Rendahnya Kualitas guru, penghambat perkembangan pendidikan

Waktu saya masih berada di bangku SD, saya sering kali menemukan guru yang hanya menyuruh siswa-siswinya untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan contoh yang riil.

Sebut saja saat latihan gerak jalan, guru mengatakan ”kalau jalan itu tangan harus lurus, pandangan ke depan, kaki dihentak dan bla, bla, bla’‘. Sebagai murid kami sangat antusias mengikuti arahan guru tersebut, kami berusaha mengikutinya semaksimal mungkin karna kami pun ingin terlihat sempurna dimata guru, meskipun kami merasa bahwa apa yang dilakukan sudah sempurna, namun pada kenyataanya kami tetap saja salah dan tidak bisa melakukan seperti apa yang guru perintahkan. Nahasnya, saat melakukan kesahan, kami pun dimarahi bahkan tidak jarang kaki-kaki kami dijadikan sebagai bola untuk kemudian mereka tendang. Setelah itu guru lagi-lagi mengatakan, “tangannya diluruskan, dada dibusungkan, kaki dihentak!! Apa-apaan jalan begitu kayak gak ada tulang saja.”

Kami pun berjalan lagi dan mencoba melakukan seperti yang guru arahkan, tapi tetap saja gak bisa, kami masih juga berjalan seperti manusia tidak bertulang.

Coba kita pikirkan, apa iya cara yang dilakukan guru tersebut dapat menjadi latihan yang optimal untuk peserta didik? Apa mungkin latihan semacam itu dapat melahirkan anak yang unggul?  

Rasanya sangat tidak mungkin, cara seperti itu hanya akan menyisakan kebingungan kepada peserta didik, seberapa sering pun intensitas latihan itu dilakukan apabila caranya masih seperti itu maka siswa tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik. Jangankan anak SD, anak kuliahan pun saya rasa akan kesulitan mempraktikan konsep yang semacam itu, apa lagi anak SD.

Memahami konsep sangatlah mudah, tapi mempraktekan konsep itu jauh lebih susah. Jangankan tidak ada contoh yang akan diikuti, ada contoh di depan mata saja anak SD masih salah dalam melakukannya, hal itu harusnya disadari oleh guru.

Dalam hal ini saya bukannya ingin mengatakan bahwa guru tidak berhasil dalam mendidik siswa-siswinya, sama sekali tidak, saya hanya ingin menitipkan pesan kepada guru agar dapat menyeimbangkan antara teori dan praktek, bukan hanya pada urusan gerak jalan tapi dalam berbagai hal, guru harus mampu memberikan contoh kepada siswanya, baik itu contoh tindakan maupun perkataan.

Cerita diatas hanya sebagai gambaran dari kebingungan saya ketika masih berada di bangku sekolah dasar dulu, yang mana guru tidak mampu  memberikan contoh nyata dalam berbuat.

Saya pikir tipe guru yang seperti itu hanya ada pada zaman saya saja dan sudah tidak akan saya temui lagi di zaman now, tapi ternyata bibit-bibit pendidik yang seperti itu masih bertahan hidup dan berlalu lalang sampai sekarang.

Beberapa kali pernah saya lihat hal yang sama di sekolah yang berbeda, nampak jelas kebingungan dari wajah siswa saat mendapat arahan dari guru, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana yang benar, dan apa yang salah dari mereka. Siswa hanya mendapat petunjuk kata-kata sedangkan tidak mendapat petunjuk tindakan.

Harapan saya, semoga guru mulai menyadari bahwa tugas mereka bukan sekedar menyampaikan konsep yang tertuang didalam buku, tetapi juga guru berkewajiban untuk membimbing dan melatih peserta didiknya. Membimbing dalam artian, menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moral, serta melatih yang bermakna menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan yang ada dalam diri anak didiknya.

Ini tentunya merupakan sebuah masalah krusial dunia pendidikan, bagaimana tidak! Guru yang menjadi icon kemajuan pendidikan ternyata masih sangat minim keterampilannya. Padahal harapan terbesar pendidikan itu adalah guru, sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh salah satu kaum intelektual dunia, yaitu Bpk Anis Rasyid Baswedan, “kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru, secanggih apapun sebuah kurikum, sekuat apapun financialnya apabila kualitas guru rendah makan kualitas pendidikanpun akan rendah, begitu juga sebaliknya.” Ungkap beliau.

Untuk kualitas guru di negri ini masih sangat rendah, faktanya nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75 dan Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.

Akhir kata : Siswa itu bukanlah malaikat yang mampu menangkap serta mempraktekkan semua arahan guru dengan mudah, siswa itu manusia yang butuh bangat dengan bimbingan. Dari itu guru dituntut untuk memberikan pembelajaran dengan optimal kepada peserta didiknya.

Kontributor : Kawan Sekolah Literasi Indonesia

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044