Sebelum Lulus Beri Siswa Lingkungan Positif dan Ruangan Aktualisasi Diri

Oleh: Asep Sapa’at

 

Bagi sekolah, alumni bisa menjadi anugerah atau menghadirkan musibah. Anugerah jika alumni punya prestasi yang bisa mengangkat nama baik sekolah. Sebaliknya, musibah jika alumni menjadi dalang di balik tewasnya salah satu siswa di gelanggang perkelahian ala gladiator pada 2016 lalu. Bagaimana sesungguhnya sekolah harus merawat alumninya?

 

 

Ada beberapa catatan kritis dan penting menyoal peristiwa ini. Persoalan pertama, tragedi ini melibatkan dua sekolah elit di Bogor dan rutin dilakukan jelang event kompetisi bergengsi. Dalam konteks peristiwa ini, kita bisa meyakini bahwa budaya kekerasan dan kebencian telah diwariskan antar generasi. Dugaan ini amat rasional karena yang menjadi promotor dari tawuran ala gladiator ini melibatkan alumni dari kedua sekolah tersebut. Apa yang sudah dilakukan sekolah terhadap para alumninya?

 

 

Alumni adalah sosok yang pernah diajar dan dididik di bangku sekolah. Maka, apa yang pernah mereka alami dalam situasi pembelajaran di kelas dan budaya hidup di lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bersikap mereka setelah mereka lulus nantinya.

 

 

Kualitas alumni ditentukan kompetensi dan karakter. Kompetensi ibarat rumput ilalang. Karakter ibarat padi. Menanam padi pasti tumbuh ilalang. Menanam ilalang mustahil tumbuh padi. Mendidik perilaku baik, masih juga terselip keburukan. Perilaku buruk itu akan berkembang sendiri, tak usah diajari. Yang jadi soal, apa yang harus dilakukan sekolah agar kompetensi murid berkembang baik dengan karakter sebagai fondasinya? Komitmen, konsistensi, dan kreativitas sekolah dalam merancang sistem pendidikan yang bisa mengatasi perilaku buruk murid, itulah karya sekolah yang sesungguhnya. Dalam kasus ini, secara tegas kita bisa menyatakan bahwa sekolah belum berhasil membangun fondasi karakter yang kokoh pada diri anak.

 

 

Persoalan kedua, alumni yang diduga jadi otak peristiwa perkelahian, keduanya ternyata pernah mengalami drop out. Kita patut merenung, apakah drop out merupakan pilihan terbaik dari sekolah untuk menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang yang dihadapi anak-anak kita?

 

 

Banyak sekali murid drop out karena merasa terasingkan di sekolah. Ada dua sebab mereka dikucilkan. Bisa karena dianggap bodoh atau nakal. Naasnya, persepsi bodoh dan nakal lebih sering diciptakan dalam ruang persepsi orang tua dan guru. Kuat dugaan saya, kedua alumni yang pernah dikeluarkan dari sekolah merasa terasingkan karena mereka dianggap biang onar saat bersekolah. Terlebih jika kedua anak tersebut dibesarkan dalalm pola asuh orang tua yang disesaki suasana kekerasan secara fisik maupun psikologis.

 

 

Sebenarnya, persoalan rendahnya motivasi belajar dan ketidakdisiplinan anak dalam situasi pembelajaran di ruang kelas menjadi penanda paling akurat untuk mengidentifikasi masalah sejak dini. Anak yang ogah belajar, selalu membuat keributan di kelas, tak menunjukkan disiplin dalam mengerjakan tugas, bolos mengikuti pelajaran, kerap tidak mendapatkan perhatian khusus dari guru-guru di sekolah. Padahal seharusnya guru mempunyai siasat untuk membuat anak merasa mampu untuk belajar. Para guru harus mendesain pembelajaran yang kontektual, bermakna, dan melibatkan semua ranah (kognitif, afektif, psikomotorik) secara total. Hal ini bisa membangkitkan motivasi belajar anak. Pada akhirnya, mereka bisa memiliki persepsi positif tentang diri mereka serta hasil belajar mereka.

 

 

Di sisi lain, persoalan disiplin harus diatasi sedini mungkin. Sikap tak disiplin harus dididik. Jangan sampai anak punya sikap disiplin karena ketidakdisiplinannya. Masalah ketidakdisiplinan bisa diatasi oleh sosok guru pemimpin. Siapa guru pemimpin itu? Mereka adalah figur yang berfokus pada pembenahan karakter dan masa depan anak, menggunakan pengaruh mereka untuk memotivasi anak, dan sangat memahami pikiran dan perasaan anak (Goode-Vick, 1985). Jadi, masalah belajar dan kedisiplinan yang dihadapi anak sebenarnya bisa diatasi di lingkungan sekolah.

 

 

Yang naif, persoalan jadi makin pelik karena anak yang punya masalah dalam hal belajar dan perilaku disiplin di sekolah malah lebih sering diabaikan ketimbang mendapatkan perlakuan yang tepat dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Akhirnya, sikap pengabaian inilah yang membuat masalah makin matang dan besar. Sehingga ungkapan amarah, brutalitas, kebencian yang dirasakan menjadi manifestasi perasaan keterasingan dan pengabaian itu. Menarik untuk mengungkap rekam jejak kedua alumni tersebut, apakah mereka memiliki masalah motivasi belajar dan kedisiplinan saat mereka bersekolah dulu?

 

 

Persoalan ketiga, bagaimana cara kedua sekolah elit tersebut menghentikan tradisi kekerasan yang dilakukan para alumninya? Belajarlah pada SMAN 6 Yogyakarta. Mereka berhasil mengikis tradisi kekerasan dan membangun citra menjadi “The Research School of Jogja”. Apa rahasianya? Semua korps pendidik di SMAN 6 Yogyakarta memiliki pemikiran komperensif bahwa tak mungkin mencegah perilaku tawuran dan kekerasan tanpa memberikan pilihan kegiatan sebagai ruang aktualisasi bagi murid-murid. Tradisi otot mendapat imbangan tradisi akal dan hati. Dengan komitmen dan konsistensi, SMAN 6 Yogyakarta berhasil membangun tradisi baru menjadi sekolah yang memiliki reputasi bagus di bidang penelitian dan karya ilmiah remaja. Cara cerdas dan bijak dalam merawat salah satu aset berharga sekolah, yakni para alumni.

 

 

Tak ada kata mudah bagi sekolah untuk mengatasi setiap kasus tawuran dan kekerasan. Yang lebih tidak mudah lagi adalah melesakkan nilai-nilai sekolah kepada para alumninya. Ada sekolah yang gemar bolak-balik berurusan dengan hukum karena menyelesaikan persoalan tawuran para murid dan alumninya. Ada juga sekolah yang lebih senang bersandiwara menutup semua kasus kekerasan untuk kepentingan pencitraan sekolah.

 

 

 

Ibarat peribahasa, sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Strategi kebijakan SMAN 6 Yogyakarta jelas layak ditiru. Tradisi kekerasan terkikis dan berubah menjadi tradisi penelitian yang unggul. Karena mereka sadar, aset terbaik sekolah adalah alumni. Bagaimana cara terbaik merawat alumni sekolah? Beri mereka lingkungan positif dan ruangan aktualisasi diri saat di sekolah sehingga mereka punya kenangan mengesankan yang takkan pernah bisa dilupakan.

Komentar

komentar