Sampai Kapanpun Ini Sekolah Kami

Sampai Kapanpun Ini Sekolah Kami

Oleh : Syafi’e

Kepala Sekolah SD Negeri 006 Bukit Liman

 

 

 

Sekolahku 6 tahun silam

Sejak saya diminta menjadi kepala sekolah SD Negeri 006 Bukit Liman, timbul niat di hati untuk membangkitkan semangat saya dalam meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah yang saya pimpin. Walaupun kondisi jalan untuk menuju ke sekolah pada saat itu sangat sulit, namun tekad dalam hati saya untuk mengembangkan sekolah kami sangatlah kuat.

 

Pada saat itu pula, saya diteguhkan untuk menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas. Tantangan yang paling terlihat adalah kondisi fisik alam yang sangat tidak bersahabat (jalan yang berlumpur dan licin). Dengan kondisi alam yang seperti itu acap kali memaksa kami (saya dan rekan guru) harus berjalan kaki sejauh 4 km dari tempat parkir motor yang kami gunakan. Tapi hal tersebut itu tidak pernah membuat kami berkata “TIDAK” untuk kemajuan pendidikan di sekolah saya, artinya kami tetap tegar mengahadapi kondisi tersebut dan kami selalu berkeyakinan pasti ada hikmah dibalik semuanya itu.

Saya sadar betul akan peran saya selaku kepala sekolah, peran untuk membangun dan membangkitkan semangat rekan guru untuk berbuat yang terbaik bagi pendidikan di negeri ini. Guru itu adalah tombak keberhasilan dalam membangun bangsa, baik buruknya masa depan bangsa dan negeri ini sangat berkaitan dengan guru.

 

Di sekolah yang saya pimpin, saat itu segala sesuatunya masih belum terorganisir dan belum tertata rapi layaknya sekolah lain di wilayah Kabupaten Natuna. Masih banyak hal yang harus saya benahi antara lain struktur gedung, administrasi, tata ruang, serta lingkungannya.

 

Pada saat itu (tahun 2005) di sekolah yang saya pimpin hanya ada 2 orang tenaga pendiidik dan 1 orang pesuruh jadi jumlah semua berjumlah 4 orang. Jumlah yang sangat sedikit untuk memajukan sekolah, kemajuan tidak bisa dilakukan seperti membalik telapak tangan.

 

Pada saat itu pula kondisi gedung sekolah hanya terdiri dari tiga ruangan, sementara untuk KBM paling tidak harus ada enam kelas. Dengan terpaksa kelas yang semula hanya tiga kelas kami sekat menjadi enam ruangan.

 

Pada tahun 2006, sekolah saya meluluskan anak sebanyak delapan orang. Dalam sambutan pelepasan, saya menegaskan kepada siswa bahwa hendaknya setelah mereka meninggalkan sekolah dan kampung ini senantiasa berjuang untuk melakukan yang terbaik. Kami berharap lulusan kami dapat melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, berjuang untuk meraih prestasi untuk mengharumkan diri dan nama sekolah. Kami selalu menekankan kepada mereka untuk terus melanjutkan sekolah walau sulitnya akses transportasi dari wilayah sekolah kami. Ilmu adalah alat untuk kamu membawa diri. Ternyata ucapan saya di masa itu membuahkan hasil. Anak didik kami dari SDN 006 Bukit Liman ternyata mendapat banyak meraih prestasi di sekolah lanjutan yang baru.

 

Melihat hal itu para guru yang ada disekolah saya mulai giat untuk mengajar, karena setidaknya mereka harus bisa mempertahankan prestasi yang telah diraih. Melihat antusias guru-guru yang ada disekolah, maka saya selaku kepala sekolah akan membuat sebuah kebijakan yang ditulis lewat sebuah visi dan misi sekolah. Adapun Visi dan Missi sekolah kami adalah “KEJARLAH KEMAJUAN RAIHLAH PRESTASI DAN AKHLAK“ .

 

Pada tahun 2009, nama sekolah kami semakin harum dan termasuk salah satu sekolah yang “di segani” di Kecamatan Bunguran Timur Laut dari ragam kegiatan baik dalam prestasi belajar disekolah, lomba-lomba serta kualitas moral dan ahlak para siswanya, saya selaku kepala sekolah merasa bangga sekali.

