membaca

Semangat Mendisplay Guruku

Oleh: Hani Karno. 

Menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan sering luput dari perhatian pendidik. Sehingga pajangan edukatif yang tersedia umumnya “hanya” gambar-gambar usang pahlawan yang

kadang keberadaannya jarang diapresiasi dalam pembelajaran. Tidak jarang gambar-gambar pahlawan itu dipajang dan tidak pernah dijadikan topik dalam KBM, sehingga pajangan tersebut teronggok begitu saja dan dipajang ditempat yang sama dalam kurun waktu yang sangat lama. Coba amati, apakah di kelas Anda masih terdapat pajangan yang sama dengan usia lebih dari tiga tahun sementara keberadaannya sendiri jarang kita bahas?

Display kelas yang semarak, selain menambah nilai estetika juga harus dapat menstimulan kecerdasan anak. Suasana kelas yang atraktif selain menambah nilai keindahan kelas juga mampu menyampaikan pesan tertentu kepada anak. Dengan kecanggihan teknologi dan kecukupan finansial sekolah, display kelas bisa diperoleh dengan mudah (instan), tapi tentu dari proses instan tersebut kita telah mengesampingkan nilai kreativitas dan kerja sama. Mengapa demikian? Karena idealnya, display memang dikerjakan oleh siswa dengan bimbingan guru. Acara mendisplay bersama tentu akan menstimulan siswa untuk bisa mengesplorasi idenya, bermain dengan warna dan proporsi, team work, kesabaran dan tentu saja aspek kognitif.

Dari pengalaman dilapangan, umumnya guru tidak asing lagi dengan hasil kretifitas untuk membuat ruang kelas menjadi nyaman. Semua guru minimal pernah melakukan kegiatan ini. Akan tetapi umumnya mereka tidak mengenal istilah “Display”. Display yang masuk dalam kegiatan pembelajaran diharapkan bersifat informatif, evaluatif (siswa dengan sendirinya akan membandingkan hasil kerjanya dengan hasil kerja temannya sehingga dia bisa melakukan self evaluation tanpa harus ditunjukan oleh guru) dan sebagai bentuk apresiasi atas hasil kerja siswa.

Dilapangan, kegiatan mendisplay diakui atau tidak, menimbulkan rasa keasyikan tersendiri bagi guru dan siswa. Proses kreatif ini diawali oleh sebuah imaginasi dari yang kontekstual, karena display sendiri berpijak dari materi pembelajaran dengan muara sebuah produk pajangan hasil karya siswa atau hasil belajar siswa. Lantas guru mengisi Lembar Rencana yang merigidkan identitas display. Perlengkapan yang dibutuhkan, apa yang akan dilakukan, dan menuangkan imaginasi rekaan gambar dalam sebuah sketsa adalah proses yang akan menggiring guru pada eksekusi kegiatan mendisplay.

Kegiatan mendisplay secara langsung menuntut guru mengeluarkan kecerdasan spasialnya (Menurut Andi Yudha kecerdasan spasial adalah kecerdasan yang melibatkan imajinasi aktif yang membuat seseorang mampu mempersepsikan warna, garis, dan luas, serta menetapkan arah dengan tepat). Umumnya dititik inilah guru sering merasa kesulitan dan sejatinya hal tersebut bisa disiasati dengan keberanian untuk terus mencoba dan mempelajari tekniknya. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa ada semangat dan suka cita yang terpancar ketika kegiatan ini dilakukan. Baik guru atau murid bisa memadukan kecerdasan spasial, kinestetik, kecerdasan intrapersonal dan kegiatan interpersonal.

Kegiatan display bisa dijadikan sebagai ajang “rekreasi” edukatif karena dalam proses mendisplay siswa tidak melulu harus terkurung di bangkunya. Kegiatan ini juga menuntut terjadinya komunikasi yang efektif antarsiswa. Dan tentunya yang paling penting adalah sebuah upaya untuk mendorong siswa melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin karena hasil belajar atau hasil karya anak akan dipajang, hal ini secara tidak langsung akan menciptakan suasana kompetitif.

Fakta dilapangan pemajangan display yang atraktif secara langsung bisa menarik perhatian anak dan mengapresiasi pajangan tersebut dengan celoteh-celoteh riang. Display yang dipajang harus mempertimbangkan estetika sehingga suasana tidak saja semarak akan tetapi cantik. Display adalah sebuah tantangan bagi guru untuk mengukur tingkat kreatifitasnya, karena idealnya display memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi atau reuse.

Mendisplay adalah proses kreatif sekaligus edukatif. Bagi guru, pada kegiatan inilah Anda diperkenankan untuk menemui siswa dengan berperan sebagai Affandi sang maestro lukis Indonesia ketika siswa kita mencoretkan sesuatu atau Anda akan menemukan kelahiran kembali Taufik Ismail dari coretan puisi karya anak yang didisplay. Jadi, Guru Indonesia dengan kesungguhan Anda mendisplay, Anda akan menjadi “bidan” bagi kelahiran –minimal– seniman cerdas bangsa Indonesia.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044