Saya Mencintai Profesi Pustakawan

Saya Mencintai Profesi Pustakawan

Oleh: Dini Wikartaatmadja

Love is blind. Cinta memang buta. Kalimat bernada melodrama ini biasa dinyatakan ekspresi seseorang yang kasmaran,perasaannya hanyut dalam nuansa fanatisme antilogika. Seperti apapun yang dicintai itu menggilakan. Perasaan ini tak berlaku untuk seseorang yang selalu mengedepankan rasionya.

Tak aneh di zaman Kartini banyak kaum muda frustasi berhadapan dengan cinta sejati yang membutakan. Mereka harus tunduk pada titah orang tua. Perasaan itu tersandera jodoh pilihan orang tua. Dengan gampangnya,para orang tua baheula memaksakan kehendaknya dengan nasihat,”Tresno kuwi jalaran kulino.’ Cinta itu karena biasa.

Romantisme filsafat Jawa identik dengan perjalanan saya mencintai profesi pustakawan. Jujur,profesi advokat bak kekasih yang menyelinap di relung batin. Apa hendak dikata, saya pun harus berjodoh dengan dunia perpustakaan alias terpaksa menjadi mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan. Kurang percaya diri karena acap kali mendapat cibiran,memangnya ada, ya jurusan itu;mau jadi apa tuh kalo kuliah kayak begitu,beresin buku?

Jujur,saya sering sekali absen kuliah. Memilih hadir di kuliah jurusan lain lebih enak rasanya. Saya pun sering memilih meghadiri seminar-workshop di sekitar kampus dengan narasumber dari dalam maupun luar negeri. Wajar,banyak teman dan dosen “mencap” saya sebagai mahasiswi salah jurusan. Namun demikian, saya tetap berusaha bertanggung jawab dengan kuliah. Pasalnya,biaya kuliah dari kocek sendiri.

Akhirnya sadar, saya tidak boleh berlama-lama acuh. Jurusan ini memang takdir. Allah memberikan pencerahan lewat Sulistyo Basuki,dosen yang dikenal sebagai mahaguru yang telah menuliskan ratusan artikel dan puluhan buku tentang Ilmu Perpustakaan. Beliau mengabarkan jika pada November 2008 lalu ada Kongres Internasional, World Congress of Muslims Librarians and Information Scientists (WCOMLIS) di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya mengambil risiko untuk hadir di kongres tersebut bersama teman saya Hana Mardliyyah. Hati saya tergerak teguh meraih “Ruh Kepustakawanan” yang hilang hingga semester enam.

Di sana, kali pertama bertemu dengan para pustakawan mancanegara. Mereka sudah lama sekali menjadi pustakawan. Saya mewawancarainya saat coffee break atau makan siang. Testimoni mereka menjalani profesi ini sebagai penggilan hati,sama halnya dengan profesi guru atau dokter terpanggil melakukan pelayanan masyarakat.

Sepulang kongres semakin bersemangat mengikuti kuliah;tak bosan bolak-balik pula meminjam literature tentang perpustakaan dari para dosen. Saya pun mendapatkan kesempatan untuk hadir di Congress of Southeast Asian Librarians (CONSAL) tahun 2009 di Hanoi,Vietnam. Kali itu saya bertemu dengan pustakawan yang luar biasa memberikan inspirasi,John Hickok seorang pustakawan California State University Fullerton. Sosoknya sederhana,kurus,tinggi, rambut pirang dengan belahan pinggir serta senyum yang selalu menghiasi wajah,membuat sosoknya selalu dikerumuni para peserta kongres. Gayanya yang enerjik-berwawasan luas membuat saya memahami sosok pustakawan sesungguhnya. John Hickok pun menjelma menjadi salah satu role model saya.

Pekerjaan atau Karier?

Saya pun mulai memahami konsep pekerjaan dan karier. Pekerjaan itu alat untuk memperoleh mata pencaharian (gaji). Lebih dari tu pekerjaan juga bisa memberi kesempatan untuk terus tumbuh sebagai pribadi dan professional. Karier merupakan totalitas kehidupan professional seseorang. Karier hanya punya dua tujuan, yakni kebahagian dan makna. Idealnya, karier dijalankan sesuai dengan tuntunan passion (segala hal yang diminati), purpose (segala hal yang paling penting) dan values (hal yang diyakini).

