Latar Belakang

The Learning Curve Pearson 2014, sebuah lembaga survey pendidikan dunia, memaparkan jika Indonesia menduduki posisi bontot alias akhir dalam mutu pendidikan di seluruh dunia. Indonesia menempati posisi ke-40 dengan indeks rangking dan nilai secara keseluruhan yakni minus 1,84. Sementara pada kategori kemampuan kognitif indeks rangking 2014 versus 2012, Indonesia diberi nilai -1,71. Sedangkan untuk nilai pencapaian pendidikan yang dimiliki Indonesia, diberi skor -2,11.

Hasil Riset Center for Social Marketing (CSM), berkaitan dengan jumlah buku yang dibaca dalam 1 tahun, Indonesia 0 buku. Padahal negara lain seperti Amerika Serikat (32 judul buku), Belanda (30 buku), Prancis (30 buku), Jepang (22 buku), Swiss (15 buku), Kanada (13 buku), Rusia (12 buku), Brunei (7 buku), Singapura (6 buku), dan Thailand (5 buku). Jika membaca buku saja tidak menjadi budaya, bisa kita bayangkan kualitas sumber daya manusia di suatu negeri.

Kemampuan membaca siswa di Indonesia menduduki urutan ke-69 dari 76 negara di dunia yang disurvei oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2015, kalah jauh dengan Vietnam yang menduduki posisi ke-12 dari total negara yang disurvei

Keberhasilan pendidikan di suatu negara terletak dari bagaimana institusi pendidikan atau sekolah menjalankan proses secara berkualitas. Data menyebutkan bahwa di Indonesia dari 146.052 sekolah dasar hanya 8 sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP), dari 20.918 SMP hanya 8 sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dari 8.036 SMA hanya 7 sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Selain itu, PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan) pun merilis data bahwa 70% dari 250 kepala sekolah tidak kompeten, 400 kepala sekolah lemah dalam hal manajerial dan supervisi. Berdasarkan data tersebut, perlu ada upaya komprehensif untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia.

Perbaikan ini dapat dimulai dari satuan pendidikan yang paling bawah, yakni institusi sekolah. Sekolah di Indonesia perlu ditingkatkan kapasitasnya agar mampu menghadapi tantangan di masa depan yang akan jauh lebih kompetitif. Salah satu upaya untuk menjawab permasalahan tersebut Dompet Dhuafa Pendidikan menginisiasi program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan pemberikan pelatihan dan pendampingan terhadap kepala sekolah dalam satu wilayah secara tersistematis dan terukur.

Sejarah SLI

Sejak tahun 2010 program pendampingan sekolah ini mengusung nama Sekolah Cerdas Literasi. Program ini yang tersebar di 30 provinsi, terbentang dari Sumatera hingga Papua. Sembilan titik di antaranya adalah sekolah yang berada di wilayah perbatasan Indonesia yakni Natuna (Kepri), Bengkayang (Kalbar), Rote (NTT), Maluku, Talaud (Sulut), Merauke (Papua), Nunukan (Kaltara) dan Kepulauan Meranti (Provinsi Riau).

Program pendampingan sekolah yang sudah berjalan 5 tahun, kemudian melakukan transformasi menjadi program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dan pertama kali diluncurkan pada tanggal 04 Juli 2015 di salah satu sekolah pendampingan di Cianjur. Saat itu program dilaksanakan tanpa adanya penempatan konsultan secara intensif mendampingi sekolah. Dua tahun berikutnya tepatnya pada tanggal 31 Januari 2017 program SLI menempatkan Konsultan Relawan (Kawan SLI) sebagai fasilitator program di daerah yang berperan sebagai trainer, coach dan konsultan sekolah.

Sebelum melaksanakan tugasnya di daerah penempatan, Kawan SLI terlebih dahulu diberikan pembekalan dan pendampingan akademis serta penguatan karakter yang sesuai dengan value Dompet Dhuafa Pendidikan

Program SLI

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) adalah program dari Dompet Dhuafa Pendidikan yang bertujuan untuk mewujudkan model sekolah berkualitas yang berkonsentrasi pada peningkatan kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi.

Upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap kepala sekolah dalam suatu wilayah. Program SLI diadakan secara terstruktur dan berkala serta memiliki kesinambungan dalam hal implementasi secara praktis di lapangan.

Program SLI juga mengoptimalkan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar, sehingga diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi siswa dan guru. Selain itu, Program pemberdayaan masyarakat juga sangat dibutuhkan guna menunjang kebutuhan literasi di masyarakat melalui optimasi peran TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang berada di wilayah program.

