Perjuangan Anak Petani di Jagoi

Oleh: Susana,  Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 05 Saparan.

Aku anak keempat dari 12 bersaudara. Ayahku seorang petani ladang berpindah. Kami tinggal di pondok di mana ayah membuka ladang.

Aku tidak punya banyak kawan selain berkawan dan bermain dengan saudaraku sendiri. Sebulan sekali ayah membawa kami ke rumah nenek di kampung. Kali pertama melihat tentara aku lari bersembunyi di bawah tumpukan papan yang di simpan di bawah kolong rumah nenek. Aku tidak berani keluar hingga tertidur disitu. Karena sering ikut ayah ke rumah nenek di kampung aku jadi biasa bahkan senang dan suka dengan tentara.

Sejak itu, sewaktu kecil aku bercita-cita menjadi tentara karena ingin mengusir sisa sisa komunis yang masih bersembunyi di sekitar hutan perbatasan Malaysia-Indonesia tahun 1974/1975. Di kampungku ada pos tentara. Setiap malam mereka bergilir mengajar PBH untuk orang dewasa. Aku ingin belajar bersama mereka. Setiap kali ada kelas PBH aku keluar dan mengintip mereka yang sedang belajar di balik pintu.

Suatu malam ketika kakakku disuruh membaca abjad, kakakku menangis karena tidak bisa membaca. Tiba-tiba di luar terdengar suara anak kecil membaca, semua memandang ke arah pintu, mendengar itu pak guru (tentara) membawa pelita keluar, anak itu ketakutan dikira mau dimarahi, suasana menjadi senyap. Anak itu menutupi dirinya dengan sarung yang selalu dibawanya. Tubuhnya menggigil ketakutan. Tentara itu berdiri dekat pintu sambil bertanya, “siapa kamu?” Anak itu diam menahan rasa takut, ia lalu dibawa ke depan kelas. Setelah kain sarungnya dibuka ternyata anak kecil itu adalah aku. Kemudian tentara itu berkata “Dik, apakah kamu betul-betul mau sekolah?” Tanyanya dengan logat Jawa. Aku diam karena aku tidak pandai berbahasa Indonesia. Setelah dijelaskan oleh abang sepupuku aku mengangguk. Katanya lagi “Kalau begitu besok malam kamu boleh ikut sekolah!” Mendengar itu aku sangat gembira, aku pulang untuk memberitahukan berita ini pada ayah. Ayah mengijinkan dan rupanya ayah juga senang kalau aku mau sekolah. Tetapi aku harus tinggal dengan nenek. Betapa gembira hatiku saat itu karena bisa bersekolah tetapi aku sedih karena harus berpisah dengan keluarga. Keesokan harinya ketika ayah mau berangkat pulang aku menangis sambil memeluk erat kakinya, menahan agar ayah tidak usah pulang. Waktu itu usiaku kira-kira lima tahun, sambil memantau keadaanku, ayah mendirikan rumah di kampung .

Setahun kemudian kami pun tinggal di rumah baru. Tapi sayangnya lima bulan kemudian setelah tinggal di rumah sendiri, guru kami tentara sudah pergi karena tugas mereka di kampungku sudah selesai dan kami tidak sekolah lagi karena tidak ada guru yang mengajarkan kami. Namun aku bersyukur karena aku sudah bisa membaca dan menulis dibandingkan dengan anak-anak lain seusiaku. Aku sudah mulai pandai berbahasa Indonesia. Selama tidak bersekolah aku selalu ikut ayah bekerja mencari rotan, memancing, berburu, menggesek kayu, membelah bambu, bertukang, memasang atap rumah dan semua pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki diajarkannya walaupun aku adalah anak perempuan. Pernah suatu hari aku menangis di atas bumbungan rumah karena aku ingin bermain sodor bersama kawan-kawan di halaman sedangkan ayah menyuruh aku membantunya memasang atap rumah. Sesekali aku memandang ke bawah melihat kawan-kawan seusiaku sedang bermain dengan gembira. Aku memasang atap dengan berlinangan air mata. Masa kecilku kurang bahagia karena tidak punya banyak kesempatan bermain bersama kawan-kawan. Ayah selalu memotong rambutku model potongan rambut anak laki-laki. Kawan-kawan memanggilku si banci. Memang kuakui sewaktu masih kecil aku agak tomboi.

