Si Kulit Bundar Penyatu Perbedaan

Perbedaan merupakan hal yang lumrah dalam kebersamaan, bahkan kita telah sepakat pelangi indah karena beraneka ragam perbedaan warna. Lantas kenapa kita terlalu fokus pada perbedaan yang sering kali justru mengkotak-kotakkan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan tak lantas menjadi alasan kita untuk saling bermusuhan bahkan dalam Alquran telah gamblang dijelaskan yaitu pada surat Al Hujurot ayat ke 13 bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa untuk saling mengenal. Saling mengenal merupakan cara kita memahami bahwa kita semua memiliki persamaan diantara banyaknya perbedaan salah satunya sama-sama mahluk ciptaan Allah SWT. Sudah sepatutnya persamaan inilah menjadi fokus pandangan kita, untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam kebersamaan.

Sudah lima purnama saya sebagai Konsultan Sekolah Literasi Indonesia hidup dalam kebersamaan masyarakat Desa Engkerengas Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, untuk hubungan sosial saya pribadi dengan masyarakat desa tak menemui kendala sebab pada dasarnya sikap terbuka dan memuliakan tamu atau orang baru dari masyarakat desa sangat saya rasakan tak jarang hari-hari masyarakat silih berganti memberikan lauk maupun makanan kepada saya, bahkan saya telah memiliki orang tua angkat Pak Marzuki namanya.

Namun hal ini justru berbeda yang tampak pada kehidupan sosial masyarakat antara yang satu dengan yang lain, hidup berkubu-kubu masih terlihat diantara mereka, saling menggunjing dan menyalahkan satu pihak menjadi hal biasa. Terlebih lagi persoalan ketidakpuasan terhadap pemerintah desa yang paling besar menyumbang ketidak harmonisan masyarakat desa. Akan tetapi walaupun begitu kegiatan gotong royong masih menjadi budaya disini, segala kegiatan yang ada di masyarakat diputuskan melalui musyawarah dan dikerjakan dengan bergotong royong.

Walaupun sering terjadi perbedaan dan selisih paham yang merupakan hal biasa dalam bermasyarakat namun ada hal yang membuat mereka bisa tertawa bersama, yaitu permainan sepak bola. Di desa Engkerengas tak memandang wanita dan pria baik anak-anak hingga kakek-kakek sering membahas permainan ini. Menjadi hal mudah untuk membaur dengan masyarakat disini cukup pandai bermain bola dan tahu seluk beluk permainan ini.

Pada 3 bulan pertama saya mengadakan pertandingan futsal untuk desa, selama ini mereka hanya bermain sepakbola belum pernah melakukan pertandingan futsal, ku buka pendaftaran banyak yang mendaftar karena penasaran namun ada juga yang malu untuk mendaftar karena malu jika nanti ditertawakan dalam pertandingan. Hingga pertandingan dimulai ramai penonton yang datang bahkan ada yang berjualan disekitar lapangan sorak sorai penonton tua muda baik wanita maupun pria, tak jarang gelak tawa pecah membahana jika ada salah satu pemain yang terjatuh, semua larut dalam tawa lupa akan segala perbedaan dan peselisihan.

Itulah kehebatan si kulit bundar menyatukan masyarakat desa ini, bahkan jika ditanya anak-anak sekolah yang laki-laki tentunya kebanyakan mereka suka dan bercita-cita menjadi pemain sepak bola terkenal. Sehingga akupun terinspirasi untuk mengadakan latihan sepak bola sekali sepekan setiap usai shalat ashar, akupun tak pandai dan tahu banyak teknik permainan sepak bola namun semua itu bisa berjalan sambil belajar banyak konten you tube dan aku telah memesan buku teknik-teknik dasar bermain sepak bola yang bisa ku ajarkan pada mereka yang belum tentu juga teknik itu aku kuasai sendiri, tapi melihat antusiasme mereka dalam latihan membuat aku malu jika menyia-nyiakan semangat mereka.

Komentar

komentar