 

Pada tahun yang sama, sekolah yang saya pimpin mendapat juara 1 pada ujian Nasional UAS-BN di kawasan Kecamatan Bunguran Timur Laut diantara 7 sekolah lainnya. Dalam selang waktu yang tidak begitu lama, pemerintah mengadakan lomba kebersihan melalui diknas Lingkungan Hidup, alhamdulillah kami mendapat juara ke-3 sedangkan pada tahun 2010 kami mendapat juara 2.

 

Saya berpikir dan mengatakan kepada rekan guru “Keberuntungan dan keberhasilan akan kita peroleh bila kita berusaha mendapatkannya”. Oleh karena itu, saya berusaha untuk mengajukan akreditasi sekolah, Alhamdulillah diterima dan datanglah penilik dan penilai dari pusat ke sekolah, kamipun mendapat nilai akreditasi tertinggi diantara tujuh sekolah di Kecamatan Bunguran Timur Laut.

 

Sekolah kami sekarang

Pada bulan Maret tahun 2010 datanglah seorang pria tinggi besar, gagah, dan berilmu yang kuketahui bernama Bimo T. Prasetyo sebagai utusan dari DOMPET DHUAFA PENDIDIKAN, lembaga zakat di Indonesia yang menangani masalah kelemahan pendidikan Indonesia. LPI ini merupakan jejaring dari Dompet Dhuafa yang memiliki kepedulian dalam perbaikan mutu pendidikan Indonesia khususnya sekolah di pulau-pulau terluar Indonesia, termasuk didalamnya Kabupaten Natuna.

Untuk Kabupaten Natuna sendiri, awalnya hanya tiga SD yang masuk dalam sekolah terbaik berdasarkan kualitas hasil belajar siswa, SD tersebut antar lain SDN 006 Bukit Liman (sekolah kami), MI Darul Ulum Ranai, dan SDN 003 Sungai Ulu. Tentu saja saya bangga karenanya. Tetapi, pihak Dompet Dhuafa memilih sekolah yang bukan dari tiga sekolah tadi. Tidak bisa dipungkiri, kami merasa kecewa. Ketiga sekolah yang awalnya dibicarakan akan mendapat pendampingan malah tidak dipilih, hal ini sempat menimbulkan pertanyaan bagi kami. Apa yang kami tidak miliki dibanding sekolah yang dipilih? Namun semua kami terima dengan lapang dada mesti kami berulang kali meminta untuk didampingi.

 

Sejak saat itu SD kami menjadi penerima manfaat dari pelatihan yang difasilitasi oleh Dompet Dhuafa yang dibimbing oleh seorang gadis yang bernama Hani Karno. Sebuah nama yang cantik sekali, orangnya rupawan, berpengalaman, rendah hati, dan kaya akan senyuman. Banyak hal yang kami peroleh dari pelatihan ini, sebagai contoh dalam penyajian materi pembelajaran tentang display yang belum pernah kami berdayakan.

 

Ada kalanya kami minta kesediaan waktunya untuk datang ke sekolah kami untuk mendapat arahannya langsung, kedatangan beliau kami terima dengan tangan terbuka. Disitu pula banyak hal-hal yang kami dapatkan dari seorang Guru Besar untuk memperbaiki diri dalam mengajar.

 

Rencana sekolah kami ke depan

Mulai hari ini dan untuk ke depannya nanti, kami berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di Natuna dan berupaya sekuat mungkin untuk mempertahankan prestasi gemilang yang telah kami peroleh. Sampai kapanpun kami akan selalu haus akan ilmu pendidikan dan memiliki impian yang besar untuk sekolah kami. Kami teladani ilmu, perilaku dan adab yang dituntunkan oleh Rasulullah dan tentunya kami akan mengamalkan ilmu yang kami peroleh dari pendamping yang dikirimkan oleh Dompet Dhuafa.

Bagi saya jiwa kreatif itu ada pada keahlian

 

Jiwai itu ada di keberanian

 

Jiwa inspiratif itu ada di keterampilan Jiwa aktif itu ada di kemauan

 

Serta kebijakan arif itu juga berawal dari pemikiran

Harapan saya ke depan, marilah kita bersama-sama membangun negeri ini tanpa ketergantungan terhadap orang lain. Sebagai kalimat akhir dari tulisan ini, saya akan menuliskan sebuah pesan nasihat “Apabila arah sudah menunjukkan lurus, maka lanjutkanlah, jangan dibengkokan lagi, akan tetapi jika arah menunjuk bengkok maka luruskanlah, jangan dibengkokan lagi “

Komentar

komentar