Sekolahku Adalah Surgaku

Sekolahku Adalah Surgaku

Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa setelah rumah yang sesungguhnya sehingga guru menjadi orang tua di sekolah yang tugasnya bukan hanya mengajar di kelas tetapi juga mendidik dan membentuk karakter siswa. Para guru diharapkan bisa menjadi role model bagi siswa baik dari segi penampilan, perkataan maupun prilaku. Guru juga harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa agar siswa merasa terlindungi dari bullying, pencurian, kenakalan remaja, bolos dan lain-lain.

Seperti halnya di MIS Tonggorisa, salah satu Sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jika dilihat  secara fisik,  sekolah yang berdiri sejak tahun 1965 ini masih terdapat banyak kekurangan. Tidak adanya ruang perpustakaan, minimnya buku bacaan dan bangunan sekolah yang sudah tua tidak menyurutkan semangat siswa dan guru untuk tetap belajar. Pembiasaan membaca surat Yasin setiap hari Jumat di depan kelas sangat membantu siswa agar dapat membaca Al-Quran dengan baik.

Seorang kepala sekolah adalah pimpinan tertinggi di sekolah, segala keputusan dan kebijakan yang dibuatnya selalu bertujuan memajukan nama baik sekolah di mata masyarakat terkhusus di lingkungan sekolah itu berada. Interaksi dengan warga sekolah adalah kunci utama keberhasilan kepemimpinan di sekolah karena  interaksi yang baik tentu saja menjadikan jalinan komunikasi yang baik pula.

Interaksi dengan guru maupun siswa yang berkelanjutan dapat menciptakan suasana yang harmonis di lingkungan sekolah dan suasana harmonis yang tercipta di sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk dikunjungi atau sekolah menjadi surga bagi seluruh warga sekolah. Lalu bisakah semua kepala sekolah membuat ada surga di sekolah? Atau Bagaimana menciptakan nuansa sekolah yang sangat dirindukan oleh semua warganya?

Tulisan “Sekolahku adalah surgaku” yang ada di dinding MIS Tonggorisa seolah menjadi pemacu semangat dan pemantik energi positif bagi siapapun yang membaca tulisan tersebut dan menyadari bahwa bangunan sekolah atau fasilitas yang ada di sekolah bukanlah faktor utama untuk terciptanya suasana sekolah yang harmonis. Bekerja dengan hati adalah realisasinya. Langkah awal yang harus dilakukan adalah niatkan dalam hati pada saat kaki akan melangkah dari rumah dengan berdo’a agar apa yang akan kita kerjakan sehari penuh Allah berikan keberkahan. Berdo’a ini hal yang sangat mudah tetapi kadang-kadang terlupakan. Biasanya karena terburu-buru.   Kebiasaan  guru-guru untuk datang lebih awal dari anak-anak agar mereka pada saat tiba di sekolah sudah disambut oleh guru sebagai pengganti orang tuanya di sekolah. Berikan senyuman manakala mereka datang. Sambut anak dengan belaian yang nyaman pada saat mereka memberi salam. Giring mereka memasuki pembelajaran yang menyenangkan bukan pembelajaran yang menakutkan. Dengan demikian akan membuat guru selalu dirindukan oleh anak didiknya dan sekolah pun bisa menjadi surga bagi siswa.

Komentar

komentar