Ketika usiaku 11 tahun badanku bertambah besar dan tinggi. Bersamaan dengan itu gedung sekolah Inpres SDN 07 Jagoi Kindau sudah siap digunakan. Aku masih ingat selesai sembahyang di gereja, Kepala Kampung memberitahukan kepada kami bahwa bagi yang mempunyai anak yang ingin bersekolah diminta mendaftarkan anaknya, karena gurunya sebentar lagi akan datang. Mendengar itu alangkah senangnya hatiku. Aku langsung mengajak ayah untuk pergi mendaftar. Tetapi ayah menjawab “Kamu tidak usah bersekolah, lagipula badanmu sudah besar, lebih baik bantu ayah bekerja di ladang!” Biar adikmu yang tiga orang itu saja yang sekolah. Ayah tidak mampu cari uang untuk beli buku kalian!” Karena sudah nekat aku pergi mendaftar sendiri, kata pak guru, boleh mendaftar yang penting betul-betul mau sekolah.

Hari pertama masuk sekolah aku memakai sarung, kami semua memakai baju bebas, karena sudah pandai membaca dan menulis aku langsung dinaikan di kelas tiga pada Juli 1978. Setelah pulang sekolah aku mengambil upah memetik dan merumput di kebun lada orang. Gajinya cuma 50 sen setengah hari. Waktu libur aku gunakan untuk menoreh getah dan bila musim tengkawang berbuah aku mencari buah tengkawang yang hanyut dibawa air. Uangnya aku kumpulkan untuk membeli baju seragam, buku dan alat tulis. Berkat usaha dan ketekunanku dalam belajar aku selalu mendapat juara kelas sejak kelas tiga sampai tamat SD. Jadi buku dan alat tulis tidak perlu kubeli. Semua itu aku peroleh berkat hasil usahaku sendiri. Selain dari hasil prestasi belajar aku juga memborong hampir semua hadiah di bidang olahraga serta perlombaan. Aku dapat banyak buku dan alat tulis. Sehingga secara tidak langsung aku dapat meringankan beban ayah membeli buku untuk adik-adikku.

Walaupun usiaku sudah 15 tahun ketika tamat SD ayah mengizinkan aku untuk melanjutkan ke SMPN No. 01 Bengkayang. Untuk menghemat biaya transportasi aku dititipkan untuk pergi mendaftar bersama orang tua temanku. Untuk mendapatkan mobil kami harus berjalan kaki lewat hutan rimba, Kami berangkat dari rumah jam 02.00 pagi sampai di jalan yang baru digusur jam 10.00 pagi. Setelah itu naik truk tanah menuju Bengkayang. Aku beserta lima temanku (dua perempuan dan tiga laki-laki) diterima di sekolah ini. Karena baru pertama kali berjauhan dengan keluarga, ayah menyuruhku tinggal di asrama Susteran. Disinilah kali pertama aku mendapat sesuatu yang luar biasa. Aku dididik dan dibentuk untuk menjadi orang berguna yang mandiri. Hati ayahpun mulai terbuka, tiga bulan sekali ia datang mengunjungiku di asrama untuk mengantarkan uang SPP dan membayar uang asrama. Bila libur panjang aku pulang ke kampung. Sudah menjadi kebiasaan bila liburan sekolah aku gunakan untuk menorah getah. Bila hari hujan tidak bisa menorah, aku ikut ayah nyinsow kayu belian untuk dijual, Lain dengan temanku, sewaktu libur memang waktunya digunakan untuk liburan. Tapi aku, sepanjang liburan aku berada di hutan kecuali hari Minggu. Ibuku mengasuh dan menjaga adik-adik yang masih kecil. Kakak-kakakku tidak mau tahu. Aku sadar diri, karena diantara anak ayah, akulah yang akan banyak menggunakan uang, jadi aku harus rajin bekerja untuk membantu ayah. Aku masih ingat kata-kata ayah “Bapak ajari kamu semua pekerjaan ini supaya kamu nanti bisa menjadi orang yang mandiri, jangan selalu bergantung kepada orang lain.” Ayah orang yang baik. Aku bangga dengan ayah. Selama duduk di bangku SMP cita-citaku ingin menjadi tentara masih membara.

