Selalu Ada Secercah Cahaya di Dunia

Selalu Ada Secercah Cahaya di Dunia

Oleh: Kitty Andriany

Tentang duniaku. Sebuah istana yang tak begitu megah. Ia adalah tempat tawa-tawa kekanakanku bertengger. Wadah kenakalan-kenakalan kecilku bersemi. Kenakalan yang lugu, lugas dan lucu. Beberapa diantaranya adalah radar kecerdasanku.

Duniaku adalah sebuah istana tanpa raja dan ratu apalagi panglima dan prajurit. Istana mungil di mana aku bisa memainkan peran sebagai raja dan ratu, juga sesekali mengatur strategi sebagai panglima. Aku juga siap berperan menjadi prajurit yang mempertahankan keutuhan istana. Bersama teman-teman aku belajar banyak hal.

Seharusnya aku tak didefinisi berdasarkan cetakan-cetakan instan yang disebut kemajuan zaman. Ah, kenyataannya? Kemajuan zaman yang bagi kebanyakan orang merupakan titik balik untuk maju, ternyata menjadi titik kemunduran bagiku. Istanaku tak lagi sama. Duniaku kini berbeda.

Dunia ini, kata guruku, kini telah rapuh. Aku memang masih tersenyum saat melihat tayangan-tayangan televisi di rumah atau di rumah kerabat, meski tayangannya tak pernah berpihak padaku. Duniaku kini rapuh, walau aku masih bisa bermain saat berita di media menceritakan kemirisan kisah-kisah sebayaku di belahan Indonesia lain. Duniaku kini rapuh, meski aku tetap belajar disaat teman-teman dilumat kekerasan. Duniaku rapuh, sejak senyumku juga teman-teman tak lagi dirawat. Mimpi-mimpi kami tercabik, dilumat gigi kekinian yang tak lagi bersahabat. Dulu, istanaku adalah rumah keceriaan. Tanpa ada ketakutan, pun tangisan adalah sebuah kewajaran. Kini? Ah, terkadang sebuah perasaan yang entah bagaimana aku harus menyebutnya tetiba saja bertamu. Aku bingung harus menjamunya dengan apa. Tak ada yang bisa kusuguhkan selain harapan.

Kalau aku mendengar cerita guru tentang indahnya masa kecil puluhan tahun lalu, kerinduan menyergapku. Aneh, aku merindukan yang belum pernah kutemui. Menyayangkan masa yang kini kupijaki. Tapi guruku bilang, belajarlah merawat dunia kalian sendiri. Agar tak remuk. Guruku selalu mengingatkan, jika kami latah menyanyikan lagu-lagu orang dewasa maka kami harus segera berbalik. Menyiapkan segenap hati dan jiwa mendendangkan lagu-lagu kami yang sudah banyak kami hafal, telah kami telaah maknanya. Jangan ragu, meski orang-orang mulai melupakannya.

Seperti hari ini. Guruku mengajarkan sebuah permainan yang tidak disentuh lagi di zamanku. Guruku menyebutnya dam-dam. Ia juga mengajakku memainkannya. Mengajarkan cara dan strategi memenangkannya. Setelah itu, ia memintaku bermain dam-dam dengan temanku. Bergantian. Berpikir, menemukan strategi. Dan ajaibnya, aku seperti menemukan secercah cahaya di dalam duniaku yang rapuh.

Sebuah harapan kian membuncah saat kubaca tulisan guruku pada selembar kertas putih. Putihnya adalah cinta. Dan tinta tulisannya adalah kerinduan. Harapan duniaku yang menjadi kokoh.

Peluklah dunia rapuhku. Agar kalian dapat memahami sebuah rasa yang entah harus kusebut apa. Peluklah perlahan dan lembut seperti cara kalian membersihkan kaca yang berdebu. Jangan terlalu erat memeluknya supaya ia tak retak dan pecah. Tapi juga tak perlu mendekapku dengan kelembutan yang keterlaluan agar ia tak penuh bercak warna yang belum saatnya.

Jika tak mampu memeluk dunia rapuhku, maka setidaknya jangan remukkan dengan genggaman kejam. Sebab, semua kita bertumbuh dari duniaku. Setiap kita memijakinya, baik akhirnya terhenti ataupun melewatinya.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.