Sekolah (Harus) Tanggap Bencana

Dampak Bencana

Sepanjang tahun 2018 Indonesia mengalami banyak bencana alam. Mulai dari Tsunami di Palu, hingga yang terbaru Tsunami di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam lalu. Selain itu tercatat dari awal hingga akhir 2018 Indonesia juga banyak dilanda bencana alam lain seperti gempa, longsor, gunung meletus dan sebagainya. Mengutip dari laman resmi Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat telah terjadi 2.308 kejadian bencana yang menyebabkan 4.201 orang meninggal dunia dan hilang. Sementara 9.883.780 lainnya terdampak dan mengungsi akibat bencana alam tersebut. Selain itu bencan alam juga telah mengakibatkan 371.625 rumah mengalami kerusakan

Terjadinya bencana alam tentunya mempengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan. Berdasarkan data yang dikompilasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada bencana gempa yang menimpa Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat 218.224 peserta didik yang terdampak bencana. 33 di antaranya meninggal dunia, 29 harus menjalani rawat inap, dan 36.902 peserta didik lainnya mengungsi. Selain itu bencana Gempa dan Tsunami di Palu menurut data yang di rilis dari Kemendikbud bahwa sebanyak 2.736 sekolah terkena dampak.

Indonesia berada di kawasan “Cincin Api” yang berarti potensi bencana di Indonesia sangat besar. Faktanya adalah 80% gempa bumi, gunung meletus dan tsunami yang terjadi di seluruh dunia adalah berasal dari kawasan “Cincin Api”. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dihindarkan tetapi harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya, sehingga sebelum bencana, saat bencana maupun sesudah terjadinya bencana dapat diminimalisir dampak negatif dan resiko kerugiannya. Berada di kawasan “Cincin Api” seperti menunggu bom waktu meledak, karena tidak dapat diprediksi kapan dan dimana bencana tersebut akan terjadi. Pilihannya adalah apakah kita hanya menunggu atau bersiap diri untuk menghadapi ledakan tersebut.

Serius Menanggapi Bencana

Berbicara tentang penanganan bencana alam, Jepang adalah salah satu negara yang sangat fokus memperhatikan persoalan tersebut. Tanggal 17 Januari 1995 merupakan mimpi buruk bagi Jepang karena 6.434 penduduknya menjadi korban keganasan Gempa berkekuatan 6,9 SR. Sadar betul akan dampak destruktif dari gempa bumi, Jepang segera melakukan evaluasi besar-besaran. Para peneliti mengungkap bahwa gempa besar pada 1995 itu disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi. Hal ini, sulit rasanya membayangkan ada sebuah teknologi yang mampu menghentikan aktivitas lempeng bumi yang terus aktif bergerak. Namun, teknologi masih bisa dimaksimalkan untuk melakukan fungsi peringatan dini sehingga risiko bencana dapat dikurangi. Generasi anak-anak Jepang pasca-gempa 1995 akrab dengan latihan mitigasi bencana gempa bumi. Ketika alarm peringatan berbunyi, anak-anak di sekolah mulai mencari tempat berlindung di kolong meja guna melindungi diri dari reruntuhan barang dan material bangunan. Latihan mitigasi tersebut dilakukan setiap bulan, Tujuannya adalah untuk membiasakan anak-anak sekolah merasakan sensasi gempa sehingga ketika gempa terjadi anak-anak lebih cepat mengambil langkah penyelamatan diri. Ada pula aturan yang mewajibkan sekolah dengan dua lantai atau lebih dilengkapi jalur evakuasi yang dapat dipakai anak-anak untuk menuju ke tempat aman. Sekolah juga bisa menjadi penampungan dadakan ketika rumah para siswa rusak akibat gempa. Hal ini yang membuat Jepang menjadi Negara yang paling siap dalam menghadapi bencana.

Misalnya ketika tsunami besar melanda Kamaishi di Prefektur Iwate Jepang pada 11 Maret 2011. Tsunami yang begitu dahsyat, tercatat ketinggian gelombang tsunami tersebut mencapai 40 meter. Hampir 3.000 siswa sekolah dasar dan menengah pertama selamat berkat pendidikan mitigasi bencana. Bahkan dari hampir 1.000 korban jiwa di Kamaishi, hanya lima anak-anak usia sekolah saja yang meninggal dunia. Itu pun karena mereka berada di tempat yang jauh dari sekolah dan tak terjangkau regu penyelamat. Kunci keberhasilan Jepang dalam penanganan bencana adalah integrasi sistem mulai dari pra, saat dan pasca terjadinya bencana. Sebagai contoh, saat seismograf mendeteksi adanya pergerakan lempeng yang menyebabkan terjadinya gempa bumi maka setiap operator seluler dan layanan publik memberikan peringatan dini (Disaster – Early Warning System). Sebagai pelajaran yang dapat diambil dari Negara Jepang adalah bahwa meskipun bencana telah mengakibatkan penderitaan fisik, ekonomi, dan emosional, namun mereka mampu segera bangkit dari keterpurukan melalui penanganan bencana yang cepat dan efektif.