Suatu hari ketika kelas dua SMP, menjelang HUT RI aku terpilih untuk ikut latihan PASKIBRA. Seorang tentara yang melatih, marah dan mengatakan langkahku seperti langkah orang gunung pergi ke ladang dan suaraku seperti suara burung pipit yang sedang makan padi di ladang. Keesokan harinya aku tidak datang lagi. Aku jadi benci dengan tentara itu dan cita-citaku ingin menjadi tentara juga hilang. Ketika kelas tiga SMP ibu sakit-sakitan, aku rindu ibu, aku tidak fokus belajar. Akupun minta izin tiga hari untuk pulang. Keesokan hari ketika kawan-kawan sedang mengikuti upacara HUT RI tahun 1984 aku berangkat dari Bengkayang naik truk tanah sampai ke Sanggau Ledo. Aku berjalan kaki dari kota ini jam 11.00 pagi sampai di kampung jam 10.00 malam. Karena orang tuaku bermalam di pondok ladang aku harus meneruskan perjalanan sejauh dua jam lagi. Sampai di sana sudah jam12.00 malam. Paginya aku ikut ayah pergi menebas, belum sampai 15 menit, aku tebas kakiku sendiri, ibu jari kaki kiriku hampir putus terkena parangku sendiri.

Dua minggu aku istirahat di rumah. Lukanya masih belum sembuh karena infeksi. Walaupun begitu, kupaksakan juga untuk berjalan karena sudah lama tidak masuk sekolah. Aku diantar oleh ayah jam 2.00 pagi sebelum subuh. Sepanjang jalan lukaku berdarah karena terantuk kayu. Mujurlah jalan yang digusur sudah sampai di Kota Seluas. Ayah mengantar sampai ke mobil. Sejak ibu sakit, cita-citaku berubah ingin menjadi perawat, agar nanti bisa merawat ibu. Selama di SMP aku tidak pernah mendapat juara kelas lagi. Aku hanya mampu menduduki rangking 8 – 15 dari 45 siswa. Tetapi di bidang permainan bola voli dan bola kaki pernah bertanding hingga ke tingkat Kabupaten. Selama tiga tahun tinggal di asrama dan belajar di SMP akhirnya aku tamat juga. Dengan nilai yang agak lumayan aku bisa melanjutkan sekolah. Ayah juga mendukung. Walaupun pekerjaannya hanya petani dan penoreh getah. Harga getah perkilo waktu itu hanya Rp 2000,00 – Rp 3000,00

