Pribadi Disiplin Ciri Guru Amanah

Pribadi Disiplin Ciri Guru Amanah

Oleh: Hani Karno

 

 

Jika kita berbicara tentang kedisiplinan, maka kita akan mengambil Jepang sebagai referensi. Bagaimana bangsa Jepang mampu benar-benar mencitrakan diri mereka dengan baik dengan budaya disiplin. Jepang adalah sebuah model negara dari sekian banyak negara yang amat sangat menghargai setiap detik pergantian waktu. Jika kita mampu menilik dan mengkaji diri sudah sepatutnya kedisiplinan itu menjadi milik warga Indonesia, bagaimana tidak? Dengan komposisi penduduk yang mayoritas muslim bukankah sudah seharusnya Indonesia menjadi representasi dari berjuta kebaikan termasuk dalam hal kedisiplinan?. Bagi jiwa pembaharu dengan jiwa optimis, setiap diri tentu sedikit

banyak akan memberi pengaruh terhadap tampilan bangsa secara keseluruhan. Sering kita mendengar-atau bahkan menjadi pelaku – yang sering mencela, menunjuk hidung, bahkan berteriak lantang terhadap pelaku tindak korupsi. Semua orang beranggapan bahwa korupsi adalah melulu tentang segala tindakan yang merugikan kepentingan orang lain yang sifatnya finansial dan mempunyai magnitude yang besar. Bahwa segala perilaku korupsi hanya melibatkan orang besar dengan jabatan tinggi nan prestius. Sejatinya setiap dari kita menunjukkan satu jari-telunjuk- ke hidung orang lain maka sisa jari yang dilipat yang berjumlah empat menunjuk muka sendiri. Sebuah hikmah yang tidak berlebihan jika diterjemahkan sebagai cara ampuh mengkaji diri.

Kedisiplinan adalah sebuah indikator awal dari pribadi amanah. Profesi guru adalah sebuah profesi yang amat signifikan dalam kehidupan anak –terutama di wilayah pedesaan– di mana guru acap kali dijadikan sebagai role model dalam segala sendi kehidupan, tidak saja bagi peserta didik melainkan bagi masyarakat secara keseluruhan. Kedisiplinan yang sering menjadi indikator awal bagi penilaian etos kerja, bagi budaya Indonesia secara keseluruhan masih serupa barang berharga yang jumlahnya sangat terbatas. Acap kali kita melihat bahwa profesi guru dalam masyarakat secara umum, terutama pedesaan, sering dijadikan simpul utama dalam sendi-sendi kehidupan. Betapa guru dalam sebuah masyarakat amat sangat dipercaya. Sering kali individu yang berprofesi guru juga menjadi pemberdaya sejati di masyarakat, di mana dia – selain menjadi – guru juga memegang amanat lain yang tidak jarang lebih dari dua. Disini jelas, bahwa profesi guru adalah sebuah profesi yangmendapat apresiasi yang sangat positif dari masyarakat. Oleh karena itu sebagai role model tentu guru harus menjadi representasi nila-nilai positif, juga termasuk didalamnya tentang kedisiplinan tadi.

Jika kita mau jujur, berapa kali dalam sehari Anda meninggalkan kelas sebelum bel pertanda jam pelajaran berbunyi? Lalu hitunglah dalam rentang waktu satu minggu, berapa jam Anda tidak dikelas tanpa sebuah alasan yang syar’i? Mendisiplinkan diri adalah hal yang pokok, apalagi jika kita hendak berkomitmen dengan pendidikan yang berkarakter. Pendidikan berkarakter meliputi pengembangan dan pemahamaan sikap-sikap positif, yang tentunya harus dimulai dari hierarki tertinggi sebagai contoh, senada dengan yang dikemukakan oleh Seto Mulyadi bahwa “Pembangunan karakter bangsa telah dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, tapi sekarang tidak berkembang. Pemimpin juga mestinya memberikan contoh, seperti dalam kedisiplinan, rendah hati, dan kekompakan”.

Guru adalah profesi yang juga tidak bisa lepas dari jerat korupsi. Korupsi waktu adalah jenis korupsi yang paling memungkinkan dilakukan oleh guru. Sejauh ini, dilapangan kita masih melihat betapa seringnya guru keluar masuk kelas tidak sesuai dengan waktu yang terjadwal. Dalih bersosialisasi dengan rekan – ngobrol – sehingga seorang guru telah memotong waktu 1 x 45 menit-nya menjadi 1 x 30 menit karena 15 menit  terpotong oleh acara “ bersosialisasi” tadi. Diperparah dengan hilir mudiknya sang guru ke berbagai tempat manakala jam pelajaran berlangsung. Anak dibiarkan dengan tugas sementara dia bisa kembali “ bersosialisasi” dengan rekan guru lain di kelas sebelah. Setelah itu dengan dalih pelajaran sudah tersampaikan guru meninggalkan kelas 10 menit sebelum bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi.

 

RPP mensiasati korupsi waktu

Peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan berkaitan erat dengan disiplin. Dengan adanya disiplin, sekolah bisa mengupayakan sarana pembelajaran yang relevan, manajemen sekolah yang baik, transparan dan partisipatif dan juga bisa meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan sistem penilaian di kelas.

Dalam istilah pembelajaran kita mengenal istilah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), sebuah perangkat pembelajaran yang dibebankan kepada guru dengan tujuan untuk memberikan pembelajaran yang optimal bagi siswa dan bagi si guru itu sendiri. RPP yang baik, didalamnya merinci setiap menit kegiatan yang akan dilakukan oleh guru di dalam pembelajaran. Dengan RPP yang didalamnya mencantumkan setiap menit kegiatan yang akan dilakukan – atau lebih dikenal dengan istilah skenario pembelajaran, kegiatan belajar mengajar akan sangat terarah dan terprogram dengan baik. Sehingga target serta tujuan pembelajaran dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, kita juga bisa mengevaluasi setiap jam yang kita pakai dalam pembelajaran, apakah selama ini kita selalu menggunakan metode yang itu-itu saja. Kadang kita selalu terjebak pada diamnya anak di dalam kelas, masih banyak guru yang terjebak dengan paradigma lama yang menganggap bahwa pembelajaran yang efektif adalah di mana anak duduk diam rapi, tanpa suara, sehingga kita dengan semena-mena menggunakan metode ceramah dalam setiap suasana. Kita masih melihat, tidak jarang guru yang mengebiri ekspresi anak dengan dalih untuk kesuksesan pembelajaran sehingga selama 2×24 menit anak wajib untuk duduk dibangku dengan tangan terlipat di meja.

Dengan RPP, kita bisa lebih siap ketika memasuki kelas dan terhindar dari rasa jenuh akan profesi dan selalu merasa sama saja disetiap harinya. Guru yang biasa mencurahkan perhatiannya terhadap RPP, tentu dapat betul-betul merasakan manfaat yang diperoleh dari pembuatan RPP itu baik itu bagi siswa dan lebih khususnya bagi si guru itu sendiri. Guru Indonesia, mari mengoptimalkan waktu kerja kita!

 

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044