Passion berasal dari kata pathos (bahasa Yunani) dalam bahasa Latin disebut passio yang berarti “sakit”. Passion akan mengajak kita berjalan jauh dan sangat jauh dan juga meminta pengorbanan. Tapi semua itu akan menghasilkan kepuasan. Lebih jauh, Richard St. Cross dalam bukunya 8 To Be Great, mengatakan orang yang didorong passion akan mau melakukan hal yang disukai, sekalipun ia tidak menerima bayaran. Sedangkan Rene Suhardono, seorang Career Coach menyebutkan bahwa passion adalah anak tangga pertama sebuah perjalanan karier. Pekerjaan adalah alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan alat bagi individu untuk terus tumbuh sebagai pribadi dan profesional. Karier adalah mengenai diri sendiri. Karier bicara soal pemenuhan kebahagiaan dan ketercapaian. Siapa pun bisa dipecat dari pekerjaan, namun tidak bisa dipecat dari karier. Your career is yours. Your career is you!

John C. Maxwell, seorang pakar leadership dunia mengatakan, orang yang menjalani segala sesuatu dengan passion, maka dia akan mampu membawa kehidupan yang lebih baik. Buktinya, Steve Jobs,Bill Gates,Mahatma Gandhi dan BUnda Theresa. Mereka figur yang melakukan segala hal dengan passion secara konsisten. Banyak pengorbanan dilakuakn hingga mereka mencapai posisi mumpuni-berlimpah harta dan popularitas. Namun,kesamaan mereka yakni pilihan mengutamakan kebahagiaan batin atas karya ciptaannya dengan hati juga pelayanan dan cinta. Hasilnya dunia computer lebih berwarna dengan lahirnya Apple. Begitupula dengan hadirnya Microsoft. India bisa lepas dari genggaman Inggris tanpa peperangan serta kaum miskin dan yang berpenyakit jadi memiliki semangat hidup. Karya yang mereka lahirkan abadi mengisnpirasi miliaran manusia di kolong langit ini.

Dunia kepustakawann Indonesia juga punya sosok demikian. Para pustakawan yang menjadikan profesi ini sebagai karier-dijalaninya dengan passion. Sebut saja, Suherman yang akrab disapa Kang Herman. Pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Informasi (LIPI)-Bandung penyandang gelar pustakawan terbaik se Asia Tenggara tahun 2012. Kang Herman menjalani profesi pustakawan sebagai karier dengan banyak melahirkan karya dan menciptakan kegiatan bermanfaat bagi masyarakat. Segala hal yang dilakukan bersandar pada kepuasan batin.

Sosok lain yang juga mengisnpirasi itu seorang Begawan kepustakawanan Indonesia, Blasius Sudarsono. Mantan Ketua PDII/LIPI ini bukanlah dari Jurusan Ilmu Perpustakaan melainkan lulusan Jurusan Fisika. Namun kemudian, karier pustakawannya dirintis penuh perjuangan. Hasilnya, buku-bukunya tersebar di setiap jurusan perpustakaan di Indonesia. Tokoh yang mengusung filosofi kepustakawanan ini banyak mencerahkan para mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan. Passion menggerakkan inspirasi orang di sekitarnya.

Bagaimana dengan kita yang terlanjur menganggap profesi pustakawan sebagai pekerjaan? Silakan saja. Namun, akan lebih baik jika belajar untuk meniupkan passion dalam pekerjaan. Susah dan penuh tantangan pada walnya. Kemudian berbuah manis ketika menjalaninya. Kita akan bersemangat setiap bangun pagi. Masuk kerja dengan wajah berseri-seri,tak sabar berkontribusi. Kemudian seiring berjalan waktu, karya yang luar biasa akan lahir dari tangan kita. Kreativitas dan inovasi akan selalu mengiringi setiap pekerjaan.

Tresno kuwi jalaran kulino. Filosofi ini memang benar. Saya memetik hikmah untuk lebih mencintai profesi sebagai tenaga perpustakaan. Mencintai profesi pustakawan harus memiliki aksesibilitas-keterbukaan wawasan. Dengan cara itu, seorang pustakawan akan menjadi tenaga terampil-profesional. Perpustakaan harus menjadi sentral informasi bagi masyarakat sehingga diperlukan akses dan wawasan dari para pustakawan. Kata kunci passion itu tak lain pula harus ada usaha belajar pada sesuatu yang baru,banyak beramal dan berprestasi.

Saya jadi teringat ucapan Buya Hamka,”Jika hidup sekadar hidup,babi di hutan juga hidup. Jika kerja sekedar bekerja,kera juga bekerja!” Mari menjadi seorang pustakawan dengan passion di dada. Bekerja dengan hati dan terus berenergi membangun literasi di negeri tercinta.

Komentar

komentar