Setelah lulus SMP, aku ikut kawan-kawan mendaftar ke SPKN Singkawang. Ternyata pendaftaran sudah ditutup, ada informasi dari seorang kawan yang sudah mendaftar di SPK bahwa pendaftaran untuk masuk SPG di Nyarumkop masih dibuka. Rombongan yang mau mendaftar di SPK itu tidak berminat menjadi guru termasuk aku. Aku pikir kalau tidak mendaftar di SPG kita pulang ke kampung lantas mau buat apa? Paling-paling noreh getah. Akhirnya aku mengatakan “Ayo kita mendaftar saja mudah-mudahan kita diterima dan selama pendidikan nanti mana tahu minat kita bisa berubah!” Ternyata aku dan tiga rekan-rekanku diterima untuk sekolah di SPG Adisudjipto Nyarumkop (1985/1986). Aku tinggal di asrama Susteran Nyarumkop. Selama tiga tahun dalam pendidikan SPG uang asrama dan uang SPP selalu saja tertunggak, yang belum melunasi uang SPP tidak boleh ikut ulangan. Sehingga aku tidak fokus dalam belajar, rasanya tidak mampu menamatkan sekolah kalau keadaannya seperti ini terus. Aku jadi minder dengan kawan-kawan. Ketika liburan semester kelas dua aku pernah mengemukakan keinginanku kepada ayah untuk berhenti sekolah. Ayah bilang sabar saja karena sekarang aku sudah naik ke kelas dua SPG dan tidak lama lagi tamat. Ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari biayanya, biar keluarga di rumah makan dengan garam asal aku bisa tamat. Jika aku bisa menamatkan sekolah ayah akan bangga anak ayah akan menjadi guru. Demikian ayah memberi kata-kata penyemangat kepadaku. Masih terbayang dimataku ketika aku menangis kulihat ayah, ibu serta adik-adikku juga ikut menangis. Aku berjanji dengan ayah dan ibu untuk meneruskan sekolah hingga tamat.

Suatu hari tiga hari sebelum libur natal, aku dipanggil kepala sekolah. Sambil melangkah menuju kantor aku bertanya dalam hati, ada apa denganku? Dengan suara bergetar aku bertanya “Mengapa saya dipanggil, Pak?” Beliau menjawab, “Tadi Pastor Bertus minta ijin untuk membawa kamu pulang karena natal nanti, beliau akan mengadakan sembayang Misa di Jagoi Komplek. Pulang sekolah nanti kamu boleh pulang naik mobil Pastor saya mengijinkan.” Sepanjang jalan, Pastor bercerita tentang riwayat hidupnya, ceritanya menyentuh perasaanku. Sewaktu kecil beliau tidak sempat merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hidup ini menuntut banyak kesabaran kita harus tabah “Tidak senang mau jadi orang senang dan tidak susah mau jadi orang jahat.” Kata-katanya menyentuh perasanku. Sejak itu aku mulai bersemangat. Aku merasa gembira selama tiga hari bersamanya. Aku dilatih mengajar sekolah minggu, mengajar umat lagu-lagu rohani. Banyak pengalaman yang kudapat, aku merasa tertarik dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Pastor itu yakni bekerja sosial melayani umat. Di wajahnya selalu nampak riang tidak pernah nampak sedih. Beliau berbangsa Belanda usianya 50 tahun waktu itu. Pastor Bertus amat bermakna dalam hidupku karena telah membangkitkan semangatku untuk terus belajar serta membentuk aku sehingga aku bisa menjadi orang. Beliau selalu datang ke asrama memberi penguatan dan dorongan hingga aku tamat SPG (1988/1989). Sambil menunggu pembukaan pendaftaran PNS aku langsung bekerja dengan Pastor mengajar agama dari kampung ke kampung. Selama bekerja ikut Pastor aku bertemu dengan ketua Delegasi Sosial Kal-Bar. Beliau menawarkan aku untuk ikut Kursus Perkembangan Desa (KUPERDA) di Bogor. Sementara itu Pastor menawarkan untuk melanjutkan sekolah ke Malang hingga tamat akan dibiayai oleh Pastor. Aku bingung dan akhirnya aku memilih untuk ikut KUPERDA di Bogor. Aku berangkat dari rumah diantar oleh ayah sampai ke rumah Pastor. Kemudian Pastor mengantar aku ke Pontianak pada bulan Januari 1989. Peserta dari Kal-Bar terdiri dari empat laki-laki dan seorang perempuan. Aku senang berkawan dengan laki-laki. Sebab dari SD hingga tamat SPG aku suka berkawan dengan laki-laki. Aku kurang senang berkawan dengan perempuan sebab mereka suka berkelahi. Selama tiga bulan di Jawa aku dan rekan-rekan dibawa berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap terkenal di sekitar Bogor dan Jakarta.

