Ramadan Penuh Makna. Ramadan Penuh Pelajaran

Ramadan Penuh Makna. Ramadan Penuh Pelajaran

Oleh : Ayu Uswah Munjiah

Ramadan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan penuh rahmat, bulan seribu bulan dan (pastinya) ini adalah kisah Ramadanku yang penuh pelajaran. Kenapa aku sebut bulan penuh pelajaran? Karena itu adalah Ramadan pertama yang kuhabiskan tidak dengan keluarga besar di rumah, karena kala itu aku mengikuti program Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) berupa pendampingan sekolah-sekolah di Sulawesi Tenggara, lebih tepatnya di Konawe Selatan Kecamatan Tinanggea. Tapi, pelajaran yang aku ceritakan di sini bukan hanya soal waktu Ramadan yang aku habiskan di penempatan, melainkan kisah yang tersimpan di dalam waktu selama di penempatan. Biar tidak terlalu melow kita tunda dulu pembahasan soal waktu, kita kembali ke topik pembicaraan yaitu pelajaran.

Mengikuti program KAWAN SLI, membuat Ramadan kali ini dipenuh pelajaran, walaupun sebenarnya setiap hari yang dilalui tidak luput dari pelajaran jika kita mau berpikir, jadi teringat kata-kata Descrates seorang filsuf dari Perancis yang berbunyi cogito ergo sum artinya aku berpikir karena itu ada untuk makna kalimat ini bisa ditanya sama Om Google, karena kalau aku ceritakan nanti ceritanya malah meluap ke mana-mana. Selain Ramadan tahun ini, tentunya Ramadan di tahun sebelumnya pun banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan, salah satunya pelajaran ketika aku menjadi Mahasiswa, maklum ini tahun pertama aku melepas titel mahasiswa dan berubah menjadi masyarakat yang sedang belajar di Universitas Kehidupan, oke kita skip dulu pelajaran yang aku dapat semasa kuliah. Sekarang aku akan berbagi warna-warnai pelajaran hidup selama aku mengikuti program KAWAN SLI. Aku sebut pelajaran hidup karena kampusnya adalah Universitas Kehidupan, jadi semua harus serba hidup biar terasa nyatanya dan untuk pelajaran hidup yang akan aku bagi kali ini, karena sekarang Bulan Ramadan makan, eeh salah maksudnya maka pelajaran hidup yang akan aku bagi hanya seputar bulan Ramadan saja.

Mendampingi sekolah di lima SDN dan satu MI di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan tidak aku jalani sendiri, tetapi aku jalani bersama teman satu perjuangan yang bernama Syarifatul Aliyah, aku memanggilnya Mbak Al. Pertama kali aku mengetahui kalau sekolah yang aku damping sebanyak enam sekolah, kaget luar biasa, imajinasiku menerawang ke mana-mana dan sempat hati ini merasakan tidak percaya diri, menurutku wajar. Tapi, semua akan menjadi tidak wajar ketika aku tidak langsung mengendalikan diri dengan cepat, karena kalau dianalogikan seperti aku membawa motor, di mana di depanku ada jalan tanah yang sempit, berlubang, licin, tersimpan bebatuan dan di samping jalan ada sawah. Ketika pikiran negatif masih menguasai diri, dapat dipastikan 99,99% aku akan terjatuh dan terperosok ke dalam sawah, sehingga menghasilkan kerugian yang tidak hanya aku rasakan, tetapi orang yang punya sawah pun ikut merasakan kerugiannya dan pastinya jalan pun akan bertambah rusak. Begitu juga dengan menjalankan amanah ini, jika pikiran negatif masih menguasaiku, maka dapat dipastikan aku tidak dapat menjalankan amanah ini dengan maksimal dan akan banyak orang yang terzolimi.