Cara Sekolah Siaga Hadapi Bencana

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi bencana adalah memberikan pemahaman terhadap masyarakat terkait upaya penyelamatan diri saat terjadinya bencana alam. Dalam hal ini, sekolah memegang peranan penting dalam memberikan pengetahuan tentang kebencanaan terhadap masyarakat. Seperti pepatah yang mengatakan “sedia payung sebelum hujan”. Sekolah di Indonesia harus memiliki standard layanan dalam menghadapi bencana. Standard tersebut setidaknya menjadi acuan bagi sekolah ketika terjadi bencana. Selain pemahaman terhadap langkah penyelamatan diri saat bencana, layanan pendidikan bagi siswa harus tetap diberikan pasca terjadinya gempa. Setidaknya sekolah memiliki empat fungsi dalam menghadapi bencana, yaitu (1) Fungsi Penyadaran – Awareness. Mau tidak mau, suka tidak suka, saat terjadi bencana tidak ada yang dapat untuk negosiasi, pilihannya adalah kita harus betul-betul siap untuk menghadapinya. Kesiapan ini harus diimbangi dengan pemahaman menghadapi bencana alam. Fungsi penyadaran ini adalah sebagai upaya pemberian pemahaman dan kesadaran masyarakat khususnya siswa dalam mempersiapkan diri dalam penghadapi bencana alam. Sehingga saat terjadinya bencana alam, masyarakat tidak gagap untuk melakukan penyelamatan diri. Upaya sekolah dalam melakukan fungsi penyadaran tersebut tidak dapat bekerja sendiri, harus mampu melibatkan berbagai pihak terutama pihak yang mampu dan memahami tentang penanganan bencana alam. (2) Fungsi Penyelamatan (Savety). Sekolah harus siap dalam upaya penyelamatan, untuk itu perlu dibuat sistem penyelamatan diri. Contoh sederhananya adalah pembuatan jalur evakuasi di sekolah dan penentuan titik kumpul saat terjadi bencana. Sehingga sekolah tidak kesulitan untuk mengkoordinir siswa untuk melakukan penyelamatan diri. Selain itu sekolah perlu membuat mekanisme dalam memberikan peringatan dini saat bencana, sehingga dapat meminimalisir korban dan kerugian. (3) Fungsi Pemulihan (Recovery). Hal yang sering terlupakan saat terjadinya bencana adalah proses pemulihan pasca terjadinya bencana alam. Banyak yang beranggapan yang penting adalah selamat dulu, prinsip tersebut bukan tidak benar tetapi kurang tepat. Hal yang sangat berat menghadapi bencana adalah pasca bencana. Pasca bencana semuanya dapat kembali ke nol, orang yang awalnya berdaya, seketika menjadi tidak berdaya. Proses pemulihan ini yang kemudian menjadi aspek penting yang sering terlupakan. Dalam hal ini sekolah memiliki fungsi sebagai pemulihan, tujuannya adalah menormalkan kembali semua aktivitas. (4) Fungsi Layanan (Service). Fungsilayanan ini sangat berkaitan dengan fungsi pemulihan, hal yang harus diperhatikan saat melakukan fungsi pemulihan adalah memastikan saat proses pemulihan semua layanan pendidikan tetap dapat terlaksana. Hak anak untuk mendapatkan pendidikan pasca terjadinya bencana alam adalah sifatnya wajib. Fungsi layanan ini juga memberikan harapan kepada terdampak supaya lebih siap kembali dalam menghadapi kehidupan.

Dari ke-empat fungsi tersebut yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya kita selalu mendapat pelajaran berharga dalam menghadapi bencana. Sehingga kita selalu lebih siap dalam menghadapi bencana yang mungkin akan terulang kembali. Karena sesungguhnya bencana bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi.

Kontributor : Muh. Shirli Gumilang (Spv. Sekolah Literasi Indonesia)

Komentar

komentar