Setelah pulang dari Bogor aku bekerja di bawah naungan yayasan sosial sebagai tenaga honor dengan gaji sebesar Rp 250.000,00 perbulan. Salah satu tugasku adalah mengajukan Proyek Air Bersih di kampungku sendiri yakni Dusun Jagoi Kindau. Setelah usulan ditanggapi oleh pihak Delsos, akhirnya bantuanpun disalurkan berupa bahan yakni pipa air. Masyarakat bekerja secara gotong royong, karena kekurangan bahan masyarakat pun mogok kerja. Aku bingung bagaimana cara untuk mendapatkan pipa air yang masih kurang. Aku mengajak empat orang kawan laki-laki berkumpul di rumahku untuk berunding. Aku punya ide, salah satu cara untuk mendapatkan uang dengan cepat ialah dengan mengundang band musik main di kampung. Kawan-kawan juga setuju dengan ideku itu. Keesokan harinya aku dan empat rekanku berdayung sampan pergi mencari band musik di kampung Saparan di Kecamatan Jagoi Babang. Kami berangkat jam 07.00 WIT sampai di kampung Saparan pukul 15.00 WIT. Akhir pembicaraan ketua band menyatakan setuju main selama tiga malam dalam acara Gawai Semangat Padi tanggal 01 Juni 1992. Dua minggu sebelum rombongan band datang aku mengumpulkan warga untuk musyawarah, 40 persen tidak setuju. Alasannya tidak suka dengan perempuan selalu berdiri dan bicara di depan, kedua takut nanti RUGI dan melibatkan warga. Ada pro dan kontra, keempat rekanku sudah mengundurkan diri. Atas dukungan Kepala Dusun aku melanjutkan untuk mengurus surat ijin. Pulang dari kantor polisi aku mendapati kebun buah-buahan milik ayah dan nenekku ditebang habis oleh warga yang tidak setuju. Sebanyak 180 pohon tanaman disekitar rumahku ditebang tanpa ijin ayah maupun nenek. Warga marah dengan aku dan keluarga. Aku tidak gentar meskipun sendiri masih tetap kuteruskan juga. Tiba waktunya rombongan band datang dan main selama tiga malam. Syukur semuanya lancar. Akhirnya aku mendapat untung bersih Rm 800,00. Semuanya aku serahkan ke kas Panitia Air Bersih untuk membeli peralon. Walau menghadapi banyak tantangan dalam masyarakat, namun semangatku tetap membara. Anehnya aku tidak merasa tersinggung atas peristiwa yang menimpa diriku pada saat itu.