Namun semua pikiran negatif itu mulai menghilang ketika aku teringat pesan bapak dan sahabatku, bahwa jangan pernah sibuk memikirkan peristiwa yang akan terjadi di depan, tapi cukup jalankan prosesnya dengan maksimal karena hasil buah dari proses dan amanah tidak akan salah memilih tuannya, kalimat itu sederhana, tapi mampu menjadi penguat ketika ujian di lapangan mulai datang satu per satu dan buah dari ujian itu adalah pelajaran hidup yang di dalamnya ada sabar.

Berbicara soal ujian, kali ini aku akan menceritakan ujian pertama di bulan Ramadan yang aku dapatkan di salah satu sekolah dampingan. Sebut saja Sekolah Ujian, karena banyak sekali ujian yang aku dan Mbak Al dapatkan dari sekolah tersebut. Ceritanya waktu itu, tepatnya 30 Mei 2017 aku dan Mbak Al berbagi tugas dan aku kebagian tugas di Sekolah Ujian, berdasarkan evaluasi hasil Monev pihak sekolah menyepakati bahwa 30 Mei 2017 akan dilaksanakan kegiatan KKG Lokal. Oke aku pun pergi ke Sekolah Ujian ditemani derai hujan yang tak kunjung reda, karena kalau aku ke sekolah menunggu hujan reda yang ada ketika aku sampai di sekolah, hanya ada bangunan sekolah dan beberapa pohon yang menyambut kedatanganku.

Sesampainya di sekolah, aku temui dua orang guru yang sedang sibuk memeriksa lembar jawaban ulangan siswa, setelah basa-basi, aku pun menanyakan apakah kepala sekolah sudah datang atau belum dan ternyata firasatku benar, Kepala sekolah masih di rumah. Singkat cerita, setelah mendengar keluh-kesah dua orang guru aku pun meminta izin untuk pergi ke ruang guru dan diperjalanan ke ruang guru, aku kirimkan SMS ke kepala sekolah bahwa aku sudah sampai di sekolah dan menanyakan keberadaan kepala sekolah.

Menunggu hampir satu jam sembari berbincang dengan guru-guru atau lebih tepatnya mendengarkan curhatan para guru ternyata lumayan membuat bosan juga. Terutama ketika aku berhadapan dengan salah satu guru, sebut saja Ibu Cinta, karena sering sekali guru tersebut curhat masalah cinta kalau boleh jujur aku bosen juga mendengarnya, namun untuk menjaga perasaan setidaknya aku harus belajar menjadi pendengar yang baik, karena aku rasa curhatan Ibu Cinta sudah kemana-mana maka aku pun mengusulkan untuk menyicil merapikan perpustakaan, karena kebetulan selain menjadi wali kelas, Ibu Cinta dipercaya juga menjadi Kepala Perpustakaan. Singkat cerita, setelah selesai memindahkan lemari-lemari perpustakaan, aku pikir guru-guru akan datang untuk membantu, ternyata eh ternyata sampai anak-anak pulang tidak ada satu pun guru yang ke perpustakaan untuk membantu, selain Ibu Cinta, karena ocehan Ibu Cinta sudah memenuhi ruangan, maka aku mengusulkan melanjutkan merapihkan Perpustakaannya dilain waktu dan Ibu Cinta pun menyetujinya.

Sedangkan untuk kabar Kepala sekolah tidak jadi datang dikarenakan hujan, alhasil KKG Lokalnya di cancel menjadi 31 Mei 2017. Rasanya rugi sekali jika aku hanya menyimpan rasa kesal yang hanya merusak mood tanapa ada pelajaran yang aku petik. Seketika itu, aku berpikir bahwa setiap peristiswa yang aku alami baik itu suka atau pun duka semuanya adalah pelajaran dan pelajaran yang aku ambil hari itu bukan hanya sekedar tentang ilmu sabar, belajar memahami orang lain dan belajar keluar dari zona nyaman, akan tetapi ada hal yang lebih penting yaitu belajar untuk menjaga komitmen dan menjalankan tanggung jawab dengan semaksimal mungkin.

