Guru Memang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Meski terlihat sangat sederhana, menjadi seorang guru bukan pekerjaan yang mudah. Guru memegang amanah besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana tugas utamanya adalah mengajar, mendidik dan melatih. Anak-anak yang diajar, dididik dan dilatih pun merupakan anak2 yang memiliki perbedaan, baik itu terkait sifat, karakter, kebiasaan maupun cara belajar dan lain sebagainya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang guru apalagi jumlah siswa yang dihadapi tiap hari itu bukan 3-4 orang, tapi ada puluhan siswa.

Dalam perjalanannya pun guru terkadang menghadapi berbagai tantangan hidup yang dapat menyurutkan semangat dedikasi mereka, seperti jarak sekolah yang jauh dari rumah dengan kondisi jalan yang rusak parah, insentif yang tidak sepadan dengan perjuangannya, fasilitas penunjang belajar mengajar yang sangat minim, sampai pada masalah2 lainnya yang menguras banyak energi dan materi.

Tapi semua rintangan tersebut sama sekali tidak menghalanginya untuk terus menebar ilmu. Seperti kisah pengabdian guru yang satu ini.

Ibu Asifah nama lengkapnya, disapa ibu ifa oleh teman guru dan muridnya sebagai panggilan keakraban. Beliau adalah wanita paruh baya kelahiran sulawesi yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi dan menebar benih kebaikan di MIAS filial Sungai Batang, skarang beliau menjabat sebagai wali kelas 3.

Sebelum sekolah punya gedung sendiri beliau menggelar pendidikan dibawah kolom rumah warga. Beliau mengaku, sempat mentadapat teguran dari pihak kemenag karna aksinya tersebut. Namun proses pembelajaran itu terus beliau lanjutkan demi kebutuhan pendidikan anak-anak yang ada di dusun sungai batang.

Setelah 2 tahun beliau mengajar dibawah kolom rumah bersama dengan sang suaminya, akhirnya beliau berdua bertekad untuk mendirikan sebuah sekolah. Berbagai cara dilakukan oleh sepasang suami istri ini agar dapat mendirikan sekolah yang mereka cita-citakan, akhirnya pada tahun 2006 beliau diberikan rezeki dan kekuatan oleh sang ilahi hingga mampu mendirikan sebuah sekolah. Meskipun sekolah tersebut terbangun seala kadarnya, tapi beliau merasa sangat bahagia karna memiliki tempat yang dapat menampung anak-anak untuk belajar.

Ketika ditanya oleh kawan SLI tentang hal yang melatar belakangi semangat aksinya tersebut, beliau menjawab. ” saya tidak mengharapkan gaji, saya hanya berharap agar anak-anak disini mendapatkan pendidikan seperti anak-anak ditempat lain.” Andaikan saja dulu saya berhenti mengajar saat ditegur oleh pihak kemenag, saya tidak tahu gimana nasib anak-anak hari ini, lanjutnya.

Sampai hari ini, ibu Asifah hanya mendapatkan insentif Rp. 200.000 per tiga bulan, jika dipikir-pikir apa yang beliau peroleh itu sangat tidak sesuai dengan jerih payahnya selama ini. Mungkin bagi orang lain mereka lebih memilih pekerjaan lain daripada menjadi seorang guru, yah mereka beralasankan insentif guru tidak bisa mencukupi biaya kehidupan sehari- hari. Tetapi hal itu tidak terjadi kepada semua orang, buktinya masih banyak juga orang yang menginginkan menjadi seorang guru, seperti halnya dengan Ibu Asifah.

Bukan cuma itu, jarak dari rumahnya ke sekolah adalah lebih dari 1 kilo. Setiap pagi beliau harus berjalan kaki untuk dapat menemui anak didiknya disekolah jika sang suami berhalangan mengantarnya. Jalanan yang dilewati pun bukan aspal, tapi masih berupa jalan tanah. Tidak heran ketika hujan turun beliau harus membuka alas kakinya agar dapat berjalan karna jalanan licin dan berlumpur.

Tak peduli jalan licin dengan lumpur setinggi mata kaki, ibu Asifah terus melangkahkan kakinya untuk tetap menebar ilmu kepada anak didiknya.

Mari kita renungkan bagaimana perjuangan ibu ini untuk murid- muridnya, dia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan untuk kesuksesan muridnya. tanpa kenal lelah dia memberikan pasokan pengetahuan kepada muridnya. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat, dia habiskan untuk memikirkan muridnya. Bahkan perasaanpun tak jarang dia korbankan, ketika ada murid yang membuatnya marah, dia bersabar menghadapi itu semua, dia balas kelakuan muridnya dengan untaian- untaian nasihat.

Ada banyak sekali kisah – kisah guru inspiratif dan bermanfaat bagi kita tentang perjuangannya dalam mendidik. Kita pun dapat menjadi bagian dari cerita yang akan selalu dikenang oleh lain. Saya mengajak kepada semua guru untuk sama-sama mengukir cerita indah yang akan mengharumkan nama kita lewat perjuangan dan pengorbanan kita dalam menebar benih kebermanfaatan kepada anak didik kita.

                                                                                                                                          Kontributor : Anas Ardiansyah (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Komentar

komentar