Tiga bulan kemudian setelah peristiwa penebangan tanaman itu ayah jatuh sakit. Setelah di check up ternyata beliau kena kanker paru-paru. Banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengobati ayah yang keluar masuk rumah sakit Bhetesda Serukam, karena penyakitnya sudah parah, rumah sakit Serukam tidak mampu lagi menangani . Berdasarkan surat rekomendasi dari rumah sakit Serukam, aku membawa ayah ke Hospital Umum Kuching Sarawak atas jaminan pamanku di Malaysia. Ayah diterima dan dirawat selama 10 hari, karena darah kotornya setiap hari disedot, ayah kelihatan pucat dan kurus. Berat badannya sebelum sakit 85 kg kini tinggal 50 kg. Setelah 10 hari di Kuching, ayah boleh pulang istirahat dan minum obat di rumah. Seminggu kemudian sakit ayah makin parah. Walaupun saudaraku ramai, tapi satu-satunya yang bisa diharapkan untuk mengurus ayah hanya aku. Aku sibuk mengurus surat jalan untuk membawa ayah masuk ke rumah sakit Kuching lagi. Kali ini urusanku tidak lancar seperti dulu. Aku dimarahi oleh semua pejabat tempatku berurusan. Mulai dari Pak Camat, Imigrasi Serikin, dokter di rumah sakit dan dan juga di Konsulat. Mungkin karena kebodohanku juga sampai-sampai buku PLBku dilemparkan keluar oleh dokter di rumah sakit dan oleh seorang bapak di Konsulat Indonesia di Kuching. Karena tidak tahan lagi menahan sedih, aku menangis di kantor Konsulat. Mendengar bapak itu marah dengan suara keras, kulihat ada seorang yang berbadan tinggi besar, di wajahnya tampak tenang dan damai, ia berkata, “Ada apa? Suruh mereke masuk ke kamar saya!” Ketika masuk dan duduk di depan beliau, aku menangis karena terharu. Aku ke konsulat minta bantuan karena ayah tidak diterima sebab penyakit ayah sudah parah. Kata dokter lagi pasien asing harus membayar deposit RM 700.00 baru bisa masuk. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Sisa transport uangku tinggal RM 30,00. Atas jaminan dari Pak Konsulat ayah diterima menginap di rumah sakit Kuching sekali lagi. Dengan perjanjian antara aku dan pihak konsulat apabila ayah sembuh aku setuju untuk mengembalikan uang ke Konsulat Rm 50,00 setiap bulan.

Empat malam lamanya aku menjaga ayah di rumah sakit. Keesokan harinya Selasa, 22 Maret 1992 pukul 12.55, ayah menghembuskan napas terakhirnya. Aku bingung, bagaimana mau membawa jenazah ayah pulang ke Indonesia. Aku menghubungi pihak konsulat dan memberitahu mereka bahwa ayah sudah meninggal. Kira-kira 10 menit kemudian rombongan dari konsulat datang menyelesaikan urusan pembayaran ongkos pengobatan ayah serta membatalkan surat perjanjian pinjaman uang dari konsulat sebesar RM 1.500,00. Karena ayah tidak selamat maka uang tersebut dihalalkan aja. Aku sangat berterima kasih atas kemuliaan hati Pak Konsulat. Semoga Tuhan memudahkan semua urusan Bapak di dunia maupun di akhirat. Sementara aku menyelesaikan urusan, ayah dibekukan dalam peti pengawet. Sesudah semua urusan di rumah sakit maupun di Konsulat selesai, jam tiga sore aku serta jenazah ayah diantar sampai ke kampung Stass Bau Sarawak. Tiba di sana sudah jam lima sore, 60 orang dari kampungku sudah menunggu kedatangan kami sejak pukul sembilan pagi. Setelah peti jenazah ayah diturunkan dari mobil khusus pembawa jenazah ,mereka langsung berangkat menuju kampungku yakni Jagoi kindau dengan berjalan kaki. Sampai di rumah pukul sembilan malam. Ketika ayah meninggal aku tidak menangis, aku pasrah kepada Tuhan. Bahwa setiap yang hidup pasti akan mati jua cepat atau lambat. Suara hatiku berbisik, ayah adalah titipan Tuhan, tiba saatnya Tuhan mengambilnya karena itu milikNya. Sepanjang aku hidup bersama ayah, aku tidak pernah menyakiti hati ayah. Oleh karena itu, tidak ada yang perlu ditangisi dan disesali. Setelah ayah meninggal aku masih aktif melaksanakan tugas pastoral dan tenaga honor di SDN Jagoi Belida yang jaraknya 5 km dari kampungku. Kutempuh dengan berjalan kaki.

