Anak Nakal, ini sumbernya sekolah literasi indonesia

Peran Penting Guru dan Orang Tua Terhadap Anak Disleksia yang Makmalian Harus Tahu

Peran Penting Guru dan Orang Tua Terhadap Anak Disleksia yang Makmalian Harus Tahu

 

“Sungguh, alangkah hebatnya kalau tiap–tiap guru didalam perguruan taman siswa itu satu persatu adalah rasul kebangunan! Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan yang dapat “menurunkan” kebangunan kedalam jiwa sang anak (presiden soekarno).

Dari kutipan sang orator ulung bapak bangsa kita presiden soekarno dapat diambil kesimpulan bahwa guru mempunyai peranan penting dalam membentuk pribadi seorang anak karena, guru adalah orang tua kedua bagi  anak setelah ibu dan bapaknya.

Guru, terkhususnya kelas 1, 2 dan 3 senantiasa melihat pertumbuhan dan perkembangan anak  dari waktu kewaktu. Setiap ada kemampuan baru yang dicapai anak merupakan prestasi tak ternilai bagi anak, maupun guru dan orang tua, tapi sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua dan guru. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua dan guru, Apalagi jika si anak mengalami hambatan dalam belajar, sehingga anak mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru dan orang tua harus mengenali penyebab gangguan tersebut.

Hal yang sering penulis temui dilapangan terkhususnya SD N 09 ULAKAN TAPAKIS adalah anak yang tidak bisa membaca atau menulis, yang biasanya disebut dengan disleksia. Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

Adapun tanda-tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru adalah (1) Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya, (2) kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay, (3) Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’, (4) membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”), (5) Daya ingat jangka pendek yang buruk, (6) Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar, (7) Tulisan tangan yang buruk, (8) Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung, (9) Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek, (10) Kesulitan dalam mengingat kata-kata, (11) Kesulitan dalam  diskriminasi visual, (12) Kesulitan dalam persepsi spatial, (13) Kesulitan mengingat nama-nama, (14) Kesulitan / lambat mengerjakan PR, lima belas Kesulitan memahami konsep waktu, enam belas, dan kesulitan membedakan kanan dan kiri, masih banyak lagi gejala yang lainnya.

Namun Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda/ciri/karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat. Selain itu disleksia bukanlah suatu penyakit yang perlu ditakuti karena disleksia hanya merupakan keterlambatan dalam membaca dan menulis karena kebanyakan anak–anak disleksia adalah anak anak yang cerdas seperti  ilmuan terkenal dunia yaitu albert ensteins, Tom Cruise (aktor), Muhammad Ali (petinju), Walt Disney (pencipta karakter animasi Disney), Thomas Alfa Edison, penemu bola lampu Winston Chrunchill (Perdana menteri Inggris) dan John F. Kennedy (Presiden Amerika Serikat) dan masih banyak lagi yang dulunya merupakan anak disleksia namun akhirnya menjadi orang- orang penting.

Guru dan orang tua sangat berperan untuk perkembangan anak–anak disleksia, karena apabila anak merasa berbeda dan apalagi mendapat lebel-lebel dan cap yang tidak baik, maka hal ini berpengaruh terhadap emosi si anak – anak bisa menjadi pemurung, pendiam, selalu bersedih, menyendiri dan kadang –kadang bersifat brutal.

Kadang guru disekolah merasa serba salah khususnya kelas satu, disatu sisi guru meliat potensi yang lain bagi anak seperti imajinasi yang kuat sehingga menjadi pertimbangan untuk kenaikan kelas namun guru merasa terikat dengan peraturan kalau murid kelas rendah untuk naik kekelas selanjutnya harus bisa baca tulis, hal ini diaminkan oleh wiwik krismita guru SD 09 Ulakan tapakis kelas satu “ saya menjadi dilemma untuk kenaikan kelas ini, ada anak yang menonjol dibidang lain, tapi karena tidak bisa membaca membuat saya bingung….. karena saya paham masa mereka adalah masa bermain, jadi saya tidak terlalu memaksanakan mereka untuk harus bisa menulis baca, jadi waktu ujian bagi yang tidak bisa menulis saya tes dengan lisan, itu yang menjadi pertimbangan saya, agar karakter mereka tidak mati”.

Karena demikian kompleknya keadaan disleksia ini maka guru dan orang tua harus berperan aktif terhadap anak, guru dan orang tua bisa melihat potensi lain dari anak, bisa saja anak lebih berbakat dibidang seni dan olah raga, dan berikanlah  nilai plus untuk mereka untuk potensi ini. Untuk itu diperlukan seorang guru yang kreatif dan inovatif untuk membantu anak-anak disleksia, karena anak adalah hal paling berharga dan merupakan generasi penerus akan kelangsungan bangsa ini.

Komentar

komentar