Residensi Literasi: Sensasi Belajar Bersama Warga Asli

Residensi Literasi: Sensasi Belajar Bersama Warga Asli

Barangkali kita masih asing dengan istilah residensi. Namun kita pasti akrab dengan istilah magang. Dimana seseorang tinggal dan turut merasakan pengalaman langsung di lapangan. Pengalaman residensi baru saja dirasakan oleh Joana Zettira, Duta Gemari Baca Batch 5 yang baru saja mengikuti Residensi Penggiat Literasi 2019 di Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 25 sampai 28 Juni 2019 ini bertempat di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Harapan.

Bersama 20 penggiat literasi lainnya, Joana selaku perwakilan dari TBM Delima secara aktif mendiskusikan literasi numerasi finansial dan pengaplikasiannya dalam kehidupan. Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dari seluruh Indonesia. Tahun ini, titik penyelenggaraan residensi mengalami peningkatan dari semula enam menjadi delapan titik yang tersebar di: Lombok Utara, Banten, Lubuk Linggau, Balikpapan, Yogyakarta, Manado, Jawa Timur, dan Lampung Selatan.

Selama empat hari peserta dibekali materi dari narasumber lokal terkait dasar literasi numerasi, perkembangan Literasi di Lampung, tips membangun jejaring literasi, dan teknik penulisan. Peserta diajak merasakan secara langsung sensasi menjadi warga asli dengan tinggal di gedung PAUD milik PKBM yang berada di tengah pemukiman. Proses sosialisasi yang baik menjadikan masyarakat dan peserta membaur menjadi satu selama kegiatan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Bindiktara, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini sukses mempersatukan para penggiat literasi dalam satu forum diskusi kebhinekaan. Sebelum pulang, seluruh peserta diminta untuk menuliskan catatan perjalanan yang akan dibukukan dalam sebuah antologi tulisan. Tak lupa peserta diwajibkan untuk menyusun rencana tindak lanjut yang akan dijalankan di daerah masing masing setelah pulang dari kegiatan. Dalam sambutan penutupan, Kasubdit Keaksaraan dan Budaya Baca Dr. Kastum, M.Pd berpesan “Jangan jadikan TBM sebagai Tempat Buku Menumpuk. TBM harus inovatif dan mampu menggerakan”.

Dalam residensi, tak hanya dibekali pengetahuan seputar literasi, peserta juga diajak untuk mengenal Lampung Selatan lebih dekat lagi. Pada hari ketiga, peserta mendapat kesempatan untuk mengunjungi Dekranasda. Tempat unjuk hasil kerajinan tangan Lampung. Mulai dari kain tapis, siger, hingga rajutan unik, semuanya ada. Tentunya ini merupakan salah satu wujud dari literasi. Mencakup literasi numerasi, finansial, budaya, dan lintas sektoral lainnya. Tak hanya itu, peserta juga diajak berkeliling ke tempat peternakan lebah Simpur, Rumah Akar Raja Baca, Perpustakaan Daerah Lampung Selatan, dan mengakhiri perjalanan di Pantai Kunjir yang tetap mempesona meski baru saja ditimpa tsunami beberapa waktu sebelumnya.

Joana berharap, setelah mengikuti residensi ini para penggiat literasi dapat semakin gencar membumikan virus literasi kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Ia pun telah menyusun rancangan program untuk diterapkan di TBM Delima dan Komunitas Pecinta Sastra Indonesia (KOMPENSASI) yang saat ini tengah ia pelopori. Baginya, literasi adalah kunci untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik lagi. Melalui literasi, Indonesia dapat lebih berdaya dan menjadi negara yang “adi”.

Prosesi penyambutan kepada Bupati Lampung Selatan dan peserta residensi

Upacara pembukaan Residensi Penggiat Literasi 2019 di halaman PKBM Tunas Harapan

Seluruh peserta bersama narasumber Qori Nilwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung Selatan

Komentar

komentar