Empat tahun kemudian, tahun 1996 ibu meninggal menyusul ayah. Berbeda dengan kepergian ayah. Ketika ibu meninggal aku menangis dan menyesal dengan apa yang telah kulakukan selama ibu masih hidup. Aku banyak menyakiti hati ibu sehingga membuatku menangis. Bahkan satu minggu sesudah ibu dikebumikan aku masih tetap menangis jika mengingat ibu. Setelah kedua orang tuaku meninggal aku memikul tanggung jawab yang berat. Dengan uang honor Rp.250.000 perbulan akuharus menanggung dua adikku yang masih sekolah. Adik perempuanku kelas dua SMA dan yang laki-laki kelas satu SMP. Aku harus bekerja keras. Pulang mengajar aku menoreh getah, sabtu dan minggu ikut Pastor melayani umat dengan honor Rp.5000 perhari. Uang asrama adikku selalu tertunggak karena memang kami kesulitan keuangan. Hampir setiap malam aku tidak bisa tidur memikirkan nasib kedua adikku itu. Dalam pikiranku ada dua pilihan, mau bekerja sebagai pembantu rumah di Malaysia atau mau meneruskan pekerjaanku sebagai guru honor?

Suatu malam, 22 Maret 1996 aku memutuskan untuk bekerja ke Malaysia sebagai pembantu rumah tangga. Pukul dua pagi sebelum subuh aku berangkat seorang diri dari rumah menuju ke Kuching. Sampai di sana aku langsung menghubungi seorang kawan untuk meminta bantuannya mencarikan pekerjaan untukku. Setelah 4 jam menunggu, calon majikanku dari Kuching pun datang menjemputku untuk bekerja di rumahnya. Gaji pertamaku sebanyak RM 200,00. Pertamakali masuk ke Malaysia aku tidak punya dokumen perjalanan. Agar lebih aman aku ingin buat paspor. Lima bulan aku kumpulkan uang gajiku. Aku dilarang keluar rumah oleh majikanku. Sehingga tidak bisa mengirimkan uang untuk adik-adikku, uang asrama merekapun metunggak lagi. Liburan semester satu kelas dua SMA/SMP kedua adikku berhenti sekolah. Aku masih meneruskan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia. Selama bekerja di Kuching, setiap kali ada pembukaan tes PNS, kawan-kawan dari kampung selalu menghubungiku, memintaku untuk pulang dan ikut tes. Tapi aku tidak peduli. Suara hatiku berbisik, belum saatnya untuk jadi guru. Dalam pikiranku hanya ada dua pilihan. Jika aku tidak mau menjadi guru aku harus bekerja keras mengumpulkan uang untuk membuat rumah dan persiapan masa tua. Menjadi guru yang baik tidaklah segampang yang kita pikirkan. Aku merasa belum siap untuk menjadi seorang guru yang baik dan professional. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja lima tahun lagi demi mengumpulkan uang untuk mendirikan sebuah pondok tempatku berteduh di hari tua kelak. Pondok itu pun berhasil kubangun pada tahun 1998. Dua kali dalam setahun, aku diijinkan pulang oleh majikanku untuk menemui saudara dalam perayaan Natal dan Gawai Bidayuh yang diadakan pada tanggal 01 Juni setiap tahunnya.

Tahun 2002 aku mulai merasa bosan bekerja sebagai pembantu. Perasaan ingin pulang sangatlah kuat, aku ingin merawat rumah di kampung. Suatu hari, aku mengemukakan keinginanku tersebut pada majikanku. Majikanku keberatan dengan keputusanku untuk berhenti, ia mau menaikkan gajiku menjadi RM 600,00 jika masih mau bekerja dengannya. Karena tekadku sudah kuat, biar berapapun gaji yang ditawarkan, aku tetap saja memutuskan untuk pulang. Akhirnya, pada tanggal 30 Desember 2002 aku meninggalkan Bandaraya Kuching Sarawak-Malaysia pulang ke Indonesia. Bulan Januari 2003, aku mulai bekerja sebagai penoreh getah. Pendapatanku sehari 6 kg. Harga perkilo hanya Rp.5000 dan jarak kebun getah dari rumah harus kutempuh dengan berjalan kaki selama dua jam. Pukul 03.00 aku harus bangun menyiapkan bekal untuk dibawa. Pukul 04.00 pagi aku berangkat. Sampai di kebun pukul 06.00 pagi dan langsung bekerja. Selesai menoreh pukul 02.00 sore aku langsung ke ladang. Hari Minggu aku berjualan es dan kue untuk menambah pendapatan. Begitu seterusnya pekerjaanku setiap hari. Aku tinggal sendirian di rumah. Kakak dan adik-adikku sudah berkeluarga. Diantara dua adikku yang laki-laki menjadi Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM). Sejak usia lima tahun mereka diangkat oleh bibi di Malaysia dan disekolahkan di sana.