Sebaran Program

Sejak tahun 2015, Program SLI sudah mendampingi total 68 sekolah yang tersebar di kota/kab tersebut;

1. Jabodetabek 2. Jawa Barat 3. Kab. Kapuas Hulu 4. Kab. Nunukan 5. Kab. Malaka 6. Kab. Meranti 7. Kab. Indragirihulu 8. Kab. Konawe Selatan 9. Kab. Muratara 10. Kota Medan 11. Kab. Serang 12. Kab. Manggarai Barat 13. Kab. Polewali Mandar 14. Kab. Sanggau 15. Kab. Bengkulu Utara 16. Kab. Halmahera Selatan 17. Kota Semarang 18. Kota Surabaya 19. Kab. Saumlaki 20. Kab. Bima

2015 sebanyak 6 sekolah
2016 sebanyak 18 sekolah
2017 sebanyak 23 sekolah
2018 sebanyak 33 sekolah

Keterangan :

• Jumlah tersebut adalah penambahan sekolah per-tahun

• Dari hasil evaluasi beberapa sekolah sudah dimandirikan / tidak didampingi di tahun selanjutnya

• Total sekolah yang masih didampingi sampai tahun 2019 adalah 58 sekolah

Target Program SLI

Program ini hadir untuk membantu pembentukan dan peningkatan performa sekolah lewat proses pendampingan bagi kepala sekolah dan guru. Program ini mengembangkan peningkatan kualitas sekolah berbasis pada Metode Uswah yang memiliki 6 kriteria sebagai berikut;

1. Kecakapan Literasi, 2. Kualitas Pembelajaran, 3. Kepemimpinan Pembelajaran, 4. Lingkungan Belajar yang Kondusif, 5. Pembentukan Karakter/Akhlak, dan 6. Kepemimpinan Pendidikan

Adapun yang menjadi target Program Sekolah Literasi Indonesia ini adalah sekolah mengalami kenaikan minimal 100 skor (dalam 1 tahun) dari skor sebelumnya berdasarkan alat ukur yang dibuat dan dikembangkan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan.

Peran KAWAN SLI

Untuk mencapai target program yang diharapkan tersebut, program SLI memberdayakan Kawan SLI sebagai pendamping sekolah di wilayah program. Kawan SLI adalah SDM yang dipilih secara profesional memalui proses seleksi secara nasional dan Kawan SLI terlebih dahulu diberikan pembekalan dan pembinaan. Setelah melalui proses seleksi dan pembinaan, Kawan SLI siap untuk ditempatkan selama satu tahun di daerah penempatan. Adapun peran Kawan SLI adalah:

Sebagai Trainer, memberikan pelatihan kepada kepala sekolah dan guru sesuai dengan kurikulum pembinaan yang telah disusun sesuai dengan kebutuhan program Sekolah Literasi Indonesia.

Sebagai Coach, menjalankan fungsinya menjadi pendamping bagi para kepala sekolah dalam menyelesaikan permasalahan di sekolah sesuai dengan panduan program yang dibuat.

Sebagai Konsultan, menyampaikan masukan ide dan gagasan yang membangun guna meningkatkan kualitas sekolah. Ide dan gagasan yang dimaksud adalah hasil dari diskusi dan berdasarkan dari arahan pengelola SLI.

Sebagai Relawan, melihat potensi yang terdapat di masyarakat kemudian melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis sekolah dengan mengoptimalkan atau menginisiasi TBM (Taman Bacaan Masyarakat) dengan melibatkan guru atau tokoh lokal yang potensial.

Tugas KAWAN SLI

Melakukan seleksi sekolah di wilayah program

Sebagai awalan pelaksanaan program, Kawan SLI akan melakukan seleksi untuk sekolah-sekolah yang akan menerima program SLI. Seleksi dilakukan di masing-masing wilayah program.

Memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kepala sekolah

Sekolah-sekolah yang lolos seleksi, kepala sekolahnya akan diberikan pelatihan intensif sebagai upaya untuk peningkatan kapasitas diri. Setelah selesai pelatihan, Kawan akan mendampingi kepala sekolah tersebut dalam menimplementasikan program/hasil pelatihan di sekolah.

Memonitoring dan mengevaluasi pelaksanaan program di sekolah

Kawan SLI secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan dan ketercapaian program di sekolah dampingan.

Mengoptimasi TBM/komunitas baca di masyarakat

Kawan SLI melakukan asesmen di wilayah program untuk melakukan pengembangan TBM. Kawan SLI bersama penggerak setempat mengoptimasi TBM tersebut menjasi pusat belajar masyarakat.