang seragam pramuka ditukar dengan dua pasang yang lebih besar serta dengan membayar beberapa rupiah. Aku sepakat dan akhirnya kali ini aku berhasil pulang dengan baju seragam yang lebih besar. Siswaku kan memakai seragam yang pas. Untuk ukurannya sendiri ternyata ukuran yang pas adalah seukuran siswa SMP.

Besoknya saya telah berada di Nunusan kembali bertugas dengan mengajari siswa-siswi kesayanganku. Kutaruh dua pakaian pramuka itu di dalam laci kedua siswaku. Kuminta untuk mencarinya lalu mereka kegirangan bukan main mendapati isinya. Langsung mereka coba-coba meski tidak dipakai.

Tahu tidak, beberapa siswaku telah terdaftar sebagai pemilih untuk pemilu presiden 2019. Mereka masih semangat untuk belajar dan semangat itulah yang menjadi motivasi saya yang menyemangati untuk terus mengajar.

Waktu berlalu lagi hingga tiba hari di mana siswa diperkenankan memakai seragam pramuka. Si Isel dan Linda datang. Yang paling besar adalah Isel. Mereka masuk barisan dengan rapi. Kulihat mereka tertangkap mataku hebat sekali seragam itu pas dengan badan mereka. Rapi dan pas sekali. Aku bahagia melihatnya. Kemudian aku terbayang sesuatu mereka mirip polwan dengan seragam kemeja coklat dan berbaris serupa itu. Kemudian aku sedih karena mereka hanya siswa SD yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap SMP dan SMA. Aku bersedih.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian (KAWAN SLI Penempatan Indragiri Hulu)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044