Bulan Oktober 2003 aku mendapat berita dari kawan ayahku. Beliau mantan kepala sekolahku waktu aku masih di SD. Ia memberitahukan bahwa pada bulan Oktober akan ada pembukaan tes PNS dan aku diminta ikut mendaftar. Aku berpikir panjang, karena bagiku menjadi seorang guru yang baik dan bertanggungjawab tidak segampang yang kita pikirkan. Ditambah lagi sudah hampir delapan tahun aku tidak mengajar sejak berhenti dari guru honor tahun 1996. Akhirnya, aku memutuskan pergi mendaftar ke kota kabupaten, kemudian ikut tes dan hasilnya aku diterima untuk menjadi guru SD. SK pertamaku terbit 01 Desember 2003 dan ditugaskan di sekolah terpencil yaitu SDN 07 Saparan. Sekarang bernama SDN 05 Saparan Desa Kumba Kec. Jagoi Babang. Karena kondisi jalannya sangat sulit. Maka enam bulan sekali aku pulang ke rumahku di Jagoi Kindau. Karena aku belum punya kendaraan sendiri agak sulit bagiku utuk pergi kemana-mana. Transportasinya juga cukup mahal karena harus berkali-kali naik kendaraan yang berbeda.

Tahun 2005 aku ikut program D2 PGSD UT. Bila mau pergi kuliah ke Bengkayang aku pernah berjalan kaki lewat hutan rimba naik turun gunung. Karena tidak cukup uang untuk naik ojek. Melewati gelapnya hutan belantara, berenang di jalan ketika banjir dan melewati jalan berlumpur, bukan hal yang aneh lagi bagiku. Hal itu sudah menjadi sebagian dari hidupku. Sudah kualami bertahun-tahun sejak aku tamat SD.

Tahun 2007, atas anjuran serta saran dari kepala sekolahku Pak Sarno, S.Pd. Aku membeli sepeda motor. Aku belum bisa sama sekalimenggunakannya. Jangankan mengendarai, mendorongnya saja tak mampu. Aku belajar naik motor walaupun penuh dengan perjuangan.

Setelah selesai D2, tahun 2009 aku melanjutkan kuliah mengambil S1 PGSD UT. Sekarang tempat kuliahnya agak dekat yakni Pokjar Sanggau Ledo. Pergi kuliah juga tidak perlu bermalam karena sudah bisa bermotor sendiri. Kebocoran ban di tengah hutan, mendorong motor sejauh 5 km karena putus rantai, hal seperti ini sudah sering kualami selama 8 tahun mengajar di SD ini. Logis juga sepertinya, kalau kawan-kawan mengatakan penampilanku seperti laki-laki. Aku bersyukur sampai saat ini aku masih merasa betah mengajar di SD ini. Meskipun begitu banyak tantangan yang kuhadapi. Tapi semangat kerjaku untuk membantu anak bangsa tetap membara hingga saat ini. Sekarang aku sudah lancar mengendarai motor sehingga kuliahku juga lancar. Kini aku menjalani kuliah semester akhir. Harapanku, aku akan bisa selesai tepat waktunya.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044