Saatnya Menghargai Karya Siswa Melalui Display Kelas

Saatnya Menghargai Karya Siswa Melalui Display Kelas

Oleh: Abdul Gani, S.Si

 

Sebuah ruangan tanpa papan informasi terasa gersang. Para siswa ingin sekali memiliki sesuatu yang dapat dilihat pada dinding di sekitarnya. Melalui papan informasi mereka dapat belajar, menemukan sebuah informasi, terinspiras, dan menambah perasaan nyaman di dalam kelas.

 

(Kimberly Steele)

 

Ketika pertama kali saya masuk dan melihat ruang kelas yang dijadikan tempat pelatihan, tidak ada wadah atau tempat tulisan atau pajangan yang bisa dijadikan tempat oleh siswa untuk sekedar melihat-lihat atau berkreasi serta mempelajari sesuatu sebagai daya tarik siswa untuk masuk ke dalam kelas. Dalam ruang kelas itu saya hanya melihat foto wajah para pahlawan terpampang di dinding kelas, itu pun sudah berdebu dan terlihat sudah tidak terawat, entah kapan terakhir kali foto wajah para pahlawan itu dibersihkan. Saya datang ke SDN 004 Ceruk Natuna Kepulauan Riau untuk membagi ilmu kepada teman-teman guru yang ada di sana tentang display kelas.

Ketika saya bertanya kepada guru-guru peserta pelatihan apakah mereka pernah meminta siswanya membuat pajangan kelas? Diantara mereka ada yang menjawab pernah. Salah seorang guru menceritakan bahwa dia pernah meminta siswanya untuk membuat alat peraga berupa alat-alat kesenian. Kemudian saya lantas bertanya kepada guru tersebut,

sekarang di mana keberadaan alat peraga itu? Guru tersebut menjawab, “Di simpan di gudang, Pak!”.

Sungguh ironi memang, ketika kita meminta siswa untuk membuat suatu karya tetapi setelah karya itu selesai dibuat justru disia-siakan dan ‘dibuang’ tanpa pernah dipajang. Kondisi seperti ini yang seharusnya diubah, seorang guru harus bisa menghargai karya siswa mereka dan salah satu cara menghargai hasil karya peserta didik adalah dengan memajang atau memasang hasil karya yang telah dibuat peserta didik.

 

Saya dan para guru peserta pelatihan sepakat bahwa pembelajaran akan berlangsung dengan efektif jika siswa yang kita ajar merasa nyaman berada di dalam kelas. Ada beberapa hal yang dapat menunjang rasa nyaman siswa ketika belajar, dari hasil diskusi saya dengan teman-teman guru peserta pelatihan, dapat disimpulkan ada dua faktor penunjang rasa nyaman siswa. Faktor pertama adalah proses pembelajaran yang berkaitan dengan persiapan guru dan metode yang diterapkan oleh seorang guru dalam mengajar dan faktor kedua adalah kondisi ruang kelas tempat pembelajaran berlangsung.

 

Diskusi saya lanjutkan dengan lebih memfokuskan pada faktor penunjang kedua yaitu apa dan bagaimana strategi untuk membuat lingkungan belajar dalam kelas agar nyaman bagi para peserta didik. Dalam pelatihan itu saya menyampaikan bahwa salah satu strategi untuk mendukung rasa nyaman siswa di dalam kelas adalah dengan cara membuat display (pajangan kelas).

 

Pelatihan display dilakukan selama dua hari. Hari pertama saya dengan para guru peserta pelatihan mendiskusikan tentang display mulai dari definisi display, unsur-unsur yang harus ada dalam display, alat-alat yang bisa digunakan dalam mendisplay dan cara menggunakannya, tahapan membuat display mulai dari perencanaan, pembuatan dan pemasangan serta praktik membuat display yang rencana pembuatannya sudah diberikan. Saya menekankan kepada para peserta pelatihan bahwa bahan yang digunakan dalam pembuatan display tidak harus mahal, bahkan bisa menggunakan bahan-bahan bekas yang masih bisa dimanfaatkan seperti kertas koran, polio bekas dan lain-lain ataupun bahan yang dapat diambil dari alam lingkungan sekitar seperti daun-daunan, rumput, ranting, pasir dan lain sebagainya.

 

Pada pelatihan hari kedua para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta membuat display mulai dari perencanaan, pembuatan, sampai pemasangan produk display. Setiap kelompok diminta untuk membuat display pada mata pelajaran yang berbeda. Selain itu peserta juga diminta untuk mengeluarkan kreativitasnya dalam pembuatan display. Ada empat buah display yang mereka hasilkan diantaranya adalah display organ-organ ikan dan fungsinya yang mewakili display pelajaran IPA. Dalam displaynya, dibuat gambar ikan pada kertas karton besar, sisik ikannya dibuat dari cangkang kerang dan sirip serta ekornya di buat dari daun pisang yang sudah kering. Menurut saya, guru-guru ini sudah kreatif. Mereka bisa memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar dalam pembuatan display mereka.

 

Hal lain yang membuat saya sangat terkesan adalah para pejuang pendidikan ini tetap bersemangat mengikuti pelatihan walaupun sebagian besar di antara mereka adalah para kepala sekolah dan guru-guru senior yang usianya jauh di atas saya. Mereka tidak merasa canggung serta tidak ragu untuk bertanya jika ada permasalah yang ingin didiskusikan. Salah satunya adalah Asmawi, beliau adalah kepala MTs di Kota Ranai. Di sela-sela pelatihan berliau mengungkapkan pengalaman mengajarnya, beliau sudah mengajar tidak kurang dari 40 tahun dan tidak kurang dari 20 tahun beliau mengajar sebagai tenaga honorer dengan gaji minim, itupun kadang dibayarkan dan kadang tidak, tetapi hal itu tidak menyurutkan niat beliau untuk menjadi seorang pendidik sejati. Peserta lain adalah Yento, beliau adalah seorang guru SD di Sungai Ulu sekitar 10 KM dari sekolah SDN Ceruk 004. Medan yang ditempuh untuk mencapai sekolahnya amat sangat rusak, bahkan jika musim hujan datang tidak jarang sekolah diliburkan karena para siswa tidak bisa melewati jalan karena medan yang licin serta dipenuhi lumpur. Tapi semangat Yento untuk menjadi tenaga pendidik tidak bisa diragukan lagi, ia tetap bertekad untuk menjadi tenaga pendidik betapapun susahnya medan yang dia tempuh.

 

Di sela-sela waktu setelah pelatihan usai, Yento mengatakan kepada saya bahwa pelatihan-pelatihan untuk meng-up grade kemampuan guru-guru di daerah seperti pelatihan ini sangat kami butuhkan. Saya menimpali pernyataan itu dengan senyum kekaguman. Sungguh memang luar biasa perjuangan para pendidik sejati di daerah, medan yang terjal, gaji yang minim serta jauh dari fasilitas mewah tidak mereka hiraukan. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana mendidik generasi muda hingga mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Salut bagi guru-guru di daerah. Wahai para pendidik sejati, semangatmu menjadi pembakar semangat kami dalam mendidik siswa-siswa kami di sini.

 

Salam pembelajar sejati.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

komentar