Hujan masih menemani hariku di 31 Mei 2017, kala itu aku ke Sekolah Ujian tidak sendiri tapi ditemani Mbak Al, belum juga sampai di sekolah tiba-tiba SMS dari kepala sekolah dating isinya bahwa KKG Lokal tidak jadi diadakan karena kepala sekolah ada rapat di UPTD. Beginilah kondisi di penempatan segala sesuatu selalu dadakan, aku dan Mbak Al sepertinya sudah terbiasa dengan hal berbau dadakan. Tidak ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja, ketika hujan mulai reda kami kembali melanjutkan perjalanan ke salah satu rumah guru sekolah dampingan yaitu rumah Ibu Siti untuk koordinasi perihal Pesantren Literasi. Tepat di Kecamatan Tinangea hujan kembali turun dengan deras, karena dirasa tidak memungkinkan untukku menerobos hujan tanpa memakai jas hujan, aku dan Mbak Al singgah di salah satu rumah Kepala sekolah dampingan untuk mengambil jas hujan yang ketinggalan dan ternyata di rumah tersebut tidak ada orang. Alhasil kami pun menunggu di teras rumah sampai hujan reda. Setelah itu, kami kembali melanjutkan perjalanan, karena pada saat itu hujan sedang senang bermain-main bersama kami, di perjalanan hujan kembali membasahi jejak kami dan untungnya hujannya tidak begitu deras jadi helm masih melindung kepalaku dari jatuhan air hujan. Ketika melewati Kecamatan Tinanggea hujan pun akhirnya reda. Mungkin hujan lelah bermain-main dengan kami.

Akhirnya aku dan Mbak Al tiba di rumah Ibu Siti, setelah beberapa menit berbicang, pandangan aku tertuju pada tumpukan botol air mineral ukuran 1500 ml yang dibentuk seperti pot, lantas aku pun langsung menanyakan mau disimpan dimana pot botol tersebut dan diawali dengan senyum, Ibu Siti menjawab kalau pot itu untuk disimpan di Sekolah. Ibu Siti juga menjelaskan bahwa dalam mengerjakannya, Ibu Siti dibantu oleh beberapa siswa-siswi kelas 6. Sedangkan untuk guru-guru, sebelumnnya Ibu Siti sudah mencoba mengajak temannya yang lain, karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka belum bisa membantu dan karena Ibu Siti menjadi salah satu penanggungjawab pembuatan taman maka menurutnya itu merupakan sebuah tanggung jawab yang bagaimana pun keadaannya harus diselesaikan. Mendengar penjelasan Ibu Siti tidak banyak pertanyaan yang bisa aku ajukan, apalagi ketika aku dan Mbak Al mendengarkan cerita dari salah satu guru yang merasa kasihan ketika melihat Ibu Siti menanam bunga ditemani hujan, dalam hati aku bicara, kalau saja kata kasihan itu dibuktikan lewat perbuatan, rasanya akan lebih indah, namun sayangnya kata kasihan itu masih indah terukir lewat ucapan bukan tindakan.

Kecewa pasti, karena sebelumnya ketika evaluasi hasil Monev, dalam pembuatan penanggungjawab kami pun menjelaskan bahwa, walaupun dibuat penanggungjawab untuk pengerjaannya dilakukan bersama-sama, hanya saja pusat koordinasi ada di penanggungjawab. Namun tetap, realita kadang tak seindah teori. Melihat kondisi seperti ini, kami rasa harus berkoordinasi kembali dengan kepala sekolah perihal jobdesc penanggungjawab.

Melihat Ibu Siti, di usianya yang bisa dibilang nenek-nenek dengan semangat mengalahkan anak muda, menjadi tamparan keras untukku. Hingga akhirnya, pelajaran yang begitu berarti aku dapatkan pada hari itu, bahwasannya berkeluh kesash menyalahkan keadaan atau melemparkan masalah kepada orang lain tidak akan pernah menghasilkan solusi melainkan menumpuk masalah, akan tetapi yang perlu kita lakukan adalah kerjakan apa yang bisa kita kerjakan bukan hanya memikirkan bagaimana mengerjakannnya dan peduli itu bukan hanya sekadar kata tapi buktikan dengan aksi.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044