Sepenggal kisah di Bumi Raflesia

Sepenggal kisah di Bumi Raflesia

“Selamat datang pak Adi di desa Jabi” Chusnul Rahmasari, Kepala Sekolah SDN 227 Bengkulu Utara.

Itulah kata sambutan yang pertama kali saya dengar ketika menginjakan kaki di bumi Raflesia Bengkulu Utara. Sebuah kalimat hangat yang penuh harapan, namun sekaligus menggelitik hati kecil saya. Benarkah saya ditempatkan disini? Benarkah saya menjalani selama satu tahun disini? Benarkah saya datang kesini untuk mengabdi? Benarkah saya siap dengan segala suka dan duka yang akan saya temui disini nanti? Entahlah. Saat itu di benak saya masih banyak pertempuran.

Tetapi karena itulah saya ditempatkan dan hadir disini. Berdiri di salah satu daerah indah bagian dari Indonesia. Mencoba mewakafkan diri selama satu tahun, mencoba meninggalkan hingar bingar kota untuk hidup dalam keterbatasan, namun syarat akan inspirasi. Semua untuk satu misi, mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan ikut serta kerja barengan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Dan seiring perjalanan yang saya lalui selama satu tahun di penempatan, satu persatu jawaban mulai muncul layaknya potongan puzzle yang merangkai bingkai kehidupan.

Allah memang sangat istimewa. Dia mewujudkan cita-cita yang pernah saya tuliskan di secarik kertas, bahwasanya saya ingin mencoba mengabdikan diri di daerah pelosok di Indonesia. Hingga pada akhirnya saya berada di Bengkulu Utara. Banyak hal yang saya dapatkan dari pengalaman mengabdi saya selama disini, budaya baru, bahasa baru, dan bahkan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bisa saya temukan di kota-kota besar disana.

 “Apalah artinya sebuah kalimat tanpa spasi”. Dia akan kehilangan maknanya karena hanya berisi timbunan huruf tanpa jeda, tanpa jarak, dan tanpa ruang yang menjadikan kalimat tersebut tak berarti. Hidup juga terkadang seperti itu, sering kali kita terlalu cepat berlari, hingga menangisi atau memaki hari-hari yang telah dilalui. Terjebak dalam rutinitas, terkejar oleh hasrat duniawi untuk sebuah materi. Maka inilah saatnya saya coba untuk mengikuti suara hati dan berefleksi. Sebuah perenungan yang akan mengisi kekosongan batin dari sesaknyaaktivitas yang membelenggu diri.

Ruang inilah yang saya cari. Sebuah ruangan tempat saya bernapas sejenak,dan mulai menggali inspirasi. Saatnya diri ini di-charge kembali hingga baterainya benar-benar penuh. Karena disini saya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan, dan kesabaran. Menempa diri, menjalani kuliah kehidupan selama dua semester, yang jika lulus akan menjadi pelajaran berharga seumur hidup saya. Sebuah pengalaman lahir batin, yang akan selalu dikenang. Setahun mengajar, seumur hidup terinspirasi.

Kawan setiap orang sejatinya bisa menjadi changemaker bagi diri dan lingkungannya. Inilah saatnya jadi tahu, lebih peduli, lalu berbuat aksi nyata. Inilah tangga untuk mengabdi dan menyatukan diri pada Indonesia. Inilah masanya mengenal negeri ini dari sudut yang berbeda. Nikmati, alami, dan lalui, pengalamannya secara langsung. Maka meski banyak rintangan menghadang, inilah waktunya untuk mengatakan “Bengkulu Utara terimakasih atas pembelajaran kece selama satu tahun pengabdian ini”.

Komentar

komentar