Perkuat Penelitian di Bidang ZISWAF Makmal Pendidikan Inisiasi KOPI PENA

Berdasarkan data Global Innovation Index (GII) 2018  saat ini Indonesia berada di peringkat dua terbawah di ASEAN dan peringkat 85 di dunia tentang kualitas inovasi dan penelitian dalam pembangunan ekonomi. Peta kondisi penelitian di Indonesia ini menunjukkan kualitas penelitian berbanding lurus dengan perkembangan pembangunan di sebuah negara termasuk lembaga ZISWAF (Zakat, Infaq, Sadaqah dan Wakaf) di dalamnya. Lembaga ZISWAF diyakini memiliki berbagai program yang mampu berkontribusi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Untuk itulah pada Selasa (27/08) Research and Development (R&D) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa menginisiasi komunitas peneliti bernama Komunitas Peneliti Pendidikan Indonesia (KOPI PENA).

Dihadiri 25 peserta dari berbagai lembaga ZISWAF, KOPI PENA disinyalir membawa angin segar dalam ranah penelitian ZISWAF Indonesia.  Pada kesempatan kali itu para peserta diajak mengikuti sharing metode problem solving dalam pengelolaan program pendidikan dengan pendekatan R&D (mailing list/grup WA), sharing metode pengelolaan data dalam lembaga pendidikan/data mining, partisipasi dalam kegiatan call for paper, dan publikasi tulisan/artikel di jurnal pendidikan.


“Di KOPI PENA kami tak hanya sekadar saling bertukar pikiran dan pendapat, tetapi juga mendalami pijakan teori serta membedah apersepsi problem solving serta menggali masalah melalui pendekatan R&D dalam aktivitas problem solving di LAZ,” ujar Pedri Haryadi, R&D Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan. “Ada lima tujuan utama dibentuknya KOPI PENA antara lain Sinergi R&D lembaga ziswaf, meningkatkan peran R&D lembaga ziswaf, meningkatan pemahaman terhadap berbagai problem dalam pengelolaan ziswaf, memperkaya perspektif terhadap permasalahan di lembaga ziswaf, sharing ‘metode/tools’ R&D. Kami harap semua tujuan yang kami usung bisa mengubah wajah penelitian di Indonesia,” tambah Pedri.

Pedri menyampaikan jika sudah saatnya lembaga ZISWAF melakukan pendekatan melalui research and development (R&D) guna melakukan pengembangan program.

“Tantangan masa depan adalah “data”, di mana data yang dimiliki sebuah lembaga sama berharganya dengan potensi sumber daya yang lain. Mayoritas NGO hari ini masih memiliki persoalan dalam menghimpun, menyimpan, merawat hingga mengolah data,” tukas Pedri. (AR)

Komentar

komentar